
Artuk sedikit ketakutan saat mendengar tantangan dari sahabat sekaligus musuhnya. Artuk melihat aura kegelapan yang mengerikan menyelimuti tubuh Airel.
" Cih....! Kali ini aku pasti membunuhmu Aireeeeeel!! " Artuk berteriak sekeras-kerasnya untuk menghilangkan rasa ketakutanya dan membakar semangat bertarungnya lagi.
" AMUKAN IBLIS LUCIFER!! HAAAAAAAA! "
Seketika, tubuh Artuk di selimuti aura merah darah dan bola mata Artuk berubah menjadi merah.
Airel yang terkejut melihat Artuk mulai bersiap-siap karena dia tau Artuk pasti akan menyerang dengan sangat cepat.
Booooom....!!
Benar saja, Artuk dengan cepat menebaskan pedangnya ke Airel hingga menimbulkan ledakan. Namun Airel dengan cepat menahan tebasan itu dengan pedangnya yang di genggam hanya dengan satu tangan.
" Tak buruk! " Airel tersenyum kecut dan mengejek Artuk.
" Sialaaan kauuuu!! " Artuk dengan cepat melompat kebelakang dan kembali kedepan untuk menyerang Airel.
Kemampuan berpedang yang luar biasa di tunjukan oleh 2 ksatria itu. Serangan berpedang yang sangat cepat dan bertubi-tubi dari Artuk bisa diimbangi Airel dengan mudah.
Mengetahui serangan jarak dekatnya tak berhasil, Artuk langsung melompat keatas.
" TEBASAAAN API IBLIS!! "
Api merah berbentuk silang keluar dari pedang Artuk dan dengan cepat meluncur kearah Airel.
" TEBASAN PEDANG KEGELAPAN!! "
Airel membalas serangan Artuk dengan jurusnya yang berupa Aura kegelapan pekat berbentuk silang.
Booooooooom.......!!
2 jurus itu berbenturan di langit hingga menghasilkan ledakan dahsyat, membuat hempasan angin yang sangat kencang bahkan sampai merobohkan pohon-pohon di lembah aslan.
Tak cukup sampai disitu, Airel dengan cepat melompat keatas dan menyerang Artuk. Keduanya terus beradu pedang di udara hingga jatuh ke tanah lagi.
" DARK BREAKER!! "
Airel mengeluarkan jurus lagi dan dengan kecepatan kilatnya dia kembali menyerang kearah Artuk.
" DEMON BREAKER!! "
Tak ingin ketinggalan, Artuk juga mengeluarkan jurus barunya dan dengan cepat juga menyerang Airel.
Kali ini pertarungan mereka tak bisa dilihat dengan mata telanjang karena saking cepatnya mereka berdua bergerak dan bertarung. Yang para pasukan 2 kubu itu lihat hanyalah debu yang tebal karena hempasan angin dari pertarungan Artuk dan Airel.
***
" Pertarungan macam apa ini? Aku tak pernah melihat pertarungan seperti ini bahkan saat bersama raja Mishtar V. " raja Sanjar takjub melihat pertarungan Airel dan Artuk yang luar biasa.
" Airel telah melampaui pendahulunya Sanjar! " raja Namey yang di bopong oleh 2 orang prajurit berjalan mendekati raja Sanjar.
" Ini bukan pertarungan pada umumya Namey, ini terlalu cepat! Aku bahkan tak bisa melihat mereka berdua karena saking cepatnya gerakan mereka. " raja Sanjar menyipitkan matanya mencoba melihat pertarungan yang sangat cepat antara Airel dan Artuk.
" Raja kita dulu mendapat julukan sang kilat kegelapan! Lalu di teruskan oleh Hakim yang mendapat julukan itu! Dan sekarang julukan itu pantas disematkan kepada 2 pemuda yang sedang bertarung disana dengan impian dan tujuan mereka yang saling bertentangan! Berbeda dengan ayah mereka yang bersahabat! " raja Namey menengok kearah pertarungan itu.
" Kau benar! Mereka berdua sama-sama membawa nasib Calradia walaupun jalan mereka berbeda! Dan aku yakin salah satu dari mereka harus terbunuh! Entah disini atau di perang suatu saat nanti! " raja Sanjar turun dari kudanya dan menghampiri raja Namey.
" Lebih baik sekarang perintahkan pasukan untuk mundur! Akan sangat berbahaya jika terlalu dekat dengan pertarungan mereka! "
__ADS_1
Raja Namey dengan luka parah di perut akhirnya memerintahkan pasukan untuk mundur dengan alasan keselamatan. Dan secara langsung pasukan Calradia garis depan mundur dan membentuk formasi ulang di barisan kedua.
Namun, hal ini berbeda di pasukan Arcadia. Mereka masih tertegun menonton pertarungan pemimpin mereka melawan Airel. Bahkan para jendral, lord, dan duke juga terlalu asik menonton pertarungan itu sampai lupa mengurus pasukan yang sedang kocar-kacir.
Sementara itu, diatas bukit Sylvia menggenggam erat cincin pemberian Airel sambil menyaksikan pertarungan kekasihnya itu. Sesekali dia memejamkan mata dan berdoa agar kekasihnya itu di menangkan dalam pertarungan ini.
***
Waktu terus berjalan, tapi pertarungan mereka belum menunjukan tanda berhenti dan masih saja tak terlihat saking cepatnya. Seluruh pasukan yang terlibat di lembah aslan hanya mendengar suara teriakan semangat, hembusan angin kencang, dan juga suara benturan pedang dari Airel dan Artuk yang memekakkan telinga.
Sesekali terlihat sekelebat cahaya merah dan hitam saling berbenturan hingga menimbulkan ledakan, lalu hilang lagi dan hal itu berulang sampai 6 kali.
Triiing...! Triiing..tring..tring...!!
Setelah pertarungan sengit dan cepat itu, akhirnya Airel maupun Artuk sama-sama melompat kebelakang. Tubuh mereka penuh dengan keringat tanpa luka sedikitpun.
Nafas mereka berdua sudah terengah-engah yang menandakan tenaga mereka sudah hampir habis, begitupula dengan aura mereka yang awalnya terlihat jelas kini sudah mulai samar-samar dan mata mereka berdua sudah berubah normal.
" Cih...! Tak kusangka kau berkembang secepat ini Airel! " Artuk dengan nafas yang sudah tak teratur kembali menodongkan pedangnya ke Airel.
" Ini belum apa-apa!! " Airel yang kondisinya sama dengan Artuk juga menodongkan pedangnya.
Artuk tersenyum dan dia menengok keatas bukit. Tak disangka dia mengetahui keberadaan Sylvia diatas sana.
Airel yang keheranan dengan senyuman Artuk, mulai merasa curiga.
" Sepertinya Artuk merencanakan sesuatu! " ujar Airel dalam hati.
" Kau masih semangat juga kawan! Tapi bagaimana dengan ini!! " Artuk dengan kecepatan kilat melompat dan menuju kearah Sylvia yang diatas bukit.
" ENCHANT DARK SWORD!! "
Dengan spontan, Airel mengeluarkan jurus itu lagi.
Artuk yang berencana membunuh Sylvia, dengan sangat cepat pedangnya di tahan oleh Airel yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Artuk dan di belakang Sylvia.
Sylvia hanya terdiam dan syok saat melihat 2 orang itu hanya dalam 1 kedipan mata sudah berada di depannya.
" Licik sekali kau!! " bola mata Airel berubah menjadi biru lagi dan aura kegelapanya muncul lagi dan lebih pekat dari sebelum-sebelumnya.
" A..apaa-apaan kekuatan it... "
Buuuuaaaak...!! Boooom..!
Airel dengan cepat memukul perut Artuk hingga membuat Artuk terpental kebawah dan membentur tanah tepat di depan pasukanya.
" Akhaaag..! Si..sialan kau A..irel..! " Artuk yang mulutnya penuh darah mencoba bangkit sambil memegangi perutnya.
" TEBASAAAAN API IBLIIIIII.... "
Whuuuuushhh....sriing!!
Artuk yang mengangkat pedang, mencoba menyerang Airel dengan jurusnya itu tiba-tiba terdiam dan terkejut. Sebuah ujung pedang yang lancip sudah berada tepat di depan lehernya, selain itu dia juga melihat Airel sudah berada di depanya dan pedang yang di todongkan di leher Artuk adalah pedang Airel.
" Ba...bagaimana bisa kau berada.. " Artuk terbata-bata saat berucap karena saking terkejutnya.
" Sekali saja kau bergerak, pedang ini tak segan-segan menusuk lehermu!! " Airel dengan tatapan tajam, perlahan mendekatkan ujung pedangnya ke kulit leher Artuk.
Ketakutan Artuk menjadi-jadi, tubuhnya berkeringat dingin seketika. Matanya juga mulai berkaca-kaca karena saking takutnya. Namun Artuk tetap ogah meminta ampun kepada Airel dan hanya diam mencoba melawan rasa takutnya.
__ADS_1
" Sepertinya sampai sini saja pertarungan kita! Selamat tinggal sahaba.... "
Buuuuuuuuushhhhhhhh...!!
Sebuah bom asap hitam meledak tepat diantara Airel dan Artuk hingga membuat Airel menurunkan pedangnya dan menutup hidungnya. Saat asap hitam itu mulai reda, Airel melihat di sekitar dan ternyata Artuk sudah tak ada di depanya.
" Cih..! Lagi-lagi kau kabur ********! " Airel begitu kesal saat melihat Artuk sudah tak ada namun dia juga tau kalau hari ini bukanlah hari terakhir bagi Artuk.
Airel lalu berjalan mendekati raja Namey dan raja Sanjar yang berada sedikit jauh di belakangnya.
" Kenapa kau tak langsung membunuhnya? " raja Namey bertanya-tanya, padahal Airel bisa langsung membunuh Artuk tetapi kenapa menahan pedangnya.
" Aku tau Artuk tak di takdirkan mati disini! Dan yang kulakukan tadi juga sudah takdir bahwa aku tak bisa membunuh Artuk sekarang. " Airel dengan santainya menjawab dan berjalan mendekat ke raja Namey.
" Yasudahlah! Tapi..aku bersyukur kau masih hidup Airel! " raja Namey berdiri dan berjalan mendekati keponakanya itu.
" Ya! Aku terselamatkan oleh penebang kayu! Ngomong-ngomong kenapa raja Sanjar juga ikut berperang denganmu paman? " Airel mengalihkan pandanganya kearah raja Sanjar yang berada di belakang raja Namey.
Raja sanjar hanya membalas dengan senyuman sambil mengangkat tangan sebagai tanda menyapa Airel.
" Hakim sudah salah paham ke Sanjar! Sanjar itu hanya ingin menjaga dan memimpin tanah kelahiranya sampai akhir hayatnya, namun Hakim mengira bahwa Sanjar haus kekuasaan! Saat kau jadi raja nanti tetap berikanlah wilayah Tulga, Nara, Ichamur kepada Sanjar karena disanalah dia di besarkan dan menjadi raja hebat sekarang! " raja Namey menoleh kebelakang tepat di tempat raja Sanjar berdiri yang sedang berbicara dengan prajurit.
" Baiklah paman! Aku akan ingat itu, kalau begitu aku pergi dulu! " Airel memasukan pedangnya lagi ke sarung pedang dan menundukan kepala ke raja Namey.
" Bukankah lebih baik kau berada disini sementara waktu? " raja Namey sedikit sedih saat Airel ingin pamit dan membujuknya untuk sementara bergabung dengannya.
" Maaf paman, aku sebenarnya hanya kebetulan melewati lembah ini! Dan aku tak sendiri, aku bersama putri Veagirs! Jika dia melihat aku berbincang-bincang lama dengan paman pasti akan membuatnya curiga! " Airel mengarahkan pandanganya kebukit tempat Sylvia.
" Begitukah! Semoga saja cintanya tulus padamu Airel! Dan sekali lagi ingat! Jangan terlalu naif dengan cinta karena itu bisa membunuhmu! " raja Namey menepuk pundak Airel dan juga mengarahkan pandanganya ke bukit.
" Hmh! Kalau begitu sampai jumpa lagi! Jika ada waktu aku akan ke Sargoth lagi! " Airel mengabaikan peringatan pamanya dan dengan kekuatanya yang masih belum hilang, dia dengan kecepatan kilat menghilang dari hadapan raja Namey dan langsung berada di depan Sylvia.
" Sylvia? " Airel menepuk pundak Sylvia.
" Airel? Ba..bagaimana bisa kamu tiba-tiba di depanku lagi seperti ini? Apa ini kekuatan teleportasi? " Sylvia terkejut saat melihat Airel sudah berada di depanya.
" Hahaha... Teleportasi hanya dongeng semata Sylvia! Aku bisa secepat ini karena kekuatan dan jurusku yang membuat kecepatanku hampir setara dengan kecepatan cahaya! " Airel tertawa saat mendengar kata-kata teleportasi karena teleportasi menurut dia hanyalah khayalan anak-anak kecil saja dan tak mungkin ada.
" Kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan! Kita cari desa terdekat dulu, aku ingin mandi! " Airel langsung naik keatas kuda lagi dan mengulurkan tangan kananya ke Sylvia untuk membantu Sylvia menaiki kuda.
" Bau keringat! " Sylvia memalingkan wajahnya dari Airel.
" Lalu kamu mau berjalan sendiri di hutan? Hari sudah mau gelap loh! " Airel masih tetap menjukurkan tanganya.
Sylvia mulai merindingin saat Airel bilang seperti itu.
" Ba..baiklah tapi jangan menempel kepadaku! Sedikit menjauh! " Sylvia meraih tangan Airel dan naik keatas kuda.
" Kamu tak terlukakan? " Sylvia menunduk diatas kuda dan berkata tanpa menengok kearah Airel.
" Tenang saja! Aku sudah tau serangan Artuk jadi aku bisa menangkis seranganya! " Airel mengelus kepala Sylvia.
Sylvia yang masih menunduk, meneteskan air mata lagi karena takut kehilangan kekasihnya itu.
" Bodoh! Lain kali jangan gegabah seperti itu! Aku tak mau kehilanganmu!! " ujar Sylvia sambil mengusap air matanya.
" Maaf aku tak akan melakukanya lagi! Kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan! " Airel memacu kembali kudanya dan mencari desa terdekat untuk membersihkan badanya.
Saat mengetahui Artuk menghilang dari peperangan, seluruh pasukan Arcadia mundur. Kali ini bukan mundur untuk perang keesokan hari, tetapi mundur sebagai tanda berakhirnya peperangan. Dan dengan ini perang di lembah aslan menjadi kemenangan bagi kerajaan Calradia dan khanate dan sebuah kekalahan memalukan bagi kekaisaran Arcadia karenackaisar mereka hilang saat bertarung.
__ADS_1
Korban peperangan 2 hari di lembah aslan mencapai 1.150.400. Dimana 425.000 dari pasukan Calradia dan Khanate sedangkan 725.400 dari pasukan Arcadia. Korban perang di hari kedua sangat banyak karena memang lebih mengerikan di hari kedua ini, di tambah oleh efek dari pertarungan raja Namey melawan Artuk lalu di lanjutkan pertarungan Artuk melawan Airel yang juga menewaskan banyak pasukan dari kedua kubu yang dekat dengan pertarungan itu.
TO BE CONTINUE...