Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 15


__ADS_3

#15_Bekas Luka


Kejadian itu telah berlalu, selama tiga hari ini Abigail menjadi pendiam. Tidak hanya itu, dia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Abigail terlihat berbeda dan tidak lagi ceria seperti sebelumnya.


Jika biasanya Abigail bangun pagi dan tidur malam, tidak setelah kejadian mengerikan itu dialaminya. Abigail terbangun saat Raiden tidak lagi ada di kamar itu dan terlelap saat Radien pulang dari kesibukannya.


“Nyonya, waktunya makan. Anda melewatkan makan pagi ini.” Seorang pelayan masuk dengan membawa senampan makanan untuk Abigail.


“Letakkan saja di sana, aku belum lapar,” jawab Abigail sembari meraih handuk hendak masuk kamar mandi.


“Maaf, Nyonya. Tuan menyuruh saya untuk menunggu hingga makanan ini habis. Tuan sangat mengkhawatirkan Anda karena semalam melewatkan makan malam.”


“Baiklah.”


Abigail pun duduk dan memakan makanannya. Hanya saja, makanan itu tidak muat di perutnya yang terasa penuh meski baru beberapa sendok saja.


“Aku tidak bisa lagi memakan ini. Makanan ini terlalu banyak untukku. Lain kali, kamu bisa mengurangi porsinya.”


“Maafkan saya, Nyonya. Lain kali tidak akan terjadi seperti ini.”


“Baiklah, tidak masalah. Kamu bisa pergi sekarang, aku sudah selesai dengan makan pagiku.”


“Baik, Nyonya. Saya permisi.”


Setelah kepergian pelayan itu, Abigail berjalan masuk ke kamar mandi. Abigail menghidupkan air untuk mengisi bak mandi. Tangannya meraih sabun dan digunakan untuk membersihkan tubuhnya.


Namun, ada yang aneh pada diri Abigail. Saat melihat bekas luka yang ditinggalkan Evan. Sontak tangannya bergerak dengan menggosok dan menekan pada bagian itu agar segera menghilang. Tetapi, bukan menghilang, bekas luka itu semakin memerah dan melebar karena gosokan dan tekanan dari tangan Abigail sendiri.


“Kenapa tidak bisa hilang? Kenapa?” ucap Abigail sembari terus menggosok bagian-bagian luka itu.


Kegiatan ini tidak hanya satu kali dilakukannya. Bahkan, selama Raiden tidak ada di rumah, Abigail akan menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi hingga merasa lebih baik.


“Kenapa? Argh! Luka ini sangat sulit untuk dihilangkan, aku tidak ingin dia melihatnya setiap waktu. Aku … tubuhku sangat kotor! Aku tidak ingin dia menyentuhku dengan keadaan seperti ini, aku … aku tidak pantas mendapatkan perhatiannya,” gerutu Abigail di dalam kamar mandi.


Setidaknya sudah hampir dua jam dia berada di dalam sana, tanpa sadar jemarinya terasa mengkerut karena kedinginan. Abigail memutuskan untuk ke luar dari tempat itu dan kembali mengenakan pakaiannya.


***


Di kantor, Raiden disibukkan dengan berkas-berkas yang begitu kacau selama dalam kepemimpinan Laos dan Yudith. Raiden perlu mengatur ulang semua pekerjaan itu hingga membuatnya dan Raize sibuk hingga pulang larut malam setiap harinya.

__ADS_1


“Apa-apaan ini? Apa yang mereka lakukan pada perusahaan ini?” Raiden tampak emosi saat membaca satu laporan yang disodorkan asisten pribadinya.


“Tu-tuan, ini semua laporan yang seharusnya dicek oleh Tuan Laos. Tetapi, sebelum saya selesai menjelaskan, Tuan Laos mengatakan bahwa tidak ada kesalahan.”


Brak!


Raiden tersulut emosi, semua laporan di atas meja tidak satu pun yang bisa membuatnya berhenti bekerja. Semua membutuhkan perhatian khusus dan Raiden juga harus mengatur semua dari awal. Tidak tahan dengan semua laporan itu, Raiden melempar berkas itu dan menyuruh semua orang bekerja dengan baik untuk hari ini.


“Katakan pada mereka! Tidak ada yang bisa pulang sebelum laporan dikerjakan dengan baik! Aku ada di sini sampai laporan hari ini selesai!”


“Ba-baik, Tuan.”


Raize berdiri di samping Raiden dengan menatap setiap orang yang keluar dan masuk dengan wajah tegang dan takut.


“Tuan, ingat kesehatan Anda. Masih banyak hal yang perlu menjadi perhatian Anda.” Raize mencoba untuk menenangkan Raiden.


“Sebaiknya kamu cari bukti tentang kejahatan Tante Yudith. Sepertinya aku melihat ada kemungkinan bukti itu ada di rumah.”


“Tuan, saya ditugaskan untuk selalu ada di samping Anda. Kemungkinan besar, kejahatan masih bisa dilakukan jika tidak ada yang melindungi Anda.”


Raiden tidak bisa berkata apa-apa dengan ucapan Raize. Memang benar, jika tidak ada yang mengawalnya, pasti Yudith dan Laos bisa dengan mudah mencelakainya kembali. Raiden perlu waspada dengan pergerakan dua orang yang kini entah bagaimana keadaannya setelah ditinggalkan Evan.


Raiden menghubungi telepon rumahnya setelah tidak mendapat jawaban dari Abigail.


“Bagaimana dengan istriku?” tanya Raiden pada seseorang di seberang telepon.


“Nyonya sudah makan, hanya saja tidak semua masuk dalam perutnya, Tuan. Nyonya berkata itu terlalu banyak. Lalu … Nyonya membersihkan diri dan saya belum ke kamarnya lagi setelah itu.”


“Setidaknya dia mau memakan makanannya. Baiklah, aku akan pulang larut malam, pastikan dia memakan makanannya lagi untuk siang dan malam.”


“Baik, Tuan.”


Sambungan telepon pun berakhir, Raiden meletakkan ponselnya dan duduk dengan menatap berkas di mejanya.


“Tuan, Tuan Rafael menghubungi Anda.”


Raiden kembali menatap ponselnya dan melihat nama Rafael di sana.


“Kakek, ada apa?”

__ADS_1


“Bagaimana?”


“Kacau, semua pekerjaan tidak ada yang selesai dengan baik di sini. Jadi … aku tidak tahu harus mulai dari mana, sehingga aku menyuruh semua orang mengulang pekerjaan mereka.”


“Terserah padamu saja, laporan itu sedang ditunggu dewan direksi, pemegang saham akan melakukan rapat setelah menerima laporan darimu.”


“Aku mengerti, Kakek. Akan kukerjakan secepatnya.”


“Bagus, saat ini aku masih menyebar orang-orangku. Aku akan memastikan mereka menemukan bukti kejahatan Yudith dan Laos.”


“Itu sangat bagus, Kakek. Aku bahkan tidak sabar melihat mereka digiring dan dihukum.”


“Bersabarlah sedikit lagi, Raiden. Aku yakin, kejahatan mereka tidak hanya itu saja.”


“Baik, Kakek. Aku mengerti.”


Setelah sambungan telepon itu selesai, Raiden kembali fokus pada pekerjaannya. Satu per satu dibaca dan dipahami kembali. Laporan yang salah akan langsung dikembalikan pada pembuatnya. Raiden tidak ingin ada kesalahan saat rapat dewan dimulai.


“Raize, siapkan beberapa dokumen untuk rapat dewan. Tanyakan pada asistenku mengenai hal ini, simpan dokumen itu baik-baik.”


“Baik, Tuan.”


Dalam sehari, Raiden menyelesaikan banyak masalah di kantor. Dia bahkan tidak sempat untuk makan malam dan melewatkannya begitu saja.


Akhirnya, setelah selesai. Raiden memutuskan kembali ke rumah bersama Raize. Perasaannya kini diselimuti rasa rindu pada istrinya. Ya, Raiden merindukan perhatian Abigail yang didapatkannya saat dalam keadaan vegetatif.


Sampai di rumah, Raiden segera masuk dan bertemu dengan seorang pelayan yang ditugaskan untuk melayani Abigail di rumah itu.


“Malam ini Nyonya memakan makanannya, Tuan.”


“Bagus. Aku akan naik ke atas untuk melhatnya.”


Raiden kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Di depan kamar itu sudah berdiri dua penjaga yang ditugaskan menjaga kamar dan Abigail.


“Apakah ada yang mencoba masuk selain pelayan?” tanya Raiden memastikan.


“Tidak ada, Tuan.”


Raiden membuka pintu dan melihat sosok cantik itu terlelap di tempat tidurnya. Raiden berjalan mendekat dan mendaratkan kecupan di kening Abigail. Tidak hanya itu, Raiden juga menutup tubuh Abigail dengan selimut agar tetap hangat.

__ADS_1


“Selamat beristirahat, Sayang.”


__ADS_2