
#20_Rencana yang Baik
Napas Abigail tersengal, ketakutannya membuat sekujur tubuh basah dengan keringat. Saat langkah pria itu terhenti di kamar, Abigail dengan cepat menggerakkan tubuhnya hingga terlepas. Namun, saat sadar siapa yang membekap mulutnya, tubuh Abigail mendadak lemas hingga hampir saja terjatuh jika pria di depannya tak menangkap.
“Sayang, maafkan aku,” ucap pria yang tak lain adalah Raiden.
Raiden membenarkan posisi Abigail lalu memeluknya dengan erat. Kaki Abigail seakan tidak dapat lagi menopang tubuhnya. Trauma kejadian yang dilakukan Evan sungguh membekas dan membuatnya sering ketakutan saat berada di posisi seperti saat ini.
“Sayang, maafkan aku. Maaf.” Raiden mempererat pelukannya dan berharap Abigail baik-baik saja.
“A-apa yang terjadi? Kenapa kamu ada di sini, Raiden?” tanya Abigail yang bingung dengan keberadaan suaminya.
“Duduk dulu, aku akan menjelaskan apa yang terjadi padamu.” Raiden menuntun Abigail untuk duduk di tepi tempat tidur.
Kedua tangan Raiden menyentuh pundak Abigail dan mencoba untuk menenangkannya dulu. Setelah napas Abigail kembali teratur dan detak jantungnya cukup stabil, Raiden mulai berbicara tentang kejadian bersama Dona.
“Aku tahu, dia menjebakku dengan obat perangsang. Aku melihat semuanya di CCTV, Sayang. Aku juga melihatmu menukar gelas itu. Terima kasih, berkatmu, aku tidak masuk dalam jebakan Dona,” jelas Raiden pada istrinya.
“La-lalu … di mana Dona sekarang? Aku mendengar suara seperti dua orang beradu kasih. Si-siapa yang bersama Dona sekarang, Raiden?”
Raiden tersenyum dan mengacak rambut Abigail karena gemas. “Kamu tidak perlu tahu siapa mereka. Aku sudah mengatur semuanya sejak awal. Aku juga berpura-pura mabuk saat bersama Dona, tetapi pada akhirnya dia sendiri yang tergeletak tak sadarkan diri.”
Abigail memuji kepintaran suaminya karena tidak terjebak dengan rayuan Dona. Sepertinya Raiden memang sangat menjaga diri sejak sadar dari kondisi vegetatifnya.
“Jadi, yang di sana bukan kamu. Syukurlah.”
__ADS_1
Raiden mengurai senyum, merasa jika Abigail sangat khawatir pada dirinya saat bersama Dona. Hal itu membuat Raiden senang hingga tanpa sadar mendekatkan wajahnya tepat di depan bibir Abigail. Ciuman itu tak dapat dihindari oleh Abigail, meski dalam dirinya sudah mencoba untuk tenang, akan tetapi dia justru mengingat malam naas bersama Evan. Sontak Abigail mendorong tubuh Raiden dan hampir berlari. Namun, Raiden menarik tangan Abigail hingga tubuhnya terjatuh di atas Raiden.
Abigail memejamkan mata, tubuhnya kembali bergetar seakan ketakutan menyelimutinya. Melihat hal itu, Raiden menghentikan aksinya dan menyuruh Abigail untuk mambaringkan diri di samping.
“Sudah larut malam, Sayang. Sebaiknya kamu tidur, aku akan di sini menemanimu,” ujar Raiden.
Abigail merasa senang saat Raiden tidak memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri. Rasa takutnya tidak bisa dihilangkan begitu saja selama bekas lebam dan luka di tubuh belum hilang.
“Raiden, a-aku—“ Raiden meletakkan satu jari telunjuknya di bibir Abigail.
“Ssstt! Tidurlah, kamu pasti lelah karena menungguku. Terima kasih, Sayang.”
Mendengar kata terima kasih berulang dari bibir suaminya, Abigail merasa semakin kecil hati dan tidak pantas berada di sana—di sisi pria baik itu.
Raiden tampak bahagia memiliki Abigail yang begitu mengkhawatirkannya saat Dona ingin berbuat jahat malam ini. Tidak hanya itu, Raiden merasa semua karena perasaan Abigail pada suaminya adalah cinta. Raiden kembali tersenyum saat merasa ada yang mencintainya dengan tulus, tanpa memikirkan harta yang dimiliki.
“Kamu memang berbeda dari wanita-wanita di luar sana, Sayang. Aku merasa sangat beruntung mendapatkanmu, semua berawal dari kakek, ya … aku senang pilihan kakek tidak pernah salah. Dia memberikan wanita terbaik padaku dan itu adalah dirimu, Abigail.” Raiden berbicara dengan nada sangat rendah agar Abigail tidak terganggu.
Abigail mengenakan pakaian tidur, sebuah pakaian yang menampilkan sebagian tubuhnya. Tentu saja pemandangan itu menarik Raiden untuk menyusurinya. Namun, tiba-tiba saja pandangan Raiden terhenti. Sebuah luka, tidak, beberapa luka terlihat jelas di kaki dan tangan Abigail.
“Apa ini? Kenapa ada banyak sekali luka gesekan? Ini seperti sedang di gosok dengan keras.”
Pandangan mata Raiden kembali mengedar ke seluruh tubuh Abigail dan mencari apakah masih ada luka lainnya?
Benar saja, Raiden menemukan beberapa luka yang sama. Dia merasa bodoh karena tidak tahu kondisi istrinya sendiri selama sibuk dengan urusan pekerjaan dan kasus yang dilakukan Yudith.
__ADS_1
“Sayang, apa yang kamu lakukan selama ini? Kenapa tubuhmu terlihat seperti ini?”
Raiden beranjak dari tempat tidur, sebelumnya dia memastikan dulu bahwa Abigail tidak terbangun dengan pergerakannya. Pria itu ke luar dari kamar dan memanggil pengawal yang diperintahkan untuk berdiri di depan kamarnya.
“Apa yang kalian ketahui tentang kegiatan istriku selama beberapa hari ini?”
“Maaf, Tuan. Nyonya lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar mandi. Setidaknya itu yang dikatakan pelayan di sini. Bahkan, Nyonya bisa menghabiskan waktu hingga hampir jam makan siang di dalam sana. Namun, hari ini tidak biasanya Nyonya ke luar dari kamar. Nyonya berbeda dan jauh lebih baik saat pagi ini menyapa beberapa pelayan dan orang-orang di rumah ini,” jelas pengawal di sana.
Raiden meraih ponselnya dan melihat rekaman CCTV yang ada di kamarnya. Sebuah pemandangan yang mengejutkan membuat Raiden merutuki dirinya sendiri. Pria itu merasa gagal dalam melindungi Abigail. Dalam rekaman itu, Abigail sedang menggosok tubuhnya dan beberapa bagian lain yang masih menyisakan bekas luka peninggalan Evan. Dengan wajah penuh ketakutan dan merasa hina dengan tubuhnya sendiri, Abigail terlihat menangis dan berkata, “Aku kotor, aku sangat kotor. Aku tidak bisa seperti ini terus, aku tidak pantas untuk Raiden.”
Hati Raiden begitu sakit mendengar apa yang terjadi di sana. Raiden kembali ke kamar dan melihat sosok wanita di atas tempat tidur. Raiden menyuruh pengawal untuk mencari obat oles agar luka di tubuh Abigail segera menghilang.
Raiden kembali menatap wajah Abigail, wajah itu membuatnya semakin mencintai istrinya. Raiden bahkan berjanji dalam dirinya agar menjaga dan membantu Abigail untuk menjadi istri yang pantas dicintai olehnya.
Jemari Raiden menyentuh wajah Abigail, diusapnya dengan lembut. Lalu, tidak lama kemudian, pengawal yang mendapat perintah dari Raiden pun muncul membawa obat oles untuk Abigail.
“Tuan, ini adalah obat yang saya temukan di ruang kesehatan. Di sana terlihat ada kotak obat dan ini salah satunya.”
“Baiklah, kamu bisa pergi, aku akan mengurus istriku sendiri sekarang.”
Setelah kepergian pengawal itu, kini Radien mulai mengoleskan obat tersebut di luka yang masih terlihat di tubuh Abigail.
“Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh minta maaf. Ini semua salahku, jika saja saat itu aku langsung terbangun dan menolongmu. Mungkin kamu tidak akan mengalami hal ini,” ujar Raiden sembari mengusap lembut luka di sekitar kaki Abigail.
“Hem, Raiden. Apa yang kamu lakukan?” tanya Abigail.
__ADS_1