Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 18


__ADS_3

#18_Dona dan Aksinya


Malam semakin larut, Dona tampak bersiap untuk melancarkan aksinya di ruang santai rumah mewah itu. Dona tahu, Raiden akan pulang larut malam ini, sehingga semua telah disiapkan secara matang tanpa adanya kelalaian.


Sebelum Raiden sampai di rumah, Dona perlu memastikan bahwa Abigail telah terlelap di kamarnya. Dona tidak mau kesenangan malam ini terganggu oleh istri pria yang menjadi targetnya.


“Baiklah, sebelum mengenakan pakaian ini, aku perlu memastikan dia terlelap di kamarnya.” Dona bergerak menaiki anak tangga untuk sampai di depan kamar Raiden.


Di sana ada dua penjaga yang selalu berdiri untuk melindungi Abigail dari luar. Dona tentu saja tidak akan bisa masuk sembarangan ke dalam. Sehingga, dia pun bertanya pada dua penjaga itu mengenai Abigail.


“Apa dia sudah tidur?” tanya Dona dengan merendahkan suaranya.


“Nyonya baru saja terlelap, Nona. Apa Anda memiliki kepentingan?”


“Tidak, aku tidak memiliki kepentingan, aku hanya ingin tahu saja, apa dia benar-benar terlelap atau masih terjaga.”


“Nyonya baru saja terlelap.”


Dona tersenyum mendengar informasi dari penjaga di sana. Dia pun mengambil langkah untuk menuruni anak tangga menuju kamar tamu. Ya, Dona terbiasa di rumah itu, keluar-masuk dan menginap di kamar tamu.


Dona pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih terbuka. Bagian depannya menunjukkan belahan dada yang begitu menggoda, sedangkan pakaian mini yang dikenakan menyempurnakan tubuhnya dengan menampilkan lekuk tubuh yang indah.


“Ah, aku tampak sempurna malam ini.”


Dona mendengar suara mobil berhenti di depan halaman. Dia pun berlari kecil untuk menyambut kedatangan Raiden. Ya, Dona tahu Abigail tidak akan melakukannya, sehingga itu adalah kesempatan emas untuk membuat luluh hati sang pria.


Raiden ke luar dari mobil dan melihat Dona berdiri di pintu masuk. Pria itu memiringkan kepala dengan tersenyum tipis.


“Ini sudah larut malam, kenapa kamu masih ada di sini?” tanya Raiden yang tidak menyangka dengan keberadaan sang mantan.


“Raiden, malam ini … bisakah kamu menemaniku minum? Aku sungguh merasa sedih dan membutuhkan seseorang untuk menemaniku.”


Dona melancarkan aksinya dengan membujuk Raiden terlebih dulu. Raiden tampak menurut, bahkan dia mengiyakan keinginan Dona untuk minum bersama.

__ADS_1


“Baiklah, setelah itu kamu bisa pulang. Kebetulan aku ingin minum malam ini, jadi … ini adalah malam keberuntunganmu,” ujar Raiden sembari melangkah mendekati Dona.


Dengan perasaan bahagia, Dona meraih lengan pria itu dan mengajaknya ke ruang santai. Dona sudah menyiapkan semuanya di sana. Ada dua gelas dan dua botol wine. Di salah satu gelas telah terdapat obat perangsang yang ditujukan untuk Raiden.


“Kita minum dulu.” Dona meraih gelas dan menuangkan wine untuk Raiden.


“Terima kasih.”


Mereka meneguk secara bersamaan. Dona memastikan bahwa gelas milik Raiden kosong dan benar-benar habis.


“Baiklah, aku rasa masih belum puas jika hanya satu kali, benarkan? Aku tuangkan lagi,” ucap Dona sembari tersenyum dengan tangan yang kini sudah menuangkan satu gelas lagi untuk Raiden.


“Jadi, ada apa? Kenapa kamu terlihat sedih?” tanya Raiden seperti ingin tahu.


Dona mulai menunjukkan ekspresi sedih dan menyesal. Posisinya kini berubah duduk di samping Raiden. Dengan manja, Dona menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dan memulai untuk bercerita tentang keluh kesahnya.


“Raiden, apa kamu ingat saat kita masih bersama? Saat itu kita begitu bahagia, aku masih ingat saat kamu selalu membuatku tersenyum. Aku merindukan saat-saat itu, saat di mana kita bersama, Sayang.”


“Sayangnya kamu mengkhianati aku, Dona. Bukankah kamu sudah bersama Evan sekarang?” sahut Raiden yang kesal tetapi tidak ditunjukkan pada Dona.


“Hei, jangan gila. Simpanan? Dona, sebaiknya kamu berpikir ulang untuk posisi itu. Jika seperti itu, kamu tidak akan bisa bebas berada di rumah ini.” Bukan menolak, Raiden justru membuka pintu untuk Dona semakin menunjukkan keinginannya.


“Kamu benar.”


Dona kembali menuangkan wine, mereka meneguk tiga gelas kali ini. Melihat Raiden tertunduk dengan memijat keningnya, Dona berpikir bahwa pria itu sudah mabuk. Wanita itu pun ikut berpura-pura dengan terhuyung dan jatuh tepat di atas tubuh Raiden.


“Ehm, maaf, Raiden. Sepertinya kepalaku berputar.”


“Ya, tidak masalah. Entah kenapa kepalaku juga terasa sakit. Tidak biasanya aku minum hingga seperti ini.”


“Hem, apa kamu mabuk?”


“Tidak, sepertinya tidak. Apa kamu bisa menambah minumannya? Mungkin aku bisa minum hingga dua atau tiga gelas lagi.”

__ADS_1


“Baiklah, dengan senang hati.”


Dona menyeringai mendengar permintaan Raiden. Wanita itu kini kembali menuangkan wine untuk Raiden dan kembali bersulang.


“Raiden, apa kamu masih mau mendengarkan aku berbicara?” tanya Dona memastikan.


“Ya, tentu saja. Bicaralah! Aku akan menjadi pendengar.”


“Raiden, aku menyesali semuanya. Aku ingin kita kembali seperti dulu, bersama … menjalin hubungan yang renggang karena saudaramu itu. Anggap saja kita kembali memulai semua dari awal. Aku tidak bisa melupakanmu selama ini, Raiden. Bahkan, saat kondisimu seperti kemarin, jika saja Evan tidak menghalangiku. Aku pasti sudah merawatmu dan melihatmu sembuh seperti saat ini. Tapi, semua terhalang karena Evan dan Tante Yudith. Mereka menghalangi aku untuk bertemu denganmu.” Dona kembali membual, membuat Raiden semakin kesal.


“Benarkah? Jahat sekali mereka. Kenapa kamu tidak diperbolehkan untuk bertemu denganku? Aku sangat menantikanmu saat itu.” Raiden semakin membuat Dona yakin bahwa dia sedang mabuk.


“Raiden, wajahmu memerah. Apa kamu mabuk?” Dona tersenyum melihat Raiden semakin tidak bisa mengendalikan diri.


“Hem, entahlah. Aku rasa … ini bukan mabuk. Kenapa tiba-tiba di sini sangat panas? Bukankah ini sudah malam?”


Raiden melonggarkan ikatan dasinya lalu membuka satu kancing kemejanya. Aksi itu berhasil membuat Dona membulatkan mata, akhirnya dia bisa kembali melihat tubuh menggoda Raiden.


“Kamu mau aku bantu, Raiden?”


“Bantu? Untuk apa? Temani aku minum lagi! Aku akan mengambilkan satu botol lagi untuk kita.”


Raiden berjalan menuju ruang penyimpanan wine. Dengan cepat dia kembali agar tidak membuat Dona mengikutinya.


“Ini, tuangkan untukku, Dona.”


Dona kembali menuangkan minuman itu untuk Raiden. Setelah menghabiskan tiga botol, akhirnya Dona merasa berat pada kepala bagian belakangnya.


“Raiden, ehm … aku selesai. Baiklah, aku selesai.”


Raiden menyeringai melihat Dona yang kini tergeletak tak berdaya. Wanita itu terlihat sangat mabuk dengan bagian dada yang hampir memperlihatkan puncaknya.


“Raiden, sentuh aku.” Dona mulai bergumam.

__ADS_1


“Menyentuhmu? Di bagian mana? Kamu akan mendapatkannya setelah ini, Dona.”


“Benarkah? Sebaiknya kita ke kamar agar istrimu tidak melihatnya.”


__ADS_2