
Setelah menenangkan Abigail, Raiden kembali berbalik badan dan melihat Evan yang berusaha untuk pergi dari kamarnya. Dengan sekali tarik, tubuh Evan kini terseret dan lagi-lagi mendapatkan pukulan secara langsung dari tangan Raiden. Pria itu tidak memberikan jeda pada Evan, setelah menarik dan memukul, Raiden bahkan menghantam Evan dengan vas bunga di atas nakas hingga terpecah.
Hantaman keras did apatkan Evan hingga tubuhnya terasa lemas tak bertenaga lagi. Di depan pintu, Raize dan satu pengawal lainnya hanya berdiri menyaksikan. Mereka tidak ingin ikut campur jika tidak ada perintah langsung dari atasan.
“Akh! Hati-hati dengan pukulanmu, Raiden! Kamu bisa membuat ketampananku menghilang!” protes Evan yang semakin mendapatkan hinaan dari Raiden.
Tidak ingin berhenti, Raiden dipenuhi dengan emosi tinggi dan tidak ada kata ampun untuk pria itu. Meski seseorang mencoba untuk menghentikan aksi Raiden, hal itu akan sia-sia.
Di kepala Raiden, setiap kalimat yang Evan lontarkan dalam kegiatan bejatnya masih terngiang. Apalagi saat Abigail memohon untuk dilepaskannya.
“Kau sungguh tidak tahu diri, Evan!”
Bugh!
“Argh! Cukup! Baiklah, biarkan aku pergi!”
“Apa? Kamu sungguh tidak tahu diri rupanya.”
Satu pukulan kembali membuat wajah tampan itu semakin tidak berbentuk lagi. Bagaimana tidak? Raiden memukul Evan tanpa henti, sampai wajah Evan penuh dengan cairan merah.
Evan tidak bergerak untuk beberapa detik, lalu meludahkan darah kental dari bibirnya. Pria itu masih mencoba mencari kesadarannya. Beberapa kali pandangan matanya melihat pada Abigail yang menatapnya. Evan semakin ingin membuat Abigail merasakan apa yang dia rasakan saat ini.
“Apa kamu sudah selesai, Raiden? Hanya itu saja yang bisa kamu lakukan?” Evan sungguh memancing emosi Raiden.
Bugh!
Yudith yang terganggu dengan keributan di lantai atas pun datang. Betapa terkejutnya dia saat melihat Raden sadar dan tengah menghajar anaknya. Wanita paruh baya itu berteriak dan menyuruh Raiden berhenti untuk melukai saudaranya.
“Raiden! Berhenti! Kamu mau bunuh anakku, hem?!” tanya Yudith dengan mata melotot.
Yudith mendekati anaknya dan melihat luka yang didapatkan Evan. Sungguh malang nasib Evan di tangan Raiden mala mini, niat hati ingin memberi pelajaran pada istri saudaranya, justru dirinya yang mendapat hadiah pukulan bertubi-tubi dari suaminya.
__ADS_1
“Jika itu yang Tante inginkan, aku akan mengabulkannya dengan senang hati.” Raiden menyeringai mendengar ucapan Yudith tentang kematian.
Melihat posisi Evan tanpa busana membuat Yudith berpikir bahwa anaknya sedang melakukan kesalahan besar. Apalagi Abigail ada di atas tempat tidur dengan tertutup selimut dan tampak terdiam dengan wajah sembab.
Raiden kembali menghujamkan pukulannya ke wajah Evan dan tubuh lainnya, hingga Evan meringis dan merasa ada sesuatu yang retak dalam beberapa bagian tubuhnya.
“Hentikan! Kamu tidak lihat dia tidak bisa melawan?!”
Yudith menyuruh pengawal di depan pintu untuk mengamankan Evan, lalu mengekor ke luar. Mereka tidak langsung menuju rumah sakit, Evan memilih untuk diobati di rumah saja. Yudith tidak ingin berita tentang Even beredar, dia pun setuju dengan Evan untuk mengobati lukanya di rumah mewah itu.
Raiden kembali melihat kondisi Abigail, memastikan bahwa istrinya baik-baik saja saat ini, sebelum dia ke luar dan menemui orang-orang yang kini merasa dipermainkan.
“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” tanya Raiden dengan lembut sembari mengusap pipi Abigail.
“Raiden, aku takut.” Abigail mengungkapkan isi hatinya.
Tentu saja dia sangat ketakutan, bagaimana tidak? Pelecehan yang didapatkan Abigail sangat nyata dan membuatnya mendapat trauma.
“Raiden, hati-hati. Mereka sangat jahat.” Abigail memberi peringatan pada Raiden agar lebih berhati-hati saat bersama Yudith dan Laos.
“Aku tahu.” Raiden merasa senang saat tahu sang istri mengkhawatirkannya.
Raiden mengecup kening Abigail dan berjalan ke luar dari kamarnya. Bersama Raize, Raiden menuju lantai dasar bangunan megah itu. Dia melihat Yudith sedang membantu mengobati luka-luka yang didapatkan Evan. Kali ini, Evan mengenakan pakaiannya dengan benar.
“Apa pukulan itu masih kurang untukmu?” Suara Raiden membuat Even gelisah, tetapi di depannya ada sang ibu yang siap melindunginya.
Raiden melangkah untuk mendekat, tetapi ada dua pengawal Yudith yang menjadi penghalang di sana. Raiden berdecak saat tahu Yudith menggunakan kekuasaannya untuk melindungi anak tidak tahu diri itu.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu. Aku cukup terkejut kamu terbangun hanya untuk menghajar Evan.” Yudith mengomel meski tahu Evan bersalah dalam hal ini.
Untuk sementara waktu wanita paruh baya itu turut andil dalam perlindungan anaknya.
__ADS_1
“Apa? Kenapa Tante tidak bertanya padanya? Apa yang dia lakukan di sana? Apa yang dia lakukan pada istriku? Kenapa tidak Tante tanyakan?” tanya Raiden dengan suara keras dan menggema di ruangan itu.
Dari pintu masuk, terlihat Laos baru saja tiba. Malam larut seperti ini, pria itu baru saja tiba dan melihat pemandangan mengerikan. Pria itu tak kalah terkejut saat melihat Raiden ada di hadapan istri dan anaknya. Laos mendekat dan melihat wajah Evan tidak utuh lagi.
“Ada apa ini? Raiden, kamu sudah sadar rupanya.” Laos cukup baik untuk menyembunyikan keterkejutannya pada kesadaran Raiden.
“Ya, Paman. Aku sudah sadar.” Raiden mendekati Laos dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Evan kenapa dengan wajahmu itu? Apa yang terjadi di sini?” Laos kembali bertanya dan memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi di sana.
“Paman bisa bertanya pada anak itu. Apa yang membuatnya bisa mendapatkan hiasan di wajah tampannya?”
Laos menatap istri dan anaknya bergantian. Mereka semakin tertunduk dan Laos tahu jika Evan bersalah dalam hal ini.
Setelah percakapan tak berunjung itu, Raiden memilih untuk kembali ke kamarnya dan menemui Abigail yang kini terlelap.
Raiden bergabung di tempat tidur, tangannya menyentuh dengan lembut wajah istrinya. Lalu, tidak lama setelah itu ponselnya berdering dan membuat Raiden terganggu. Nomor tidak dikenal dan membuat Raiden mengerutkan keningnya saat menerima panggilan itu.
“Raiden.”
“Kakek.”
Di seberang sana, Rafael tidak menyangka saat mendengar pengakuan Raiden tentang Evan. Hanya saja, selain itu juga ada hal yang membuatnya kesal saat tahu Raiden sadar kembali.
“Temui aku besok pagi di ruangan pribadiku. Kita perlu bicara mengenai banyak hal!”
“Baik, Kakek. Aku mengerti.”
Raiden mengusap wajahnya dengan kasar. Dari tempat tidur, terlihat Abigail menatapnya dengan wajah tidak percaya. Pria itu mendekati istrinya lalu duduk di tepi tempat tidur. Abigail mengubah posisinya lalu memiringkan kepala.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Raiden?”
__ADS_1
Raiden masih terdiam dengan ingatan terakhirnya tentang kejadian di rumah sakit.