The Last King Of CALRADIA

The Last King Of CALRADIA
#27#RUMAH TUA DAN ELF MISTERIUS


__ADS_3

Airel terus memacu kudanya dengan kencang karena hari yang mulai gelap dan mereka berdua tak menemukan desa terdekat di sekitar hutan. Yang mereka lihat hanya pohon-pohon yang rimbun dan menutupi cahaya matahari di langit senja.


" Airel matahari sebentar lagi terbenam! " Sylvia menengok kearah cahaya matahari yang sedikit terlihat karena tertutup pohon-pohon yang rimbun.


" Ya, aku tau! Tapi dari tadi kita tak menemukan desa sama sekali! " ujar Airel yang fokus mengendarai kuda.


Tak berselang lama, mereka berhenti sejenak untuk istirahat.


" Kita istirahat sebentar! Aku akan mencari kayu bakar untuk bermalam disini! " Airel menali tali kuda ke pohon.


" Disini..? Ta..tapi inikan? " Sylvia terkejut karena dia dan Airel akan bermalam di tengah hutan.


" Ha? Memangnya saat mencariku kamu bermalam dimana? " Airel menengok kearah Sylvia dan heran karena seorang ksatria sudah biasa tidur di tengah hutan.


" A..aku mencarimu memutar dari kota Suno sampai Shariz jadi saat malam hari ada banyak desa dan camp-camp pedagang untuk bermalam. " jawab Sylvia yang ketakutan dan cemas karena baru pertama kali ini bermalam di tengah hutan.


Airel tak membalas ucapan Sylvia dan langsung pergi mencari kayu bakar. Saat berjalan beberapa langkah, Airel mendengar suara seperti arus air sungai.


" Sylvia tolong lepaskan ikatan tali kudanya..! " Airel tak jadi mencari kayu bakar dan langsung kembali menghampiri Sylvia.


" Memangnya ada apa? " Sylvia melepaskan tali kuda.


" Ada suara arus air! Sepertinya ada sungai di dekat sini! Selagi hari belum gelap kita pindah ke pinggir sungai saja! " Airel langsung menuntun kudanya dan berjalan kearah suara arus sungai itu bersama Sylvia.


Dan benar saja, ada sungai kecil yang arusnya lumayan deras dan air yang sangat jernih selain itu di sebrang sungai juga ada rumah kayu kosong dan sudah lama tak di tinggali.


" Sepertinya ini hari keberuntungan kita! Selain sungai, di depan kita juga ada rumah! Kita bisa bermalam disana...Sylvia naiklah ke kuda! Aku akan menybrangkanmu kesana. "


Sylvia langsung naik keatas kuda, dan Airel menuntun kuda itu menyebrangi sungai yang dalamnya hanya selutut orang dewasa.


" A..Airel..? Lebih baik kita lanjutkan perjalan saja! " Sylvia langsung takut saat melihat suasana rumah kosong itu dan fikiranya mulai kemana-mana.


" Bagaimana melanjutkanya? Sebentar lagi malam tiba dan kita berada di tengah hutan lebat seperti ini! Jika tidak ada penerangan percuma saja kita melanjutkan perjalanan! " Airel menali kudanya di pohon tepat samping rumah kosong itu dan menurunkan barang-barangnya dan Sylvia dari atas kuda.


" Mari masuk! "


Braaaak...!


Airel menendang pintu rumah tua itu dan dia terkejut melihat dalam rumahnya sangat rapi bahkan seperti habis di bersihkan.


" Apa benar ini rumah kosong? Jika bukan kenapa pintunya tak di kunci? " tanya Airel.


Airel berjalan masuk kedalam rumah. Mendengar kata-kata Airel, Sylvia semakin ketakutan dan bulu kuduknya berdiri. Didalam fikiran Sylvia hanua terbayang hantu yang menyeramkan.


" Sylvia cepat masuk! " Airel keluar dan menarik Sylvia untuk masuk ke dalam rumah.


" Aireeeeeel! Rumah itu pasti berhantuuuu! Aku tidak mauuuu! " Sylvia menolak dan mencoba menahan dirinya.


" Baiklah kalau begitu kamu tidur diluar saja! Lagian diluar lebih banyak hantunya. " Airel melepaskan tangan Sylvia dan mulai masuk ke dalam rumah.


Sylvia terkejut dan semakin takut dengan ucapan Airel. Tanpa pikir panjang dia langsung berlari masuk kedalam rumah.


Rumah kayu tua yang mereka singgahi tidak terlalu besar dan walaupun diluarnya tampak tak terawat tetapi di dalam rumahnya seperti baru di bersihkan dan di rapikan. Tapi di rumah itu hanya ada 1 kamar tidur dan kursi panjang yang menghadap tungku api yang kosong.


" Sylvia, kamu tunggu disini dulu! Aku akan mencari kayu bakar. " Airel keluar lagi dari rumah.


" Ikuuuuuuut! " Sylvia yang ketakutan berlari menghampiri Airel.


" Hhhhhhhh..! Kalau kamu ikut, lalu yang menjaga barang-barang kita siapa? Kamu tunggu saja disana, aku tidak lama kog! " Airel memegang 2 pundak Sylvia.


" Ta..tapi aku takut..! Bagaimana kalau rumah itu ada hantunyaa! " Ketakutan Sylvia meningkat dan imajinasinya tentang hantu sudah tak bisa di bendung.


" Kalau begitu, kamu cari kayu bakar dan aku yang menjaga barang..bagaimana? "


" Tidak mauuu! Baiklah-baiklah aku kembali ke rumah!! " Sylvia dengan raut wajah kesal langsung kembali ke rumah.


Airelpun melanjutkan kerjaanya untuk mencari kayu bakar di pinggiran sungai.

__ADS_1


***


Matahari mulai tenggelam. Sylvia berbaring di kursi panjang sambil bersembunyi di dalam selimut yang ia bawa. Ketakutanya kepada hantu benar-benar menyiksanya.


" Bohong..! Katanya sebentar! Tapi sampai sekarang belum kembali-kembali..!! "  gumam Sylvia yang kesal.


Kreeek..!


" Hwaaaaaaa.....!! Aireeeeeeeeeel cepaaat kembaliiiiii..!! " Sylvia terkejut dan berteriak sekencang-kencangnya saat mendengar suara dari pintu kayu yang terhembus angin.


***


Sedangkan Airel yang niat awalnya mencari kayu bakar, tetapi kini malah berendam di sungai hingga ketiduran.


" Hmmh...suara teriakan apa itu tadi? " Airel terbangun saat mendengar suara teriakan Sylvia.


" Astaga..!! Aku ketiduran hingga malam begini..!? " Airel yang terkejut langsung beranjak dari sungai dan memakai bajunya lalu melanjutkan mencari kayu bakar sebentar.


Dengan tergesa-gesa di malam hari yang gelap dan hanya ada cahaya bulan yang samar, Airel mencari dan mengambil kayu bakar seadanya di pinggiran sungai.


Setelah kayu bakar yang dia dapat sudah cukup, Airel langsung berlari menuju rumah kayu tua tadi. Namun di tengah jalan, samar-samar Airel mendengar suara seseorang menangis yang membuatnya berhenti melangkah.


Airel tak ingin berfikir aneh-aneh, dengan rasa penasaran dia mencari tau sumber suara itu. Airel berjalan perlahan dan suara yang awalnya samar kini semakin terdengar jelas dan suaranya adalah suara wanita yang menangis.


" Apa-apaan ini? Di tengah hutan ada wanita menangis? Tidak mungkin kalau hantu! " Airel mencoba berfikir positif sambil berjalan mendekat ke sumber suara.


Saat sudah semakin dekat, Airel melihat cahaya seperti cahaya lentera yang besar di balik pohon-pohon besar di depanya. Tanpa berfikir panjang, dia menaruh kayu bakarnya ke tanah dan mengendap-ngendap menghampiri cahaya itu.


Saat sudah dekat sekali, Airel bersembunyi di balik pohon dan langsung menengok ke suara menangis itu serta cahaya di sekelilingnya.


" A...apaaa itu...? Tidak-tidak mungkin itu hantu..? Ta..tapi aku tak tau disekitar sini ada kuburan dengan batu nisan seperti itu. " bisik Airel.


Dia terkejut melihat ada seseorang mengenakan jubah dan menutup kepalanya sedang menunduk sambil memegangi batu nisan berbentuk bintang. Dan suara orang menangis itu berasal dari seseorang berjubah yang Airel lihat.


Bulu kuduk Airel berdiri, badanya bergetar dan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Airel mencoba menahan rasa takutnya dan langsung berjalan mendekati orang itu dari belakang.


Sraaaaaak...!!


Dengan cepat Airel menarik jubah hitam itu hingga sobek dan Airel lagi-lagi terkejut saat melihat sosok di balik jubah itu ternyata seorang wanita yang cantik bermata hijau dan di matanya sedang mengalir air mata. Tapi yang membuat Airel begitu terkejut adalah telinga wanita itu yang lancip mirip seperti telinga ras elf.


" Ai..rel..? " Wanita itu membalikkan badan dan terkejut.


" Ka...kau elf? " tanya Airel.


Wanita yang memakai zirah ringan di balik jubahnya dengan cepat mencoba melarikan diri. Sedangkan Airel yang masih bertanya-tanya tentang wanita itu dan darimana wanita itu tau namanya dengan cepat langsung menggenggam tangan wanita itu.


" Apa kau elf? Dan darimana kau tau namaku...? " tanya Airel.


" Mu..mungkin tuan salah dengar..!! " wanita itu berusaha menarik tanganya yang di pegangi Airel.


Kraaaaak...!


" Arg...!! "


Wanita itu menggigit tangan Airel dan dengan cepat melompat keatas pohon lalu pergi dengan sangat cepat.


" Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa dia tau namaku? Dan dia seorang elf asli? Apakah dia hantu? Tapi tak mungkin karena saat ku pegang jelas-jelas dia hidup. "  ujar Airel dalam hati.


Airel kembali ketempat dia menaruh kayu bakarnya dan langsung kembali menuju rumah. Tapi kali ini dia membawa lentera besar yang di tinggalkan wanita tadi.


Di perjalanan, Airel terus berfikir dan bertanya-tanya tentang wanita itu. Karena dulu raja Namey pernah mengatakan pada Airel bahwa elf yang berhasil lolos saat perang saudara bangsa elf hanya ibunya dan raja Namey tapi yang dia lihat tadi itu adalah wanita dari ras elf.


" Aku pulang! "  ujar Airel sambil membuka pintu.


" Aireeeell..!! "


Sylvia yang ketakutan, langsung memeluk Airel dengan erat.

__ADS_1


" Maaf lama! Aku ketiduran saat berendam di sungai hehe. "


Mendengar ucapan Airel, Sylvia yang awalnya ketakutan dan sedikit khawatir langsung melepaskan pelukanya dan menatap tajam kepada Airel.


" Hmmmm!! Dasar aneh! Aku baru kali ini mendengar ada manusia yang ketiduran saat berendam di air sungai yang dingin! " Sylvia mengerutkan dahinya dan melipat tanganya.


" Hehe... Maaf! Oh ya, ini aku bawakan lentera dan sepertinya minyaknya masih banyak mungkin cukup untuk penerang malam ini! " Airel menunjukan lentera yang bercahaya terang kepada Sylvia.


" Darimana kamu dapat lentera itu? " tanya Sylvia.


" Banyak hal yang terjadi di hutan! Jika aku ceritakan pasti kamu takut...Jadi lebih baik kamu tak perlu tau. "


Airel yang membawa lentera, berjalan kearah kursi panjang dan menaruh lentera diatas kursi itu.


" Oh ya Sylvia tolong tutup pintunya! Aku mau menyalakan api. "


Dengan kayu yang dia dapat, Airel memasukan kayu-kayu itu kedalam tungku api dan menyalakan api menggunakan api di lentera yang ia dapat sebelumnya.


" Sudah larut malam..lebih baik kamu tidur! Aku akan berjaga disini! " Airel memberikan lentera kepada Sylvia untuk di bawa ke kamar tidur.


" Tidak! Aku mau kamu tidur di sampingku! " Sylvia menggenggam erat tangan Airel karena masih merasa sedikit takut.


" Baiklah kalau begitu! " Airel tak dapat menolak keinginan Sylvia dan akhirnya ikut tidur di samping Sylvia.


Keadaan rumah yang awalnya gelap, kini sudah sangat terang karena lentera yang di bawa Airel dan juga api yang sudah menyala di tungku api.


Suasana malam sunyi yang hanya ada suara kemercikan air sungai dan suara-suara binatang-binatang membuat Sylvia tak bisa tidur. Matanya masih terjaga hingga larut malam sambil memperhatikan lentera yang dia taruh tepat di meja depanya.


" Airel! Kamu belum tidurkan? " Sylvia membalikan badanya.


" Ya! Sepertinya aku tak bisa tidur. " jawab Airel yang masih berbaring membelakangi Sylvia.


" Kalau begitu apa boleh aku cerita? " Sylvia menyentuh rambut Airel dan mengelus-elusnya.


Airel langsung membalikkan badan dan tersenyum kearah Sylvia.


" Memangnya mau cerita apa? " dengan tatapan yang mengarah ke Sylvia, Airel menggenggam kedua tangan Sylvia dengan erat.


" Saat kamu bertarung dengan Artuk dan saat dia ingin menyerangku, dia mengatakan sesuatu kepadaku. "


Mendengar ucapan Sylvia, Airel langsung beranjak bangun dan tatapanya masih terus mengarah ke Sylvia.


" Mengatakan apa? " tanya Airel mengerutkan dahinya.


" Saat dia hampir menyerangku, dia berkata bahwa dia sedang menungguku! Tapi aku tak tau apa maksutnya. " jawab Sylvia.


" Begitukah! Mungkin kata-kata itu untuk memancingmu saja jadi tak perlu kamu pikirkan dalam-dalam! " ujar Airel sambil mnghembuskan nafas panjang.


Airel kembali berbaring dan sepertinya dia lega karena awalnya dia mengira Artuk mengatakan tentang identitas aslinya yang merupakan calon raja Calradia.


" Kalau boleh tau, Artuk itu seperti apa orangnya? Bukankah kamu sahabatnya sejak kecil? " Sylvia penasaran dengan Artuk dan sedikit tertarik denganya.


" Ya! Kami berteman sejak masih usia 6 tahun! Dulu dia sangat ceroboh sekali.. Selalu membual tentang mimpinya yang ingin menjadi raja hebat! Tetapi bualanya itu bukan bualan biasa, dia benar-benar berusaha dengan baik! Saat umur kami beranjak 7 tahun, kami berdua mulai di latih seni berpedang oleh 10 ksatria hebat dari seluruh dunia lalu kami juga diajari strategi perang, ekonomi kerajaan, politik, kepemimpinan, dan lain-lain. Kami selalu bersaing saat berlatih maupun belajar, tetapi saat umur kami 8 tahun Artuk mulai fokus kepada ilmu politik hingga tak punya banyak waktu untuk berlatih denganku dan dari situ aku saat itu yakin bahwa Artuk benar-benar ingin menggapai mimpinya! " ujar Airel.


Cerita dari Airel malah membuat Sylvia semakin penasaran dengan Artuk.


" Tapi saking sukanya dengan ilmu politik, membuat Artuk termakan banyak hasutan hingga berani membunuh ayahnya sendiri dan menjadi orang yang sangat kejam! Walaupun bisa dibilang mimpinya terwujud, tapi dia mengambil mimpi itu lewat jalan yang salah. " sambung Airel.


" Begitukah! " Sylvia tiba-tiba tersenyum sendiri.


" Memangnya kenapa kamu tanya tentang Artuk? " tanya Airel.


" Eh..!? Tidak apa-apa! Aku hanya ingin tau saja Artuk di masa lalu seperti apa hingga berubah menjadi sejahat sekarang. " jawab Sylvia.


" Ooo.. Kalau begitu aku tidur duluan! Kamu juga cepatlah tidur hari ini sudah tengah malam dan besok kita harus berangkat pagi! " ujar Airel sambil membalikan badanya.


Melihat raut wajah Sylvia yang senyum-senyum sendiri saat mendengar ceritanya, Airel yang sedikit kesal mulai berfikir macam-macam tentang Sylvia. Dia berfikir bahwa Sylvia sepertinya tertarik kepada Artuk tapi fikiran itu hilang seketika saat dia mengingat perjuangan Sylvia untuk mencari dirinya.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...


__ADS_2