
Abigail hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya di tangan Evan. Airmata yang terus mengalirtak membuat Evan berhenti menghujam Abigail dengan sentuhan gairah. Pandangan mata Abigail terus tertuju pada Raiden yang kini hanya terbujur kaku tanpa melakukan pembelaan.
“Raiden, bangunlah, kumohon,” pinta Abigail dengan terisak dan hampir tak terdengar suaranya.
Airmata semakin jatuh, dalam hatinya sungguh hancur. Bagian intimnya terus merasakan hujaman yang dilakukan Evan. Rasa itu bercampur dengan sakit yang begitu melekat.
“Lepaskan aku!”
“Ah … kamu sungguh nikmat, Abigail. Sayang sekali Raiden hanya bisa menyaksikan saja tanpa ikut menikmatinya. Hahaha.”
Evan kembali menikmati bagian depan tubuh Abigail menyesap dan meninggalkan jejak kemerahan di mana-mana.
Merasa kotor dengan tubuhnya sendiri, Abigail masih berusaha untuk melepaskan diri. Meski dia tahu semua sia-sia, Abigail tidak akan menyerah.
Siapa pun, tolong aku! Tolong aku! Raiden, tidakkah kamu ingin menyelamatkan istrimu ini? batin Abigail yang kini menangis dan berteriak.
Saat satu tangan Abigail berhasil terlepas, satu tamparan dilayangkan ke wajah Evan. Hal itu tidak membuat Evan berhenti dan semakin menyukai Abigail. Bahkan, Evan tidak memberi waktu untuk Abigail bernapas lebih lama dengan gerakan jarinya di bagian inti.
“Akh! Dasar pria kurang ajar! Bisa-bisanya kau melakukan ini pada istri saudaramu sendiri.”
Ucapan Abigail membuat Evan tertawa, bahkan tidak sekalipun dia menganggap Raiden sebagai saudara.
“Kamu sangat lucu, Abigail. Aku bahkan tidak menganggap Raiden sebagai saudaraku. Dia lebih pantas disebut perebut harta yang seharusnya menjadi milikku. Kamu harus tahu itu. Sekarang, aku akan mengambil semuanya dari tangan Raiden, termasuk istrinya yang disia-siakan.”
“Akh! Berhenti! Jangan lakukan itu, aku mohon!”
“Kita bahkan belum sampai di kegiatan utama, Sayang. Milikku belum dimanjakan di dalam sana. Sejak awal, aku hanya membantumu menyalurkan hasrat yang pasti tidak pernah kamu lakukan dengan Raiden. Ya, tunggu sebentar lagi. Aku akan membuatmu mengeluarkannya beberapa kali, lalu aku akan dengan puas menanamkan milikku di dalam sana.”
“Tidak! Jangan lakukan itu, Evan. Kumohon!”
“Hahaha, teruslah memohon agar aku semakin bersemangat menghujammu dengan sentuhan-sentuhan memabukkan, Sayang.”
Abigail menengok pada Raiden yang kini juga menatapnya. Airmata itu kembali mengalir, kata maaf pun terlontar dari bibir Abigail.
“Raiden, kamu melihatnya. Tolong aku, Raiden.”
__ADS_1
“Ah, rupanya saudaraku menyaksikan kegiatan kita, Sayang. Pasti dia sangat menginginkannya, tetapi sayang … tubuh Abigail sekarang menjadi milikku.”
“Maafkan aku, Raiden. Maafkan aku. Aku tak bisa melawannya,” ucap Abigail menyesali kelemahannya.
Tatapan mata Raiden menunjukkan kemarahan, Raiden memiliki kesadaran layaknya manusia normal, hanya saja, tubuhnya tidak dapat bergerak bebas.
“Lihatlah ini, Raiden. Akan kubuat istrimu menyebut namaku berkali-kali. Tapi, tunggu sebentar lagi, saat milikku bersatu dengan miliknya.”
Evan kembali menempatkan wajahnya di antara kaki Abigail. Wajah itu tenggelam di sana, membuat Abigail mengerang dan merasakan sakit juga nikmat yang berpadu. Tangan Abigail yang kembali terikat tidak bisa menahan kegiatan Evan. Bahkan kakinya terasa lemas dan tak bertenaga lagi setelah jemari Evan mengoyak miliknya.
“Ahh … ini sungguh lezat, sudah berapa kali kamu mengeluarkannya, Sayang? Hum? Ayo, jawablah! Jangan malu dengan suamimu itu, dia pasti akan mengerti bahwa kamu tidak bisa melakukan ini seorang diri.”
“Manusia tak memiliki akal! Brengsek!” ucap Abigail mengumpati Evan.
“Apa? Kamu berkata apa, Sayang? Siapa yang mengajarkan kalimat kasar seperti itu, hum? Kamu ingin kuhukum?”
“Argh! Sakit! Evan, kamu gila! Leapskan aku!”
“Milikku sudah berdiri dengan sempurna, sudah waktunya untuk bermain di dalam sana, Sayang.”
Evan memajukan pinggulnya, membuat Abigail semakin menangis karena ada sesuatu yang terluka di bagian miliknya. Rupanya Evan melukai bagian lain dari intimnya.
“Itu sa-kit, Evan! Sa-kit!”
Evan menyeringai meski tahu liang mana yang sedang mencoba dia masuki.
“Aku hanya mencobanya saja, Sayang. Rupanya terlalu sempit hingga kepalanya saja tidak bisa masuk, hahaha. Baiklah, aku akan melakukannya dengan benar kali ini.”
Meski Abigail belum sepenuhnya terlepas dari pakaiannya, Evan tidak peduli. Baru saja Evan ingin melakukannya, ponsel pria itu berdering. Evan menghentikan kegiatannya sejenak untuk menerima panggilan itu. Namun, sebelum panggilan di terima, dia membekap mulut Abigail dengan kain.
“Hem? Ada apa? Kamu sangat menggangguku!”
“Maaf, apa kamu sedang bersenang-senang?”
“Tentu saja, aku sedang bersenang-senang, apa yang bisa dilakukan di malam hari jika bukan melakukan hal itu, hem?”
__ADS_1
“Hahaha, baiklah, lanjutkan saja. Mungkin lain kali kita bisa ke kelab malam bersama.”
“Ya, baiklah.”
Even meletakkan ponselnya kembali, lalu melihat Abigail masih setengah bertelanjang dan mencoba untuk kabur darinya. Pria itu terkekeh dengan usaha Abigail. Meski tahu wanita itu tidak akan bisa lolos darinya, Evan kembali meletakkan tubuhnya di atas Abigail. Menindih dengan menggesekkan bagian bawahnya.
Abigail menggeleng keras saat merasakan sesuatu mulai menghujam miliknya dengan penuh nafsu.
“Pasti karena milikmu masih tersegel, ini yang membuat milikku kesulitan untuk masuk, Sayang.”
“Raiden, tolong!” Abigail berteriak sekuat tenaga sembari memejamkan mata.
Tepat di saat itu juga, tubuh Evan terpental jauh hingga menghantam meja dan membuat suara gaduh. Abigail mengatur napasnya saat tubuhnya terasa ditutup selimut. Mata Abigail terbuka dan melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Perlahan, tangan Abigail juga terlepas dari ikatan yang dibuat Evan.
Abigail merasa jantungnya akan melompat ke luar saat melihat siapa yang kini ada di hadapannya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya pria yang kini ada di hadapan Abigail.
Abigail hanya mengangguk dan tersenyum padanya.
Di sudut kamar itu, Evan berusaha untuk bangkit dan membulatkan matanya saat melihat siapa yang membuatnya terlempar jauh. Rasanya tulang punggungnya mengalami cidera akibat terpental jauh. Evan kesulitan untuk berdiri, hingga pria di dekat Abigail berjalan perlahan ke arahnya.
“Ti-tidak mungkin, ini tidak mungkin. Kamu tidak mungkin bisa—“
“Apa yang tidak mungkin terjadi, Evan?”
Tepat di saat itu juga, pintu kamar Raiden terbuka dan beberapa orang terlihat mematung di sana, mereka melihat sosok yang selama ini dijaga dan dirawat Abigail sudah berdiri di hadapan mereka. Sementara itu, tatapan mata mereka juga tidak luput dari pemandangan di sekitar. Terutama Abigail yang kini terlihat kacau dengan selimut menutup tubuhnya.
“Kenapa kalian diam saja?! Bantu aku!” seru Evan yang akhirnya mendapat satu pukulan keras di wajahnya.
“Kamu tidak pantas dibantu.”
“Raiden!” Abigail menyerukan nama suaminya dan berhasil membuat Raiden teralihkan.
Pria itu kembali berjalan mendekati Abigail, lalu memeluknya dengan erat. “Maafkan aku.”
__ADS_1
“Terima kasih, Raiden.” Abigail merasa nyaman berada dalam pelukan pria itu. Bahkan, kedua matanya kini terpejam merasakan kenyamanan tersebut.