
Embun pagi yang begitu pekat dan suhu udara yang sangat dingin tak menghalangi perjalanan rombongan penebang kayu yang pergi ke kota Shariz untuk menjual kayu hasil kerja mereka selama berhari-hari.
Jarak desa Albatif yang merupakan desa para rombongan menuju ke kota Shariz tak begitu jauh. Hanya butuh waktu 4 jam saja jika melewati padang gurun Shariz.
Airel ikut dengan rombongan penebang kayu itu menuju kota Shariz. Rombongan penebang kayu itu menaiki beberapa kereta kuda jadi perjalanan menuju kota lebih cepat.
" Tuan kita sebentar lagi sampai " ujar kakek yang kemarin menolong Airel.
" Iyakah..? Jika sudah sampai kalian pergi saja duluan ke kota..! Aku ingin mengunjungi makam di depan gerbang kota..! " Airel berdiri dari duduknya dan menatap ke depan yang dimana sudah terlihat benteng kota Shariz.
" Baik tuan..! " Kakek tersenyum sambil menoleh kearah Airel.
Saat semakin dekat dengan kota, Airel melihat ada kuburan masal di depan gerbang kota dan inilah yang di maksut Airel. Dia mendapat kabar bahwa paman dan bibi nya di kubur disini.
" Kakek aku turun disini..! " Airel turun dari kereta kuda.
" Tuan pakailah jubah ini untuk menutupi identitas anda..! Aku tau anda memiliki masalah dengan pemimpin kerajaan ini jadi saya harap anda berhati-hati..! " kakek memberikan jubah hitam kepada Airel.
" Terimakasih kek..! " Airel langsung memakai jubah itu dan menutup kepalanya dengan penutup kepala yang ada di jubah.
" Kalau begitu aku pergi kedalam dulu..! Kita akan pulang besok malam..! Tuan bisa mencariku di kedai makan terbesar di kota ini karena kami biasanya berkumpul disitu saat datang kesini..! " ujar kakek itu dan langsung menuju kedalam kota.
Airel langsung pergi ke kuburan masal itu dan berdo'a untuk paman dan bibinya yaitu Nizar dan Klethi.
" Paman..! Bibi..! Terimakasih kalian telah merawatku saat ayah dan ibuku tiada..! Terimakasih kalian sudah melindungiku saat aku hendak di bunuh oleh pasukan sahabatku sendiri dan demi ayah dan ibuku serta kalian berdua aku berjanji akan membangun Calradia seperti dahulu..! " ujar Airel dalam hati sambil melihat kearah kuburan tersebut.
Setelah berdoa, Airel langsung masuk ke dalam kota. Dia melihat-lihat seisi kota yang dulu pernah ia tinggali dan tak lupa juga Airel mengunjungi kedai makan milik paman dan bibinya dulu tetapi kedai itu sekarang sudah berubah menjadi penginapan dan di kelola orang lain.
Airel berkeliling kota melihat-lihat barang-barang yang ada di kota itu seperti baju, alat-alat memasak, perlengkapan perang, dan tak lupa juga Airel mengunjungi kedai-kedai makanan kecil di kota. Kota Shariz memang seperti pasar di seluruh penjurunya karena kota ini adalah kota industri. Seluruh pedagang silih berganti mengunjungi kota ini.
Saat hari mulai siang, ada yang membuat Airel janggal dan bertanya-tanya. Di setiap dia berjalan ada banyak sekali prajurit yang memarahi para pedagang dan ada juga yang memakan jualan pedagang tetapi tak membayar.
Dan yeng membuat Airel bertanya-tanya adalah para pedagang tidak sedih atau marah dan hanya tersenyum bahagia. Tidak cukup sampai situ, Airel mencoba berkeliling lagi dan dia menemukan kondisi yang sama. Seluruh penduduk kota tidak ada yang murung, lesu, marah, sedih yang ada mereka hanya tersenyum saja bahkan Airel melihat ada anak kecil yang di pukul prajurit kerajaan tetapi seluruh penduduk hanya tersenyum dan tak menolong anak kecil itu tetapi anak kecil itu juga hanya tersenyum sambil mengelus-elus pipinya yang terluka.
Airel bertanya-tanya apa yang terjadi di kota ini dan apa yang membuat seluruh penduduk seperti itu. Saking penasaranya, Airel mencoba mendatangi kedai pedagang buah dan disana Airel ingin mencari tau apa yang terjadi.
" Tuan berapa harga Anggur hijau ini..? " Airel mengambil Anggur hijau yang tepat di depanya.
" 250 koin perak tuanku..! " pedagang itu tersenyum.
" Apa..!? Mahal sekali! Bukankah buah ini hanya seharga 50 koin perak..? " Airel terkejut mendengar harga anggur itu karena harga pasaran anggur hijau di benua ini adalah 50 perak.
" Maaf tuan..! Itu adalah harga di kota ini jika tuan tidak mau beli silahkan cari ke pedagang lain..! " pedagang itu menjawab sambil tersenyum lagi.
Airel semakin curiga karena seharusnya pedagang itu menjawab dengan serius tetap malah tersenyum bahagia seperti itu. Airelpun mendapatkan ide, dia menjatuhkan buah Anggur yang di pegangnya.
" Maaf tuan aku menjatuhkan buah ini..! Aku akan ganti rugi..! " Airel mengambil anggur yang sengaja ia jatuhkan.
" Hahahaha...tidak apa-apa tuan anda tidak perlu membayarnya..! Buah itu sekarang milik kerajaan jadi itu sekarang milik kerajaan..! " pedagang itu malah ketawa dan tak memunculkan ekspresi marah sama sekali.
" Apa maksut tuan..? " Airel bertanya-tanya apa yang pedagang itu maksut dengan milik kerajaan.
" Kami disini hanya menumpang kerajaan tuan..! Jadi setiap dagangan kami yang menyentuh tanah ini maka itu milik kerajaan dan nanti akan ada peajurit yang akan mengambilnya kesini jadi tuan biarkan saja buah itu di tanah dan jangan diambil. " lagi-lagi pedagang itu menjawab sambil tersenyum bahagia.
Airel yang mulai kesal dengan ekspresi pura-pura tersenyum itu, langsung bertanya tentang apa yang terjadi di kota ini.
" Sudah cukup tuan..! Aku ingin tau apa yang terjadi di kota ini dan apa yang membuat penduduk disini hanya tersenyum..! Aku muak melihat kegilaan senyuman penduduk ini..! Banyak dari penduduk ini di tindas, dianiaya tetapi kalian hanya tersenyum..! Apa kalian tidak punya hati...? " Airel sedikit mengeraskan suaranya hingga ada beberapa pembeli yang ingin membeli buah langsung pergi darickedai buah itu.
Setelah mendengar perkataan Airel, pedagang itu melirik-lirik sekitar untuk memastikan tidak ada prajurit di sekitar tempatnya.
" Baikalah..! Jika tuan ingin tau apa yang terjadi silahkan masuk ke rumah saya nanti saya akan jelaskan setelah menutup kedai ini..! Tuan silahkan masuk dan tunggu di dalam..! " pedagang itu membukakan pintu runahnya yang kebetukan berada di belakang tempat ia berjualan.
Airel langsung masuk ke dalam rumah pedagang itu dan menunggu pedagang itu menutup kedai.
Tak lama kemudian, pedagang itu masuk ke rumahnya dan menutup serta msngunci pintu rapat-rapat. Kali ini raut wajahnya serius dan tak tersenyum seperti tadi.
" Kenapa tuan mengunci pintu rumah tuan..? " Airel bertanya-tanya.
Pedagang itupun langsung duduk di hadapan Airel.
" Hhhh Anda sepertinya pendatang ya..? Untung tadi tidak ada prajurit yang mendengar perkataan anda..! Jika ada yang sampai mendengar mungkin anda akan langsung di penggal..! " Ujar pedagang itu dengan raut wajah yang serius dan keringat yang menetes dari wajahnya.
" Apa maksut tuan..? " Airel mengerutkan dahinya.
__ADS_1
" Semenjak kerajaan ini berubah menjadi kekaisan Arcadia, banyak sekali peraturan-peraturan aneh yang di keluarkan oleh penasehat kaisar seperti barang dagangan yang jatuh ke tanah menjadi milik kerajaan, berani mengkritik kaisar dan pemerintah akan di hukum mati jika laki-laki dan jika perempuan yang umurnya masih dibawah 30 tahun maka harus di serahkan ke kerajaan..! Dan yang paling aneh adalah seluruh rakyat Arcadia tidak boleh murung, marah, sedih, menangis di tempat umum dan seluruh rakyat wajib tersenyum dan bahagia jika tidak di patuhi maka akan di hukum mati di tempat..! " Pedagang itu menjelaskan yang terjadi sebenarnya.
" Ha..? Arcadia..? Dan peraturan aneh macam apa itu..? Siapa pemimpin bodoh yang mengeluarkan peraturan itu..!? " Airel semakin mengerutkan dahinya dan semakin keheranan dengan apa yang terjadi.
" Tuan belun tau tentang kekaisaran Arcadia...? " tanya pedagnag itu.
" Ya aku tidak tau sama sekali..! Yang ku tau Shariz itu ibukota kerajaan Sultanate yang sekarang di pimpin Artuk..! " Airel menjawab santai pertanyaan pedagang itu.
" Kekaisaran Arcadia meliputi kerajaan Sultanate, Swadia, dan Rodhok...! Dan kaisarnya adalah kaisar Artuk atau dijuluki kaisar leon..! "
" Apa..? Aku fikir 3 kerajaan itu hanya beraliansi tak kusangka ternyata malah menjadi satu seperti ini..! Lalu bagaimana dengan raja Swadia dan raja Rodhok..? Apa mereka sekarang menganggur..? " tanya Airel menengok kearah pedagang itu.
" 2 raja itu sekarang menjadi arc duke di wilayahnya masing-masing seperti raja Swadia sekarang menjadi arc duke di wilayah Swadia yang mencakup kota-kota besarnya begitupula dengan raja Rodhok sekarang menjadi arc duke di wilayah Rodhok..! " Pedagang beranjak dari duduknya dan bsrjalan menuju kebelakang.
" Tuan mau minum apa...? " pedagang itu mengambil gelas.
" Teh hangat saja karena di kota ini dingin ternyata walaupun gurun pasir tapi cuacanya begitu dingin..! " Airel mengusap kedua tanganya.
" Oh iya memangnya kapan kekaisaran Arcadia ini berdiri..? " tanya Airel.
" Baru kemarin kekaisaran ini berdiri..! Menurut rumor yang beredar kaisar ingin menguasai seluruh wilayah benua Calradia. Dan kemarin ada kabar bahwa penerus tahta kerajaan Calradia yang asli telah tewas..! Hal itulah yang membuat berdirinya kekaisaran ini di percepat..! " jawab pedagang yang berjalan membawakan teh hangat di gelas.
" Silahkan dimunum..! " sambungnya.
Airel hanya tersenyum mendengar perkataan pedagang itu dan langsung meminum teh hangat itu.
" Oh ya saya Akhlam..! Kalau boleh tau nama tuan ini siapa..? " pedagang itu menjulurkan tanganya kepada Airel.
" Namaku Airel..! " Airel langsung menggenggam tangan pedagang itu dan langsung melepaskanya.
" Oh iya Akhlam dimana anak dan istrimu..? " Airel menengok-nengok kekanan dan kekiri rumah.
" Kemarin aku menyuruh mereka berdua untuk pergi ke Tulga karena aku takut anak dan istriku diambil oleh kerajaan..! " jawab Akhlam.
" Hmmmh aku juga menyarankanmu segera pindah dari sini..! Sepertinya peraturan kekaisaran ini akan melebihi yang barusaja kau katakan..! " Airel menengok kearah pintu.
" Kau benar..! Hari ini saja sudah lebih dari 100 wanita dibawa ke istana. " Akhlam ikut menengok ke arah pintu.
Tak lama kemudian hujan lebatpun mengguyur kota Shariz dan Airel mau tidak mau menunggu di rumah Akhlam sampai hujan reda.
" Akhlam apa boleh aku singgah sebentar sampai hujan reda..? " tanya Airel sambil memsgangi perutnya.
" Silahkan Airel..! Tapi kenapa kau memegangi perutmu apa kau lapar..? " Arkham mengerutkan dahinya.
Airel langsung membuka jubahnya dan mengangkat bajunya untuk memperlihatkan lukanya yang sudah di perban kepada Akhlam.
" Maaf Airel aku tak tau kau sedang sakit..! " Akhlam melihat kearah luka Airel.
" Tak apa..! Tapi sepertinya lukaku sedikit kambuh..! " Airel mengelus-elus luka di perutnya.
" Kalau boleh tau kau terluka karena apa..? " tanya Akhlam.
" Tertusuk pedang saat berperang...! " jawab Airel.
" Kau prajurit...? " Akhlam terkejut.
" Ya begitulah..! " Airel tersenyum dan memejamkan matanya.
" Apa kau peajurit kekaisaran..? " tanya Akhlam yang sedikit takut karena curiga Airel prajurit kekaisaran.
" Bukan..! Aku saja baru tau darimu tentang kekaisaran ini mana mungkin aku prajurit kekaisaran..! Aku prajurit dari negeri Veagirs..! " Airel meyakinkan Akhlam.
" Hhhhh lega rasanya..! Aku kira kau prajurit yang memata-mataiku..! Kalau begitu istirahatlah dulu disini..! Oh iya aku pergi ke kedai sebelah dulu ada barang yang kutitipkan disana..! " Akhlam berdiri dan mengambil jubah kulit di lemarinya.
" Bukankah diluar hujan deras..? " tanya Airel.
" Tak apa! Lagian hanya sebentar..! Oh iya tolong tutup pintunya..! " Akhlam membuka pintu rumahnya dan langsung berlari menuju kedai yang ia maksut.
***
Hari mulai larut malam dan hujan juga akhirnya mulai reda. Airel yang sedari tadi mencoba untuk tidir tetapsaja tak bisa tidur dan hanya berbaring sambil menyentuh luka di perutnya.
" Aku pulang..! " Akhlam membuka pintu sambil membawa 1 kotak buah Mangga.
__ADS_1
" Akhirnya kau pulang juga..! Kebetulan aku juga ingin pergi..! " Airel beranjak dari berbaringnya.
" Apa kau tak mau menginap disini..? " tanya Akhlam.
" Tidak bisa..! Aku harus bertemu seseorang malam ini..! " Airel menjawab sambil msngenakan jubahnya kembali.
" Baiklah...senang bertemu denganmu Airel..! " Akhlam menghampiri Airel.
" Ini untukmu..? " Airel menyodorkan 3 koin emas kepada Akhlam.
" Koin emas...? Untuk apa..? " Akhlam bertanya-tanya sambil melihat 3 koin emas di tangan Airel.
" Untuk mengganti anggur tadi..! " jawan Airel.
" Tapi ini terlalu banyak..! " Akhlam menengok ke Airel.
" Tak apa..! Anggap saja sebagai hadiah pertemanan..! Ambil saja dan jangan protes..! " Airel menarik tangan Akhlam dan memberikan 3 koin emas itu.
" Kalau begitu aku pergi dulu..! Sampai bertemu lagi...! " Airel keluar dari rumah Akhlam.
" Airel..! Apa aku bisa menemuimu lagi..? " Tanya Akhlam dari depan pimtu rumahnya.
" Jika kau pergi ke Khudan, kau bisa bertanya ke siapapun penduduk disana tentang letak tempat tinggalku...! Dan kau bisa menemuiku disana..! " Teriak Airel sambil melambaikan tanganya.
Airel lupa kalau dia harus bertemu kakek di kedai makan malam ini. Sedangkan ini sudah larut malam sekali dan hanya ada beberapa orang saja yang berjalan-jalan di kota. Karena takut lebih terlambat lagi, Airelpun berlari dan mencari kedai makan terbesar di kota.
Bruuukkk....!!
Airel tak memperhatikan sekitar saat berlari hingga pada akhirnya menabrak pejalan kaki yang memakai jubah hitam hingga membuat pejalan kaki itu terjatuh.
" Maaf..! Maaf aku tak melihatmu karena aku sedang buru-buru..! " Airel mencoba menolong pejalan kaki yang jatuh tadi.
Saat Airel ingin menolong pejalan kaki itu, malah pejalan kaki itu menangis terisak-isak hingga membuat Airel kebingungan.
" Eh...eee...! Anu kenapa menangis..? Apa kau terluka..? " tanya Airel yang kebingungan.
Dan tiba-tiba pejalan kaki itu langsung memeluk Airel dengan erat.
" Aku tau kamu masih hidup...! Aku tau kamu tidak akan mati secepat itu..! " Pejalan kaki itu menangis terus memeluk Airel dengan erat.
Airel tak bisa berkata-kata, dia hanya terdiam dengan pandangan kosong dan airmatanyapun akhirnya jatuh.
" Apa ini kamu Sylvia..!? " Tanya Airel.
" Ya! Ini aku! Ini aku Airel..! " jawab pejalan kaki itu yang ternyata adalah Sylvia.
Airilpun tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya dan langsung membalas pelukan erat Sylvia.
" Aku..Aku akhirnya bertemu lagi denganmu...! " Airel memejamkan matanya dan terus memeluk Sylvia.
" Begitu juga dengaku Airel..! Hidupku hancur saat mendengar kabar bahwa kamu gugur di peperangan..! Tetapi aku percaya kalau kamu masih hidup..! " Sylvia melepaskan pelukanya dan menengok kearah Airel.
" Masa depan tanpamu hanya akan membuatku menderita Airel. " Sylvia menggenggam erat tangan Airel.
" Aku bersyukur kita di pertemukan lagi! " Airel memejamkan mata tersenyum bahagia.
" Tetapi bukanya seharusnya kamu sudah tau aku nasih hidup dari cincin yang aku berikan itu...? " tanya Airel.
Sylvia langsung mengambil cincin pemberian Airel yang selalu dia bawa di saku celananya. Dan saat mengeluarkan cincin itu, Sylvia kaget batu pelindung yang ada di cincin itu bersinar terang bsrwarna merah.
" Eh..? Kenapa bisa bercahaya lagi..? Waktu kutau kamu meninggal, batu di cincin ini sudah tak mengeluarkan cahaya lagi. " Sylvia memandangi cincin pemberian Airel.
" Saat itu keadaanku sangat lemah, dan baru pelindung itu sebenarnya masih bercahaya terapi sangat redup sekali! Mungkin kamu tak msnyadarinya karena larut dalam kesedihan. " Airel memandangi cincin yan di bawa Sylvia.
" Seharusnya aku melihat lebih jelas lagi saat itu..! Tapi tak apalah yang penting sekarang aku akhirnya bisa menemukanmu lagi..! Aku hanya ingin kamu yang selalu ada di sampingku Airel! " Sylvia menggenggam erat cincin itu dan sekali lagi pandanganya tertuju kepada Airel.
" Begitu juga denganku..! Aku mencintaimu Sylvia! " Airel mengambil cincin yang di pegang Sylvia dan memasangkan ke jari manis Sylvia lagi.
" Aku juga mencintaimu Airel..! Tetapi berjanjilah akan selalu bertemu denganku dimanapun itu..! Kamu dulu bilang sendiri bukan akan selalu menemuiku walaupun aku di negeri asing..! " Sylvia memegang kedua tangan Airel.
" Ya aku berjanji..! Aku akan selalu datang menemuimu..! Kapanpun itu..! " Airel memeluk Sylvia lagi dan di balas juga dengan pelukan oleh Sylvia.
TO BE CONTINUE...
__ADS_1