
" Tuan kita sudah hampir sampai di perbatasan kerajaan Veagirs! Sepertimya kita berpisah sampai disini! Kami harus mencari kayu kearah barat! " kek Ner turun dari kereta kuda sambil membawa barang-barang Sylvia dan Airel.
Sudah sejak 3 hari yang lalu Airel dan Sylvia meninggalkan desa Albatif untuk kembali ke Khudan di awal musim panas ini. Dan secara kebetulan rombongan penebang kayu kakek Artimener juga akan menebang kayu di sebelah barat perbatasan antara kekaisaran Arcadia dan kerajaan Veagirs. Airel dan Sylvia akhirnya ikut bersama rombongan penebang kayu hingga perbatasan setelah itu mereka berpisah.
" Terimakasih kek sudah mau memberikan tempat tinggal dan makan kepada kami! " Airel yang memakai jubah hitam turun dari kereta kuda dan berjalan mendekati kek Ner.
" Sudah tugas kami melayani tuan Airel! Jika tuan membutuhkan kami atau kekurangan dana maupun makanan, tuan bisa mengutus seseorang untuk datang ke desa kami! Kami pasti akan membantu! " Bisik kek Ner kepada Airel.
" Baiklah kalau begitu kami pamit dulu tuan! Tapi maaf tuan kami tak bisa memberikan kuda kepada tuan. " kek Ner menepuk pundak Airel dan menengok kearah kuda milik Sylvia yang sedang memakan rumput.
" Tak apa! Aku bisa menunggangi kuda berdua dengan Sylvia...kalau begitu hati-hati di jalan kek! Aku tak akan melupakan kebaikan kakek! "
Kek Ner langsung naik kereta kudanya dan melanjutkan perjalanan menuju barat bersama dengan rombongan dan 3 kereta kuda lain.
" Sampai bertemu lagi tuaaan! " teriak para rombongan sambil melambaikan tangan.
" Aku masih bingung mengapa mereka memanggilmu tuan dan sangat menghormatimu. " Sylvia berjalan mendekati Airel sambil membawa kudanya.
" Ceritanya panjang! Kalau sudah waktunya akan kuceritakan! Baiklah ayok kita pulang! " Airel naik ke kuda yang di bawa Sylvia, dan di susul Sylvia yang naik di depan Airel.
" Apa tak apa aku duduk di depanmu? Apa kamu bisa melihat dan mengendalikan kudanya? " tanya Sylvia yang canggung karena duduk di depan Airel.
" Tak apa! Jika kamu di depan, aku lebih mudah melindungimu! Hyaa! " Aitel memacu kudanya menuju kerajaan Veagirs dan untuk menuju kesana mereka berdua harus melewati lembah aslan. Tempat dimana sedang terjadi peperangan sekarang.
***
Di lembah aslan, perang di hari keduapun terjadi lagi. Kali ini Arcadia mengeluarkan lebih banyak pasukanya yaitu 610.000 pasukan yang dipimpin langsung oleh Artuk dan duke Herlaus sedangkan duke Garvent memimpin pasukan belakang. Di pihak Calradia dan Khanate, mereka mengeluarkan 587.000 dan masih sama dipimpin oleh raja Namey tapi sekarang di temani oleh raja Sanjar yang juga berada di baris depan.
Perang besar kembali pecah tepat saat matahari terbit. Namun di hari kedua ini, pasukan Arcadia unggul jauh dari Calradia. Strategi penasehat Artuk benar-benar membantu Artuk menguasai jalanya peperangan. Sayap kanan pasukan Calradia dengan mudah di jebol hingga Calradia terpaksa menambah pasukan di sayap kanan.
Artuk sendiri dengan kekuatanya terus menerjang barisan tengah pasukan Calradia. Tetapi karena begitu luasnya area perang ini, lagi-lagi Artuk tak berhasil menemukan raja Namey maupun raja Sanjar. Artuk berfikir dia bisa memenangkan peperangan jika membunuh salah satu raja itu.
Raja Namey yang di perang pertama berada di barisan tengah, kali ini berpindah di sayap kanan untuk membantu pasukan dan raja Sanjar tetap menjaga sayap kiri dan di barisan tengah di pimpin salah satu jendral dari Khanate.
Perang dahsyat di hari kedua ini beritanya tersebar hampir di seluruh penjuru dunia dan penduduk desa-desa yang dekat dengan lembah aslan terpaksa mengungsi ke daerah-daerah yang jauh dari area peperangan.
***
Di perjalanan, Airel dan Sylvia kebingungan melihat banyak orang berbondong-bondong meninggalkan hutan hingga salah seorang penduduk berhenti dan memberitahu mereka.
" Tuan...! Segeralah keluar dari hutan ini! Di lembah aslan sedang ada peperangan besar jika tuan ingin tetap hidup cepat pergi dan mengungsilah dari sini! " setelah memberitahukan hal itu, seorang penduduk itu langsung lari menyusul penduduk lain yang berada di depanya.
" Apa ayah kembali berperang dengan Swadia? " Sylvia mengarahkan pandanganya keatas.
" Sepertinya bukan! Sekarang kerajaan Swadia sudah bergabung dengan kekaisaran Arcadia! Aku memiliki firasat buruk tentang ini! Sylvia pegangan erat! " Airel memacu kudanya dengan kencang menuju lembah aslan karena penasaran dan memiliki firasat lain tentang apa yang terjadi di lembah itu.
Saat sudah hampir dekat dengan lembah, Airel mendengar suara peperangan dan dia mulai sadar bahwa perang di lembah ini bukanlah skala kecil. Airel berhenti sejenak sambil melihat-lihat sekitar hingga akhirnya Airel melihat bukit yang berada di sebelah barat padang rumput lembah aslan. Dengan cepat, Airel langsung memacu kudanya ke bukit itu.
" Pe..perang macam apa ini? " Saat sampai diatas bukit, Airel terkejut dan tak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat perang skala yang sangat besar terjadi di bawah bukit.
" A..apa ini? Aku baru pertama kali melihat perang sebesar ini! " Sylvia tertegun melihat perang besar itu.
Airel mengamati perang itu dan akhirnya mengetahui bahwa yang berperang adalah kerajaan Calradia melawan kekaisaran Arcadia.
" Airel apa yang akan kita lakukan? " Sylvia mulai ketakutan.
" Akan sangat berbahaya jika kita kembali ke Khudan sekarang! Perang ini antara Calradia melawan kekaisaran Arcadia! Kita tidak tau siapakah yang akan menang..jika Arcadia memenangkan perang maka mereka pasti akan melanjutkan invasi ke kerajaan Veagirs jadi lebih baik kita menunggu disini untuk menunggu hasil dari perang ini! " Airel turun dari kuda dan langsung duduk. Pandangan matanya terus mengarah ke peperangan.
Sylvia tak bisa menjawab apa-apa karena yang di katakan Airel memang benar. Jika kembali sekarang akan samgat berbahaya jadi lebih beik menunggu sampai perang selesai.
***
Di medan perang, yang awalnya pasukan Arcadia unggul kini mulai berhasil di balas oleh Calradia. Barisan tengah pasukan Arcadia hancur saat Artuk mencoba membantu sayap kanan pasukanya.
Kehancuran ini membuat formasi pasukan Arcadia terpecah menjadi 2.
__ADS_1
Artuk yang mengetahui barisan temgah hancur, langsung kembali ke barisan tengah dan dengan berani dia berhasil membunuh seluruh pasukan Calradia yang menerobos barisan tengah hingga barisan tengah Arcadia berhasil diisi lagi oleh pasukan baru.
Saat Artuk kembali ke barisan tengah, raja Namey yang bersimbah darah karena telah membunuh banyak pasukan Arcadia tak sengaja melihat keberadaan Artuk. Dan raja Namey langsung berjalan menuju tempat Artuk.
" ARTUUUUUK! " teriak raja Namey yang berjalan dengan gagahnya sambil megendong pedang besar di bahunya.
Artuk yang menyadari keberadaan raja Namey langsung berbalik dan juga berjalan menuju raja Namey.
" Akhirnya aku menemukanmu raja Calradia..!! " Artuk dengan senyuman bengis dan tatapan tajam berlari kearah raja Namey.
" BANGKITLAH KEKUATAN IBLISKU! EVIL STORM!! "
Artuk dengan cepat melompat keatas dan langsung menyerang raja Namey.
Booooooommmmm....!
Raja Namey berhasil menangkis serangan Airel dengan pedang besarnya.
" Tak buruk! Tapi... Airel lebih hebat darimu! "
Mendengar ucapan raja Namey tentang Airel, membuat Artuk marah besar.
" Airel..? Kenapa selalu Airel!! Akan kutunjukan bahwa aku lebih hebat dari orang yang sudah mati itu!! HIYAAAAAAAAA!! " Artuk berteriak dengan keras dan tiba-tiba Aura merah menyelimuti tubuhnya.
" Jadi inikah kekuatanmu? Kekuatan iblis terkutuk!! AMUKAN DEWA AIR!! " raja Namey pun tak ingin ketinggalan menunjukan jurus hebatnya.
Tubuh raja Namey di selimuti aura biru yang dingin bahkan bijakan raja Namey membeku saking dinginya aura raja Namey.
" DEMON WINGS SHINING!! "
Aura mengerikan keluar dari tubuh Artuk. Matanya berubah menjadi merah dan pedangnya di selimuti api yang membara.
" Kekuatan macam ap....! " belum selesai berkat, raja Namey langsung melompat keatas.
Wuuuuukk..buuuurr..!!
Artuk mengayunkan pedangnya kedepan, seketika api di pedang Artuk membesar hingga menimbulkan kebakaran hebat.
Raja Namey turun tepat di kobaran api itu dan sekjap api itu padam karena kalah dengan aura dinginya.
Sriiiiiiingggg...! Tring..tring...!
Tak sampai situ, Artuk dengan cepat langsung menyerang raja Namey. Serangan pedang apinya dengan mudah di patahkan raja Namey. Tetapi gerakan raja Namey begitu sulit mengimbangi keterampilan berpedang Artuk.
Mereka berdua terus saling beradu pedang bahkan membuat konaran api menjulur dimana-mana dan membakar pasukan-pasukan dari kedua kubu.
Sringgg...!! Crak..crak..! Buaak...!!
Raja Namey berhasil memukul perut Artuk dengan sangat keras hingga membuat Artuk terpental jauh. Tetapi, raja Namey mendapatkan 2 luka tebasan Artuk di tangan kananya dan juga perutnya di karenakan raja Namey tak sanggung mengimbangi kemampuan berpedang milik Artuk yang sedang dalam mode iblis.
" Cih...! Sialan kau! " Raja Namey memegangi perutnya dan menatap tajam kearah Artuk.
" Hahaha..! Sudah kubilang aku lebih hebat dari Airel! Sekarang akan kuakhiri! SAMBARAN API NERAKA!! " Artuk kembali menggunakan jurus itu.
" SEA STOOOOORM....!! " raja Namey mengangkat pedang besarnya.
Duaaaar.....!! Boooom..!!
Ledakan besarpun terjadi. Serangan Airel berhasil di tahan oleh jurus raja Namey hingga membuat ledakan yang habat dan membuat pasukan yang sedang berperang berhenti seketika dan menyaksikan pertarunagn 2 raja ini. Kedua belah pihak pasukanpun mundur dan melihat duel raja Namey dan kaisar Artuk.
" Jangan sombong bocaah! " mata raja Namey berubah menjadi biru menyala. Zirah yang melindungi tubuhnyapun pecah karena dahsyatnya ledakan tadi.
" Akhirnya kau serius juga raja Calradia! Akan ku tunjukan kekuatan iblis lucifer kepadamu!! "
Artuk mengangkat pedangnya dan pedang yang semula di selimuti api, kini berubah menjadi merah darah.
__ADS_1
***
Mata Airel masih terus tertuju pada jalanya peperangan di bawah. Bahkan dia tak menjawab apa-apa saat diajak bicara oleh Sylvia.
Airel sempat keheranan saat ada ledakan dahsyat dan api yang menjalar kemana-mana. Hingga saat dia mengamati lebih serius lagi, dia melihat Artuk yang dalam mode iblis sedang berhadapan dengan pamanya yang telanjang dada dan dengan luka yang lumayan parah.
Airel tak tahan saat melihat Artuk dengan kekuatan iblisnya. Airel seperti melihat ketakutan orang-orang saat memperhatikan Artuk.
Karena tak sanggup menahan diri, sambil merepalkan tangan Airel berdiri dan langsung mengambil pedangnya.
" Airel..? Jangan bilang kamu mau terjun ke peperangan! " Sylvia terkejut saat melihat Airel berdiri sambil mengambil pedang dari sarung pedangnya.
" Sylvia, tetaplah disini! Jangan kemana-mana sampai perang ini selesai! Dan jangab ikut campur! Jika kamu ikut campur, kerajaan Veagirs akan terseret dalam perang ini! Tetaplah disini! " Airel memperingatkan Sylvia tetapi matanya tetap menuju kearah Artuk.
" Ta..tapi Aire... " Belum selesai Sylvia berucap, Airel langsung terjun dari tebing menuju medan peperangan.
***
" Dengan ini aku akan menjadikanmu tumbal untuk lucifer! " Artuk menodongkan pedang dan bersiap menyerang.
" Aku tak...!! Akh..! Ughuk..ughuk!! " raja Namey yang berdiri gagah tiba-tiba ambruk sambil memegang perutnya dan bantuk memuntahkan darah.
" Kesempatan...!! TEBASAN IBLIS LUCIFER...!! "
Artuk dengan sangat cepat menyerang raja Namey yang sedang menahan sakit nekas lukanya.
" ENCHANT DARK SWORD..!! "
Boooooom.........!!
Ledakan kembali terjadi dan membuat beberapa pasukan dari Arcadia maupun Calradia terkena efek ledakan itu. Tetapi serangan Artuk di tahan oleh seorang laki-laki berjubah hitam.
" Cih...!! Siapa kau.....!! " Artuk terkejut saat serangannya di tahan dengan mudah.
" Tak mungkin kau tak mengenaliku! " ucap laki-laki berjubah itu.
Mendengar suara itu, Artuk terkejut dan langsung mundur kebelakang.
" Tak..tak mungkin..! A..apa itu kau Airel..? " Artuk tak asing dengan suara itu. Ya, suara sahabatnya dari kecil yaitu Airel yang dia kira sudah tewas.
Airel membuka penutup kepalanya dan dengan gagah menodongkan pedangnya ke Artuk.
" Lalu siapa lagi? Apa kau fikir aku sudah mati? " Airel tersenyum kecil.
" A..Airel...? " raja Namey juga terkejut saat tau Airel datang membantunya.
" Paman kembalilah ke tenda paman, akan ku selesaikan ini..! " Airel menoleh sedikit kebelakang untuk mrlihat kondisi pamanya dan tatapanya kembali mengarah ke Artuk.
" Bagaimana kawan? Bagaimana kalau kita selesaikan disini! "
Artuk hanya terdiam karena tak menyangka sahabatnya masih hidup.
" Kenapa kau terdiam? Kau takut? Kau takut melihatku hidup? Atau kau takut karena mengira aku hantu? " ejek Airel.
" Cih...! Sialan! Kali ini akan kupastikan kau terbunuh..! " Artuk mencoba menenangkan dirinya dan mulai bersiap dengan kuda-kudanya.
" Auramu lebih hebat dari yang dulu sepertinya..! " Airel menundukan kepalanya sambil memutar-mutar pedangnya.
" Tapi aku yakin aku lebih unggul darimu Artuk! " Airel mengangkat kepalanya.
Artuk kembali terkejut melihat tatapan mengerikan Airel. Mata yang berubah jadi biru dengan Aura kegelapan yang panas menyelimuti Airel membuat nyali Artuk sedikit ciut.
" Kita mulai sekarang...! Majulah ARTUUUUKKKK...!! "
TO BE CONTINUE...
__ADS_1