
Seperti sebuah keberuntungan untuk Raiden, mendapatkan Abigail yang begitu perhatian. Bahkan, Abigail kini memusatkan perhatian dan menjaga Raiden sepenuhnya. Hingga saat Yudith dan laos ingin melihat suaminya di kamar pun, Abigail tidak sedetik saja mengalihkan pandangan pada kedua orang itu. Ya, Abigail meningkatkan kewaspadaannya pada dua orang itu, dan Evan.
Siang ini, saat Abigail turun untuk makan siang. Dia melihat Evan datang bersama seorang wanita dengan tatapan tajam tertuju pada Abigail. Saat mereka bertemu, Evan dan wanita yang tak lain adalah Dona saling bertatapan.
“Apa ini istri Raiden? Kenapa dia terlihat sangat biasa?” tanya Dona yang mencoba merendahkan Abigail.
Evan hanya tersenyum tipis lalu menjawab, “Ya, dia istri pria yang sedang terbaring di kamar.”
“Abigail, namaku Abigail,” ucap Abigail mengulang namanya.
“Oh, maaf. Abi … siapa? Ah, maafkan aku. Sebuah nama jika tidak penting, tidak akan tersimpan dalam memori ingatanku,” ucap Dona dengan angkuh.
“Begitu rupanya, sebaiknya Anda berhati-hati dengan memori seperti itu, bisa jadi Anda mengalami gejala alzaimer. Itu termasuk penyakit yang mematikan, sayang jika wanita muda seperti Anda terkena penyakit yang biasa singgah pada orang tua.”
Setelah menjawab, Abigail melengos dan pergi dari sana. Evan menahan senyumnya saat mendapat tatapan tajam dari Dona. Pria itu tidak menyangka jika Abigail akan berani membalas Dona.
“Sudahlah, kita ke kamarku saja.” Evan mengajak Dona untuk pergi dari sana.
Di ruang makan, siang ini memang terlihat sepi. Yudith berada di luar rumah untuk urusannya dan Laos. Evan tidak ingin ada dalam satu meja makan yang sama dengannya. Sementara Raiden masih setia di kamar dan belum menunjukkan tanda-tanda pulih.
Abigail merasa kesepian di sana, meski sudah terbiasa tetap saja rumah itu seperti tidak memiliki penghuni berwujud manusia.
Setelah menyelesaikan kegiatan makannya, Abigail berjalan kembali ke kamar. Namun, tepat di depan tangga menuju lantai dua, dia bertemu dengan Dona yang baru saja ke luar dari kamar Evan.
Sebelumnya, Abigail mendengar suara ******* dan erangan dari seseorang di sebuah kamar. Suara itu membuat rasa ingin tahu Abigail meninggi. Dia pun mencari asal suara dan mendapati pintu yang sedikit terbuka. Di dalam sana, terlihat dengan jelas kegiatan tidak pantas di lakukan Evan dan Dona.
__ADS_1
Keduanya tidak mengenakan apa pun dan sedang melakukan kegiatan panas. Tubuh keduanya menjadi satu, seakan ada sesuatu yang saling bertautan. Tentu saja, bagian khusus mereka bersatu dan membuat Dona mendesah.
Abigail hanya bisa menelan ludahnya dan memukul kening sendiri untuk segera sadar. Sialnya, saat dia hendak pergi, sepertinya Dona menyadari keberadaan Abigail dan menyapanya hanya dengan mengenakan pakaian tidur tipis.
“Kenapa? Apa kamu ingin seperti itu juga? Ah … pasti kamu tidak bisa melakukannya bukan? Ya, itu karena pria yang kamu nikahi bahkan tidak bisa membuat miliknya mengeras dengan sempurna.”
Abigail mengerutkan keningnya mendengar ucapan Dona.
“Nona, sebaiknya kamu menjaga ucapanmu.”
“Aku tahu, aku sangat beruntung karena meninggalkannya dan mendapatkan Evan. Apa yang terjadi jika aku menerima pernikahan itu? Astaga! Aku tidak bisa memikirkannya saat itu. Menikahi seorang pria yang seluruh tubuhnya bahkan tidak dapat bergerak. Apa kamu tidak merasa bahwa pernikahan itu sangat … menyebalkan?”
“Tentu saja tidak, Nona. Justru dengan pernikahan ini, aku memiliki kesempata untuk banyak belajar. Meski ada banyak hal yang akan kulewatkan di luar sana, aku yakin sesuatu yang indah akan datang pada waktunya.”
Dona berlalu tetapi Abigail segera menjawab.
“Bukankah Anda seharusnya berkaca? Keanehan juga terlihat dari diri Anda. Apa yang Anda pikirkan dengan kegiatan seperti itu? Bahkan, Anda dan Tuan Evan belum terikat pernikahan, apa Anda tidak takut jika pada waktunya nanti, kalian berpisah? Atau mungkin saja Tuan Evan akan meninggalkan Anda saat tahu ada sesuatu yang muncul dalam tubuh itu?”
Abigail merasa puas dan berjalan melanjutkan langkahnya menuju kamar Raiden.
Abigail terus menggerutu di samping Raiden tentang mantan kekasih suaminya itu. Abigail juga mengadukan kegiatan panas yang dilakukan keduanya pada Raiden.
Malam harinya, Evan berpapasan dengan Abigail di tangga. Hal itu tidak membuat Abigail menghentikan langkahnya dan terus berjalan menuju kamar Raiden. Sementara Evan hanya menyeringai melihat tingkah laku istri Raiden.
“Kita lihat saja nanti. Kamu membuatku tertantang untuk merebutmu dari Raiden.” Evan melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Malam semakin larut, setelah membaca buku untuk Raiden, Abigail memutuskan segera beristirahat. Namun, sebelumnya dia memilih untuk berganti pakaian di lemari berjalan. Abigail mengenakan pakaian tidur yang tertutup, semua karena dalam kamar itu terdapat CCTV, sehingga dia tidak ingin ada seseorang yang mengintipnya tengah mengenakan pakaian seksi.
Abigail bersiap untuk tidur dengan menggosok gigi dan membersihkan wajahnya. Setelah itu, dia bergabung dengan Raiden.
“Selamat malam, Raiden. Aku harap kamu bermimpi tentang sesuatu yang indah malam ini. Aku juga berharap, keesokan harinya kamu bisa menggerakkan seluruh tubuhmu dan menyapaku. Hanya itu harapanku,” ucap Abigail sebelum akhirnya memejamkan mata.
Sebelumnya, tanpa Abigail tahu, saat sedang berganti pakaian, seseorang masuk dalam kamar itu dan bersembunyi di salah satu sudut kamar.
Orang itu adalah Evan. Saat melihat Abigail memejamkan mata, dia pun mulai bergerak dengan cepat. Evan membekap mulut Abigail, kini kedua matanya terbuka dan berusaha untuk memberontak.
“Hmph!”
Abigail menggerakkan tubuhnya dengan sekuat tenaga, berusaha agar bisa melepaskan diri dari jeratan Evan. Satu tangan Abigail yang lolos meraih tubuh Raiden dan berharap pria itu terbangun lalu menolongnya. Sayang, semua sia-sia. Raiden tetap berdiam diri sembari menatap Abigail dari ekor matanya.
Evan berbisik tepat di telinga Abigail, “Sstt! Jangan berisik, Sayang. Kita berikan pertunjukan terbaik di depan suamimu itu.”
Abigail menggeleng, kembali mencoba untuk melepaskan diri dengan menggerakkan seluruh tubuhnya. Tetapi, kali ini Evan meraih ikat pinggangnya dan mengunci kedua tangan Abigail.
Dalam hati, Abigail hanya bisa berdoa. Memohon agar ada yang menolongnya. Dia ingat sekali jika kamar itu ada kamera, tetapi hingga saat ini tidak ada yang datang untuk membantunya.
Kenapa tidak ada yang datang menolongku? Bukankah kamera di kamar ini selalu merekam kejadian di sini? Batin Abigail.
Abigail membulatkan mata saat tangan Evan mulai menyentuh bagian depan tubuhnya. Rasa-rasanya, tubuh Abigail tidak bisa lagi bertahan dengan perlawanan yang sia-sia itu.
“Bukankah aku sudah menagtakannya? Perlawanan itu akan sia-sia, Sayang. Nikmati saja sentuhan memabukkan dariku.”
__ADS_1