
2 hari telah berlalu, dan apa yang dipikirkan Sylvia belum bisa dia katakan kepada Airel. Rasa penasaran terus menghantui dirinya, di hati dan kepalanya selalu terngiang-ngiang kata-kata Airel yang mengatakan bahwa dia adalah pangeran Calradia.
Setiap Sylvia bertemu Airel, dia tak sanggup menanyakannya. Pertanyaanya selalu tertahan oleh hatinya yang selalu mengatakan bahwa yang di katakan Airel adalah bohong. Sudah 2 hari juga Sylvia sedikit menjauh dari Airel dan cenderung diam sambil memikirkan kejadian malam itu. Tetapi, Airel sama sekali tak menyadari bahkan tak merasakan bahwa Sylvia sedikit menjauh darinya.
Sore ini, Sylvia sedang duduk-duduk di belakang rumah Airel sambil memandangi langit sore yang cerah.
" Kamu disi rupanya. "
Sylvia terkejut dan langsung menengok kebelakang, ternyata Liya sudah ada di belakangnya dan tersenyum.
" Liya...? Kamu mengagetkanku? "
" 2 hari ini kamu diam terus, kalau boleh tau apa yang sedang kamu pikirkan? "
Sylvia terkejut kembali karena Liya ternyata memperhatikanya dan mengetahui bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.
" Bukan apa-apa...! Cuma masalah kecil saja...! "
" Yasudahlah...! Tapi jika memang kamu ingin tanya-tanya atau berbagi cerita, aku siap menjawab dan mendengarkanya...! " Liya mengelus pundak Sylvia.
Jawaban Liya membuat Sylvia mencoba memberanikan diri untuk bertanya tentang kejadian malam itu dan tentang siapakah Airel sebenarnya.
Dengan sedikit gugup Sylviapun mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Liya.
" Li...Liya, apa boleh aku tanya sesuatu kepadamu...? "
Liya tersenyum kecil dan langsung duduk di samping Sylvia.
" Tanyakan saja aku pasti akan menjawabnya...! "
Dengan jawaban Liya yang begitu, membuat Sylvia semakin yakin untuk menanyakanya.
" Aku mendengar dari Airel kalau kamu adalah teman masa kecilnya, kalau boleh tau siapa kalian ini dan dimana kalian tinggal sebelum berpisah...? "
Liya terkejut dengan pertanyaan Sylvia, dia tak menyangka Sylvia akan menanyakan tentang hal itu.
" Maaf Sylvia, tentang pertanyaanmu itu aku hanya bisa menjawab satu saja dan satunya hanya Airel sendiri yang boleh menjawabnya...! Saat masih kecil, Aku dan Airel tinggal di kota Suno tetapi itu tidak lama karena Airel harus pergi ke Shariz dan aku juga harus ikut orang tuaku. "
Sangat tidak memuaskan jawaban dari Liya tetapi Sylvia menyembunyikan rasa tak puasnya dan pergi menuju kamarnya.
" Begitukah...! Terimakasih sudah mau menjawab kalau begitu aku pergi kedalam dulu..! "
" Iya... "
Saat berfikir ulang tentang pertanyaan yang ditanyakan Sylvia, Liya mulai curiga dan mulai berasumsi bahwa yang menguping saat di ruang rapat itu adalah Sylvia. Tetapi, Liya tak bisa menuduhnya begitu saja karena tak ada bukti selain itu saat dia kembali ke kamar, Sylvia sedang tertidur pulas dan menurutnya itu tak mungkin jika Sylvia yang menguping.
Sedangkan Sylvia selama seharian berada di tempat tidur, ia tak henti-hentinya memikirkan hal itu. Dia sangat tidak percaya Airel adalah pangeran Calradia, walaupun dia mendengar sendiri kata-kata itu saat menguping pembicaraan Airel. Memikirkannya terus membuat Sylvia sedikit menghindar dari Airel dan sedikit curiga tetapi rasa curiga itu masih kalah dengan rasa cinta dan sayangnya kepada Airel.
***
Saat malam mulai tiba Airel, Elina, dan Erina kembali ke rumah dengan baju zirah penuh debu karena hasil latihan berpedang seharian penuh.
" Kami pulang...! " Airel membuka pintu sambil membopong pedangnya di pundak. Tak lama Jeremuspun datang menghampiri tuanya.
" Tuan sudah datang...! Kami sudah menyiapkan air hangat untuk tuan...! "
" Elina, Erina kalian mandi duluan saja...! "
" Tapi kan kak air hangat itu disiapkan buat kakak...? " Elina sungkan karena air hangat itu disiapkan untuk Airel bukan untuk mereka.
" Tak apa...! Nanti aku bisa memanaskan air lagi...! Kalian mandi saja dulu...! "
" Baiklah kak...! "
Elina dan Erina langsung berlari ke kamar mandi sambil saling bercanda dan tertawa. Sedangkan Airel yang masih menggunakan zirahnya duduk di kursi yang ada di ruang tamu sambil memandangi atas.
Di benaknya dia juga masih penasaran siapa yang menguping pembicaraanya 2 hari yang lalu. Padahal rumahnya dijaga sangat ketat sekali dan seluruh penjaga maupun orang-orang yang tinggal di rumahnya adalah para pengikut setia Airel yang merupakan para keturunan mantan prajurit kerajaan Calradia saat masih ada. Selain itu, tidak mungkin juga salah satu dari mereka adalah mata-mata karena sesekali Airel juga membicarakan tentang kebangkitan kerajaan Calradia bersama mereka semua.
Lama Airel memikirkan hal itu, dan seketika dia teringat dengan Sylvia. Airel baru menyadari bahwa 2 hari ini Sylvia menjadi pendiam dan sedikit menjauh darinya.
" Jeremus, apa Sylvia ada di rumah...? "
" Ya tuanku...! Tuan putri sedang ada di belakang rumah memandangi bintang. "
Tanpa pikir panjang, Airel beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Sylvia. Saat sampai di belakang rumah, benar saja Airel melihat Sylvia yang memakai gaun putih sedang memandangi langit hang penuh bintang dan Airelpun langsung mendekatinya.
__ADS_1
" Beberapa hari ini kamu menjadi pendiam...? Kalau ada yang sedang kamu pikirkan, kamu bisa cerita kepadaku...! Aku pasti akan membantumu...! " Airel duduk di samping Sylvia.
" Airel...! Jika ada seorang raja yang tahtanya hilang dan di ganti dengan raja yang lain apakah raja yang tahtanya hilang akan melawan raja yang lain itu...? " Sylvia sedikit berniat memancing Airel.
Airel tanpa curiga langsung menjawab pertanyaan Sylvia.
" Hilangnya tahta raja ada 2 sebab, yang pertama jika tahta itu hilang karena di rebut oleh rakyatnya dan rakyatnya memilih sendiri raja yang baik bagi mereka maka raja yang hilang tahta tak pantas melawan dan tak mungkin melawan karena rakyat pasti akan membunuhnya...! Dan jika hilangnya tahta karena di rebut raja lain, semua orang pasti berfikiran bahwa raja itu akan melawan, tetapi bagiku jika raja yang merebut tahtanya itu adalah raja yang baik dan bisa membahagiakan rakyat maka tak ada alasan untuk melawan. "
Jawaban Airel tak sesuai dengan yang difikirkan Sylvia, dia mengira Airel akan langdung mdnjawab melawan dan Sylvia bisa memastikan dengan betuk bahwa ucapan Airel saat itu benar adanya. Tetapi, jawaban Airel ini malah berbeda jauh dengan yang dipikirkan Sylvia, dan ini membuat Sylvia semakin yakin bahwa Airel bukanlah pangeran Calradia serta Sylvia mengira bahwa ia salah dengar saat menguping pembicaraan Airel.
" Memangnya ada apa kamu tanya begitu...? " Airel menoleh kearah Sylvia.
" Suatu saat aku akan menjadi ratu di kerajaan Veagirs ini...! Aku terus belajar dan belajar agar aku bisa menjadi ratu yang hebat menggantikan ayahku dan selain itu saat kita menikah nanti, kamu juga akan menjadi raja kerajaan Veagirs ini...! Jadi aku hanya ingin mengetesmu saja dengan pertanyaan itu, karena yang kutanyakan itu bisa saja terjadi...! " Sylvia tersenyum sambil memandangi langit.
" Raja kah...?? "
" Kamu tidak mau...? "
" Bukan tidak mau...! Tetapi, aku sendiri juga berniat menjadikanmu ratuku...! Tujuan kita sama tapi mungkin jalan kita berbeda...! "
Sylvia tak curiga dengan kata-kata Airel dan malah tersenyum senang karena mendengar perkataan Airel bahwa tujuan mereka sama. Tak lama, Sylvia mencium bau badan Airel yang sudah menyengat karena hasil latihan dari pagi sampai malam.
" Ngomong-ngomong ini bau apa ya...!? Sepertinya ada makhluk yang tidak mandi di sekitar sini...!? " Sylvia menoleh kearah Airel dengan senyum kesal.
" Hehe...! Baiklah-baiklah aku mandi dulu...! Kamu juga cepat kedalam rumah, cuaca malam ini dingin jangan sampai kamu sakit...! " Airel langsung berdiri dan langsung mandi setelah Elina dan Erina selesai.
***
Malam sudah larut, seluruh penduduk Khudan sedang istirahat dan hanya ada pasukan penjaga di depan pintu gerbang, menara-menara benteng, dan juga di sekitar istana.
Malam ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagi Artuk. Seolah-olah tuhan mempermudah rencananya untuk membunuh raja Veagirs. Artuk sendiri sudah berada di dalam kota Khudan sejak pagi tadi dan menyamar menjadi seorang pedagang yang sedang mampir ke Khudan.
Tepat tengah malam, Artuk keluar dari penginapan menggunakan jubah hitam dan topeng serta tak lupa membawa pedang orionnya. Dengan santai dia berjalan menuju istana.
Di depan pintu gerbang istana, ada 6 prajurit yang sedang berjaga dan mencurigai kehadiran Artuk yang berdiri di depan mereka.
" Ini sudah malam, apa yang kau lakukan disini...!! Malam hari tak ada yang boleh pergi keistana untuk melaporkan sesuatu...!! " teriak salah satu prajurit.
Craaaakkkk......!!!
Peringatan oleh prajurit itu bukan di balas dengan kata-kata, tetapi langsung dibalas dengan tebasan pedang yang tepat memotong kepala prajurit itu.
Craaak.....Crakk....Jraaaaaaak...!!!
3 kali ayunan pedang, kepala 5 prajurit itu langsung tertebas dan darah berceceran didepan pintu gerbang istana.
" Aku kesini hanya ingin melaporkan bahwa malaikat maut ingin menjemput raja kalian...! " celetuk Artuk dengan pandangan dan senyum jahatnya yang memandangi jasad para prajurit.
Artuk melanjutkan perjalananya ke istana. Dengan kekuatan teleportasi dari pedangnya, Artuk dengan mudah berada di dalam istana. Dengan sangat santai dia berjalan dan membunuh para prajurit diistana secara diam-diam. Sebelumnya, Artuk mendapat kabar dari penasehatnya bahwa 2 prajurit mata-matanya akan menemuinya saat ia sudah berada di dalam istana.
Setelah para prajurit diistana dibunuh, Artuk langsung duduk di singgasana raja Veagirs untuk menunggu 2 mata-matanya. Dan benar saja, tak lama ada 2 prajurit yang memakai zirah khusus pengawal raja datang menghampiri Artuk dan berlutut di hadapanya.
" Apa kalian mata-mata yang di maksut penasehat...? "
" Benar yang mulia...! "
" Baguslah...! Tugas kalian kali ini hanya satu dan sangat mudah sekali...! " Artuk beranjak dari duduknya dan menghampiri 2 prajurit yang berlutut itu.
" Apapun tugas itu kami siap mengembannya yang mulia...! "
" Baiklah...! Sekarang kalian bersembunyilah di tempat yang aman dan kalian muncullah saat aku datang kesini untuk memberi penghormatan kepada raja Veagirs...! Tugas kalian adalah membantuku meyakinkan putri Veagirs bahwa Airel adalah pelaku yang membunuh ayahnya...! "
" Baik yang mulia...!! "
" Kalau begitu pergilah...! Biar kuselesaikan sendiri untuk malam ini...! "
2 prajurit itu langsung pergi keluar istana dan bersembunyi agar tak di curigai. Sedangkan Artuk langsung mencari kamar raja Veagirs. Satu persatu kamar diistana dibuka dan jika ada orang di kamar itu maka Artuk akan langsung membunuhnya tanpa pandang bulu.
Hingga setelah beberapa kamar ia buka, akhirnya ia menemukan kamar tempat raja Veagirs sedang tidur nyenyak. Dengan perlahan Artuk berjalan mendekati raja Yarlek yang merupakan raja dari kerajaan Veagirs yang sedang tertidur pulas.
Sriiiing.....!!
Artuk menempelkan pucuk pedang orion tepat ke leher raja Veagirs itu. Aura panas yang keluar dari pedang itu membuat sedikit kulit pada leher raja Yarlek terkena luka bakar dan seketika raja Yarlek terbangun dari tidurnya.
"Argh...!! Siapa kau....!!! Pengawaaaal...!!! Pengawaaaal....!! " teriak raja Yarlek yang terkejut sambil memegangi lehernya yang terluka.
__ADS_1
Artuk hanya tersenyum dan langsung membuka topengnya dan kerudung penutup kepalanya.
" Hahahaha...! Teriaklah sesukamu raja tua bangka...! Seisi istana sudah tak ada yang hidup...! Dan untung saja putrimu kau perintahkan tidur di rumah kekasihnya jadi aku bisa dengan mudah membunuhmu tanpa harus buang-buang tenaga...!! "
" A...Artuk...!? Apa yang kau lakukan disini...!! "
" Sudah kubilangkan untuk membunuhmu...! "
" A..apa maksutmu...!! Seorang raja tak boleh membunuh raja yang lain jika tidak dalam peperangan...! "
" Yaa...! Itu peraturan yang harus kalian taati tapi bukan untuk ku taati..! Bagiku siapa saja yang berani menantangku akan kubunuh...! Ntah itu raja atau rakyat jelata...! Dan kau...! Aku tau kau juga berniat menguasai benua ini dengan kekuatan putri angkatmu bukan...! "
" Ba..bagaimana kau tau dia bukan putri kandungku...! "
" Hahahaha...! Penasehatku memberitahuku itu semua...! Kau juga sebenarnya berencana membunuhku dan mengambil pedang ini dengan mengirim para mata-mata hebat ke Shariz bukan...!? Kau hanya baik di luar saja tapi otak dan hatimu sama busuknya sepertiku...! Kali ini akan kubunuh kau agar tak ada kutu yang menggangguku...! "
" Pengawaaaall....!!!! Pengawaaaaal...!! Pengawaaal....!!! " teriak raja Yarlek yang histeris sambil lari kearah pintu kamar karena takut akan dibunuh. Keringat dingin membasahi tubuhnya, nafasnya pun terengah-engah dan detak jantungnya semakin kencang.
Artuk berjalan mendekati raja Yarlek dengan menyeret pedang orionya yang mengeluarkan aura merah nan panas.
" Hahahahahahaha....! Sudah kubilangkan di istana ini sudah tidak ada yang hidup...! Dan hanya tinggal kau...! Tenang saja aku akan membunuhmu dengan spesial dan setelah kematianmu, aku akan wujudkan impianmu untuk membunuh pangeran Calradia dan menguasai benua ini...! "
" Toloooong.....!!! Pengawaaaal...!! " raja Yarlek mencoba membuka pintu kamarnya yang sudah di kunci dari luar oleh 2 mata-mata kerajaan Arcadia.
" Percuma...! Mata-mataku sudah mengunci kamarmu dari luar...! Sekaraang waktunya kau menemui ajalmu raja tua bangka...!! "
Artuk mengeluarkan sebuah belati dari balik punggungnya. Dan raja Yarlek terkejut saat melihat belati itu karena di belati itu terukir lambang kerajaan Calradia yang dulu pernah ada.
" Lam...lambang itu...!! Apa maksutmu ini...! Siapa kau sebenarnya dan kenapa kau mempunyai belati dengan lambang itu...!! "
" Aku adalah kaisar Artuk, belati itu hanyalah belati biasa yang ku olesi racun dan ukiran lambang ini memang sengaja kubuat agar saat kematianmu, sang penerus kerajaan dari lambang inilah yang dituduh membunuhmu...! "
" Ma..maksutmu pangeran Calradia...? Jika memang itu tujuanmu aku bisa membantumu mencari dia dan membantumu membunuhnya selain itu aku juga akan bergabung dengan dengan kerajaanmu...! Aku mohon ampuni aku...! " raja Yarlek berlutut dan menangis meminta ampun untuk nyawanya.
" Menjijikan...! Kau seorang raja tapi kau sangat lemah bahkan tak melawan sama sekali...! Kerajaanku tak butuh orang lemah dan orang licik sepertimu...! Selain itu, tujuanku kesini memang untuk membunuhmu bukan untuk mengajakmu bergabung dengan kerajaanku...! "
Raja Yarlek berdiri dan terus berteriak menggedor-gedor pintu.
" Tolooong....! Pengawaaal...!! Siapapun yang mendengarku tolong...!! Tolooooo—"
Dengan cepat, Artuk membalikkan badan raja Yarlek kearahnya dan langsung menusuk jantungnya dengan belati yang telah ia olesi racun yang mematikan.
Jreeebbb...!!! Bruuuk...!!
Raja Yarlek terjatuh setelah menerima tusukan di dada kirinya dan mulutnya mulai mengeluarkan darah.
" Arggh...!! Ohhok..ohhok...! To...toloong..! " sambil memegangi dadanya raja Yarlek dengan suara lemah mencoba terus meminta tolong.
Artuk berlutut dan mendekatan wajahnya ke telinga raja Yarlek.
" Tenang saja. Dengan kematianmu, impianmu untuk membunuh pangeran Calradia dan menguasai benua ini akan terwujud. Dan aku yang akan merawat sang kunci orion, " bisik Artuk dengan senyuman bengis.
" A–apa maksutmu...! Ohhok..!! Argh..! "
" Akan kuberitahu siapakah sebenarnya pangeran Calradia itu, pangeran Calradia itu adalah jendral yang kau andalkan. Yaitu Airel dan tenang saja, dengan kematianmu ini maka aku dan putrimu bisa bersatu dan membunuh pangeran Calradia itu serta menguasai benua bahkan dunia ini. Dan akan kuberitahu rencana setelah kau mati, yaitu menuduh Airel sebagai pembunuhmu dan membuat putrimu membencinya dan pada akhirnya putrimu akan bergabung denganku...!! "
Artuk mencabut belatinya dan langsung berdiri sambil tersenyum jahat kearah raja Yarlek.
" Selamat tinggaal raja licik yang tak berguna...! "
" Ka–kau..! Aku bersumpah kau tak akan pernah bisa menguasai benua ini dan a–aku bersumpah bahwa kerajaan Calradia a–kan bang–kit dan memus–nahkanmu, "
Jreeeeebb...!!
Artuk kembali menusuk raja Yarlek dan membuat raja Yarlek terbunuh seketika.
" Hahahahahahahaha....! Entah kenapa membunuh tua bangka sepertimu lebih menyenangkan daripada saat membunuh ayahku...! " Tawa jahat Artuk sambil menendang pelan tubuh raja Yarlek.
Setelah puas menertawakan jasad raja Yarlek, Artuk langsung pergi meninggalkan istana dan kembali ke penginapanya tetapi ia sengaja membiarkan belati dengan ukiran lambang Calradia menancap di dada raja Yarlek.
***
Keesokanya, di pagi hari seluruh penduduk Khudan terkejut mendengar pembantaian diistana dan menewaskan raja mereka. Tangis tak terbendung dari seluruh penduduk Khudan dan yang paling terpukul adalah Sylvia. Dia terus memeluk jasad ayahnya yang bersimbah darah dan tak henti-hentinya menangis walaupun sudah di tenangkan oleh Airel.
Sedangkan para jendral yang lain dalam keadaan berkabum, mulai membuat pasukan khusus untuk menyelidiki kematian raja mereka dan juga mencari tau tentang pemilik belati yang menancap di tubuh raja mereka.
__ADS_1
Dengan ini selesai sudah masa pemerintahan raja Yarlek. Dan setelahnya, kekuasaan Veagirs akan di pegang oleh anaknya yaitu Sylvia. Dan akan dimulailah era baru karena diangkatnya Sylvia menjadi penerus ayahnya selain itu ini adalah pertama kali dalam sejarah seorang kunci orion menjadi penguasa kerajaan.
TO BE CONTINUE...