
#14_Posisi Terancam
Setelah percakapan dengan Raiden selesai, Rafael menghampiri Evan di rumah sakit. Ya, Yudith dan Laos khawatir dengan keadaan anaknya, sehingga dilarikan ke rumah sakit untuk penanganan medis lebih lanjut.
Rafael beserta pengawalnya menuju rumah sakit sesaat setelah mengetahui keberadaan Evan. Pria tua itu tentu saja tidak akan melepaskan apa yang sudah dilakukan cucunya. Menyakiti seorang wanita adalah hal paling dibenci Rafael, terlebih sampai membuat wanita tersebut mengalami luka yang tidak mudah untuk dihilangkan.
“Apa Yudith dan Laos ada di rumah sakit itu?” tanya Rafael pada pengawalnya yang ikut bersama Yudith di rumah sakit.
“Iya, Tuan. Semua ada di sini untuk menjaga Tuan Evan.”
“Baiklah, aku segera sampai. jangan biarkan Yudith pergi dari sana.”
“Baik, Tuan.”
Panggilan telepon itu selesai dan mobil yang ditumpangi Rafael berhenti di lobi rumah sakit. Rafael berjalan bersama dua pengawal di belakangnya. Dia segera menuju kamar pasien tempat Evan menginap.
Tanpa mengetuk pintu, Rafael masuk begitu saja dan melihat semua orang sedang menikmati mimpi masing-masing. Rafael menggeleng, lalu mendekati Evan yang terganggu dengan kedatangan sang kakek.
“Ka-kek?” panggil Evan dengan suara lirih, seperti menahan sakit.
“Aku tidak tahu jika Raiden sangat kuat setelah lama tertidur. Rupanya … meski dia sudah lama tidak berolah raga, staminanya masih terjaga. Aku bisa melihatnya dari wajahmu.”
Ucapan Rafael membuat Evan terdiam. Wajahnya penuh dengan ketakutan dan keraguan untuk berbicara.
“Jangan berkata apa pun. Aku datang ingin memberikan sesuatu padamu.”
Evan membulatkan matanya saat mendengar ucapan Rafael.
“Hum? Papa! Sejak kapan Papa ada di sini?” Yudith baru saja terbangun dan mendekati Rafael.
__ADS_1
Begitu juga dengan Laos yang terganggu dengan suara istrinya. Pria itu berposisi duduk dan melihat ke arah di mana Rafael berdiri.
“Kalian sangat lelah, sebaiknya tidur saja lagi. Aku hanya ingin berbicara dengan anak kalian.”
“Pa-pa, sepertinya ini semua bukan salah Evan. Aku sangat yakin, Abigail yang menggodanya sehingga Evan pun—“ Ucapan Yudith terhenti saat satu tangan Rafael terangkat untuk menghentikan ucapannya.
“Aku tidak perlu penjelasan darimu. Aku ingin mendengarnya sendiri, dari mulut anakmu.”
“Ka-kek, a-aku … aku minta maaf. Aku sungguh tidak berniar seperti itu, hanya saja … seperti yang Mama katakan, dia menggodaku dan memintaku untuk—“
“Cukup, Evan! Kamu sudah tertangkap basah oleh saudaramu, sekarang kamu masih ingin mengelak? Aku sungguh tidak bisa berpikir lagi, bagaimana bisa aku membiarkanmu berbicara. Hah! Kalian sungguh membuat aku malu!” Rafael menunjukkan kekecewaannya pada mereka bertiga.
Evan tertunduk, lalu dari belakang Rafael ada yang menyodorkan berkas pada Evan.
“A-apa ini, Kakek?”
Evan masih terdiam, seakan tidak tahu apa yang bisa dilakukannya saat ini.
“Papa, kenapa Evan yang pergi?” sahut Yudith.
“Apa kamu mau menggantikannya? Tinggal di sana tanpa adanya sosial media. Dan telepon hanya bisa digunakan untuk menghubungiku saja.”
Yudith terdiam, daripada mereka bertiga dikirim, sebaiknya tetap Evan saja yang masih muda untuk melakukannya.
“Kamu akan segera dikirim ke sana setelah orang-orangku siap. Jangan terkejut, meskipun kamu belum sembuh, di sana ada seseorang yang bisa merawatmu.”
Rafael pun berbalik badan dan pergi dari tempat itu, tanpa perlawanan dari Evan.
Kamar pasien tampak hening untuk sesaat, Yudith menggerutu dalam hati dan menyalahkan Abigail sebagai penyebab semua masalah. Tiba-tiba saja, dari pintu masuk terlihat ada dua orang berjas hitam dan juga dokter serta perawat yang mulai bergerak memindahkan Evan.
__ADS_1
“Tunggu! Apa ini? Apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Yudith panik.
“Tuan Rafael memerintahkan kami untuk membawa Tuan Evan. Jika Anda mempersulit, kami pun akan membawa Anda serta untuk menuju pulau.”
Yudith menelan ludahnya kasar, hingga langkahnya pun bergerak mundur.
“Mama, bantu aku!” seru Evan yang kini digelandang ke luar dari rumah sakit.
***
Sebuah pulau kecil membuat Evan tak berkutik. Tubuhnya hanya bisa bergerak di sekitar rumah sederhana yang kini menjadi tempat tinggalnya. Tidak hanya itu, Evan tidak memiliki kuasa penuh untuk memerintahkan seluruh pengawal dan pelayan di sana.
“Hei! Aku bosan di dalam kamar ini!” seru Evan.
Pria itu dikurung dalam kamar yang memiliki seluruh fasilitas yang diperlukan. Bahkan, Rafael menambahkan bacaan agar cucunya itu tidak merasa bosan karena melihat pemandangan yang sama setiap harinya.
Evan berada di sebuah pulau terpencil milik Rafael, tempat itu memiliki hutan di sekitarnya, dengan bangunan rumah tepat di tengah pulau. Akses untuk keluar masuk hanya ada satu jalan setapak. Rumah itu pun dikelilingi parit tinggi dan berduri, sehingga akan sulit untuk seseorang masuk dan keluar dari jalur lain selain jalan setapak yang menjadi akses pintu utama. Pintu dan jendela terkunci, semua dijaga ketat oleh orang-orang kepercayaan Rafael. Meski rumah itu memiliki semua yang dibutuhkan, setiap satu atau dua minggu sekali ada seseorang yang datang untuk mengantarkan bahan makanan dan semua kebutuhan yang perlu diisi ulang.
“Sialan! Kakek Tua itu memang perlu diberi pelajaran juga! Lihat saja, saat aku bisa ke luar dari tempat ini, aku akan membalas kalian semua!” ujar Evan dengan mengepalkan ke dua tangannya.
Evan berencana untuk melarikan diri dari tempat itu. Tetapi, sebelum melakukannya, dia perlu mengenali dulu tempat apa yang kini menjadi rumah tahanan untuk dirinya. Evan mencoba mengintip dari celah-celah jendela dan pintu untuk memastikan ada apa saja di sekitar tempat itu. Meski awalnya mengalami kesulitan, Evan pun bisa menemukan beberapa kemungkinan.
Di sisi lain, Dona mendengar kabar tentang Evan dan Abigail di rumah mewah Rafael. Tidak hanya itu, Dona juga tahu bahwa Raiden telah sadar dan kini kembali bekerja di perusahaan.
Sebagai wanita yang haus akan kehidupan mewah, Dona tidak ingin mengalami kerugian saat Evan tak lagi bisa memenuhi keinginannya. Mendengar kabar Evan diasingkan, membuat Dona menghalalkan segala cara untuk bisa tetap bertahan, termasuk satu cara yang tak lain mendekati Raiden kembali.
“Evan terlalu berlebihan hingga bernafsu meniduri wanita itu. Pasti ada sesuatu yang membuat Evan tertarik padanya. Atau … jangan-jangan wanita itu yang menggoda Evan? Dasar wanita murahan! Aku tidak akan membiarkan posisiku terancam dalam keluarga ini. Akan kurebut kembali Raiden dan menjadi istrinya. Sementara wanita itu, akan kusingkirkan!” Dona tersenyum miring setelah mengatakan rencananya mendapatkan kembali cinta Raiden.
Wanita itu pun menyusun rencana agar semua berjalan dengan baik.
__ADS_1