Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 21


__ADS_3

#21_Pergulatan Suami Istri


Raiden terkejut saat melihat Abigail membuka mata. Sentuhannya mengusik tidur sang istri dan kini mereka tampak canggung setelah Raiden tertangkap basah. Radien menatap wajah Abigail yang malu dengan luka-luka di tubuhnya. Tidak ingin terjadi salah paham, Raiden pun menjelaskan pada Abigail mengenai hubungan yang akan mereka jalani setelah ini.


Abigail masih tertunduk dan tidak bisa menatap mata Raiden. Bukan hanya rasa malu saja yang kini muncul, dia bahkan merasa lebih tidak pantas saat diperlakukan begitu istimewa oleh Raiden. Saat pria itu kembali menyentuh tubuhnya, Abigail menahan tangan suaminya.


“Radien, apa yang kamu lakukan? Biarkan saja, aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Abigail.


“Sayang, kamu istriku. Sudah sepatutnya aku ikut mengobati luka-luka ini. Biarkan aku melakukannya,” ucap Raiden sembari menyingkirkan tangan Abigail dengan perlahan.


Merasa tidak nyaman, Abigail mengubah posisinya dengan menjauhi pria itu. Dua kali Abigail menggeser tubuhnya hingga sampai di tengah bagian tempat tidur. Raiden pun tidak berencana berhenti dari usahanya untuk membantu sang istri. Pria itu justru semakin mendekat dan sedikit memaksa Abigail untuk menurut.


“Tenangkan dirimu, Sayang. Atau aku akan memaksamu untuk diam.”


Akhirnya, Abigail menurut. Tidak ada pergerakan saat Raiden kembali mengoleskan obat itu ke kulit lembut Abigail.


“Sudah selesai. Lain kali, jangan mengulangi apa yang terjadi beberapa hari ini. Gunakan ini, Sayang. Aku akan meletakkannya di nakas agar kamu bisa dengan mudah meraihnya.”


Abigail tersenyum tipis melihat kepedulian suaminya. Namun, tiba-tiba saja dalam benak Abigail terbesit jika semua itu hanyalah rasa kasihan. Abigail kembali resah dan menjaga jarak dari Raiden.


“Sayang, aku tidak akan melepaskanmu. Apa pun yang terjadi selama ini, kamu tetap istriku. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kamu tidak pantas untukku. Justru, kamu adalah wanita yang sempurna untuk kumiliki, Sayang. Saat ini, hingga seterusnya, kamu adalah istriku.”


Mendengar kalimat yang diucapkan Raiden, hati Abigail luluh dan berusaha untuk menerima apa yang ada di depannya saat ini. Abigail berusaha meyakinkan dirinya agar bisa melewati masa-masa buruk itu bersama Raiden.


“Raiden, bukankah tubuh ini telah kotor oleh—“ Raiden menghentikan ucapan Abigail dengan meletakkan satu jarinya di bibir.


“Bukankah sudah kukatakan, kamu tetap istriku. Apa pun yang terjadi kemarin. Lupakan semuanya, Sayang. Aku yakin, kamu bisa melakukannya. Mulai saat ini, hilangkan pikiran burukmu terhadap hubungan kita. Aku ingin kamu berada di sisiku, aku ingin kamu menjadi sosok istri seperti sebelum aku kembali sadar.”


Terlihat ada senyum kecil di bibir Abigail. Sepertinya, Raiden mulai bisa mengendalikan perasaannya pada Abigail. Mendapatkan sosok yang begitu peduli dan juga sempat membantunya untuk kasus yang dilakukan Yudith, Raiden merasa Abigail adalah wanita yang tepat dan sangat sempurna untuk dimiliki.


Tubuh Raiden bergerak untuk bergabung dengan Abigail. Pria itu berada di samping Abigail dengan tangan yang melingkar pada tubuh istrinya. Raiden mempererat pelukannya dan berbisik pada Abigail, “Sayang, sepertinya … aku mencintaimu sejak kita menikah.”


Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelimuti tubuh Abigail. Desirah rasa yang dikatakan Raiden rupanya mengalir pada tubuhnya.


“Raiden, aku tidak yakin dengan hal ini.”


“Sayang, yakinkan dirimu untuk selalu ada di sampingku. Aku akan melakukan hal yang sama padamu, seperti saat kamu menjaga dan merawatku.”


“Raiden, aku sungguh tidak tahu harus berkata apa? Aku bahkan tidak memiliki kalimat yang tepat untukmu saat ini.”


“Tidak perlu dengan kata-kata, Sayang. Cukup dengan kebersamaan ini, aku bisa merasakan bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku.”


Abigail merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Raiden. Hingga pelukan itu sedikit memiliki jarak, pandangan mata keduanya bertemu. Raiden mendekatkan wajahnya dengan perlahan, sampai kedua bibir mereka bertemu. Tidak ada jarak di antara mereka dan ciuman terjadi begitu saja.


Raiden memberikan ciuman yang begitu lembut dan memabukkan untuk Abigail. Perlahan tangan Raiden pun menyusuri punggung istrinya. Menyentuh dengan lembut, mengalirkan gairah yang membuat darah mereka mendidih untuk melakukan penyatuan.

__ADS_1


Saat salah satu tangan Raiden menyentuh bagian depan tubuh Abigail, sontak wanita itu melepaskan ciumannya. Abigail masih ketakutan saat Raiden melakukannya.


“Hei, aku bukan orang lain. Aku suamimu, Sayang. Tenang saja, kita lakukan dengan perlahan.” Suara lembut Raiden menenangkan Abigail.


Wanita itu kembali masuk dalam kabut gairah yang dibuat suaminya. kali ini, tangan Raiden berhasil menelusup masuk dan menyentuh bagian dalam tubuh itu.


“Hum.” Desssahan Abigail tertahan karena ciuman mereka.


Raiden sungguh melakukannya dengan lembut, memberikan sentuhan yang begitu candu. Saat ciuman itu terlepas, Raiden berpindah dengan mengecupi leher Abigail.


“Ahh.”


Tanpa sadar, Abigail pun mendesssah. Mendengar suara istrinya, Raiden tersenyum penuh kemenangan. Kegiatan itu pun berlanjut, hingga Radien berhasil menanggalkan satu per satu pakaian tidur istrinya.


Malu, Abigail menutup bagian depan tubuhnya dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya menutup bagian sensitive yang ada di bawah sana.


“Aku suamimu, Abigail. Jangan malu saat aku melihat tubuhmu karena setelah ini, kamu juga melihat milikku,” ujar Raiden dengan lembut sembari melepaskan satu per satu tangan yang menutup bagian terindah itu.


Raiden memberikan pijatan pada dua gunungan kenyal milik Abigail. Hal itu membuat dada Abigail mengencang dan ada rasa nyaman saat Radien melakukannya.


“Ahh, Raiden. Hentikan, aku takut.”


“Tidak perlu takut, Sayang. Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati.”


“Raiden, geli. Jangan lakukan itu. Ahh.”


“Kamu menyukainya, Sayang? Aku akan melanjutkannya.”


Kali ini, Raiden berada di bagian bawah Abigail. Tatapan mata Abigail tampak takut, seakan melihat wajah Evan di sana. Wanita itu pun bergerak dengan cepat dan hampir melompat turun dari tempat tidur. Tetapi, Raiden dengan cepat meraih tubuh Abigail dan memeluknya dengan erat.


“Hei, tenanglah. Aku tidak akan melakukannya seperti pria bajingan itu. Sayang, tenanglah.”


Butuh beberapa detik untuk membuat Abigail kembali tenang. Hingga akhirnya Raiden kembali memberikan kecupan lembut di punggung wanita itu. Sementara itu, satu tangan Riaden mulai bermain di bagian sensitive. Abigail menggelinjang saat jemari Raiden mengusap miliknya dengan lembut.


“Uhm, Raiden. Jangan mempermainkannya. Aku mohon.”


Raiden kembali mengulas senyum, rupanya sentuhan itu berhasil. Kini, satu jarinya berhasil masuk dan mengaduk area paling berharga itu.


“Akh!” pekik Abigail yang terkejut dengan kegiatan tersebut.


“Kamu menyukainya?” tanya Raiden dengan berbisik.


Dengan malu Abigail mengangguk.


“Aku akan melanjutkannya, Sayang.”

__ADS_1


Milik Abigail sangat basah karena kegiatan yang dilakukan Raiden. Pria itu kembali membalik tubuh istrinya hingga berhadapan dengannya. Kedua bibir mereka kembali bertemu, kali ini Raiden bergerak perlahan sampai tubuhnya menindih Abigail.


Raiden mulai melepaskan celana yang sejak awal mengurung miliknya. Sesuatu yang mengeras di balik celananya, kini terlihat menjulang dan ingin dimanjakan. Abigail masih pada posisinya, menerima ciuman lembut Raiden. Tanpa tahu bahwa suaminya tak lagi mengenakan apa pun di bagian bawah sana.


Gesekan-gesekan kecil dilakukan Raiden pada bagian sensitif Abigail. Hal itu tentu membuat wanita itu membulatkan matanya, menggeleng seakan berkata jangan lakukan.


“Aku akan melakukannya dengan perlahan,” bisik Raiden yang kini bersiap menautkan miliknya.


Awalnya, Raiden mengalami kesulitan. Hingga bagian ujungnya bisa sedikit masuk, Raiden pun mendorong pinggul hingga miliknya masuk dengan sempurna.


Abigail merasa sakit dan perih pada bagian bawahnya, hingga tanpa sadar menggigit bibir suaminya hingga berdarah. Raiden membiarkan Abigail melakukannya. Dia tahu, hal itu pasti menyakiti Abigail. Raiden tidak lagi bergerak, dia memeluk Abigail agar miliknya terbiasa di sana.


“Raiden, sakit. Lepaskan aku,” ucap Abigail memohon.


“Kamu akan terbiasa, Sayang. Tenanglah, ahh … milikmu sangat sempit, Sayang. Aku akan menggerakkan milikku dengan perlahan setelah ini.”


Airmata Abigail pun mengalir dari pelupuk matanya.


“Aku mencintaimu, Sayang,” ucap Raiden sembari menggerakkan pinggulnya untuk memompa tubuh Abigail.


Dessahan-dessahan kecil akhirnya keluar dari bibir Abigail. Sepertinya, wanita itu mulai terbiasa dengan kegiatan panas mereka saat ini. Sementara itu, Raiden kembali menghujam tubuh istrinya dengan rasa nikmat yang didapat.


“Sayang, aku rasa … aku bisa melakukannya sepanjang malam.”


“Hum? Raiden, cukup. Aku ingin ke kamar mandi.”


“Keluarkan saja di sini, Sayang. Sepertinya milikku juga ingin segera keluar. Baiklah, kita bisa melanjutkannya setelah kamu beristirahat.”


“Apa?”


Raiden mempercepat gerakannya, membuat Abigail merancau dan memanggil nama pria itu. Hingga tubuh keduanya menegang, Raiden memenuhi rahim istrinya dengan cairan percintaan itu.


Tubuh keduanya terasa lemas, Raiden menarik selimut untuk menutup tubuh keduanya.


“Aku ingin ke kamar mandi, Raiden. Kenapa kamu menutup tubuh kita dengan selimut?”


“Biarkan seperti ini, aku ingin melakukannya lagi nanti.”


“Tidak, Raiden. Lepaskan, keluarkan milikmu dari sana. Itu sangat memenuhi milikku.”


“Sepertinya milikku kecanduan di sana. Bagaimana ini?”


“Apa? Kamu sedang bercanda, bukan? Raiden, lepaskan aku.”


Bukannya melepaskan, Raiden justru semakin mempererat pelukannya. Pada akhirnya, mereka pun terlelap bersama hingga keesokan harinya.

__ADS_1


__ADS_2