
" Airel bagaimana bisa kamu berada di kota ini..? " tanya Sylvia yang berjalan bersama Airel menuju kedai makan di kota Shariz.
" Aku di selamatkan oleh penebang kayu dan di bawa ke desa yang dekat dengab kota ini. "
Sylvia langsung tersenyum dan tak menyangka bahwa perkataan pedagang yang memberinya makan beberapa hari lalu benar-benar dapat di percaya.
" Kenapa malah tersenyum..? " Airel menengok kearah Sylvia.
" Eh tidak apa-apa..! Ngomong-ngomong kenapa kita ke kedai makan terbesar..? Bukankah ini sudah larut malam dan pasti kedai itu sudah tutup. "
" Aku kesini bersama para penebang kayu yang menyelamatkanku dan mereka menyuruhku kekedai malam ini...! Oh itu kedainya! Besar juga ternyata. " Airel menunjuk kearah sebuah kedai yang besar dan sangat ramai.
" Aku tidak tau kalau disini ada kedai sebesar ini. " Sylvia menatap kearah kedai dan terkejut karena saat dia tiba di kota, dia tak pernah melihat kedai ini sebelumnya.
" Sudahlah ayok kita masuk..! Mereka sudah menungguku sepertinya. " Airel menggandeng tangan Sylvia dan langsung masuk ke dalam kedai.
Benar saja, di dalam kedai para rombongan penebang kayu sedang pesta makan dan minum serta menunggu kedatangan Airel.
" Tuaan..! Kami mencemaskan anda! Hhh akhirnya anda datang juga..! " teriak kakek yang menyelamatkan Airel saat itu.
" Maaf kek, aku tadi singgah di tempat pedagang buah karena hujan deras. " jawab Airel menggaruk-garuk kepala.
" Oh ya tuan, lalu siapa wanita cantik yang anda gandeng ini..? " Kakek melirik kearah Sylvia dan tersenyum kecil seolah-olah tau hubungan antara Airel dan Sylvia.
" Dia calon isteriku kek! Dia mencariku sampai kota ini dan akhirnya takdir mempertemukan kami..! " Airel menengok dan menggandeng erat tangan Sylvia.
Seketika para rombongan terkejut dan ada yang menyemburkan minuman yang sudah diminumnya.
" Apaaaa....!! " Teriak rombongan penebang kayu dan langsung membuat para pengunjung kedai terkejut.
" Tu..tuan..apa yang anda bilang itu benar..? " tanya kakek.
" Tentu saja! "
" Kalau begitu beruntung sekali nona cantik ini telah dipilih oleh pang.... "
Airel langsung menutup mulut kakek dengan tanganya dan membawa kakek sedikit menjauh dari Sylvia.
" Tu tuan ada apa..? Kenapa anda menutup mulutku..? " tanya kakek.
" Kakek..calon isteriku belum mengetahui identitasku sebagai pangeran Calradia..! Dan dia adalah putri Veagirs jadi tetap rahasiakan identitasku..! Tolong beritahu yang lain nanti! " Bisik Airel sambil melirik kearah Sylvia.
" Sepertinya kisah cintamu akan rumit tuan...hahaha..kalau begitu nari ikut makan bersama kami..! Kami juga sudah menyiapkan penginapan untuk anda..! " Kakek kembali ke tempat rombongan yang sedang melanjutkan makan dan berbisik-bisik tentang Sylvia.
Airel juga kembali menuju tenpat Sylvia berdiri dan mengajaknya untuk bergabung makan bersama yang lain.
" Sylvia mari kita makan bersama-sama..! " Airel menarik tangan Sylvia dan mengajaknya duduk bersama yang lain.
" Eh..ta..tapi aku bukan dari rombongan kalian! Mana mungkin aku boleh makan bersama! " Sylvia menarik kembali tanganya.
" Apa yang nona ini katakan? Calon suami nona itu juga bagian dari kami berarti nona juga bagian dari kami! Jadi kemarilah " Sahut kakek.
" Kamu dengar sendiri kan? Kemarilah! " Airel mengukurkan tanganya lagi.
Sylvia akhirnya ikut makan malam bersama yang lainya sampai larut malam sekali.
" Hhhh kenyang sekali rasanya. " Airel mengelus-elus perutnya dan memejamkan mata karena kekenyangan.
" Oh ya Sylvia apa kamu mencariku sendirian..? " Airel menengok kearah Sylvia yang sedang meneguk teh hangat.
" Emmh..! " Sylvia menggekengkan kepalanya.
" Aku bersama Ymira tapi kemarin dia kembali ke Khudan karena mendapat tugas untuk ke Rivachage! " sambungnya.
" Begitukah..! Ini sudah larut malam, kakek para rombongan tidur dimana...? " Airel menengok kearah kakek yang sedang berbaring karena kekenyangan.
" Kami sudah menyewa penginapan di sebelah kedai! Tetapi untuk tuan, kami sudah sediakan penginapan di depan kedai ini tuan bisa kesana dengan calon isteri tuan! " kakek menengok kearah Airel sambil menyangga kepalanya dengan tangan.
" Eh? Apa kakek menyewakan 2 kamar ? " Airel terkejut karena mengira kakek menyewakan kamar 1 lagi untuk Sylvia.
" Kalian berdua kesanalah dan lihat sendiri..! Tuan tinggal memberitahukan nama tuan ke penjaga penginapan! Nanti penjaga akan memberitahu kamar anda dan calon isteri anda! " Jawab kakek.
" Baiklah kalau begitu kami istirahat dulu kek..! Ayo Sylvia..! " Airel mrnggandeng tangan Sylvia dan mengajaknya menuju penginapan yang di maksut kakek.
" Selamat bersenang-senang tuaaan! " Teriak rombongan penebang kayu yang masih di kedai.
Sesampainya di penginapan, Seorang penjaga penginapan langsung menghampiri Airel.
" Apa anda tuan Airel...? " tanya penjaga penginaoan dengan tubuh besar dan kepala botak.
" Iya! Aku Airel..! "
" ini kunci anda tuan! Kamar anda di lantai 2 dengan pintu berwarna putih..! " Penjaga memberikan 1 kunci kamar kepada Airel.
" Maaf tuan, kami berdua kenapa hanya satu kunci saja yang tuan berikan? " Tanya Airel menunjukan kembali kunci yang di berikan kepada penjaga.
" Iya tuan! Aku tau anda membawa pasangan dan itu kunci kamarnya! Tuan lebih baik cek dulu kamarnya! " ujar penjaga.
" Baiklah kalau begitu terimakasih! "
Airel dan Sylvia langsung naik ke lantai 2 dan memang penginaoanya sangat besar sekali. Di lanyai 2 ada 8 kamar di kanan dan di kiri lorong sedangkan kamar yang di beritahu penjaga tepat berada di pojok.
Airel langsung menghampiri kamar yang memiliki pintu berwarna putih itu dan langsung membukanya.
" I...ini...!? Apaa-apaan kamar pengantin ini..! " Airel terkejut karena yang di pesan kakek adalah kamar pengantin yang sangat mewah dan dengan ranjang yang sangat empuk serta dekorasi ruangan yang di penuhi dengan bunga.
" Airel, aku kembali ke penginapanku saja yang ada di dekat gerbang kota..! " Sylvia malu-malu dan menundukan kepalanya.
" Tapi Sylvia, ini sudah larut malam sekali dan jarak penginapan ini ke gerbang kota juga lumayan jauh! Kamu tidur saja disini, aku akan ikut kakek di penginapan sebelah..! " Airel memberikan kunci kepada Sylvia dan bergegas keluar dari kamar. Tetapi Sylvia dengan cepat memegangi tangan Airel.
" Sylvia..? " Airel menengok kearah Sylvia.
" Tidak perlu..! Kita tidur saja disini! Lagipula tidak ada laranganya kan..! "
Ujar Sylvia malu-malu.
" Tapi Sylvia.. "
" Ini perintah tuan putri! Cepat tidur..! " Sylvia langsung melepas jubahnya dan menuju ranjang.
Begitupin dengan Airel, dia juga melepas jubahnya dan juga melepas bajunya.
" A...Airel apa yang kamu lakukan..! " Sylvia teriak karena terkejut melihat Airel melepas bajunya.
" ??? Melakukan apa..? " Airel kebingunan dengan perkataan Sylvia.
" I..ini belum waktunya Airel! Aku belum siap melakukanya..! Kita lakukan setelah menikah saja! " Sylvia mengambil selimut dan menundukan kepalanya.
" Apa maksutmu...? Aku hanya ingin mengganti perban di perutku saja. " jawab Airel yang masih tak mengerti perkataan Sylvia.
Buuuk...!!
Sylvia melemparkan bantal dengan kencang kearah Airel dan tepat mengenai wajah Airel.
" Kamu ini kenapa..? Dari tadi perkataanmu aneh dan sekarang melempar bantal! " Airel sedikit kesal dengan yang di lakukan Sylvia.
Sylviapun berjalan mendekati Airel untuk mengambil bantal yang dia lempar. Dan alangkah terkejutnya Sylvia saat melihat perban yang terbalut di perut Airel dan juga luka-luka sayatan di dada Airel yang belum mengering.
Sylvia langsung menutup mulutnya dan meneteskan Airmata.
" Kamu kenapa..? " Airel memegang 2 pundak Sylvia.
Sylvia tak sanggup menjawab pertanyaan Airel. Yang dia rasakan hanya kesedihan dan teringat saat ada kabar bahwa kekasihnya itu meninggal di peperangan.
" Apa karena luka ini..? " Airel menengok kearah luka di perutnya
" Apa ini mem.. " belum selesai Airel berucap, Sylvia langsung memeluknya.
" Entah kenapa saat melihat lukamu itu, aku..aku teringat kembali saat ada kabar bahwa kamu gugur di medan perang..! Aku takut..! Aku takut kejadian seperti itu terulang kembali..! " Ujar Sylvia yang masih menangis dipelukan Airel.
" Aku pasti akan selalu menemuimu! Kamu tidak perlu takut! Dan ini sudah menjadi tugasku sebagai ksatria! " Airel mengelus kepala Sylvia dan berusaha menengkanya.
__ADS_1
" Aku takut..! Tetap saja aku takut! " Sylvia semakin sedih mendengar perkataan Airel tetapi Sylvia juga tak bisa berbuat apa-apa karena tugas ksatria pasti sangat beresiko.
Sylvia terus menangis di pelukan Airel. Tak selang begitu lama, Sylvia pada akhirnya tertidur.
Airel begitu mengerti apa yang dirasakan kekasihnya itu. Sylvia pasti sangat terpukul sekali mendengar kabar kematianya dan saat bertemu kembali pasti kesedihan dan juga ketakutan Sylvia akhirnya sirna tetapi kembali muncul lagi saat melihat luka itu.
Airel menggendong Sylvia dan menaruhnya di ranjang.
" Kamu tetap cantik walaupun sedang bersedih! Aku harap kamu bisa menerima kenyataan bahwa aku bukan hanya seorang jendral amupun ksatria tetapi aku adalah seorang raja dan aku ingin kamu menjadi ratuku! " Bisik Airel sambil menghelai rambut Sylvia yang menutupi matanya.
Airelpun duduk di sebelah ranjang dan mengganti perban yang membalut perutnya. Setelah itu, dia juga tidur di sebelah Sylvia.
***
Keesokan harinya, Airel bangun sangat pagi sekali tepat saat matahari baru terbit.
" Hmmmh..! Sudah pagikah? " Sylvia terbangun dari tidurnya dan melihat Airel yang sedang berdiri di belakang sendela.
" Selamat pagi putri tidur. " Ujar Airel yang masih memandang keluar jendela.
" Airel? Maaf semalam aku ketiduran! Apa kamu yang menaruhku di ranjang? " tanya Sylvia.
" Iya! Tapi tenang saja aku tidak berbuat macam-macam kog! " Jawab Airel menengok kearah Sylvia.
" Mencurigakan! " Sylvia mengerutkan dahinya.
" Oh ya, apa kamu hari ini akan langsung ke Khudan? " Airel berjalan dan duduk di ranjang.
" Aku akan ikut denganmu! Kita ke Khudan bersama! "
" Aku mungkin akan tinggal beberapa hari lagi di desa para rombongan kayu itu dan setelah itu baru pergi ke Khudan! " Airel kembali berdiri dan memakai baju.
" Kalau begitu aku ikut denganmu! "
" Kalau begitu kita akan berangkat pagi ini! Aku yakin kakek sudah menunggu di luar. " ujar Airel.
" Kalau begitu aku kembali ke penginapanku dulu untuk mengambil barang-barangku! Aku akan menunggu di gerbang kota! " Sylvia langsung beranjak dari ranjang dan langsung keluar dari kamar.
Airel yang sedari pagi sudah mandi dan menyiapkan barang-barangnya juga mulai keluar dari kamar.
Setelah memberikan kembali kuncinya ke penjaga, Airel langsung menghampiri kakek dan para rombongan yang sudah menyiapkan beberapa kereta kuda dan kembali ke desa.
" Tuan aku melihat kekasih tuan berlari kearah sana! " ujar kakek menunjuk kearah gerbang kota.
" Apa tuan begitu kasar kepadanya sampai dia lari ketakutan? " sambung kakek.
" Hhhhh jangan asal bicara! Kami tidak melakukan apa-apa! Dia berlari karena ingin mengambil barang-barangnya dan dia juga akan pergi bersama kita! " Sahut Airel sambil menurunkan tangan kakek yang menunjuk ke gerbang.
" Begitukah! Kalau begitu berarti dia sudah menunggu di gerbang! Baiklah mari berangkat tuan! " kakek mengukurkan tanganya kepada Airel untuk membantu Airel naik ke kereta kuda.
Saat rombongan mendekati gerbang, benar saja Sylvia sudah menunggu sambil menunggangi kudanya dan memakai baju zirah.
" Sylvia naiklah kekereta kuda! " Ujar Airel.
" Lalu bagaimana dengan barangku dan kudaku? " tanya Sylvia mengelus-elus kudanya.
" Biarkan salah satu dari kami yang menungganginya! Anda naiklah bersama tuab Airel! " sahut kakek dan langsung menyuruh salah satu rombongan untuk menunggangi kuda Sylvia.
Sylvia langsung naik ke kereta kuda. Dan rombonganpun melanjutkan perjalanan menuju desa albatif tetapi harus melewati gurun Shariz yang rawan dengan bandit.
Benar saja, saat hampir keluar dari gurun Shariz, rombongan Airel di hentikan oleh para bandit yang jumlahnya 100 orang.
" Banditkah..? " ujar Airel dengan santai.
" Airel ini! " Sylvia memberikan pedang yang pernah dia berikan kepada Airel dan kini di kembalikan lagi.
" Inikan pedang yang kamu berikan? Kenapa bisa ada padamu lagi? " Airel bertanya-tanya kenapa pedang itu bisa di bawa Sylvia lagi.
" Ceritanya panjang! Cepat ambillah! "
Airel langsung mengambil pedang yang di berikan Sylvia.
" Hahahahahaha!! Hanya rombongan kecil ya rupanya! " Salah seorang bandit berbadan besar memakai baju zirah kuning dan membawa pedang besar maju kedepan barisan para bandit.
" Hahahaha! Kakek tua memangnya kau sanggup melawanku hanya dengan rombongan kecil itu? " Bandit itu meledek kakek.
" Hmmm disana ada wanita cantik sepertinya, bagaimana kalau kau serahkan wanita itu dan aku akan membebaskan kalian! " pemimpin bandit itu melirik kearah Sylvia.
" Jangan bercanda! Siapa namamu! Berani sekali kau menghadangku! " Bentak Airel yang langsung berdiri menatap tajam kearah pemimpin bandit.
" Aku adalah Hazir! Pemimpin sekaligus raja bandit di benua ini! " Ujar Hazir dengan sombongnya.
Hazir adalah pemimpin atau bisa dibilang raja bandit yang meresahkan di benua ini. Dengan kekayaan hasil banditnya, Hazir bisa bahkan membangun benteng berlapis emas di selatan kota Shariz dan disana dijaga oleh 40.000 bandit. Kepala Hazir dihargai mahal oleh setiap kerajaan di benua Calradia dan yang oing mematok harga mahal adalah kekaisaran Arcadia, dimana mereka akan membayar 5000 koin emas jika ada yang berhasil membawa kepala Hazir ke istana Shariz.
" Kebetulan sekali! Sepertinya kami akan pulang membawa koin emas yang lebih banyak! " Airel turun dari kereta kuda dan langsung mengambil pedang dari sarungnya.
" Dark breaker! " suara Airel lirih.
Sriiinggggg...!!!! Jraaaaak..!craack!
Airel dengan sekejap melumpuhkan 99 bandit hanya dalam satu gerakan cepat.
" Cih...!!!! Siapa kau! Berani sekali kau membunuh anak buahku! Majulah! Hadapi aku! " Amarah Hazir langsung meluap saat melihat 99 anak buahnya mati dalam satu serangan.
" Baiklah! Jika kau memang raja bandit mungkin akan menjadi lawan yang pantas untukku! " Airel meledek Hazir dengan senyuman kecut.
" Airel aku akan membantumu. " Sylvia juga turun dari kereta kuda.
" Tidak perlu! Biar aku sendiri! " Airel merentangkan tangan kirinya.
" Tetapi lukamu belum pulih! " Sylvia masih bersikeras maju.
" Nona jangan halaingi tuan! Biarkan tuan bertarung sendiri! " Sahut kakek.
Sylvia menuruti perkataan kakek dan mundur kebelakang.
" Crazy dark breaker! " Airel mengeluarkan jurus keduanya.
" Cih...! Aura ituuuu! Jangan sombong bocah! Sand vortex!!!! " Hazir langsung mengeluarkan jurus utamanya. Dan ini baru pertana kali Hazir bertarung sungguh-sungguh karena Hazir sedikit cemas dengan Aura kekuatan Airel yang sama dengan orang yang hampir membunuhnya yaitu Mishtar atau raja Mishtar V yang merupakan ayah Airel.
Setelah mengeluarkan jurusnya, seketika angin berhembus sangat kencang sekali dan membuat pusaran pasir yang mengelilingi Airel dan Hazir.
" Perhatikan bocah! " Hazir tiba-tiba menghilang dari tempatnya.
Airel terkejut dan kebingunan karena dia tak melihat Hazir dimana-mana. Sedangkan jarak pandang Airel tertutup oleh pusaran pasir. Tiba-tiba dengan cepat satu sayatan kecil menggores pipi Airel.
Airel yang awalnya kebingungan akhirnya paham bahwa jurus Hazir selain membuat pusaran pasir juga menambah kecepatan Hazir hingga secepat pusaran pasir.
" Begitukah rupanya! Lemah sekali jurusmu! " dengan crazy dark breakernya, Airel dengan kecepatan kilat ikut memutari pusaran pasir itu. Kecepatan Airel yang melebihi kecepatan pusaran pasir itu, membuat pusaran itu menghilang tetapi saat Airel berhenti, dia tak melihat Hazir sama sekali.
" Cih..! Apa kau melarikan diri pengecut!! " teriak Airel.
" Hahahahaha..! Buat apa aku lari dari bocah sepertimu! " Hazir tiba-tiba berada di belakang Airel dengan tanganya yang terbalut pasir yang begjtu banyak hingga membentuk gangan raksasa.
Bruuuuuuuuaak!!
Hazir memukul Airel dari belakang hingga membuat Airel terpental jauh. Airel dengan tenang berdiri kembali sambil membersihkan bajunya dari pasir-pasir yang menempel.
" Cih...!!!!! Sialaaaan kauuuu!!!!!! Orang yang terkena pukulanku tadi seharusnya tulang sudah remuk tetapi kenapa kau masih sanggup berdiri! Kalau begitu tidak ada cara lain selain mengeluarkan seluruh tenagaku..!!!!!! AMUKAN DEWA PASIRR!!! " Hazir berteriak dengan kencang dan tubuhnya menyatu dengan pasir hingga membentuk raksasa pasir yang besar.
" Jadi inikah yang membuat orang-orang takut kepadamu..? " Airel dengan santainya bertanya dan mengangkat kepalanya melihat kearah mata monster pasir itu yang tingginya setinggi pohon kelapa.
" Sialaaan kau bocaaaaah! "
Booom..! Boom..boom..booom!!! Boomm!!!
Hazir terus menyerang Airel dengan tangan monster pasirnya hingga membuat debu-debu pasir beterbangan dimana-mana. Namun Airel dengan cepat dapat menghindari serangan itu.
" Baiklah kalau begitu akan kuakhiri ini Hazir! Kali ini kau akan mati di tanganku! " Airel yang sedikit bosan dengan pertarunganya melawan Hazir berniat untuk mengakhirinya.
" Enchaaaa... " Saat Airel ingin mengeluarkan jurusnya, bekas luka di perut yang masih belum pulih membuat Airel kesakitan lagi. Airelyang berdiri gagah langsung ambruk sambil memrgangi perutnya.
__ADS_1
" Cih...!! Sial kenapa sekarang!! " kesal Airel dalam hati.
" Tuaaaan!! " teriak para rombongan.
" Hahaha...! Kamu bilang mau mengakhiri bocah??? Kali ini aku yang akan mengakhiri..! Hiyaaaaaaa!! " Hazir merepalkan tangan monsternya dan ingin meninju kearah Airel.
Boooooooommmm.....!!!!!
Suara dentuman besar berbunyi. Hazir tersenyum mengira Aorel sudah tewas, tetapi saat debu pasir bekas seranganya menghilang, dia melihat wanita dengan Aura putih menyala terang menghentikan tinjunya dengan sebilah pedang yang bersinar terang.
" Apa...!!!!! Siapa kau..!!! " Kejut Hazir.
" Sudah kubilang biarkan aku membantumu!! " Sylvia menengok kearah Airel.
" Aura putih ini? Apa ini yang di maksut orion? " Ujar Airel lirih.
Sylvia terkejut saat Airel berkata orion. Dan dia mulai bertanya-tanya darimana Airel tau tentnag orion.
Sylvia yang sudah tak fokus kepada Hazir, membuat Hazir dengan leluasa menangkap Sylvia dengan tangan monsternya.
Grekkkk!
" Hahahahaha...jangan melamun saat bertarung nona! Hooo jika dilihat dari dekat kau sangat cantik dan seksi juga nona..! Ikutlah denganku! Aku pandai bermain jari! Aku akan membuatmu puas nona! " Ujar Hazir menggoda Sylvia.
" Lepaskan Sylvia....!!!!!!! " Airel berteriak dan bangkit lagi.
" Hoooo kau sudah bisa berdiri lagi?? Tapi kau bisa apa? Lebih baik kau beristirahat lagi dan biarkan nona ini bersamaku! " Hazir tak menghiraukan perkataan Airel dan dengan masih menyatu dengan tubuh monster pasirnya, Hazir pergi meninggalkan Airel dan rombongan.
" Aireeellll!!!! Tolong! Aireel! " teriak Sylvia yang dibawa pergi oleh Hazir.
Airel mencoba mengejar Hazir dengan kuda milik Sylvia, tetapi Hazir berjalan dengan snagat cepat. Kuda yang di tunggangi Airelpun tak sanggup mengejarnya.
" ENCHANT DARK SWORD " Airel berteriak sambil mengangkat pedangnya. Seketika pedangnya berubah menjadi hitam gelap dan aura kegelapan menyelimuti tubuh Airel selain itu mata Airel berubah menjadi biru.
Booooooom...!!!!
Dengan kecepatan yang luar biasa, Airel menyerang Hazir hingga membuat perut monster pasir Hazir berlubang.
" Agh! Serangan macam apa ini!? " Hazir merasakan efek sakit dari serangan Airel tadi. Dan yang membuat Hazir terkejut adalah dia melihat Airel sudah berada di depanya dan menatap tajam kepada Hazir.
" Ba..bagaimana mungkin kau bisa nengejarku secepat ini? Tatapan dan aura kegelapan itu sama persis denganya! Siapa kau sebenanrnya!! " Teriak Hazir saat melihat aura kegelapan dari Airel yang sama persis dengan orang yang pernah membunuhnya yaitu Mishtar ayah dari Airel.
" Lepaskan Sylvia! " Bentak Airel menodongkan pedang kearah Hazir yang masih menyatu dengan monster pasir.
" Lepaskan? Tidak akan kubiarkan kau merampas mangsaku kali ini! Lebih baik kau menyingkir! Tenang saja aku akan melepaskan wanitamu setelah aku mencobanya. " Ujar Hazir.
" Bejat dan biadap kau rupanya! Sudah berapa wanita yang kau hilangkan kesucianya? " Tanya Airel yang masih menodongkan pedangnya.
" Kau ingin tauuuu? Kurang lebih 1000 wanita telah memuaskan nafsuku hahahahahaha..! Dan sekarang wanita ini..! " Hazir keluar dari monster pasirnya yang masih menggenggam Sylvia.
Dengan santainya Hazir berjalan diatas tangan kanan monster pasirnya dan mendekati Sylvia.
" Apa yang akan kau lakukan!! " Airel bersiap untuk menyerang Hazir.
" Jika kau berani menyerangku, maka wanita ini akan kubunuh! Jangan salah, pasirku bisa membentuk pisau yang tajam dan bisa memotong kepala wanitamu! " Ancam Hazir.
Airel tak dapat berkutik mendengar ancaman Hazir. Sedangkan Hazir mulai membelai-belai rambut Sylvia dengan perlahan.
" Aku berubah fikiran! Daripada aku melakukanya di markasku lebih baik aku melakukanya disini saja dan kau bisa melihat kami bersenang-senang diatas! Hahahahahaha..! " Hazir mulai menyentuh pipi Sylvia dengan lembut.
Tidak selesai disitu, tangan monster yang menggengam Sylvia berubah menjadi sebuah tali pasir yang mengikat tangan dan kaki Sylvia. Hazir dengan perlahan melepaskan baju zirah Sylvia satu persatu.
" Sudah kubilang hentikan! " Airel maju satu langkah.
Craaak!
Lengan Sylvia terkena sayatan pisau pasir di gerakan oleh Hazir.
" Sudah kubilangkan jangan menyerang atau wanitamu kubunuh! Lagipula aku akan mencicipinya disini setelah itu kuserahkan padamu lagi! Lebih baik kau duduk manis disitu dan tunggu sampai kami selesai bersenang-senang! " ucap Hazir yang masih sibuk melepaskan zirah Sylvia.
" A..Airel tolong! Aku tak mau kesucianku diambil oleh orang seperti ini! Tolong aku! Tolong aku! " Sylvia menjerit meminta tolong saat Hazir mulai menggeramahi wajah dan lehernya.
Airel sudah tak sanggup melihat Sylvia yang terus menjerit karena Hazir ingin melecehkanya. Dengan amarah yang begitu besar, aura kegelapan yang semulanya samar-samar kini terlihat sangat jelas dan hawa dari kegelapannya begitu panas sekali.
" Sudah kubilang hentikan! " Ucap Airel.
" Auranya lebih mengerikan dari yang dulu! Cih! " Hazir membatalkan niatnya untuk memperkosa Sylvia dan kembali menyatu dengan monster pasirnya.
" Hyaaaaaaaaaa...! " Hazir menggerakan tangan kiri monster pasirnya untuk memukul Airel.
Sriiinggggg..!
" Cepat sekali!! " kejut Hazir yang tak menyangka seranganya dipotong dengan cepat oleh Airel. Dan yang membuatnya terkejut lagi adalah tangan pasir yang telah di potong Airel tak dapat pulih kembali karena seharusnya jika terpotong atau terbelah monster pasir bisa meregenerasi.
" Sialaaaan kauuuu!! AMUKAN BADAI PASIR!! " Teriak Hazir yang diiringi oleh rentetan serangan pisau pasir yang begitu banyak.
Airel hanya diam saja dengan tatapanya yang terus mengarah kearah Hazir.
" Aireeeeeel....! "teriak Sylvia yang melihat Airel terkena banyak sekali rentetan pisau pasir.
" Hahahahahahahaha....! Sudah kubilang jaangan melawanku bukan!! Sekarang tinggal menunggu kematianmu bocah...! " Ucap Hazir dengan sombongnya.
" Hanya begini saja seranganmu? " Luka-luka dari serangan Hazir tiba-tiba hilang seketika. Luka sayatan dan tusukan dari pisau pasir yang mengenai Airel tidak mengeluarkan darah sama sekali tetapi malah mengeluarkan asap hitam keunguan yang menghilangkan luka di tubuh Airel.
" Apa..! " kejut Hazir.
" Ini beluuuum beraa.... "
Sriing..sring..sring..sriiinggg..!!!
Belum selesai Hazir bicara, Airel dengan sangat cepat memotong monster pasir itu hingga membuat monster itu runtuh seketika dan Sylvia langsung berlari menjauh dari bekas monster pasir itu.
Sedangkan Hazir yang terjatuh mulai ketakutan melihat mata Airel yang terus menyorot tajam kearahnya. Tetapi bukanya menyerah, Hazir malah mengambil pedang besarnya lagi dan menantang Airel.
" Ekhhhh..! Aku tak mungkin kalah darimu! Raja bandit tidak bisa dikalahkan siapapu... "
Sring..craaak..!
Airel dengan cepat memotong tangan kanan Hazir yang membawa pedang.
" Akhhhhh....!! Cih..! Si..siapa kau se..benarnya!? " ucap Hazir terbata-bata menahan rasa sakit karena tanganya putus.
" Sekarang siapa yang akan mati? " tanya Airel yang masih dengan tatapan tajamnya kearah Hazir.
" Aa...ampun..! A..aku tak akan menyerangmu dan rombongan ini lagi! A..aku akan kembali ke markasku..! " Hazir yang sudah tak bisa apa-apa memohon kepada Airel. Hazir menangis seperti anak kecil dan memohon untuk mengampuni hidupnya terus menerus kepada Airel.
" Aku tak akan memaafkanmu! Aku berbeda dari ayahku yang membiarkanmu lolos! Kali ini aku akan membunuhmu agar tak ada lagi wanita yang kau ambil kesucianya secara paksa..! " Airel dengan perlahan menusukkan pedangnya ke dada kiri Hazir tepatnya di jantungnya.
" Ka..kau an..nnak Mishta..ar rupanya...! Cih..! Sep..pertinya Calradia akan kemba.... " Hazir langsung ambruk terkapar setelah jantungnya ditusuk oleh Airel.
" Ya! Aku anak dari orang yang hampir membunuhmu 15 tahun yang lalu..! Selamat tinggal Hazir..! " ucap Airel sambil menarik pedangnya dari dada Hazir.
Airel langsung berlari mendekati Sylvia yang masih ketakutan karena hampir di perkosa Hazir.
" Kamu tidak apa-apa Sylvia? " Ucap Airel menyentuh kedua bahu Sylvia.
Tanpa berkata apa-apa Sylvia langsung memeluk Airel dan menangis.
" Aku takut..! Aku takut kesucianku di renggut..! " ujar Sylvia yang trauma karena hampir saja kesuciannya direnggut Hazir.
" Sekarang sudah tidak apa-apa! Selama kamu bersamaku, aku akan terus menjagamu! Sepertinya cincin pelindung yang kuberikan kepadamu tak bisa melindungimu dari serangan yang kuat. " ujar Airel mengelus-elus punggung Sylvia.
" Mungkin hanya bisa melindungimu dari serangan normal saja tak bisa melindungimu dari serangan yang kuat seperti tadi! Baiklah mari kita kembali..! " Airel menggendong Sylvia menuju kudanya dan kembali menuju rombongan.
" Syukurlah tuan tidak apa-apa..! " ujar kakek yang melihat Airel menunggangi kuda bersama Sylvia dan berjalan kearah mereka.
" Kakek mari kita lanjutkan perjalanan kita! Sekarang sudah tak ada lagi bandit disini! Hazir sudah kubunuh dan mungkin akan terkubur oleh badai pasir yang sebentar lagi tiba! " Ujar Airel.
" Baiklah naiklah ke kereta tuan dan nona biarkan kuda itu di tunggangi rekanku lagi! " ujar kakek sambil memegangi tali kuda yang ditunggangi Airel.
Airel dan yang lainpun melanjutkan perjalananya menuju desa Albatif dan mayat Hazir pada akhirnya terkubur oleh badai pasir yang sedang datang mebghampiri wilayah gurun Shariz.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...