Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 23


__ADS_3

"Telepon dari siapa?" tanya Raiden.


Abigail mengulas senyum tipis, kemudian pamit meninggalkan Raiden untuk mengangkat telepon dari Dirham. Wanita itu mulai merasakan firasat buruk saat membaca nama sang ayah di layar ponsel.


"Halo?"


"Abigail, ini Papa. Kamu sedang sibuk?" tanya Dirham pada Abigail.


"Ada apa, Pa? Ada hal penting yang ingin Papa sampaikan?" tanya Abigail langsung pada intinya.


"Papa hanya ingin tahu kabarmu saja. Bagaimana kabarmu dan suamimu?" tanya Dirham berbasa-basi pada putri yang tidak pernah ia pedulikan itu.


Abigail hanya menjawab sekenanya dan tak ingin memperpanjang obrolan dengan sang ayah. "Aku baik-baik aja. Suamiku baik-baik saja. Kalau tidak ada hal penting yang ingin Papa bahas, aku tutup saja teleponnya, ya?"


"T-tunggu sebentar, Abigail! Papa belum selesai bicara!" timpal Dirham.


Pria paruh baya itu terdiam sejenak sebelum mengutarakan niatnya meminta bantuan pada Abigail. "Papa ingin mengatakan hal penting padamu," ungkap Dirham.

__ADS_1


"Suamimu … sudah sembuh, kan?" tanya Dirham kemudian.


"Papa tahu? Raiden sudah pulih," ujar Abigail.


"Bagus kalau begitu! Syukurlah suamimu baik-baik saja," cetus Dirham. "Bisakah kamu memberikan bantuan kecil untuk Papa?"


Abigail hanya diam tanpa menanggapi sang ayah. Sudah ia duga, Dirham menghubunginya hanya karena ada maunya. Pria itu tidak mungkin bersikap manis padanya jika ia tidak membutuhkan sesuatu dari Abigail.


"Bantuan apa?" tanya Abigail mulai was-was.


"Jadi, perusahaan Papa sedang bermasalah sekarang. Perusahaan Papa terancam bangkrut, Abigail. Kalau begini terus, Papa bisa menjadi gelandangan," oceh Dirham dengan memelas pada sang putri. "Tolong bujuk suamimu untuk membantu perusahaan Papa. Minta suamimu untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Papa. Minta juga dia untuk berinvestasi pada perusahaan Papa. Papa membutuhkan banyak dana untuk memulihkan perusahaan," jelas Dirham panjang lebar.


"Maaf, Pa. Untuk hal ini, aku tidak bisa membantu. Suamiku baru saja sembuh, mana mungkin aku berani meminta hal seperti ini pada Raiden?" tolak Abigail dengan sopan pada sang ayah.


"Memangnya kenapa kalau suamimu baru sembuh? Dalam keadaan sakit atau sehat, Raiden tetap kaya, kan? Hanya hal kecil seperti ini saja, kamu tidak mau membantu Papa?" omel Dirham pada sang putri.


"Maaf, Pa! Untuk hal ini, aku tidak bisa!" tegas Abigail tak ingin disetir oleh ayahnya. Tentu saja wanita itu juga tak ingin suaminya diperas oleh sang ayah yang membutuhkan banyak dana.

__ADS_1


"Kamu ini benar-benar tidak ada balas budinya sedikitpun pada orang tua! Kamu tidak ingat siapa yang menikahkan kamu dengan Raiden? Siapa yang mencarikan suami baik untukmu kalau bukan Papa? Kamu ingin menikmati kekayaan suamimu seorang diri dan melihat Papa menjadi gelandangan?" omel Dirham pada Abigail.


Saat bujuk rayu halus tak mempan, pria paruh baya yang sudah stress mengurus perusahaan itu pun akhirnya mengomelinya putrinya dengan amarah meledak-ledak. "Hanya karena menjadi istri Raiden, kamu sudah sombong sekarang? Kamu sudah tidak peduli lagi pada papamu!"


Tut! Abigail langsung mematikan sambungan telepon sebelum omelan Dirham semakin menjadi. Abigail tak ingin merusak hubungan harmonisnya dengan keluarga sang mertua hanya karena orang tuanya yang berusaha memanfaatkan dirinya untuk memeras keluarga suaminya.


"Sialan!" Dirham langsung membanting ponselnya ke lantai hingga telepon genggam itu hancur berantakan.


Marisa terkejut bukan main melihat sang suami yang mengamuk karena permintaannya ditolak mentah-mentah oleh Abigail. Clarisa ikut mendengar omelan Dirham dan makin dibuat jengkel oleh Abigail yang mulai sombong setelah menjadi istri dari pria sempurna seperti Raiden.


"Abigail sialan! Kenapa gadis itu begitu beruntung? Kenapa keberuntungan hanya mendatangi Abigail? Kapan aku mendapat keberuntungan seperti Abigail?" rengek Clarisa seorang diri di dalam kamar.


"Kenapa hanya Abigail yang beruntung? Kenapa dunia tidak adil padaku?" pekik Clarisa sembari melempar barang-barang yang ada di kamarnya.


Nampaknya rasa iri dan cemburu yang berkobar di hatinya sudah hampir meledak-ledak karena hidup sempurna yang dimiliki oleh Abigail yang tidak bisa dimiliki olehnya. "Seharusnya aku yang ada di tempat Abigail sekarang, kan? Seharusnya aku yang menjadi istri dari Raiden, kan?"


Mendadak Clarisa mulai tak terima melihat hidup bahagia saudara tirinya. Jika Clarisa tak menolak untuk dijadikan penebus utang, mungkin saat ini Clarisa yang akan menikmati tempat Abigail sebagai menantu keluarga konglomerat.

__ADS_1


"Aku harus merebut kembali tempatku! Akulah yang pantas menjadi pengantin Raiden! Aku harus mendapatkan Raiden!" cetus Clarisa mulai membuat rencana untuk merayu Raiden.


Ya, gadis yang sudah menyesali keputusannya saat menolak untuk dinikahkan dengan Raiden itu kini justru berbalik mengejar Raiden dan ingin mendapatkan pria itu sebagai suami. "Abigail, tunggu saja nanti! Aku akan mengambil tempat yang seharusnya aku miliki!"


__ADS_2