
Perlahan demi perlahan Airel membuka matanya. Dengan pandangan yang belum jelas, ia melihat langit biru yang indah.
" Di..dimana aku...? " Airel mengusap kedua matanya.
" Syukurlah kamu sudah sadar...! Sekarang kita berada di perbatasan timur kerajaan Veagirs. " Liya datang mendekat dan membantu Airel untuk duduk.
Mendengar kata-kata Liya, Airel langsung teringat Sylvia dan kata-kata terakhirnya.
" Sylvia? Dimana Sylvia...!? Aku harus menjelaskan sekali lagi kepadanya...! " Airel terus bersikeras ingin meyakinkan Sylvia bahwa dirinya bukanlah pelaku pembunuh ayah Sylvia.
Liya tak menjawab pertanyaan Airel, dia hanya diam saja karena tau jika dia mengatakan sesungguhnya pada Airel maka Airel akan sangat terpukul. Dan untuk menghindari pertanyaan itu, Liya langsung mengalihkan pembicaraan.
" Airel, mari bergabung dengan yang lain...! " Sylvia menarik tangan Airel dan mengajaknya untuk bertemu yang lain.
Saat berjalan mengikut Liya, Airel terkejut saat melihat Jeremus dan orang-orang di rumahnya berada disini.
" A..apa yang kalian lakukan disini...? Lalu siapa yang menjaga rumah...? "
Jeremus dengan segera menghampiri Airel dan berlutut di hadapanya.
" Mohon maaf tuanku, kita terpaksa meninggalkan Khudan karena nyawa kita semua terancam...! " ujar Jeremus.
" Apa maksudmu...? "
" Saat tuan pergi menemui tuan putri, Ymira tak sengaja mendengar rencana pembunuhan pengikut anda tuanku...! Karena itu saya dan semua pengikut anda di rumah langsung pergi dari kota...! Selain itu Liya juga berhasil menyelamatkan anda saat anda terkena racun tidur! "
" Sudah berapa hari aku tertidur..? "
" 2 hari Airel...! Kamu hendak di penggal oleh jendral Kevin setelah terkena racun itu tetapi aku berhasil datang tepat waktu dan langsung membawamu pergi. " sahut Liya.
" Apa benar Sylvia yang merencanakan ini semua...? "
" Dari yang anda lihat tuan, ini memang semuanya rencana tuan putri...! " Ymira ikut menghampiri Airel.
Dengan rasa tak percaya, Airel menundukan kepalanya dan di dalam pikiranya dia terus bertanya-tanya mengapa Sylvia melakukan hal ini. Di tengah pertanyaanya itu, Airel berniat untuk kembali ke Khudan dan sekali lagi ingin menjelaskan kepada Sylvia.
" Aku akan kembali ke Khudan...! "
Perkataan Airel sontak membuat para pengikutnya terkejut karena jika Airel kembali ke kota itu, sama saja dia sedang mencari mati.
" U..untuk apa tuanku...? Disana tak ada barang kita yang tertinggal! Koin emas anda juga sudah kami bawa semua tanpa sisa satupun! Jika anda kembali kesana, anda bisa saja tak akan kembali lagi kesini " Jeremus mencoba menghalangi Airel.
" Aku hanya ingin menjelaskan sekali lagi kepada Sylvia...! "
" Tuan...! Sudah tak mungkin bagi anda bertemu tuan putri sekarang...! "
" Kalau begitu aku harus ke Khudan untuk memastikan sendiri apakah aku bisa bertemu denganya atau tidak! Jika tidak, aku akan kembali lagi kesini dengan cepat menggunakan jurusku...! "
" Hhh...! Baiklah kalau tuan memaksa tetapi anda tidak boleh sendirian...! Saya akan menyuruh Liya untuk menemani anda...! Selain itu pakailah jubah ini untuk menutupi identitas anda! " Jeremus memberikan jubah hitam kepada Airel dan Liya.
Dengan cepat, Airel langsung memakai jubah itu dan mengambil salah satu pedang milik pengikutnya yang tergeletak di sampingnya.
" Liya pegang erat pinggangku...! Kita berangkat sekarang...! ENCHANT DARK SWORD...! " aura kegelapan samar-samar muncul di tubuh Airel.
__ADS_1
Setelah Liya berpegang erat, Airel dengan cepat langsung melesat menuju Khudan. Dan hanya 30 menit mereka berdua sudah berada di depan gerbang kota Khudan.
***
Saat di depan gerbang, Airel melihat kota Khudan samhat ramai sekali dan tak seperti biasanya. Selain itu, di kota jugabukan hanya ada prajurit Veagirs tetapi ada beberapa prajurit kerajaan Arcadia. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, Airel mencoba menanyakan kepada Liya.
" Liya, mengapa Khudan sangat ramai sekali? Tak seperti biasanya dan kenapa ada prajurit dari Arcadia juga...? Apakah Artuk sedang berkunjung kesini...? "
" Maaf Airel! Karena sudah sampai disini, aku tak bisa mengatakanya karena kamu pasti tidak percaya...! Dan cara agar kamu percaya adalah kamu harus melihat sendiri nanti...! Baiklah mari kita ke gerbang istana Khudan...! "
Airel tak mengerti apa yang di maksud oleh Liya. Dan ia hanya bisa mengikuti kemana Liya mengajaknya.
Saat sudah dekat dengan istana, Airel melihat banyak sekali dekorasi yang di pasang diistana Khudan. Ia mengira bahwa hari ini adalah kenaikan tahta Sylvia.
Ketika semakin dekat dengan gerbang istana, Airel tak sengaja mendengar dari orang-orang di sekitarnya yang sedang berbicara. Orang-orang di sekitarnya mengatakan tentang pernikahan. Karena saking penasaranya, Airel mencoba menanyakanya lagi kepada Liya.
" Liya apa yang di... " belum selesai Airel berkata, tiba-tiba terdengar suara lonceng dari istana dan semua orang di Khudan pandanganya langsung mengarah keistana.
Tenggg....! Tengggg....! Teng...!!
Setelah lonceng di bunyikan, dari dalam istana keluar 2 orang yaitu laki-laki yang memakai zirah emas dan perempuan yang memakai gaun pernikahan berwarna putih berjalan menuruni tangga istana sambil berpegangan tangan.
Airel terkejut, matanya tak bisa berkedip sama sekali saat melihat orang yang keluar dari istana itu. Karena orang yang keluar dan bergandengan tamgan itu adalah Artuk dan Sylvia.
" A..apa yang sebenarnya terjadi...!? " tanya Airel lirih.
Liya yang dari awal sudah mengetahuinya tak sanggup menjawab pertanyaan Airel. Liya juga sudah memprediksi bahwa Airel pasti akan sangat terpukul. Ya, terpukul karena mengetahui bahwa orang yang ia cintai dan sayangi pada akhirnya menghianatinya dan menikah dengan musuh sekaligus sahabatnya.
Setelah pidatonya Sylvia, penasehat Artuk yang memakai topeng anjing keluar dari istana sambil membawa 2 mahkota dan di samping penasehat ada jendral Kevin yang membawakan pedang orion dan pedang artemis.
" DENGAN KEINGINAN DAN TUJUAN YANG SAMA DARI RATU VEAGIRS DAN KAISAR ARCADIA DAN DENGAN RASA KASIH SAYANG SERTA CINTA PADA KEDUANYA...! ATAS NAMA TUHAN SAYA MENIKAHKAN RATU VEAGIRS DAN KAISAR ARCADIA...! JADILAH PASANGAN SEHIDUP SEMATI DAN SEMOGA CINTA KALIAN ABADI SAMPAI ALAM SELANJUTNYA...! DAN DENGAN INI KAMI ANGKAT RATU VEAGIRS MENJADI RATU ARCADIA DAN SEKALIGUS BERGABUNGNYA PEDANG ORION DAN PEDANG ARTEMIS!! UNTUK RAJA DAN RATU SILAHKAN BERCIUMAN SEBAGAI TANDA CINTA DAN SAHNYA PERNIKAHAN KALIAN! " penasehat mensahkan pernikahan Sylvia dan Artuk.
Air mata Airel menetes saat menyaksikan Sylvia dan Artuk berciuman. Hatinya hancur tetapi rasa sayang dan cintanya kepada Sylvia tak bisa dia hilangkan. Sedangkan Liya hanya melirik kearah Airel dan begitu kasian melihatnya.
" Apa apaan semua ini...! " kesedihan Airel membuatnya tak bisa mengontrol emosi. Ia langsung memegang pedangnya dan hendak meluncur langsung kearah Artuk untuk membunuhnya.
Tetapi, Liya dengan cepat memegangi tangan Airel dan langsung mebgajaknya kembali ke pengikutnya.
" Sudah cukup...! Kamu harus bisa menerima kenyataan ini...! Lebih baik kita kembali! Sudah tak ada harapan lagi kita disini...! Kamu harus kuat karena mulai sekarang jalanmu untuk membangkitkan Calradia semakin terjal...! Mari kita kembali, "
Tanpa menjawab, Airelpun menuruti kata-kata Liya dan mereka kembali ke perbatasan dikana para pengikutnya mengungsi. Kali ini Liya membeli kuda untuk mereka berdua tunggangi karena tak mungkin Liya memaksa Airel untuk mengeluarkan jurusnya dalam kondisi seperti ini.
Di perjalanan sendiri, air mata Airel terus menetes dan Airel terus menundukan kepalanya. Airel sudah putus asa dan hatinya sudah hancur menyaksikan pernikahan tadi.
Setelah 1 jam perjalanan, mereka berdua akhirnya sampai. Airel tanpa berkata apa-apa langsung mencari tempat yang tak jauh dari perkemahan pengikutnya untuk menyendiri. Sedangkan Liya menceritakan apa yang terjadi dengan Airel kepada Jeremus dan yang lainya.
Hari mulai larut dan Airel masih duduk termenung dengan rasa putus asa dan sakit hatinya. Jeremus, Ymira, Elina maupun Erina tak sanggup menghiburnya hingga pada akhirnya Liya mencoba untuk menghibur Airel.
Liya berjalan mendekati Airel dan Airel lansung menyadari kedatangan Liya.
" Liya, kenapa hidupku selalu seperti ini...? Ayah ibuku terbunuh saat melindungi kerajaan, paman dan bibiku juga terbunuh saat melindungiku dan sekarang Sylvia menghianatiku dan pergi meninggalkanku...! Kenapa...! Kenapa selalu terjadi padaku...!? " ujar Airel yang air katanya mulai menetes.
Melihat Airel yang seperti itu, dengan cepat Liya langsung memeluk Airel dari depan.
__ADS_1
" Dulu, saat kamu sedih kamu selalu mengatakan hal yang hampir sama dan aku selalu memelukmu, " Liya tersenyum dan mengelus punggung Airel.
" Apa yang harus kulakukan lagi setelah semua ini...! Aku tak sanggup lagi menerima beban sebesar ini...! " kesedihan Airel tak terbendung lagi. Dia mengatakan apa yang ia rasakan kepada Liya.
" Saat aku kecil ayah dan ibu sudah tidak ada dan setelah aku baru menginjak dewasa, aku sudah menanggung beban besar karena mendapatkan perintah untuk mendirikan Calradia lagi...! Hari demi hari kulalui tapi apa...!! Aku tak mendapatkan sedikitpun jalan yang mudah kulalui...! Setiap ku melangkah jalan yang kulalui semakin terjal dan semakin tajam...! Aku sudah terlalu lelah dan tubuhku sudah tak sanggup menerima sakit saat melewati jalan itu...!! " Airel mencurahkan isi hatinya dengan tangisan yang tiada henti di pelukan Liya.
Liya dan para pengikut Airel yang lain seketika terdiam dan mereka semua merasakan betapa beratnya beban yang tuan mereka tanggung.
" Apakah seorang raja harus seputus asa ini...? Apa kamu lupa? Dulu saat kamu jatuh dan menangis, ayahmu mengatakan bahwa seorang raja harus terbiasa dengan rasa sakit. Sakit fisik maupun sakit hati! Karena raja pasti akan mendapatkan rasa sakit seperti itu...! Bukankah ayahmu selalu mengatakan itu saat kamu menangis...? Raja harus terus bangkit dan terus melewati jalan terjal nan tajam itu. Jika kamu tanya kapan raja akan menyerah? Raja menyerah saat tubuhnya hancur di tengah perjalanan melewati jalan itu. Bangkitlah! Kali ini kamu tidak sendiri! Kami semua akan selalu ada di belakangmu dan akan terus membangunkanmu saat kamu terjatuh. Jangan patah semangat hanya karena kamu kehilangan cinta pertamamu...! Aku yakin kamu pasti akan mendapatkan cinta yang lebih tulus, " ujar Liya lirih kepada Airel.
Mendengar ucapan Liya, Airel langsung teringat tentang masa lalunya. Tepatnya 15 tahun dahulu saat Calradia masih ada dan saat itu Airel sering menangis hanya karena hal sepele dan selalu memeluk Liya. Selain itu, ia juga teringat kata-kata ayahnya. Tetapi kesedihan Airel tetap tak bisa hilang begitu saja.
" Aku tau memang tak akan mungkin kamu bisa sembuh dari kesedihan ini sekarang...! Karena itu menangislah...! Luapkan segala kesedihanmu dan besok kamu harus bangkit lagi...! Dan jika kamu terjatuh, aku akan selalu menjadi tempat bersandarmu agar kamu tak terjatuh dan bisa bangkit kembali...! " Liya memahami betul apa yang Airel rasakan dan karena itu dia menyuruh Airel meluapkan kesedihanya di pelukanya.
Airelpun langsung menangis dan meluapkan kesedihanya di pelukan Liya. Luapan kesedihanya membuat Liya dan yang lain ikut meneteskan air mata. Bagi Liya ini bukan pertama kali dia melihat Airel menangis tetapi bagi Jeremus, Elina, Erina, Ymira dan yang lain ini adalah kali pertama mereka melihat Airel mrnangis sesedih ini.
Cukup lama Airel menangis hingga membuatnya tertidur di pelukan Liya. Setelah mengetahui Airel tidur, Liya langsung membaringkan badan Airel dan menyelimutinya.
" Kamu sudah berjuang Airel...! Kali ini aku akan ikut berjuang bersamamu karena itu, bangkitlah dan jadilah raja Calradia seperti mimpimu saat masih kecil...! " Liya berkata lirih sambil melihat Airel yang tertidur pulas. Dan setelahnya Liya langsung mencium kening Airel dan pergi tidur.
***
Hari membahagiakan sedang terjadi di kota Khudan. Malam ini di ranjang yang sudah di hias serta diberi bunga-bunga di seluruh ruangan Sylvia dan Artuk sedang duduk berdua dan saling memandang.
Artuk memandan Sylvia dengan penuh bahagia karena bukan hanya tujuanya yang akan segera tercapai tetapi dia juga berhasil menikahi seorang ratu yang cantik.
Hal ini berbeda dengan Sylvia. Dia memandang Artuk tetapi bukan dengan senyuman, melainkan ekspresi sedih yang terpampang di raut wajahnya. Ya, sebuah kesedihan yang ia rasakan karena mencoba menghapus rasa cintanya terhadap Airel.
" Malam ini adalah malam pertama kita! Apa kamu siap...? " Artuk memegang pundak Sylvia dengan lembut.
Sylvia hanya menganggukan kepalanya tetapi raut wajahnya jelas masih terpampang kesedihan.
Perlahan Artuk melepas gaun yang dipakai Sylvia, dan perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Sylvia. Saat bibirnya mendekat, Artuk melihat 1 tetes air mata menetes melewati pipi Sylvia. Dan seketika Artuk teringat sahabatnya yaitu Airel dan itu menghentikanya untuk mencium Sylvia.
Artuk langsung merasa bersalah kepada sahabatnya karena telah merebut cinta dari sahabatnya. Selain itu, dia juga marah karena di hati Sylvia masih terukir nama Airel.
Artuk langsung membatalkan niatnya ke Sylvia dan tak jadi membuka gaun Sylvia. Selain itu, Artuk juga langsung beranjak dari ranjang.
" A..ada apa...? Kenapa tidak jadi? " tanya Sylvia saat melihat Artuk mengurungkan untuk menciumnya.
Artuk yang berdiri membelakangi Sylvia menghela nafas panjang dan merepalkan tanganya.
" Aku tak bisa melakukanya jika di hatimu masih terukir nama Airel! "
Sylvia terkejut karena Artuk menyadarinya. Dan karena Artuk sudah tau, maka Sylvia spontan mengatakan sejujurnya.
" Ya memang di hatiku masih ada Airel...! Aku mencoba menghapusnya tapi rasanya sakit dan aku selalu meneteskan air mata saat mencobanya...! Aku tak tau lagi bagaimana cara menghapusnya dari hatiku..! " Sylvia menundukan kepalanya dan menangis.
" Baiklah...! Cara untuk menghilangkan Airel dihatimu adalah dengan membunuhnya..! Aku tak akan menyentuhmu sampai aku membunuh Airel...! Kalau begitu aku akan tidur di kamar lain...! Selamat malam. " Artuk keluar dari kamar pengantin dan tidur di kamar sebelah.
Dan Sylvia hanya bisa menangisi apa yang terjadi. Sesekali dia memukul-mukul ranjang karena dia tak bisa melupakan Airel di ingatanya maupun hatinya.
TO BE CONTINUE...
__ADS_1