Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 22


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, hingga tak terasa Abigail sudah mencapai kebahagiaan yang sempurna bersama dengan keluarga baru yang melimpahkan cinta dan kasih sayang padanya. Kehadiran Raiden dalam hidupnya benar-benar bagaikan hadiah dan berkah yang mengubah hidup Abigail sepenuhnya.


"Sayang, apa yang kamu lakukan di sini?" tegur Raiden pada Abigail yang tengah melamun, menatap langit malam yang penuh dengan bintang.


Abigail menoleh ke arah sang suami dan melempar senyum manis pada pria yang begitu mencintainya itu. "Tidak ada. Aku hanya … sedang memikirkan sesuatu," jawab Abigail.


"Memikirkan apa? Kamu sedang ada masalah?" tanya Raiden.


Abigail menggeleng pelan. Senyum mengembang masih terukir jelas di wajah cantik istri Raiden itu. "Bukan itu. Aku hanya … sedang memikirkanmu," cetus Abigail. "Aku benar-benar beruntung, ya?"


"Beruntung kenapa?"


"Memiliki kamu dan datang ke keluarga ini … aku benar-benar beruntung. Aku tidak menyangka aku akan memiliki kehidupan yang sempurna seperti ini. Mempunyai suami yang perhatian sepeti kamu. Mempunya keluarga yang menyambutku dengan hangat dan menyayangiku. Aku benar-benar bahagia," ungkap Abigail dengan manik mata berkaca-kaca.


Mengingat nasib buruknya di keluarga Dirham, jelas hidup bersama dengan Raiden seribu kali lipat lebih menyenangkan daripada hidup bersama keluarga istri kedua dari ayah Abigail. "Aku sangat beruntung bisa mendapatkan limpahan kasih sayang dari semua orang," sambungnya.


Raiden mengusap lembut rambut sang istri, kemudian memeluk erat wanita yang sudah menjadi ratu di hatinya itu. "Kamu pantas mendapatkan kasih sayang dari semua orang, Sayang. Kamu pantas bahagia, Abigail."


"Terima kasih, Raiden. Berkat kamu, aku menemukan rumah yang penuh dengan kehangatan. Rumah yang membuatku ingin pulang," sahut Abigail sembari membalas dekapan erat sang suami. Kakek Rafael dan seluruh keluarga Raiden juga memperlakukan Abigail dengan baik dan memberikan curahan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan di rumah Dirham.


Raiden mendekap sang istri makin erat usai mendengar perkataan sang istri. "Aku juga tidak kalah beruntung. Aku juga sangat beruntung bisa memilikimu, Abigail." Pasangan suami istri itu pun tenggelam dalam pelukan romantis di sela rasa syukur mereka bisa saling memiliki satu sama lain dan berjumpa dalam tali pernikahan yang menyatukan mereka.


"Ada Paman Matthew dan Sharon di bawah. Ayo, kita sapa mereka!" ajak Raiden pada sang istri.


Abigail pun mendapatkan sambutan hangat dari Paman Matthew dan juga anaknya, Sharon. Seluruh keluarga Raiden begitu ramah pada Abigail dan menyambut baik istri dari Raiden itu.

__ADS_1


Paman Matthew dan Sharon baru kembali dari Paris. Tentu saja tidak termasuk Yudit serta Laos karena mereka sudah berpindah ke hotel prodeo.


Sementara Abigail mendapatkan hidup yang sempurna, Dirham justru makin terpuruk dan terancam bangkrut. Ya, perusahaan milik ayah Abigail itu makin amburadul disaat Abigail sudah bisa menikmati hidup tenang nan damai bersama dengan Raiden.


"Pa, aku dengar Raiden sudah sembuh dan mulai kembali mengurus perusahaan. Apa Papa tahu mengenai berita ini?" tanya Marisa pada sang suami.


Kabar tentang Raiden yang telah sembuh dari Vegetatif dan comeback ke perusahaan pun terdengar sampai ke telinga Dirham dan juga istrinya Marisa. "Raiden … sembuh?" tanya Dirham cukup terkejut dengan berita yang disampaikan oleh sang istri.


"Rumornya sudah menyebar ke mana-mana. Abigail, gadis sial itu tidak mengatakan apa pun padamu?" tanya Marisa.


"Aku belum tahu kalau Raiden sudah pulih dan kembali ke perusahaan. Kamu sudah memastikan berita ini benar?" tanya Dirham.


"Kalau tidak percaya, hubungi saja putrimu sana!" cetus Marisa pada Dirham.


Dirham pun segera mencari informasi untuk memastikan mengenai kabar yang beredar tentang suami Abigail yang sebelumnya mengalami kondisi vegetatif. Tak butuh waktu lama bagi Dirham untuk mendapatkan kabar tentang kesembuhan Raiden. Rupanya kembalinya cucu keluarga konglomerat itu tengah menjadi buah bibir banyak orang, terutama di kalangan rekan-rekan di dunia bisnis.


"Benar, Tuan. Tuan Raiden sudah kembali ke perusahaan."


Dirham cukup terkejut dengan kabar mengenai Raiden yang ternyata dapat kembali pulih dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Namun, pria paruh baya itu juga cukup senang ia bisa mendapatkan menantu dari keluarga hebat. Ya, tentu saja pria paruh baya itu menyambut kesembuhan Raiden dengan suka cita. Alasan utamanya tentu karena Dirham membutuhkan bantuan Raiden.


"Bagaimana, Pa? Benar, kan?" tanya Marisa.


Bak menemukan harta karun, kembalinya Raiden akan dijadikan ladang emas oleh Dirham untuk mengembalikan perusahaannya yang hampir bangkrut. "Benar. Raiden sudah sembuh," ungkap Dirham.


"Abigail beruntung sekali! Bisa mendapatkan suami tampan, sehat, dan kaya!" gerutu Marisa kesal mengingat nasib mujur yang diperoleh anak tirinya, Abigail.

__ADS_1


Percakapan Dirham dan Marisa pun tak sengaja terdengar oleh Clarisa. Tak jauh berbeda dari sang ibu, saudara tiri dari Abigail itu ikut kesal saat mengetahui kabar baik mengenai Raiden.


"Raiden sudah sembuh? Itu artinya … Abigail tidak perlu mengurus suami koma? Abigail bisa mendapatkan suami sempurna yang sudah pulih?" geram Clarisa tak terima.


Di sela-sela perbincangan Dirham dan Marisa, tiba-tiba ponsel Dirham berdering tiada habisnya meladeni pegawai di perusahaannya yang tengah kalang kabut mengurus perusahaan yang sudah amburadul itu. Dirham pun sukses dibuat pusing oleh banyaknya panggilan telepon yang masuk dan semuanya mengeluhkan perusahaannya.


"Sial! Kepalaku hampir pecah mengurus ponsel ini!" geram Dirham hampir saja membanting ponsel kecil yang sejak tadi berdering.


Marisa yang melihat suaminya mengomel, hanya bisa diam tanpa bisa membantu apa pun. "Kenapa tidak mencoba menghubungi Abigail saja?" cetus Marisa.


Dirham terdiam sejenak. Siapa lagi yang dapat membantunya saat ini kalau bukan orang yang mempunyai uang? Dan orang terdekat yang bisa ia mintai tolong saat ini hanyalah suami dari Abigail.


"Coba hubungi anakmu, Pa! Raiden adalah menantu kita, kan? Coba saja minta bantuan pada Raiden. Aku juga tidak mau jatuh miskin karena perusahaan yang berantakan seperti sekarang," ujar Marisa.


"Siapa juga yang ingin jatuh miskin? Aku juga tidak mau jatuh miskin," tukas Dirham.


Pria paruh baya itu mengambil ponselnya dan menatap nomor sang putri di layar telepon genggam miliknya. Setelah mengorbankan Abigail demi melunasi utang, Dirham dengan tampang tak berdosanya berencana meminta bantuan dari suami Abigail yang sudah sembuh untuk membantu keluarganya.


"Abigail pasti akan membantu kita, kan?" gumam Dirham pada Marisa.


"Tentu saja harus! Siapa yang sudah menikahkan Abigail dengan Raiden? Kita, kan? Gadis itu ingin menikmati harta Raiden seorang diri?" gerutu Marisa. "Hanya bantuan kecil seperti ini, sudah seharusnya dia membantu kita, kan?"


Tentunya Marisa tak rela jika anak tirinya yang sudah ia korbankan itu dapat menikmati hidup nyaman sebagai menantu dari keluarga konglomerat. Jika saja Raiden tidak sakit, sejak awal Marisa pasti akan menawarkan putrinya menjadi pengantin Raiden.


"Seharusnya putriku yang menjadi nyonya keluarga kaya sekarang, kan?" oceh Marisa penuh sesal.

__ADS_1


Dirham pun segera menyingkir dari Marisa dan mencari tempat yang nyaman untuk menghubungi putrinya. Beruntungnya panggilan telepon Dirham langsung diangkat oleh Abigail yang tengah menikmati waktu santainya bersama sang suami.


"Telepon dari siapa?" tanya Raiden.


__ADS_2