
Bab 41
Abigail menatap jarum jam yang menunjukkan pukul lima sore. Seharusnya tak lama lagi Raiden kembali dari kantor. Abigail juga sudah siap menyambut sang suami dengan menghabiskan waktu di halaman mansion.
Selama itu pula, Abigail juga kembali merasa jika ada seseorang yang mengawasinya. Namun, melihat petugas keamanan yang ada di sekelilingnya, wanita itu pun menjadi sedikit tenang dan tak ingin berpikir macam-macam.
Ya, Evan masih mengintai Abigail dari kejauhan. Nampaknya pria itu tengah menyusun rencana untuk melakukan sesuatu pada Raiden dan Abigail.
Sejak pagi, Evan terus mengintai mansion dan mengamati aktivitas Abigail dari jauh tanpa berani masuk ke dalam mansion. Setiap kali ada petugas keamanan yang mendekat ke arahnya, pria selalu bisa menghindari dan mencari tempat persembunyian yang pas untuk mengawasi Abigail dan orang-orang yang ada di dalam mansion.
Sementara di tempat lain, Kakek Rafael masih sibuk mengomel pada bawahannya yang masih berusaha mencari Evan. Setelah menyusuri seluruh pulau, sudah dapat dipastikan kalau Evan telah berhasil meninggalkan pulau.
"Bagaimana? Sudah ada perkembangan mengenai keberadaan Evan?" tanya Kakek Rafael pada orang-orang suruhannya.
"Kami masih mencoba menelusuri jejak Tuan Evan. Setelah kami menyisir seluruh pulau, sudah dapat dipastikan kalau Tuan Evan telah meninggalkan pulau. Kami tengah berusaha mencari jejak Tuan Evan."
"Segera temukan anak itu sebelum dai berulah!" titah Kakek Rafael.
Sementara, mansion RA saat ini masih aman dan damai sentosa. Evan masih mengintai dari jauh dan belum menemukan kesempatan untuk melakukan sesuatu pada Raiden dan Abigail.
"Besok ada pameran kecil di pusat perbelanjaan. Aku bosan terus di rumah. Boleh aku pergi?" ujar Abigail meminta izin pada sang suami.
"Pameran apa?"
"Hanya acara kecil. Festival kecil di pusat perbelanjaan," terang Abigail.
Raiden mengangguk sembari melempar senyum tipis pada sang istri. "Pergi saja! Jangan pergi sampai larut!" pesan Raiden.
"Tentu! Aku akan pulang sebelum kamu kembali dari kantor," tukas Abigail.
Keesokan harinya, Abigail benar-benar pergi meninggalkan mansion dan menikmati waktu seorang diri di pusat perbelanjaan. Bersama dengan supir, wanita itu bergegas menuju ke pusat perbelanjaan kota, tanpa sadar jika ada sebuah taksi yang mengikuti dirinya dari belakang.
"Lebih baik aku sekalian berbelanja untuk makan malam," gumam Abigail. "Aku akan membuatkan masakan istimewa untuk Raiden," oceh Abigail sembari tersenyum-senyum sendiri memikirkan sang suami.
__ADS_1
Dari kejauhan, Evan masih membuntuti Abigail yang berkeliling di pusat perbelanjaan seorang diri. Dengan pakaian serba hitam dan topi yang menutupi wajah, pria itu mencoba mencari celah untuk mendekati Abigail.
"Abigail! Kali ini aku tidak akan meloloskanmu!"
Evan yang sudah mengintai Abigail dan Raiden selama dua hari lamanya, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mendekati wanita yang hampir ia lecehkan sebelumnya itu. Begitu situasi di sekelilingnya aman, Evan segera beraksi menghampiri Abigail yang tengah berada di toilet pusat perbelanjaan.
Baru saja wanita itu keluar dari toilet, tiba-tiba Evan berdiri di depan pintu dan menghadang Abigail. "P-permisi!" ucap Abigail mencoba meminta Evan untuk menyingkir, tanpa tahu jika pria yang menutup wajah itu adalah Evan.
Tentu saja Evan tidak menyingkir. Pria itu mengeluarkan sapu tangan dan tiba-tiba membekap mulut Abigail hingga wanita itu lemas dan tak sadarkan diri.
Evan tersenyum puas saat ia melihat Abigail yang jatuh ke pelukannya. "Rasakan ini, Raiden! Jangan harap kamu bisa melihat istrimu lagi!" gumam Evan dengan senyum penuh kemenangan.
****
Sore hari, Raiden pulang ke mansion dan melihat kediaman mewah itu tampak sepi tanpa suara sang istri. Raiden mencoba berkeliling mansion, tapi ia tak juga melihat batang hidung sang istri.
"Abigail? Kamu di mana?" Berulang kali Raiden memanggil sang istri, tapi tak ada sahutan sama sekali dari Abigail.
Pria itu pun beralih bertanya pada para pelayan yang melihat Abigail di pagi hari. "Nyonya belum kembali sejak pagi, Tuan."
Raiden langsung meraih ponsel dan mencoba menghubungi sang istri, tapi sayangnya ponsel Abigail sudah tidak aktif. Pria itu pun lekas panik mencari keberadaan Abigail yang tidak bisa dihubungi.
"Abigail pergi bersama siapa?" tanya Raiden menginterogasi para pelayan yang ada di mansion.
"Nyonya pergi bersama supir, Tuan!"
Raiden langsung beralih menginterogasi supir dan mencari Abigail di pusat perbelanjaan. Supir yang pergi bersama Abigail pun masih setia menunggu di tempat parkir, tanpa tahu jika majikannya sudah meninggalkan pusat perbelanjaan.
"Abigail belum juga keluar sejak tadi? Kenapa kamu tidak memeriksa ke dalam?" omel Raiden pada supir yang pergi bersama dengan Abigail.
"Maaf, Tuan. Nyonya sendiri mengatakan kalau tidak akan pergi lama dan meminta saya untuk menunggu di sini," terang supir.
"Pergi cari Abigail sampai dapat! Hubungi yang lainnya juga untuk mencari Abigail di pusat perbelanjaan!" titah Raiden.
__ADS_1
Sementara supir dan orang suruhannya sibuk berkeliling pusat perbelanjaan, Raiden juga ikut mencari sang istri melalui CCTV yang ada di bangunan tersebut. Tak hanya itu, ia juga menghubungi sang kakek untuk meminta bala bantuan tambahan demi mencari Abigail.
"Apa kamu bilang? Abigail hilang di pusat perbelanjaan?" tanya Kakek Rafael saat Raiden menghubunginya untuk memberikan kabar mengenai Abigail.
"Aku masih berusaha mencarinya. Tolong kirimkan beberapa orang lagi untuk mencari Abigail!" pinta Raiden.
Kakek Rafael terdiam sejenak. Pria tua itu mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai Evan. "Raiden, ada hal yang ingin Kakek katakan padamu," ucap Kakek Rafael. "Sebenarnya ... Evan kabur."
Deg! Jantung Raiden hampir berhenti berdetak begitu ia mendengar nama Evan. "Evan kabur? Jangan bilang ... menghilangnya Abigail ada hubungannya dengan Evan?" geram Raiden.
Wajar saja jika Raiden menuduh Evan sebagai tersangka. Abigail menghilang dan ternyata Evan kabur dari tempat pengasingan. Benar-benar suatu kebetulan yang terlalu mencolok bukan?
"Kemungkinan besar Abigail saat ini sedang bersama Evan. Lebih baik kita fokus mencari Evan. Kakek yakin ini pasti ulah Evan!" ujar Kakek Rafael.
Raiden menendang tong sampah dengan geram karena ulah Evan. Kakek Rafael sendiri juga dibuat kesal karena Evan yang kembali bertingkah setelah melarikan diri.
"Evan! Aku akan menghajarmu jika sampai kau menyentuh istriku!" geram Raiden.
"Cepat temukan Evan dan Abigail! Evan pasti membawa pergi Abigail! Aku ingin kabar baik malam ini juga!" titah Kakek Rafael mengerahkan seluruh bawahan untuk menyelidiki keberadaan Abigail yang diculik oleh Evan.
Sementara, Abigail saat ini sudah dibawa pergi oleh Evan ke pinggir kota dan bersembunyi di sebuah gudang terpencil yang jauh dari jalan raya. Dengan posisi duduk dan tangan terikat, Abigail mulai sadar dari obat bius yang diberikan Evan. Wanita itu membuka mata perlahan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang gelap gulita.
"Kamu sudah bangun?" sapa Evan yang duduk tepat di hadapan Abigail.
Abigail terkejut bukan main saat ia melihat pria itu muncul di depan matanya. Abigail tak menyangka ia akan berjumpa lagi dengan pria yang pernah melecehkan dirinya dulu.
"A-apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Abigail dengan suara gemetaran. "Apa yang kamu lakukan padaku?" pekik Abigail ketakutan melihat Evan.
Pria itu melempar senyum tipis pada Abigail sembari mengusap lembut pipi istri dari Raiden itu. "Apa kamu tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu!" bisik Evan bak psikopat di depan Abigail dan membuat wanita itu makin tenggelam dalam rasa takut.
"Lepaskan aku! LEPASKAN AKU!"
****
__ADS_1