
“Raiden belum juga menjemputmu?” tanya Marisa pada Clarisa yang sudah bersiap dengan dandanan heboh dan gaun terbaiknya demi bisa menemani Raiden.
“Aku juga tidak tahu. Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi Raiden tidak menjawab,” cetus Clarisa. “Aku pergi sendiri saja. Mungkin Raiden terjebak macet,” sambungnya.
Gadis itu mengira Raiden akan menjemput dirinya, mengingat Clarisa yang salah menangkap arti dari ajakan Raiden. Clarisa benar-benar tak sadar jika selama ini gadis itu terjebak dalam asumsinya sendiri dan menganggap kedekatannya dengan Raiden sebagai hubungan nyata.
Clarisa pun datang sendiri menuju ke tempat acara amal. Begitu ia sampai, ternyata Raiden belum terlihat di tempat acara. Merasa dirinya datang ke acara tersebut sebagai pasangan Raiden, Clarisa pun tak sungkan menampakkan kesombongannya pada tamu-tamu lain yang datang.
“Permisi, tolong beri jalan untuk pasangan Tuan Raiden!” ujar Clarisa memamerkan dirinya di depan para tamu yang hadir.
Beberapa tamu yang mengenal Raiden pun mulai menyapa Clarisa yang mengaku-ngaku sebagai pasangan yang diajak oleh Raiden ke acara tersebut. “Nona … datang bersama dengan Tuan Raiden? Lalu di mana Tuan Raiden?”
“Sebentar lagi pasti juga datang,” jawab Clarisa dengan penuh percaya diri tanpa tahu jika Raiden akan membawa sang istri ke tempat tersebut.
“Nona ini siapanya Tuan Raiden? Istri Tuan Raiden?” Beberapa tamu nampak termakan kehaluan Clarisa dan mengajak gadis itu berbincang.
“Benar sekali! Tidak lama lagi aku akan menjadi istri dari Raiden,” ungkap Clarisa.
Gadis itu mengoceh tanpa henti, hingga secara tak langsung sudah mempermalukan dirinya sendiri secara tidak langsung di acara tersebut. Tak lama setelah Clarisa berlagak di depan beberapa tamu, Raiden pun akhirnya tiba dengan menggandeng seorang wanita cantik di sampingnya.
Para tamu undangan termasuk Clarisa pun dibuat melongo saat melihat Raiden yang datang dengan menggandeng Abigail. “Apa-apaan ini? Bukankah orang yang seharusnya berdiri di samping Raiden sekarang adalah aku?” geram Clarisa menatap Abigail dengan sorot mata penuh kebencian.
“Itu Tuan Raiden! Wanita di sampingnya itu pasti istrinya. Cantik sekali, ya?” gumam para tamu memuji Abigail.
__ADS_1
“Abigail sialan! Apa yang dia lakukan di sini? Seharusnya akulah yang menjadi pasangan Raiden malam ini!” gerutu Clarisa dengan amarah meledak-ledak.
“Clarisa? Kamu di sini?” sapa Abigail agak terkejut melihat saudara tirinya yang tiba-tiba menghampiri dirinya.
Gadis yang sudah telajur malu itu pun menghampiri Raiden dan Abigail yang baru saja datang. Clarisa berniat menumpahkan kekesalannya pada Abigail yang sudah merenggut kebahagiaannya malam ini.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Seharusnya akulah orang yang berdiri di samping Raiden saat ini!” pekik Clarisa berteriak pada Abigail seolah Abigail adalah orang yang merebut tempat Clarisa.
"Apa maksudmu?" tanya Abigail dibuat bingung dengan tingkah Clarisa yang tiba-tiba muncul dan marah padanya dengan alasan yang tidak jelas.
Gadis itu pun mulai berani mengangkat tangannya dan berniat menghadiahkan satu tamparan ke wajah cantik Abigail. Namun, tentunya Raiden yang berdiri di samping istrinya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Abigail apalagi sampai melukai istrinya tercinta.
“Jika kamu berani menyentuh istriku bahkan seujung kuku saja, aku tidak akan segan membalasmu sepuluh kali lipat!” sentak Raiden pada Clarisa yang hendak melayangkan pukulan ke wajah Clarisa.
“Orang yang seharusnya berdiri di sampingmu saat ini adalah aku! Abigail sudah merebutmu dariku! Aku yang seharusnya menjadi istrimu!” oceh Clarisa berusaha mempermalukan Abigail di depan banyak orang.
Namun, Abigail tidak akan bisa dipermalukan dengan mudahnya oleh Clarisa hanya karena sepatah dua patah kata dari wanita itu. Raiden yang sudah tahu niat Clarisa sejak awal, nampak tenang dan bisa menghadapi segala ocehan gadis itu dengan kepala dingin.
“Kalau kamu terus berteriak seperti ini, kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri!” cibir Raiden membalas perkataan Clarisa dengan tenang.
Benar saja, niat hati ingin membuat malu Abigail, tapi justru gadis itu sendiri yang harus menanggung malu di depan banyak orang. “Apa yang ingin kamu katakan? Seharusnya kamu yang menjadi istriku? Perkataan konyol macam apa itu? Abigail adalah istri sahku. Sebaiknya kamu tidak mengaku-ngaku!” sungut Raiden membuat Clarisa makin tenggelam dalam rasa malu.
Niat hati ingin merebut Raiden dari Abigail, tapi malah Clarisa sendiri yang kena batunya. Akibat kehaluannya sendiri, gadis itu termakan oleh permainan yang ia ciptakan sendiri untuk mengacaukan rumah tangga Abigail. Bukannya mendapatkan suami orang, Clarisa justru harus menikmati rasa malu tiada tara.
__ADS_1
"Apa wanita itu sudah gila?" cibir orang-orang yang menatap Clarisa.
"Dia pasti sangat menyukai Tuan Raiden sampai tidak bisa berpikir jernih!"
"Dia benar-benar tidak waras!"
Tak sanggup mendengar cibiran dari orang-orang, Clarisa pun memilih untuk bergegas meninggalkan tempat acara amal itu. Rasa malu dan sakit hati mulai tercampur aduk di hati Clarisa hingga gadis itu tak berhenti menangis sampai ia tiba di rumah.
"Awas kamu, Abigail! Kamu pikir aku Jana diam saja mendapatkan perlakuan seperti ini?" geram Clarisa.
“Clarisa? Kamu sudah pulang?” sapa Marisa pada sang putri yang sudah kembali.
Bukannya mendapat balasan bagus, Marisa justru disuguhi tangisan sang putri yang mengamuk di dalam kamar. Clarisa membantingi apa pun yang bisa ia jangkau dan mengacak-acak kamarnya sendiri untuk meluapkan kemarahannya.
“Ada apa, Clarisa? Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Raiden?” tanya Marisa cemas melihat putrinya yang pulang dan mengamuk seperti ini. Sangat berbeda sekali dengan ekspresi bahagia yang ditunjukkan oleh Clarisa saat gadis itu berangkat ke tempat acara beberapa jam yang lalu.
“Mama tanyakan saja pada Abigail sialan itu! Raiden selama ini hanya menipuku, Ma! Aku diperlalukan seperti orang bodoh di acara tadi dan aku dipermalukan di depan banyak orang!” ujar Clarisa mengadu pada sang ibu.
Marisa cukup terkejut mendengar perkataan sang putri. Ia benar-benar tak menyangka Clarisa akan mendapatkan akhir mengenaskan seperti ini dengan Raiden.
Clarisa menceriakan semuanya mengenai hal yang ia alami saat ia bertemu dengan Abigail dan Raiden. Gadis itu benar-benar dibuat tak memiliki muka, apalagi saat ia melihat sikap Raiden yang begitu dingin padanya.
“Apa-apaan ini? Kenapa jadi begini? Jadi, selama ini Raiden hanya mempermainkan kamu?” cetus Marisa tak terima putrinya mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan dari Raiden.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, Ma. Raiden sendiri yang memberikan harapan padaku! Aku benar-benar dekat dengan Raiden!" ujar Clarisa masih saja ingin percaya kalau dirinya memang mempunyai hubungan dekat dengan Raiden dan usahanya merayu Raiden selama ini sudah berhasil.