Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 16


__ADS_3

#16_Ingatan Lalu


Raiden kini berbaring di samping Abigail dengan tatapan mata yang begitu dalam, hingga membuatnya mengingat bagaimana sikap istrinya selama dia dalam kondisi vegetatif. Raiden membelai lembutnya rambut Abigail, perlahan agar sang pemilik tidak terbangun.


Sikap Abigail yang begitu mengagumkan pada Raiden, berhasil membuat pria itu tertarik untuk lebih dalam mengenal siapa istrinya. Melihat Abigail yang terlelap begitu nyenyak, Raiden ingin melakukan hal yang sama seperti saat masih terbujur tak berdaya di atas tempat tidur.


“Kamu adalah wanita yang luar biasa, Abigail. Aku senang bisa mendapatkan wanita sepertimu. Kamu kuat, cantik, begitu perhatian padaku. Kali ini, biarkan aku yang melakukannya untukmu. Menjaga dan melindungimu.”


Tidak ada jawaban, sepertinya Abigail memang terlelap, pikir Raiden.


Dalam penerangan yang redup, samar wajah Abigail terlihat begitu mempesona. Seperti obat bius yang membuat Raiden tertarik untuk terus menatapnya.


“Hei, Cantik. Biarkan aku terus terjaga hanya untuk menikmati kecantikanmu ini. Kamu sungguh memikat, Abigail. Maafkan aku yang terlambat saat itu.”


Raiden masih setia mengusap rambut Abigail dengan lembut. Pria itu berposisi lebih dekat lagi agar bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan di antara sentuhan kulit tubuh mereka.


“Aku ingat, kamu sangat suka membacakan sebuah kisah padaku. Kamu juga menceritakan semua tentangmu padaku. Kali ini, biarkan aku yang melakukannya. Kamu juga perlu tahu siapa aku dan bagaimana kisah hari-hari yang kulalui sebelum bertemu denganmu.”


Raiden terdiam sejenak, memastikan kembali bahwa Abigail benar-benar terlelap. Lalu, tidak lama kemudian, Raiden mulai menggerakkan bibirnya untuk memberikan kisah kehidupannya pada sang istri.

__ADS_1


“Aku dilahirkan dalam keluarga kaya dan juga penuh dengan tantangan. Kamu bisa melihatnya beberapa waktu ini, bukan? Begitu banyak bahaya yang aku temui selama ini. Pesaing bisnis kakek dan orang tuaku memang sangat banyak, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang ingin menjatuhkan dengan cara kotor, seperti yang dilakukan Tante Yudith dan Paman Laos. Aku tahu, mereka masih satu keluarga, hanya saja mereka terlalu tamak dengan harta yang dimiliki kakek. Puncaknya saat perusahaan jatuh ketanganku, sementara itu Evan tidak mendapatkan apapun. Kamu pasti sudah tahu apa saja yang terjadi padaku dan kondisi kemarin adalah yang terparah selama aku mendapat masalah. Aku kehilangan dua pengawal setiaku. Mereka berakhir tragis saat mencoba melindungiku dari kecelakaan maut itu.”


Seketika wajah Raiden menunjukkan bahwa dirinya teringat dengan kejadian mengerikan saat itu. Raiden terdiam untuk beberapa saat, pandangan matanya tertuju ke arah lain.


Tiba-tiba saja Abigail bergerak dan mengubah posisinya. Hal itu menyadarkan Raiden dan kembali berbicara.


“Sayang, aku harap setelah ini kita bisa selalu bersama. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu setelah urusanku selesai. Akhir-akhir ini pekerjaan membuatku tidak bisa pulang lebih awal. Apa kamu kesepian selama aku tidak ada?” Raiden bertanya tanpa mendapat jawaban karena Abigail masih setia memejamkan mata.


Di sisi lain, tanpa Raiden ketahui. Abigail belum benar-benar tertidur. Dia hanya berpura-pura saja agar tidak perlu menjawab pertanyaan Raiden selama pria itu bercerita dan bertanya.


Selama mendengarkan Raiden, pikiran Abigail dipenuhi perasaan bersalah. Bahkan, dia merasa tidak pantas berada di sana untuk tetap bersama Raiden. Tubuh itu telah dijamah pria lain, sebuah pelecehan yang begitu menyayat hati Abigail hingga merasa tubuhnya selalu kotor.


Aku tidak pantas mendapatkan cintamu, Raiden. Aku tidak pantas. Batin Abigail.


Setiap kalimat yang didengar dari bibir pria tampan itu membuat Abigail semakin larut. Layaknya seorang wanita yang mendapat pujian dan dibanggakan oleh suaminya. Ya, Abigail merasa Raiden terlalu baik dan sempurna untuk dimiliki.


Beberapa kali Abigail meminta maaf pada Raiden, tetapi tidak semua kalimat maaf itu dilontarkan secara langsung. Abigail memilih untuk mengatakannya dalam hati. Berusaha keras menahan agar airmata tidak terjatuh dan membuat Raiden curiga.


“Sayang, bisakah kamu membuka mata sebentar? Kamu membuatku merindukan kebersamaan itu. Sungguh, aku merindukanmu.”

__ADS_1


Ucapan Raiden seperti sebuah pisau yang menusuk jantung Abigail. Mendapatkan cinta yang begitu besar adalah impian setiap wanita. Namun, disaat Abigail mendapatkannya, justru kondisinya sangat mengerikan.


Raiden, berhentilah untuk memberikan kalimat-kalimat indah itu. Aku tidak bisa menerima semua ini. Batin Abigail.


Abigail sedikit terganggu dengan sentuhan yang diberikan Raiden. Ingin rasanya tangan Abigail meraih jemari Raiden dan berkata jangan melakukannya lagi.


Raiden, berhentilah. Aku mohon, aku tidak bisa melakukannya, ucap Abigail dalam hati.


Saat mendengar kisah yang disuguhkan suaminya, Abigail merasa kasihan tapi kehidupannya jauh lebih mengerikan. Hanya saja, ibu tiri dan saudarinya tidak sampai berniatan untuk membunuhnya. Abigail bisa merasakan apa yang Raiden alami selama ini. Satu per satu kisah membuat Abigail seakan hanyut di dalamnya.


Abigail menjadi pendengar yang baik, tanpa berkomentar dan hanya mendengarkan saja. Hanya karena tidak ingin berinteraksi dengan suaminya, Abigail pun berhasil berpura-pura tetap terlelap. Semakin banyak kisah dan perhatian yang diberikan Raiden, semakin banyak rasa bersalah dan tidak percaya diri pada pikiran Abigail.


Wanita itu merasa bahwa tubuhnya sangat kotor, meski saat itu Evan belum menembus mahkotanya. Tetap saja dalam pikiran Abigail semua itu perbuatan hina. Abigail bergerak, tetapi tidak membuka mata, seakan memang gerakan tanpa sadar. Kali ini, dia memilih untuk membelakangi Raiden. Abigail merasa malu saat menunjukkan wajahnya yang tidak menarik saat memejamkan mata. Abigail bisa mendengar Raiden menggerutu ketika melihat istrinya membelakangi dirinya.


“Sayang, tidak bisakah kamu berbalik?” tanya Raiden dengan berbisik.


Sayang, Abigail masih tidak ingin merespon dan berharap Raiden cepat tidur setelah ini. Benar saja, tidak lama setelah itu, Raiden tidak lagi bergerak maupun mengeluarkan suara. Keheningan malam membuat Abigail membuka mata perlahan.


Wanita itu tampak sedih saat melihat kenyataan di depannya. Sosok pria yang begitu hangat dan penuh perhatian, membuat Abigail seakan menjadi wanita yang beruntung. Hanya saja, Abigail tidak ingin mengambil keberuntungan itu, dia merasa semua ini akan menjadi kesialan untuk Raiden jika dilanjutkan. Abigail memilih untuk menyimpan semua hingga merasa lebih baik lagi.

__ADS_1


Maafkan aku, Raiden. Aku tidak bisa menjaga tubuhku untukmu. Tubuh ini tidak pantas mendapat sentuhanmu, bahkan aku merasa ingin sekali menguliti setiap jengkal yang disentuh oleh pria itu. Tubuhku terasa sangat kotor, hingga aku tidak mampu membersihkannya setiap saat. Maafkan aku, Raiden, batin Abigail dengan menahan airmata agar tidak terjatuh dan mengusik tidur Raiden.


Abigail kembali melanjutkan untuk terlelap dalam keheningan dan dinginnya malam ini bersama sang suami.


__ADS_2