
Embun pagi membasahi Airel dan rombonganya yang pagi ini mengikuti raja Sanjar beserta 20.000 pasukanya menuju bukit candrakirana yang letaknya berada di timur benua Calradia dan hanya membutuhkan waktu 10 jam saja untuk sampai disana.
Bukit candrakirana berada di ujung timur Calradia dan berbatasan langsung dengan laut timur. Selain itu, untuk menuju kesana harus melewati hutan yang sangat lebat dan menyebrangi 2 sungai. Bukit candrakirana adalah wilayah tanpa tuan karena selain jalurnya yang harus melewati hutan, di bukit itu juga banyak sekali bersarang binatang buas dan serangga-serangga beracun. Karena itulah alasan raja Sanjar menyuruh Airel untuk membangun pemukiman dan pusat pemerintahan disana.
***
Tepat sore hari saat cayaha mentari tak terik lagi, Airel dan yang lain sampai di bukit itu. Mereka terkejut karena baru pertama kali ini melihat sebuah bukit besar yang cantik dan di kelilingi oleh Padang rumput serta hutan yang lebat. Selain itu, tanah di kaki bukit sangat subur dan cocok untuk bertani.
" Bukit ini sangat indah sekali, dan lebih indah daripada yang paman ceritakan, " Ujar Airel yang matanya terus memandangi keindahan bukit candrakirana.
" Aku sudah lama tak kesini, dan tak kusangka bukit ini semakin indah, " jawab raja Sanjar.
Saat sedang memandangi puncak bukit itu, Airel tak sengaja melihat cahaya putih kecil yang memancar dari puncak bukit.
" Paman apa kau melihat cahaya pu— " Airel yang menyipitkan mata dan hendak menanyakan cahaya putih itu ke lamanya langsung terkejut saat dengan cepat cahaya itu mmenuju kearahnya dengan cepat.
Triiiingg...!
Dengan reflek cepat, Airel langsung mencabut pedangnya dan menangkis cahay putih itu dan membuat cahaya itu terpental ke bukit lagi.
" Apa apaan itu tadi! " Pekik Airel yang turun dari kudanya.
" Dia sudah disini ternyata, " ungkap raja Sanjar.
" Dia? Siapa maksud paman? "
" Daripada kau tanyakan padaku, lebih baik kau pergi keatas bukit dan temu dia sendiri, "
__ADS_1
Saking penasarannya, Airelpun mengiyakan perkataan lamanya dan dengan cepat melompat ke atas bukit tepat dimana cahaya itu tadi terpental.
***
Ketika sampai diatas bukit, Airel melihat seorang laki-laki berambut panjang yang diikat serta memakai jubah emas dan di pinggangnya terikat sebuah selendang yang bermotiv aneh bagi Airel. Selain itu, laki-laki yang di hadapan Airel juga memegang sebuah senjata yang asing bagi Airel, senjata itu mirip seperti pedang tetapi pendek dan ada beberapa lekukan di pedang itu.
" Siapakah kau sebenarnya? Dan ku yakin yang menyerangku tadi adalah kau, " ujar Airel.
" Sama seperti rumor yang beredar, ternyata penerus raja Calradia memang sangat hebat dan kuat, " balas laki-laki itu.
" Darimana kau tau tentangku? Sedangkan kau sepertinya bukan orang dari benua ini, " tanya Airel.
Laki-laki itu memasukan pedangnya kesarung pedang yang ada di pinggangnya dan berjalan mendekati Airel. Sedangkan Airel yang masih waspada tetap menggenggam erat pedangnya karena jika tiba-tiba laki-laki itu menyerang, Airel bisa langsung menangkisnya.
Tetapi kewaspadaan Airel seketika sirna saat melihat laki-laki itu menjabatkan tangan kepadanya.
" Ini adalah salam pertemanan dariku, " jawab laki-laki itu.
" Pertemanan? Bagaimana kita bisa berteman? Akupun tak tau siapa dirimu, "
Mendengar perkataan Airel, laki-laki itu memejamkan matanya dan tertawa kecil.
" Namaku Arya Wiraraja Kalingga. "
Airel terkejut ketika mendengar kata-kata Kalingga.
" Kalingga? Jangan-jangan kau adalah raja Kalingga yang di maksud paman Sanjar, "
__ADS_1
" Dan kau pasti raja Calradia yang di maksud raja Sanjar kan? " canda raja Arya yang murah senyum itu.
Tanpa fikir panjang, Airel langsung membalas jabatan tangan raja Arya.
" Maafkan atas ketidak lancanganku raja Kalingga, "
" Seharusnya aku yang minta maaf karena menyerangku tiba-tiba, "
" Kalau boleh tau, apa yang membuat raja Kalingga jauh-jauh datang kesini? "
" Raja Sanjar mengirim surat kepadaku bahwa kau akan membangun sebuah pusat pemerintahan di bukit Candrakirana. Setelah membaca surat itu, aku sangat senang dan aku bergegas kesini bersama 20.000 pasukanku 3 hari yang lalu. Aku kesini untuk membantumu membangun pusat pemerintahan, "
" Mengapa kau repot-repot kesini juga? Padahal kau bisa mengirim pasukanmu saja, "
" Ini sebagai balas budiku dan kerajaanku karena saat Calradia runtuh, kami tak bisa menolong kerajaan Calradia. "
Setelah lama berbincang, Airelpun mempertemukan raja Arya dengan raja Sanjar dan dari situ didapatkan kesepakatan bahwa raja Arya akan membantu pembangunan pemukiman baru di bukit Candrakirana.
Dan mulai hari itu juga dimulailah penebangan hutan besar-besaran dan mulailah pembangunan rumah-rumah di setiap undakan di bukit itu.
***
Hanya dalam waktu satu malam, rumah-rumah yang berbahan kayu sudah banyak yang jadi dan siap di tinggali, sedangkan untuk kebutuhan pangan semuanya sudah di tanggung oleh raja Arya karena dia juga membawa banyak sekali bahan makanan bahkan bisa bertahan untuk berbulan-bulan.
Hari terus berganti dan dengan melibatkan puluhan ribu pasukan, bukit Candrakirana kini sudah seperti sebuah kota kecil yang indah. Selain itu di setiap pinggiran undakan juga di bangun benteng dari batang kayu yang besar. Akan tetapi pembangunan kastil di puncak bukit masih memerlukan waktu yang lama karena kekurangan bahan baku seperti tanah liat dan batu dengan kualitas yang bagus. Dan bahan-bahan itu harus di datangkan di sebuah benua di barat Calradia, benua itu bernama benua Hongary.
Karena pengiriman bahan yang lambat dan memakan waktu berbulan-bulan, raja Arya pun memutuskan mengajak Airel berkunjung ke kerajaannya. Raja Arya ingin memperkenalkan kerajaannya kepada Airel dan selain itu ada sebuah benda peninggalan Calradia yang ingin di berikan kembali kepada Airel.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...