
"Apa mungkin Abigail sudah tahu? Mungkin saja Abigail tahu kedekatanmu dengan Raiden dan dia mencoba mempengaruhi suaminya, kan? Pasti ini ulah Abigail!" cetus Marisa begitu semangat menyalahkan Abigail atas peristiwa yang dialami oleh Clarisa.
Clarisa masih saja menangis, meluapkan kesedihan di hatinya dan kekecewaannya pad Raiden yang telah mempermainkan perasaannya. "Saat aku memeluk Raiden, pria itu diam saja, Ma. Saat aku meminta diantar pulang, pria itu mengantarku pulang. Saat aku menghampirinya untuk makan siang, pria itu juga tidak menolak. Ini sudah cukup memberikan bukti kalau aku dan Raiden memang mempunyai kedekatan khusus, kan? Aku hampir saja berhasil mendapatkan Raiden! Tapi Abigail justru muncul malam ini dan menyombongkan dirinya sebagai istri Raiden! Aku benar-benar tidak terima!"
Marisa mengepalkan tangan kuat-kuat sembari mengusap lembut rambut putrinya dengan penuh kasih. "Abigail benar-benar keterlaluan! Sudah merebut calon suami orang, sekarang dia masih berani berlagak?" gerutu Marisa.
"Kamu tenang saja, Clarisa! Mama akan membalas gadis sombong yang bertingkah itu!" sambungnya.
"Apa aku masih bisa mendapatkan Raiden kembali? Aku ingin Raiden, Ma! Aku benar-benar menyukai Raiden!" ungkap Clarisa dengan tidak tahu malunya mengakui dirinya yang menaruh hati pada suami orang.
"Kau bisa mencari cara lain untuk menarik perhatian Raiden, kan? Mama akan membantumu mendapatkan Raiden kembali!"
Di kemudian harinya, wanita paruh baya itu pun benar-benar mendatangi Mansion RA dan bermaksud membuat perhitungan dengan Abigail dan menuntu Raiden yang sudah membuat Clarisa menangis semalaman. Marisa membuat keributan di mansion dan memaki-maki Abigail sesuka hati tanpa ampun.
“Abigail! Keluar kamu! Berani sekali kamu membuat putriku menangis!” teriak Marisa dengan suara lantang di mansion tempat Abigail tinggal.
Abigail yang tengah bersantai di dalam kamar pun mulai terusik karena suara bising yang dibuat oleh Marisa. "Nyonya … ada tamu yang datang."
Tak lama kemudian, Abigail pun menyambut ibu tirinya yang datang tanpa diundang dan bersikap tidak sopan di depan nyonya rumah. "Apa kamu tidak punya sopan santun sedikitpun saat sedang bertamu di rumah orang lain?" sinis Abigail pada Marisa.
Bukannya merendahkan suara, Marisa justru berteriak makin lantang bak menantang wanita yang sudah membuat putrinya menggila itu. “Mana suami kamu! Aku akan menuntut Raiden! Berani sekali kalian mempermalukan putriku di depan banyak orang?” pekik Marisa.
“Kamu pikir kamu siapa, hah? Kamu ingin berlagak menjadi nyonya kaya dan menginjak-injak orang sesuka hati, begitu?” sambungnya.
__ADS_1
Abigail hanya diam dan membiarkan Marisa mengoceh sesukanya. Wanita itu nampak tak terganggu sedikitpun dengan apa pun yang diucapkan oleh Marisa.
“Dasar anak sialan! Tidak tahu diuntung! Ingin berlagak sombong kamu sekarang?” sungut Marisa.
Nampak para pelayan pun mulai berkumpul bersama dengan petugas keamanan untuk mengusir wanita itu, tapi Abigail belum juga memberi perintah untuk mengusir Marisa. Wanita itu ingin mendengar semua hal yang ingin diucapkan oleh Marisa pada dirinya.
"Kalau tahu begini, aku tidak akan menikahkanmu dengan Raiden! Seharusnya putriku yang menikmati kemewahan ini! Putriku hanya ingin mengambil calon suaminya kembali, apa kamu tidak mengerti?"
"Calon suami siapa yang akan diambil kembali?" Suara menggelegar pun mulai menggema di area mansion dan membuat Marisa bungkam seketika.
Suara itu tak lain berasal dari Raiden. Pria yang baru saja pulang itu tak sengaja mendengar suara omelan Marisa pada Abigail. Raiden dibuat geram bukan main saat sang istri dicaci maki sesuka hati oleh tamu tak diundang yang membuat keributan di mansion.
“Tamu tidak tahu diri dari mana ini?” geram Raiden membuat Marisa yang sejak tadi mengoceh, mendadak langsung membungkam mulut rapat-rapat.
Abigail segera menghampiri sang suami dan mencoba menenangkan Raiden yang sudah naik pitam. "Kamu sudah pulang? Biar aku yang mengurus tamu ini. Kamu pasti lelah, kan?" sambut Abigail pada sang suami.
“Sudah biarkan saja! Nanti juga dia lelah sendiri,” bisik Abigail pada sang suami untuk tidak terpancing pada perkataan ibu tirinya.
“Masih berani berteriak di depan istriku? Tunggu dan lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu setelah ini!” ancam Raiden pada Marisa.
Lutut Marisa dibuat gemetaran hanya karena melihat tatapan menyeramkan yang dilayangkan Raiden padanya. Marisa yang tak berkutik di depan Raiden pun langsung mundur dan kembali ke rumahnya.
Bahkan dalam lomba saling menatap, Marisa tak mampu membalas tatapan tajam dari Raiden. Jika ia terus mengoceh, mungkin Raiden tidak hanya akan melayangkan tatapan tajam padanya, melainkan juga senjata tajam.
__ADS_1
"Lain kali jangan biarkan sembarangan orang masuk kemari! Terutama wanita yang tadi tadi! Kalian paham?" omel Raiden pada para pegawainya.
"Kamu baik-baik saja, kan? Apa yang dilakukan wanita itu di sini?" tanya Raiden dengan suara lembut pada sang istri. Pria yang baru saja mengomel dan berteriak itu mampu berubah menjadi pria manis dalam sekejap di hadapan istrinya.
"Aku baik-baik saja. Dia tidak melukaiku," jawab Abigail.
"Tidak mungkin dia tidak melukaimu! Sudah jelas dia melukai hatimu!" omel Raiden. "Aku tidak akan melepaskan orang-orang tidak tahu diri itu!"
Raiden bergegas menghubungi asistennya dan meminta untuk meluluhlantakkan perusahaan milik Dirham secepat mungkin. "Buat keluarga itu hancur! Sekarang juga!"
Tepat setelah Marisa kembali, ia pun mendapatkan kabar buruk mengenai perusahaan Dirham. "Apa? Bangkrut? Bagaimana bisa?" pekik Marisa tak percaya saat mendapatkan kabar dari sang suami.
"Sebentar lagi rumah ini akan disita. Sebaiknya kamu berkemas," ujar Dirham dengan tubuh lemas.
Ya, perusahaan sang suami pun dinyatakan bangkrut dalam sekejap mata. Raiden yang pendendam nampaknya tak memberikan ampun sedikitpun pada Marisa dan juga Dirham. Mereka pun kehilangan perusahaan dan semua aset, hingga Marisa dan Dirham berakhir menjadi gelandangan.
"Ini tidak mungkin 'kan, Pa? Mama tidak mau menjadi gelandangan! Lakukan sesuatu, Pa!" rengek Marisa menangisi nasib sialnya.
Tak hanya itu, Clarisa pun dibuat gila karena terlalu sakit hati pada Raiden yang tak bisa menjadi miliknya. "Ma, Raiden akan datang menjemputku, kan? Kapan Raiden akan datang, Ma? Aku sudah siap sejak tadi," oceh Clarisa tak henti-hentinya menyebut nama Raiden.
"Berhenti menyebut nama itu! Kamu lihat keadaan kita sekarang! Ini bukan saatnya memikirkan Raiden!" geram Marisa pada putrinya.
"Aku ingin Raiden, Ma! Bawa Raiden ke hadapanku sekarang juga! Aku ingin Raiden!" pekik Clarisa di tengah-tengah keributan keluarganya yang tengah pusing mengurus harta benda mereka yang sudah tak bersisa.
__ADS_1
Hidup keluarga Dirham pun hancur dalam sekejap mata karena Raiden. Sementara, hidup Abigail kini akhirnya menjadi tenang tanpa gangguan dari ibu tiri dan saudara tirinya yang sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka.
****