Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 33


__ADS_3

Abigail hanya bisa menangis melihat suaminya yang saat ini sudah memegang pistol. Pasangan suami istri itu dihadapkan pada pilihan sulit karena ulah manusia dengki seperti Evan yang mengusik hidup tenang mereka.


"Cepat! Tembak kepalamu sendiri kalau kamu mau istrimu selamat!" titah Evan.


Tentu Raiden tak masalah jika harus mati demi Abigail. Tapi pastinya pria itu tak mau mati hanya karena perintah dari Evan yang memainkan permainan licik.


"Jangan lakukan!" pekik Abigail tiba-tiba. Meski tengah dilanda ketakutan setengah mati, Abigail tak akan rela suaminya mati demi dirinya.


"Jangan lakukan, Raiden! Kalau kamu pergi, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup? Lebih baik aku mati daripada aku harus menjalani hidup tanpamu!" ujar Abigail dengan derai air mata.


"Lalu bagaimana denganku? Aku harus membiarkanmu jatuh dari sana begitu saja?" timpal Raiden.


Pasangan suami istri itu mulai serba salah dan terlibat perdebatan di antara dua pilihan sulit. Terutama Raiden, pria itu mulai putus asa karena tak dapat melakukan apa pun disaat nyawa istrinya sudah terancam.


"Jangan bodoh, Raiden! Biarkan saja aku mati!" cetus Abigail.


"Jangan egois, Abigail! Kamu sama sekali tidak memikirkan aku? Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?" sahut Raiden.


Dalam suasana genting seperti ini, Evan nampak menikmati keributan yang terjadi antara Raiden dan Abigail. "Teruskan! Melihat wajah putus asa kalian benar-benar membuatku puas!" tukas Evan dengan tawa lepas.


"Pergi saja dari sini! Lanjutkan saja hidupmu!" pekik Abigail tak tahu lagi bagaimana ia harus membujuk Raiden agar tak memenuhi permintaan Evan untuk menembak diri.


"Ayo, Raiden! Cepat arahkan pistolnya ke kepalamu!" titah Evan.


Raiden mengepalkan tangan kuat-kuat. Sebisa mungkin ia harus segera menemukan celah sebelum terjadi sesuatu pada Abigail.


"Lepaskan dulu, Abigail! Kau tidak lihat istriku terus bergelantungan sejak tadi?" pinta Raiden.


"Melepaskannya? Memangnya kau siapa berani memerintahku? Akulah yang berkuasa di sini! Kalau kau tidak segera menembak kepalamu, aku akan menjatuhkan wanita ini!" ancam Evan sembari melonggarkan talinya hingga Abigail turun ke bawah sedikit demi sedikit.

__ADS_1


"Hentikan!" pekik Raiden.


Abigail yang bergelantungan di atap hanya bisa berteriak, meluapkan ketakutan dalam dirinya. Hati Raiden makin teriris mendengar suara jerit ketakutan sang istri tercinta. Pria itu hanya dapat memandangi Evan dari jauh, tanpa bisa menghajar pria brengsek yang menyiksa istrinya itu.


"Jangan lakukan, Raiden!" pinta Abigail.


Walaupun saat ini wanita itu berada dalam posisi yang sulit, tapi Abigail tetap memikirkan sang suami tercinta. Tetap mengutamakan Raiden di atas dirinya.


"Menangis lah, Abigail! Menangis yang kencang! Aku sangat suka melihat ekspresi Raiden saat ini. Ekspresi putus asa!" cibir Evan puas membuat Raiden dan Abigail saat ini.


"Hidup Abigail ada di tanganku, Raiden! Sebaiknya kau segera mengambil keputusan sebelum aku kehilangan kesabaran!" titah Evan makin berada di atas angin.


Ya, Raiden harus membuat Evan senang demi bisa membuat celah. Disaat pria itu terlena dengan kepuasan, disaat itu pula Evan akan lengah.


"Mengemislah padaku! Kau ingin mengemis untuk dirimu, atau untuk istrimu?" cetus Evan dengan sombongnya memperlihatkan kekuasaan di depan Raiden dan Abigail. Saat ini memang Evan-lah penguasa situasi, tapi tak lama lagi Raiden akan mengambil alih.


Dorr!


Evan langsung tumbang dan tali yang dipegang oleh pria itu pun jatuh ke bawah bersama dengan Abigail. Pria itu tak menyangka dirinya akan menjadi sasaran peluru dan situasi akan berbalik begitu cepatnya.


Tinggal sedikit lagi saja, Evan bisa membuat hidup Raiden hancur. Namun, niat jahat pria itu tak akan terlaksana dan rencananya sudah gagal total di tangan Raiden. Kali ini, Raiden-lah yang memegang kendali dan bersiap untuk membalas Evan yang sudah mempermainkan dirinya dan sang istri.


"Aargghh! Raiden sialan!"


Begitu Evan terkena peluru dari Raize, Raiden segera berlari ke arah Abigail dan berusaha menangkap sang istri yang terjun dari atap. Suara teriakan pun terdengar dari Evan yang tertembak serta pekikan Abigail yang jatuh ke bawah dari atap bangunan gudang.


Untungnya Raiden dapat menangkap Abigail yang sudah tak sadarkan diri. Sementara, Evan yang terkena tembakan di kakinya, berusaha melarikan diri dari atap.


"Sialan! Raiden sialan! Rencanaku berantakan!" gerutu Evan sembari menahan sakit di kakinya dan berlari tertatih meninggalkan gudang.

__ADS_1


"Abigail? Kamu baik-baik saja, kan? Abigail! Tolong sadarlah!" ujar Raiden mulai panik saat melihat istrinya yang tak sadarkan diri.


Pria itu segera menggotong sang istri pergi dari gudang tersebut, sementara para bodyguard Raiden berusaha menangkap Evan yang melarikan diri. "Tangkap Evan sekarang juga! Jangan sampai dia lolos!" titah Raize mengambil alih pada puluhan anak buah yang Raiden bawa.


Evan mulai terkepung di tengah-tengah puluhan pria berotot yang mencoba mengejar dirinya. Dengan kondisi kaki yang terluka karena peluru yang menembus kulit, Evan tentu tak bisa pergi jauh dari gudang dan tak dapat melarikan diri dengan leluasa.


"Tangkap dia!" Gudang mulai riuh dengan banyaknya bodyguard yang berlarian menyebar ke seluruh sisi bangunan untuk menangkap Evan yang sudah berbuat ulah.


Pria itu dapat dilumpuhkan dengan mudahnya, dan segera dibawa ke hotel prodeo. Acara kejar-kejaran pun berakhir dengan tertangkapnya Evan di tangan para bodyguard Raiden yang bergerak dengan sigap.


"Tuan, target sudah tertangkap!" lapor Raize. Usai sudah urusan mengenai Evan yang kabur.


Kini Raiden bisa fokus mengurus sang istri yang tengah ia bawa menuju ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. "Sadarlah, Abigail! Aku mohon, tolong bangun!" pinta Raiden hampir putus asa menunggu sang istri membuka mata.


Wajah Abigail sudah pucat dan tubuh wanita itu benar-benar lemas. Abigail pasti sudah tak sanggup menahan ketakutan sejak dirinya bertemu dengan Evan.


"Abigail, tolong bertahanlah!" Raiden tak tahan lagi membendung air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


Tak lama kemudian, akhirnya pria itu pun sampai di rumah sakit dan segera membawa Abigail masuk untuk mendapatkan penanganan.


Keluarga Raiden pun mulai ikut heboh karena ulah Evan hingga Abigail dilarikan ke rumah sakit. Raiden hanya bisa menunggu di luar ruang rawat dan mendoakan sang istri yang saat ini tengah menerima perawatan intensif dari dokter.


"Abigail ... kamu harus baik-baik saja! Tolong bertahan demi aku!" gumam Raiden mulai kalut memikirkan hal yang tidak-tidak mengenai sang istri.


Kakek Rafael segera menghubungi Raiden dan menanyakan kondisi Abigail yang saat ini masih ditangani oleh dokter. "Halo, Raiden? Bagaimana keadaan Abigail? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Kakek Rafael.


Raiden terdiam sejenak. Berat sekali mulutnya untuk berbicara. "Bagaimana, Raiden? Apa Evan melakukan sesuatu pada Abigail? Apa Abigail terluka parah?" tanya Kakek Rafael mulai tak sabaran.


"Dokter masih ada di dalam. Aku belum pasti bagaimana keadaan Abigail sekarang," ungkap Raiden.

__ADS_1


__ADS_2