The Last King Of CALRADIA

The Last King Of CALRADIA
#29#PENCULIKAN SYLVIA


__ADS_3

Sudah 3 hari Airel tak berjumpa dengan Sylvia setelah kejadian dimana Sylvia pingsan dan Airel tak sengaja melihat cahaya putih di tangan kekasihnya itu. Hubungan Airel dengan raja Yarlek juga menurun karena kejadian itu, bahkan dia tak datang ke istana untuk pesta makan bersama bangsawan lainya.


Airel yang setiap pagi biasanya langsung pergi ke tempat pasukanya berlatih, kini hanya termenung di depan rumah sambil memandangi langit pagi yang cerah. Di fikiranya hanya ada Sylvia saja, dia sangat khawatir kepada Sylvia tetapi ia tak berani datang keistana setelah kejadian itu.


" Lagi-lagi tuan melamun disini. " Jeremus yang keluar dari rumah, menghampiri Airel yang sedang melamun.


" Jeremus? " Airel menengok kebelakang.


" Apa tuan khawatir dengan putri pedang? " Jeremus duduk di samping Airel.


" Ya! Sudah 3 hari semenjak kejadian itu, aku tak berani menemuinya dan Sylvia juga biasanya pagi-pagi sekali selalu membawakanku sarapan tapi kali ini tidak! Hhhhhh.... Tidak tau kenapa, hatiku rasanya resah sekali. " Airel menghela nafas panjang dan beranjak dari duduknya.


" Tuan lebih baik waspada saja! Oh iya tuan, ngomong-ngomong apa luka tuan sudah sembuh? Semenjak tuan kembali ke Khudan, aku tak melihat luka sama sekali di badan tuan. "


" Aku tak sengaja mencoba jurus milik ayahku dan seketika aura kegelapan pekat muncul di tubuhku bahkan kekuatanku meningkat selain itu luka-luka pada tubuhku tiba-tiba menghilang dengan sendirinya. " Airel kembali duduk dan mengusap perutnya yang dulunya terdapat luka.


" Begitukah! Tetapi saya pernah mendengar bahwa semua jurus yang di pelajari raja Mishtar V itu membutuhkan latihan yang sangat keras dan menyakitkan tetapi mengapa tuan Airel bisa semudah itu memakai jurus peninggalan ayah tuan? " Jeremus keheranan karena seharusnya untuk menggunakan jurus hebat pasti membutuhkan latihan yang luar biasa tetapi Airel bisa menggunakanya tanpa latihan.


" Jika aku tau, aku pasti sudah mengajarkan kepadamu dan yang lain! Sejak aku mulai di latih seni berpedang, aku sudah bisa menggunakan jurus-jurus peninggalan ayahku kecuali dark breaker! Karena dark breaker adalah gerbang utama untuk membuka kekuatan kegelapan sesungguhnya jadi untuk dark breaker aku membutuhkan waktu 3 tahun dengan latihan keras dan menyakitkan. "


" Aku baru tau kalau jurus dark breaker adalah kunci dari jurus-jurus peninggalan ayah tuan! "


" Begitulah! Kalau begitu aku pergi dulu! Mungkin nanti malam aku akan kembali. " Airel beranjak dari duduknya dan mukai berjalan menuju gerbang kota.


" Tuan mau kemana? "


" Hanya menenangkan diri sebentar, tenang saja! " Airel berjalan perlahan meninggalkan Jeremus dan rumahnya.


Pikiran Airel benar-benar kacau, dengan ke khawatiranya kepada Sylvia dan misinya sendiri yang harus mendapatkan pedang orion untuk menyelamatkan Sylvia membuatnya sedikit frustasi dan Airel berencana pergi ke bukit yang berada tepat di depan kota Khudan untuk menenangkan diri.


Sesampainya di atas bukit, Airel hanya tiduran dan memandang langit biru hingga tak sadar dia ketiduran sampai siang hari. Saat terbangun, Airel masih tak berniat kembali ke rumah dan tetap bertahan di bukit walaupun perutnya keroncongan tetapi hati dan fikiranya masih kacau.


Puk..!


Saat Airel berbaring dan menutup mata, tiba-tiba ada sebuah roti yang di lemparkan tepat di atas perutnya.


" Ha..? Roti? Siapa yang menjatuhkan roti ini? " Airel bangun dan mengambil roti itu serta melihat sekelilingnya.


" Tidak ada siapa-siapa tapi roti ini darimana? " Airel masih bertanya-tanya karena di bukit tidak ada siapa-siapa lagi selain dia.


Airel yang masih kebingungan langsung memakan roti itu karena perutnya yang sudah keroncongan.


" Ughuk..ughuk...! " Saking lahapnya Airel makan, hingga membuatnya tersedak.


" Ini..! " Seorang wanita berambut abu-abu nan panjang dan memakai jubah hitam tiba-tiba berada di samping Airel dan memberikanya botol yang berisi air minum.


" Terimakasih..! " Airel yang menundukan kepalanya karena tersedak langsung mengambil air pemberian wanita itu tanpa melihat kearahnya dan setelah meminum air itu, Airel baru tersadar bahwa ada seseorang di sampingnya.


" Eh...!? Kau kan wanita di kuburan tengah hutan itu!? " Airel menengok ke kanan dan melihat wanita itu sedang berdiri dan tersenyum manis kearahnya.


" Kamu masih ingat rupanya.. Boleh aku duduk disini? " Wanita yang tak di ketahui namanya itu memandangi Airel.


" I..iya..! Silahkan saja..! " Airel sedikit menggeser posisi duduknya dan matanya masih tertuju wanita itu.


" Terimakasih.. " Wanita itu langsung duduk di samping Airel.


" Maaf nona, kalau boleh aku tau apakah nona seorang elf? " Airel yang canggung memberanikan bertanya pertanyaan yang sama seperti sebelumnya saat mereka berdua bertemu.


" Ya..! Aku adalah seorang elf! Dan mungkin ras elf hanya tersisa 2 orang sekarang yaitu aku dan yang satunya pasti kamu tau sendiri. " wanita itu tersenyum manis kepada Airel.


" Ta..tapi... "


" Kamu ingin bilang bahwa ras elf terakhir adalah ibumu dan pamanmu? Jadi pamanmu masih menyembunyikanya ya? "


" Ba..bagaimana kau tau namaku dan ibuku yang seorang elf? " Airel mengerutkan dahinya.


" Hmmh... Kalau kamu ingin tau, kamu bisa pergi ke Sargoth dan bertanya kepada pamanmu! Selain itu aku juga tinggal disana. "


" Lalu kenapa kau berada disini dan beberapa hari lalu berada di tengah hutan dan menangisi kuburan di tengah hutan itu? "

__ADS_1


" Kuburan itu adalah kuburan ibu dan ayahku! Rumah kayu yang kamu singgahi itu dulunya adalah rumah kami sebelum pamanmu membawaku ke Sargoth. "


" Maaf..! Tak seharusnya aku bertanya! " Airel menundukan kepalanya.


" Tak apa...! Kejadianya juga sudah 13 tahun lalu..! Kalau begitu aku pergi dulu Airel! Sampai ketemu di Sargoth! " Wanita itu berdiri dari duduknya dan perlahan berjalan menjauh dari Airel.


" Kalau boleh tau siapa namamu? " teriak Airel.


" Kamu lupa namaku ya? Sedih rasanya dilupakan seperti ini tapi tak apalah! Nama elfku Liya dan nama manusiaku Ina! Jangan lupa lagi! Kalau begitu sampai jumpa! " wanita yang bernama Liya itu dengan cepat menghilang dari pandangan Airel.


" Cepat sekali! " Airel terkagum karena dengan sekejap Liya hilang dari pandanganya.


" Liya..? Ina..? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. " Airel bertanya-tanya lagi karena dia merasa kenal sekali dengan nama itu sebelumnya tetapi dia lupa.


Airel kembali berbaring dan matanya kembali memandangi langit hingga matahari sampai tenggelam. Ia terus melamun dan memandangi langit yang mulai beranjak malam hari, tetapi hatinya lagi-lagi belum tenang untuk pulang dan rasa resahnya malah semakin bertambah saat mengingat kejadian pingsanya Sylvia.


Saat memandangi langit yang sudah mulai tampak bintang-bintangnya, tiba-tiba Airel melihat sekelebat bayangan hitam yang jumlahnya 10 terbang melewatinya. Dengan cepat Airel bangkit dari berbaringnya dan melihat kearah bayangan-bayangan hitam itu pergi.


" Aireeeeeeeeeeeeell....!! " Saat melihat arah bayangan- bayangan itu, Airel tak sengaja mendengar teriakan Sylvia.


Airel terkejut mendengar suara Sylvia, dan dia menyipitkan matanya kearah bayangan itu. Benar saja, di salah satu bayang itu menangkap Sylvia dan membawanya pergi dengan cepat kearah selatan.


" Sylvia...! Jangan-jangan mereka assasin..!! Sialan..! " Airel langsung bangkit dan berlari mengejar bayangan-bayangan itu yang ternyata assasin dan mereka sedang menculik Sylvia.


" DARK BREAKER...! "


Dengan jurusnya, gerakan dan kecepatan Airel bertambah sangat cepat hingga jaraknya dengan assasin hanya 5 langkah saja.


" Aireeeel....!! Aireeeeeell...! Tolong aku...! " Sylvia yang di panggul oleh salah satu Assasins terus berteriak dan menangis memanggil Airel.


" Lepaskan Sylvia....!! " teriak Airel.


Airel yang tak membawa senjata apa-apa sedikit kesusahan untuk menyerang salah satu dari mereka. Jika hanya dengan tangan kosong tak mungkin bisa melukai assasin karena assasin adalah pasukan elit yang di latih langsung oleh sultan Hakim saat dia masih hidup. Kemampuan assasin sangat luar biasa, dengan kelincahan, kecepatan, dan seni berpedang diatas rata-rata mereka bahkan bisa membunuh seorang raja sekalipun.


Whuuuuuuung....crak..crak..crak...crak..!!


Saat Airel berusaha mengejar, tiba-tiba 4 assasin tumbang karena leher belakang mereka tertancap anak panah.


" Untung aku masih berada di kota Khudan untuk membeli bekal..! " Liya ikut mengejar assasin yang menculik Sylvia.


" Li..Liyaa..? Terimakasih bantuanya..! " Airel yang terus berlari tersenyum kearah Liya.


" Padahal dulu kamu memanggilku ina tapi sekarang malah memanggilku Liya! Tapi tak apa..! Ini ambil..! " Liya melemparkan pedang kecil kepada Airel.


" Kamu kejar lewat darat! Aku akan lewat pepohonan! " Dengan cepat Liya melompat ke atas pohon di sampingnya dan langsung menembakkan 3 anak panah kearah assasin yang masih berjumlah 6 orang.


Craak..crak..craak..!!


3 panah Liya tepat sasaran kearah 3 assasin tetapi assasin yang membawa Sylvia masih selamat dan terus berlari bersama 2 assasin lainya.


Airel sangat kagum dengan kemampuan Liya yang bisa melompat dengan cepat dari pohon ke pohon lain dan bisa menembakkan anak panah tepat sasaran. Tetapi Airel juga menganggap wajar bagi elf dengan kemampuan seperti itu karena ras elf memang memiliki kemampuan hebat dalam kecepatan dan ketepatan mereka memanah.


" Airel..! Anak panahku sisa 1! Jika aku gagal mengenai assasin yang membawa tuan putri aku sudah tak bisa membantumu lagi! Tenagaku juga hampir habis..! " Liya melompat lagi kebawah dan mendekat kearah Airel.


" Baiklah..! " Airel langsung bersiap menyerang dengan pedang kecil yang di berikan Liya.


Liya langsung kembali ke atas pohon dan langsung menembakan anak panah terakhirnya kearah assasin yang membawa Sylvia.


Whuuuuung...craaak...!!


" Sial...!! Airel aku sudah tak bisa membantumu! Sisanya kuserahkan padamu..! " anak panah Liya yang mengarah tepat ke assasin yang membawa Sylvia seharusnya berhasil mengenainya tetapi seorang assasin lainya dengan cepat melindungi dan mengorbankan dirinya.


Liya yang sudah kelelahan berhenti mengejar dan beristirahat di atas pohon sambil melihat Airel yang masih mengejar 2 assasin yang tersisa.


Malam semakin larut, Airel yang terus mengejar dengan kecepatanya masih belum bisa menandingi kecepatan para assasin dan sengaja menyimpan tenaganya karena dia mengira bisa memojokkan para assasin di kota Reyvadin karena sebentar lagi mereka akan melewati kota Reyvadin yang sedang di jaga ketat oleh puluhan ribu pasukan Veagirs.


Namun perkiraan Airel salah, assasin yang membawa Sylvia belok kearah barat yang menuju langsung kearah kota Praven.


" Cih...sialan...!! Apa boleh buat..! ENCHANT DARK SWORD..!! " Airel mengeluarkan jurus terkuatnya dan dengan sangat cepat Airel dapat mengejar mereka tetapi salah satu assasin menghadangnya.

__ADS_1


Craaaaaaak....!!


Satu assasin berhasil di penggal oleh Airel tetapi satu assasin lagi yang membawa Sylvia masih terus berlari dengan cepat.


" Sial..!! Tenagaku...! Kenapa aku bisa selelah ini...! " Aura kegelapan efek dari jurus Airel tiba-tiba memudar.


Airel yang sudah kelelahan terus memaksakan untuk mengejar penculik Sylvia itu. Hingga pandangan Airel berubah saat pengejarannya tiba di sebuah desa yang sedang terbakar hebat.


Di kobaran api besar yang melahap desa itu, Airel melihat ada 3 orang berdiri di depan desa dan assasin yang membawa Sylvia yang sudah pingsan berhenti 10 langkah di hadapan orang itu.


" ENCHANT DARK SWORD..!! " saat assasin itu melepaskan Sylvia dari panggulanya, Airel dengan mengeluarkan jurusnya lagi langsung bergerak kearah Sylvia dengan sangat cepat.


Craaaaaak....!!


Airel memotong kepala assasin itu dengan cepat dan saat akan menggendong Sylvia, tiba-tiba salah seorang dari 3 orang itu menodongkan pedangnya yang mengeluarkan cahaya merah terang.


Boooooooooom........!!!!


Cahaya itu menyambar kearah Airel dan meledak dengan hebat.


Tapi Airel dengan kecepatanya berhasil menghindar dan langsung bersembunyi di balik batu besar yang tak jauh dari lokasi ledakan.


" A..Airel...?? " Sylvia terbangun dan melihat Airel bersandar di dinding batu sambil menggendongnya.


" Kamu sudah bangun ya..! Maaf seharusnya aku menjagamu...! " Airel dengan nafas yang tak teratur karena kelelahan menengok kearah Sylvia.


" Argh...!! " Airel melepaskan Sylvia dan tangan kananya langsung menutupi lengan kirinya.


" Airel...! Kamu terluka ya!? " Sylvia mencoba melihat luka di lengan kiri Airel. Dan dia terkejut melihat luka bakar yang masih mengeluarkan asap.


" Hahahahahahahaha....!! Munculah Airel...!! Sekarang kau hanya bisa lari-lari saja seperti pengecut..!! Aku tau kau masih di sekutar sini jadi keluarlah dan lawan aku atau akan kuhancurkan desa ini dan sekitarnya..!! "


Airel tak asing dengan suara teriakan yang penuh amarah itu. Ya, orang itu adalah Artuk yang sedang menguji coba pedang orionya tetapi Airel masih belum mengetahui bahwa Artuk telah memiliki pedang orion.


" Artuk...!? Argh..! " Airel menggenggam lenganya yang terluka.


Sreeek...!


" Kemarikan lenganmu..! Biar kuikat dengan kain ini sampai kita kembali ke Khudan..! " Sylvia menyobek bagian bawah gaun tidurnya dan mengikatkan sobekan kain itu ke luka Airel.


" Kekuatan apa itu..? Baru pertama kali ini aku melihat cahaya merah yang bisa meledak dahsyat..! " Airel menengok keatas sambil mengatur nafasnya lagi.


Saking penasaranya, Airel mencoba menengok dari balik batu.


" I..itu...!! " Mata Airel tak berkedip dan ucapanya terbata-bata saat melihat pedang yang mengeluarkan aura merah dan hawa panas yang di pegang Artuk.


" Ada apa Airel...!? " Sylvia memegang pundak Airel.


" Tak salah lagi..! Itu adalah pedang orion..! Sylvia pegang erat-erat! Kita harus segera pergi dari sini..! " Airel tak bisa menyembunyikan ketakutanya saat mengetahui pedang yang di bawa Artuk adalah pedang orion dan Airel langsung kembali menggendong Sylvia.


" Kamu tau pedang orion..? "


" Ya..! Aku juga tau siapa kamu sebenarnya..! Sudah tak ada waktu lagi untuk menanyakan itu..! Pegangan yang kuat..!! "


Airel dengan tenaganya yang sedikit, keluar dari persembunyianya sambil menggendong Sylvia.


" Disana kau rupanya....!! Mati kauuuu Aireeeeeeeeelll...!! " Sebelum Airel berlari, Artuk sudah mengetahui posisi Airel dan langsung menodongkan pedangnya yang sudah memancarkan cahaya merah kearah Airel.


" Sial...!! ENCHANT DARK SWORD..! " dengan sisa tenaga yang ia punya, Airel mengeluarkan jurusnya lagi.


Booooooooooom....!!


Artuk langsung menembakkan kekuatan pedangnya kearah Airel hingga membuat ledakan yang besar dan dahsyat. Tetapi Airel berhasil selamat berkat kecepatanya itu.


" Larilah kawan..! Tapi mulai sekarang kemanapun kau lari aku akan ada di depanmu..! Aku pasti akan merebut kunci orion darimu dan akan membunuhmu..!! Hahahahahahaha....! " Teriak Artuk yang tak peduli seranganya gagal mengenai Airel.


Sedangkan Airel langsung lari dengan cepat kearah kota Khudan walaupun dengan tenaga yang sudah hampir habis dan menahan luka.


" Aku bisa berlari sendiri Airel..! Kita istirahat saja dulu..! " ujar Sylvia yang melihat Airel menahan rasa sakit.

__ADS_1


Airel tak menghiraukan perkataan Sylvia dan tetap fokus untuk berlari.


TO BE CONTINUE...


__ADS_2