Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 19


__ADS_3

#19_Senjata Makan Tuan


Raiden masih mencegah Dona untuk beranjak dari tempatnya. Pria itu justru kembali mengajak Dona untuk meminum wine yang masih ada di meja. Kali ini Raiden yang menuangkan minuman itu untuk Dona, meski Dona menolak tetapi raider memaksanya untuk menghabiskan satu gelas itu dengan alasan gelas terakhir mereka.


"Ayolah, ini gelas terakhir untuk menghabiskan malam ini bersama." Raiden masih mencoba untuk membujuk Dona agar meneguk gelas terakhir itu.


Dengan sedikit rayuannya, akhirnya Raiden berhasil membuat Dona meminum wine itu. Tepat setelah Dona meletakkan gelas kosongnya, tubuh wanita itu terhubung dan tidak sadarkan diri di pelukan Raiden.


Raiden tersenyum miring melihat Dona tak sadarkan diri. Pria itu mengetahui semua rencana busuk mantan kekasihnya. Tanpa Dona tahu, gelas yang tercampur dengan obat perangsang telah ditukar oleh Abigail saat dia lengah. Sedangkan Raiden sendiri mengetahui semua dari CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah mewah tersebut.


Sebagai hukuman atas rencana buruknya, Dona di bawah masuk ke kamar tamu yang penuh dengan pria hidung belang. Raiden memerintahkan seluruh pria yang ada di kamar tersebut untuk menikmati malam ini bersama sang mantan kekasih.


Tubuh Dona terbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Sentuhan yang dilakukan membuatnya menggelinjang, merasa bahwa pria yang saat ini menyentuhnya adalah Raiden. Dona pun mendesah memanggil nama pria yang minum bersamanya beberapa saat lalu.


Tanpa mengeluarkan suara, para pria di sana secara bergantian menikmati kegiatan ranjang tersebut. Satu per satu membuat Dona merancau dan terus memanggil nama Raiden.


“Raiden, kenapa kamu kasar sekali. itu menyiksa, tetapi aku menyukainya,” ucap Dona masih dengan mata terpejam.


“Dasar wanita gila! Bisa-bisanya dia memanggil nama pria lain tanpa melihat siapa yang sedang menghujam tubuhnya.” Seorang pria menyeringai melihat Dona yang terus mendesah.


“Hei, apa kamu sudah selesai? Giliranku.” Seorang pria lain berdiri dan menggantikan pria yang baru saja membuat Dona mendapatkan pelepasan pertamanya.


“Bagaimana jika kita main bersama? Aku rasa dia akan tetap menikmati semua milik kita,” celetuk seorang pria yang kini mendekati Dona.


Mereka benar-benar melakukannya, menghujam setiap area sensitif wanita itu. Hingga akhirnya Dona membuka mata dan melihat ada tiga pria sedang menautkan milik mereka.

__ADS_1


***


Di sisi lain yang berada di kamar tampak terbangun. Lebih tepatnya dia berpura-pura terlelap saat Dona memastikan apakah dia sudah tertidur atau belum?


Perasaan gelisah menyelimuti istri dari Raiden. Pikirannya kini sangat terganggu dengan jebakan yang dilakukan Dona. Abigail berharap apa yang dilakukan Dona gagal karena dia telah menukar gelas mereka.


"Aku yakin, Raiden tidak akan terjebak. Tapi, kenapa hatiku tidak tenang?" gerutu Abigail sembari berjalan mondar-mandir di kamar.


Abigail menggigit kuku jarinya dan berusaha tetap tenang di kamar. Sayang, hal itu tidak membantu.


"Kenapa Raiden tidak kunjung kembali ke kamar? Apa mereka melakukannya? Apa Raiden kembali pada Dona?"


Abigail terlihat mengacak rambutnya. Rasa kesah dan gelisah bercampur, hingga membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik untuk saat ini. Bahkan, Abigail terlihat mengintip dari balik pintu kamar untuk memastikan keberadaan suaminya. Namun, sepertinya Raiden belum terlihat menaiki anak tangga yang terlihat jelas dari posisi Abigail saat ini.


Tiba-tiba saja seorang pengawal memunculkan kepalanya dan membuat Abigail terkejut hingga melangkah mundur beberapa langkah. Pengawal itu meminta maaf saat membuat Abigail ketakutan, dia pun mengatakan bahwa Raiden masih ada di lantai dasar untuk menemani Dona.


Abigail berwajah murung, sekali lagi dia dibuat khawatir. Perasaannya bercampur aduk, di sisi lain tidak ingin Raiden kembali terjebak, sementara itu hatinya sendiri tidak ingin suaminya berselingkuh. Ya, Abigail adalah istri sah yang memiliki hak untuk merasa cemburu atau marah saat suaminya bersama wanita lain. Apalagi posisi mereka ada di rumah itu.


“Dona sangat licik, dia tahu Raiden memiliki istri, kenapa dia masih ingin merebutnya? Dasar! Kenapa hatiku tidak bisa tenang?”


Abigail mencoba untuk duduk dan menenangkan diri. Sayangnya, semua tidak berhasil membuatnya tenang. Wanita itu merasa ada yang aneh dengan keberadaan Raiden di bawah.


Akhirnya, Abigail memutuskan untuk ke luar dari kamar. dia mengendap-endap agar tidak mengeluarkan suara yang membuat curiga. Langkahnya berhenti di tangga menuju lantai bawah. Matanya mengedar pada area yang memiliki penerangan sangat kurang itu.


“Kenapa aku tidak bisa melihat apa pun dari sini?” Abigail memutuskan kembali ke kamar saat merasa ada yang bergerak mendekati tangga.

__ADS_1


Detak jantung Abigail berpacu, seakan berada di sebuah tempat penuh misteri. Abigail berusaha untuk tidak teringat akan kejadian beberapa hari lalu. Dia mengatur napas dengan perlahan hingga detak jantungnya kembali normal.


Masih di dalam kamar, Abigail mengusap dadanya agar tenang. Merasa tidak ada yang muncul dari tangga, dia kembali ke luar dengan menyembulkan kepalanya terlebih dulu. Memastikan apakah ada orang lain di sana atau tidak. Saat ini, pengawal yang ada di depan kamar Abigail tidak ada di sana. Entah ke mana pria berjas hitam itu.


“Mereka selalu saja seenaknya, datang dan pergi tanpa mengatakan apa pun. Aku seperti melihat hantu yang berjaga saja,” ucap Abigail sembari melangkah ke luar.


Perlahan, langkahnya kembali mendekati tangga. Meski pandangan matanya terhalang oleh penerangan yang kurang. Abigail mencoba memastikan dengan menuruni anak tangga secara mengendap-endap. Samar dari bagian tengah anak tangga, Abigail bisa mendengar suara Dona merancau. Suara itu menyakiti hati Abigail. Seakan tahu apa yang sedang dilakukan wanita itu di kamar tamu. Abigail memegang dadanya, berusaha untuk tetap tegar dalam hal ini.


“Kenapa rasanya sakit?” tanya Abigail pada diri sendiri.


Langkahnya terasa berat, bahkan untuk kembali ke kamar sekalipun. Abigail tidak rela membiarkan kegiatan itu terjadi, dengan berat dia kembali melanjutkan langkahnya. Namun, baru satu langkah tubuhnya terduduk. Airmatanya menggenang hampir jatuh, Abigail berusaha untuk tetap kuat karena suara Dona semakin terdengar menyayat hatinya.


“Tidak mungkin. Raiden tidak mungkin melakukannya bersama Dona. Aku sudah menukar gelas itu, apa mungkin Dona mengetahuinya?” gumam Abigail.


Kembali berdiri, Abigail hampir sampai di lantai bawah. Namun, tiba-tiba saja dari belakang seseorang membekap mulutnya. Hal itu membuat Abigail meronta dan mengalami ketakutan yang tinggi.


“Hmph!”


Abigail terus bergerak, berusaha melepaskan dirinya dari tahanan seseorang di belakangnya. Tetapi, tubuhnya justru ditarik ke atas tangga. Langah mereka sedikit terhambat saat Abigail meneteskan airmata.


Siapa dia? Kenapa dia menutup mulutku seperti ini? Aku takut, Raiden. Tolong aku! Siapa pun, tolong aku! Batin Abigail sembari terisak.


Sampai di lantai dua, Abigail dimasukkan ke kamarnya. Lalu tubuhnya berbalik dan masuk dalam pelukan orang tersebut.


“Lepaskan!”

__ADS_1


__ADS_2