The Last King Of CALRADIA

The Last King Of CALRADIA
#35#TIPU DAYA ARTUK


__ADS_3

Kerajaan Veagirs benar-benar berduka atas kepergian raja mereka. Sehari setelah insiden pembantaian di istana, raja Veagirs langsung di kuburkan tepat di depan istana dan dapat di saksikan oleh seluruh penduduk Khudan. Raja Namey, raja Sanjar,dan kaisar Artuk juga datang untuk menghadiri pemakaman, selain mereka juga ada banyak utusan dari kerajaan-kerajaan dari benua sebrang yang datang untuk memberi penghormatan terakhir.


Setelah dimakamkanya sang raja, para bangsawan kerajaan mendesak agar tuan putri Sylvia naik tahta secepatnya untuk mengisi kekosongan kekuasaan. Tetapi Sylvia menolak, dia beralasan sebelum pembunuh ayahnya di temukan maka dia tak akan duduk di singgasana Veagirs.


Sylvia memang belum secara resmi menjadi ratu Veagirs tetapi sekarang dialah yang memegang kekuasaan dan pemerintahan kerajaan Veagirs. Sylvia tak menghiraukan tentang masalah diplomatik maupun ekonomi pada kerajaanya melainkan dia fokus memerintahkan seluruh jendral, lord, dan duke untuk mengusut dalang dari kematian ayahnya.


Selain itu, setelah pemakaman ayahnya Sylvia hanya mengurung diri dikamarnya sambil terus menangisi kepergian sang ayah. Melihat keadaan Sylvia yang seperti itu, membuat para penasehat, pelayan, dan para bangsawan khawatir karena  kerajaan Veagirs bisa runtuh secepatnya jika ratu mereka belum mau naik tahta dan terus menangisi kepergian raja. Karena itu, para bamgsawanpun meminta rolong kepada Airel untuk membuju ratu mereka agar segera naik tahta dan Airelpun menyanggupinya.


3 hari setelah pemakaman raja dan setelah tugas Airel memperbaiki benteng yang rusak selesai, dia langsung pergi menuju istana untuk menemui kekasihnya.


Sesampainya diistana, pelayan-pelayan Sylvia langsung datang menghampirinya dan mengatakan bahwa tuan putri sudah tak makan selama 2 hari. Dengan rasa cemas, Airel langsung berlari menuju pintu kamar Sylvia.


Took.. Tok...


" Sudah kubilang jangan menggangguku dan tinggalkan aku sendiri...!! " bentak Sylvia dari dalam kamar.


" Ini aku Sylvia. Maaf aku baru bisa menemuimu sekarang. Sekarang izinkan aku masuk. Jika kamu bersedih, aku siap menjadi wadah kesedihanmu itu, "


Setelah mendengar suara Airel, Sylvia langsung membuka pintu kamarnya dan langsung memeluk Airel dengan erat.


" Kenapa kamu lama sekali...! Hiks...! Aku tak tau lagi harus bagaimana...! Aku tak sanggup memegang kekuasaan ayahku sebelum pembunuh ayahku di tangkap..! " air mata membanjiri pipinya yang lembut itu.


" Justru dengan kamu naik tahta maka akan lebih mudah kamu untuk menangkap pelaku pembunuh raja. "


" Tapi— "


" Percayalah padaku. Ayahmu juga pasti menginginkan hal sama Sylvia. Begitu juga dengan rakyat Veagirs, mereka juga menginginkanmu agar segera naik tahta dan menangkap pelaku pembunuhan raja mereka. Tak ada yang perlu kamu tangisi lagi. Kamu tidak sendiri, aku akan selalu ada di belakangmu dan terus membantumu selain itu raja Yarlek juga tak ingin kamu mangisinya karena dia sudah bahagia di alam sana, "


" Airel. Bolehkan aku menenangkan diri satu hari ini...? Aku butuh waktu sebelum kenaikan tahta besok, "


" Baiklah! Akan aku persiapkan untuk kenaikan tahtamu besok pagi dan jika kamu butuh bantuanku kamu tinggal menyuruh prajurit istana untuk datang ke rumahku. Kalau begitu aku pergi dulu, " Airel melepaskan pelukan Sylvia dan mencium kening Sylvia.


" Terimakasih...! Jika tak ada kamu, mungkin aku sudah mengakhiri hidupku, "


" Sekarang kamu harus makan...! Aku akan panghilkan pelayan...! "


Setelah berhasil menenangkan Sylvia, Airel langsung memberi pengumuman ke penghini istana untuk segera menyiapkan acara kenaikan tahta besok selain itu Airel juga langsung menyuruh pekayan untuk segera membawakan banyak makanan ke kamar Sylvia.


***


Walaupun kesedihannya masih, tetapi Sylvia sudah memantapkan dirinya untuk naik tahta menggantikan ayahnya serta langsung membuat saimbara bagi siapa saja yang berhasil menangkap pembunuh ayahnya maka akan langsung diberikan sebuah tanah dan akan dijadikan lord di tanah tersebut. Setelah saimbara itu diumumkan, banyak sekali penduduk Khudan yang mulai mencari tau dan menyelidiki pelaku pembunuh raja mereka.


Sylvia terus berada di kamar sambil mengemil makanan yang disiapkan pelayanya. Selain itu, dia juga terus memikirkan langkah kedepanya untik kerajaan Veagirs.


Waktu beranjak petang, dan Sylvia memutuskan untuk keluar dari istana untuk mencari udara segar. Dengan keadaan istana yang limayan sepi, Sylvia duduk di halaman istana sambil memandangi langit yang penuh dengan bintang hingga tak selang lama ada seorang berjubah putih memakai topeng serigala datang menghampiri Sylvia.


" Selamat malam yang mulai ratu Veagirs, "


" Siapa kau...!? Aku tak menerima tamu di malam hari seperti ini...! Pergilah...! "


" Aku kesini karena ingin melaporkan bahwa aku mengetahui siapa pembunuh yang mulia raja Yarlek, "


Sylvia terkejut dan langsung berdiri serta matanya menatap tajam ke laki-laki berjubah putih tersebut.


" Katakan siapa yang membunuh ayahku dan darimana kau tau...! "


Laki-laki berjubah itu langsung membuka topengnya dan melepas jubah putih miliknya. Sylvia sangat terkejut karena laki-laki itu ternyata Artuk dan spontan Sylvia langsung mengeluarkan pedang artemis di tanganya.


" Kaisar Artuk...!? Apa yang kau lakukan disini...! " Sylvia dengan sigap mengeluarkan pedangnya.


" Hmmm..., Apa seperti itu menyambut seorang kaisar dari kerajaan tetangga? " Artuk melirik kearah pedang yang diacungkan Sylvia.


" Apa yang kau lakukan disini...! "


" Tenang, seperti yang kubilang tadi aku mengetahui siapakah dalang dari pembunuhan ayahmu, "


" Siapa...!? Apakah kau yang membunuh ayahku...! Jika benar aku akan membunuhmu sekarang juga...! " Sylvia langsung memasang kuda-kudanya dan menodongkan pedang kearah Artuk.


Artuk tersenyum kecil dan langsung mengangkat kedua tanganya.


" Bagaimana caraku membunuh raja Yarlek...? Aku sendiri datang kesini saat pemakaman ayahmu...! "


" Lalu kenapa kau tidak pulang dan masih menetap disini...! "


" Karena aku ingin memberitahumu bahwa aku tau siapa yang membunuh ayahmu. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya? "


" Bagaimana caraku bisa mempercayai perkataanmu...!? "


" Itu terserah padamu. Tapi bukti yang akan kutunjukan ini pasti akan membuatmu percaya...! "


Artuk lalu mengambil sebuah potongan kain dari sakunya dan langsung menunjukan ke Sylvia. Potongan kain yang Artuk tunjukan terdapat lambang sebuah kerajaan yaitu kerajaan Calradia tetapi Sylvia tidak mengetahui bahwa lambang itu adalah milik kerajaan Calradia.


" Apa maksut dari lambang di kain itu...? " tanya Sylvia yang tak tau apa maksut Artuk menunjukan potongam kain itu.


" Sekarang apakah kau menyimpan belati yang sebelumnya menancap di tubuh ayahmu...? "


" Ya...! Belati itu ada di ruang rapat istana...! Dan sedang di lakukan penyelidikan oleh para jendral, "


" Sekarang suruh pengawalmu untuk mengambil belati itu jika kau ingin tau siapa pelakunya...! "


Sesuai rencana yang Artuk inginkan, 2 pengawal yang berada di dekat Sylvia merupakan mata-mata Arcadia telah bersiap menjalankan misinya.


" Pengawal ambilkan belati iti atas perintahku dan suruh para jendral kesini...! "


" Ba–baik yang mulia...!! " 2 pengawal yang merupakan mata-mata Arcadia itu langsung menuju ruang rapat tempat belati itu sedang diselidiki.


Tak berselang lama, 2 pengawal tadi bersama para jendral datang menghampiri Sylvia yang masih menodongkan pedangnya ke Artuk.


" Ini yang mulia...! " salah satu pengawal memberikan belati itu kepada Sylvia.


Artuk tersenyum lebar dan dalam hatinya dia sangat senang karena rencananya kali ini sudah pasti berhasil.


" Sekarang coba lihat ukiran di belati itu lalu lihat lambang di kain yang kubawa...! "


Sylvia menuruti perkataan Artuk dan melihat ukiran yang ada di belati itu serta lambang yang ada di kain. Dan hasilnya ternyata ukiran serta lambang di kain itu sama, Sylvia kebingungan karena tak tau lambang kerajaan manakah yang ada di ukiran belati itu.


" Sama...!? Sebenarnya lambang apa ini dan dari mana kau mendapatkan kain yang ada lambang seperti itu, "


" Ini adalah lambang kerajaan yang sudah lama musnah dari benua ini dan aku mendapatkan kain ini sudah lama, sejak aku berumur 7 tahun sahabatku memberikan lambang ini kepadaku, "


" Jelaskan...! Lambang kerajaan manakah itu dan siapa sahabatmu...! " sahut salah satu jendral yang di belakang Sylvia.

__ADS_1


" Ini adalah lambang kerajaan Calradia yang pernah berdiri belasan tahun silam...! Dan jika kau tanya sahabatku, seharusnya kau sudah tau sendiri karena dia juga orang terdekatmu...! "


" Ai..rel...?? Tak mungkin...!! Airel tak mungkin melakukan hal itu...!! Lagipula dia adalah orang biasa dan saat kejadian itu dia berada di rumah karena aku juga menginap di rumahnya...!! "


" Cepat sekali kau menebaknya. Tapi sepertinya kau telah di tipu oleh sahabatku itu...! Apa kau lupa, Airel memiliki kecepatan diatas manusia biasa dan dia bisa berpindah tempat dengan mudah menggunakan kecepatanya. Selain itu, alasan mengapa ayahmu mengangkat Airel sebagai jendral karena Airel merupakan pangeran Calradia...! "


" Tidak mungkin..! Tidak mungkin...! "


" Bukankah kau tau sendiri ayahmu sedang memburu para pengabdi kerajaan Calradia yang tersisa? Salah satunya adalah jendral Gabriel...! Dan disitu juga ada Airel bukan...? Ayahmu sudah mencurigai Airel sejak lama maka dari itu dia menyerang pasukan Airel dan Gabriel tetapi serangan itu seolah-olah ia buat seperti serangan musuh karena saat itu kerajaan kalian sedang berperang melawan Swadia...! "


" Darimana kau tau...!? " jendral Kevin menyahut pembicaraan Artuk.


" Aku mengetahui setelah meletusnya perang di lembah aslan. Aliansi Calradia baru dengan Khanate menuduh kerajaankulah yang telah menghabisi tuan mereka tetapi kami menyadari bahwa yang menghabisi Airel adalah Veagirs karena sebelumnya para penebang kayu dari Shariz juga menemukan perisai yang di cat putih tetapi saat di beri minyak, cat itu luntur dan muncul lambang kerajaan Veagirs. "


" Aku tetap tak mempercayaimu...! Tak mungkin Airel melakukan hal sekejam itu...! "


Sylvia terus bersikeras bahwa Airel bukanlah pangeran Calradia dan bukan pelaku pembunuhan ayahnya. Tetapi, tiba-tiba salah satu dari 2 pengawal yang merupakan mata-mata Arcadia langsung mengatakan sebuah kebohongan yang telah di rencanakan sebelumnya.


" Yang di katakan kaisar Artuk benar yang mulia...! Saat kami hendak menghadapi pelaku pembunuh raja, kami melihat gerakan dan serangan dari pelaku itu mirip dengan jendral Airel...! Selain itu, kami juga melihat aura kegelapan di pedang pelaku itu...! Tetapi kami tak bisa melihat wajahnya karena ia memakai jubah dan memakai topeng...! " sahut pengawal itu.


" Apakah benar semua ini...!? Aku..., Aku saat dirumahnya tak sengaja menguping pembicaraan dan aku tak sengaja mendengar Airel mengatakan bahwa dirinya pangeran Calradia, "


" Kau hanya menolak fakta yang telah jelas didepan matamu...! Jika kau ingin membuktikanya, ajaklah Airel untuk bertemu denganmu di tempat yang sepi lalu mintalah belati yang selalu Airel bawa. Ambilah sarung belatinya maka kau akan menemukan kain yang sama seperti yang aku pegang, "


" Kalau kau sudah meyakinkan dirimu, datanglah kepadaku. Kita memiliki satu tujuan...! Yaitu membunuh Airel dan menghancurkan sisa-sisa pengabdi kerajaan Calradia...! Aku tau kau juga ingin menguasai benua Calradia, bergabunglah denganku dan dengan kekuatan pedang artemis serta pedang orion kita pasti bisa menguasai benua ini..! Dan kita juga bisa memimpinya bersama-sama..! Kalau begitu sampai jumpa...! "


Artuk dengan perasaan senang pergi meninggalkan Sylvia dan kali ini Artuk tak kembali ke penginapan melainkan pergi ke sebuah bukit di dekat kota Khudan.


Sedangkan Sylvia, hatinya seperti hancur. Rasa sedih karena kehilangan ayahnya kini seperti di tambah oleh kenyataan bahwa kekasihnya merupakan seorang pangeran Calradia dan merupakan pelaku pembunuhan Ayahnya. Walaupun tak ingin percaya, tetapi semua bukti sudah ada dan mau tak mau Sylvia harus percaya.


" Yang mulia...! Dari petunjuk yang kaisar Artuk tunjukan dan beberapa bukti yang sudah kita lihat dan dengar, kami yakin memang jendral Airel lah pembunuhnya. Apalagi hubungan antara jendral Airel dan ayah yang mulia mulai memburuk setelah jendral Airel mengetahui bahwa yang mulia adalah kunci Orion, " ujar jendral Kevin.


" Tapi Kevin, bagaimana jika yang Artuk katakan tadi hanyalah kebohongan belaka untuk menghasut kita dan memfitnah jendral Airel? Bukankah kita seharusnya curiga apa alasan kaisar Artuk kesini? " ucap jendral Rich.


" Mohon maaf tuan, sebenarnya kedatangan kaisar Artuk kesini karena diundang sendiri oleh yang mulia raja Yarlek, dan kaisar Artuk sendiri sampai di kota ini pagi hari setelah saat yang mulia raja Yarlek di temukan tewas. Jadi bukankah tak masuk akal jika kita menuduh orang yang baru sampai di kota ini setelah peristiwa pembunuhannya terjadi di malam hari sebelumnya? " mata-mata Arcadia yang menyamar menjadi pengawal raja berhasil meyakinkan para jendral.


" Kau sudah dengar sendiri kan jendral Syu? " ujar jendral Kevin.


Jendral Syu menganggukkan kepalanya dan langsung mendekat ke Sylvia.


" Yang mulia, tak salah lagi bahwa jendral Airel pelakunya. Akan tetapi untuk menambah bukti kita harus mengikuti perkataan kaisar Artuk tentang meminjam belati jendral Airel. Dan jika memang perkataan kaisar Artuk benar, biarkan kami yang membunuh jendral Airel, "


Praaaang....!!


Sylvia membanting pedangnya ke tanah. Air matanya tak terbendung lagi dan kini rasa cinta dan sayangnya kepada Airel seketika berubah menjadi kebencian.


" Jika itu memang Airel...! Aku berjanji akan membunuhnya dengan tanganku sendiri...!! Tetapi kenapa...! Kenapa dia melakukan hal seperti ini..!! Padahal jika aku menjadi ratu, dia juga akan menjadi raja...!! Kenapaaa.....!!? " Sylvia sudah dibutakan amarah dan keinginan balas dendam. Rasa bencinya kepada Airel sudah tak terbendung lagi.


Setelah menenangkan diri cukup lama, setengah jam sebelum tengah malam Sylvia mengutus pengawalnya untuk pergi ke rumah Airel.


***


Took..tok..tok...


Suara pintu rumah Airel berbunyi, dan yang mendengar suara ketokan itu hanyalah Elina. Dengan cepat Elina beranjak dari ranjangnya dan langsung pergi ke pintu depan.


" Maaf malam-malam begini mengganggu...! Yang mulia ingin bertemu dengan jendral Airel malam ini juga dan tempat pertemuanya di bukit yang berada di depan kota...! "


" Baiklah akan kusampaikan ke kakak Airel...! "


Took...took..tok...


Elina mengetuk-ngetuk pintu kamar Airel dengan cukup kencang.


" Kakak...! Kakaaak...!! " teriak Elina yang masih sedikit mengantuk.


Tak lama, Airelpun membuka pintu kamarnya dan melihat Elina berada di depan kamar.


" Elina...? Ada apa malam-malam begini memanggilku...? " Airel mengusap kedua matanya.


" Tadi ada prajurit yang menyampaikan pesan kalau tuan putri ingin bertemu kakak malam ini dan pertemuanya di bukit depan kota...! "


Airel terkejut dan bertanya-tanya untuk apa tengah malam begini Sylvia mengajak bertemu dan mengapa tidak bertemu diistana.


" Malam-malam begini...? Baiklah kalau begitu aku siap-siap dulu...! " Airel pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan setelah itu ia bersiap untuk berangkat menemui Sylvia.


Sebelum berangkat, Jeremus, Ymira, dan Liya terbangun dan menghampiri Airel.


" Tuanku...! Ntah kenapa aku memiliki firasat buruk...! Lebih baik besok saja tuan bertemu dengan tuan putri, " Jeremus berlutut di hadapan Airel.


" Tidak Jeremus...! Aku harus menemui Sylvia malam ini juga, " Airel tetap bersikeras.


" Airel bukanya aneh Sylvia ingin bertemu tengah malam begini apalagi di bukit...!? " Liya menyahut dan menepuk pundak Airel.


" Iya tuan Airel...! Saya juga menyarankan untuk besok pagi saja anda menemui tuan putri...! Saya takut terjadi apa-apa dengan tuan, " Ymira ikut berlutut di hadapan Airel.


" Maaf...! Aku harus tetap menemui Sylvia malam ini...! Kalian tak perlu khawatir, mungkin Sylvia hanya ingin aku menemaninya dan menghiburnya malam ini karena besok dia sudah menjadi seorang ratu...! Kalau begitu aku pergi dulu...! " tanpa menghiraukan perkataan mereka Airel tetap pergi menuju bukit karena selain perintah dari Sylvia, Airel juga ingin memberikan sebuah hadiah yang siang tadi ia beli dengan harga yang sangat mahal.


***


Saat sampai diatas bukit, Airel melihat Sylvia sudah hadir disana menggunakan gaun putih dan dengan rambut panjang yang diikat kebelakang.


" Sylvia...? Ada apa malam-malam begini memanggilku...? " Airel mendekati Sylvia.


Sylvia langsung menghadap kearah Airel dan tersenyum kepadanya.


" Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu...! "


" Tanyakan...? Baiklah tanyakan saja, aku pasti akan menjawabnya, " Airel membalas senyum Sylvia.


Tetapi tanpa Airel sadari, senyuman yang diberikan Sylvia kepadanya kali ini adalah senyuman paslu untuk menyembunyikan rasa kecewa dan rasa sakit kepada Airel.


" Janji kau harus menjawab semua pertanyaanku dengan jujur...!? " Sylvia mengulurkan jari kelingkingnya.


" Ya...! Aku berjanji...! " Airel mengulurkan jari kelingkingnya dan mengaitkan ke kelingking Sylvia sebagai simbol janji.


" Baiklah sebelum itu, apa boleh aku pinjam belati yang di punggungmu itu...? "


Airelpun sedikit bertanya-tanya untuk apa Sylvia meminjam belati yang selalu Airel bawa.


" Untuk apa memangnya...? " tanya Airel.

__ADS_1


" Pertanyaanku tidak akan bisa kumulai jika kamu tak meminjamkan belatimu...! Tenang saja, mana mungkin aku akan menyerangmu. "


Tanpa rasa curiga sedikitpun, Airel melepaskan belati yang selalu ada di punggungnya dan memberikanya dengan Sylvia.


Sriiing....


Sylvia mengambil belati yang dipinjamkan Airel dari sarungnya dan langsung memberikan belati itu kepada Airel.


" Ini belatimu...! Pertanyaanku hanya ada di sarung belati ini. " Sylvia mengembalikan belatinya kepada Airel tetapi sarung belati tetap ia bawa. Dan Sylvia langsung memasukan 2 jarinya ke belati itu.


Sedangkan Airel, tanpa curiga sedikitpun langsung menerima belatinya kembali.


" Memangnya untuk apa sarung belatiku it— "


Airel terkejut karena ia lupa bahwa di dalam sarung belati itu ada kain peninggalan ibunya yang berlambang kerajaan Calradia. Dan kain itu telah di keluarkan oleh Sylvia dari dalam sarung belati dan langsung dibuka olehnya.


" Sa..ma...!? " ujar Sylvia saat membuka kain yang terlipat di sarung belati Airel.


" Sylvia..., I–itu..., "


" Baiklah...! Pertanyaanku cuma satu! Siapa kamu sebenarnya...! " bentak Sylvia.


" I.. Itu..., " Airel gugup dan tak sanggup menjawab pertanyaan Sylvia.


" Jawab...!! Siapa kamu sebenarnya...! " Air mata kelur membasahi pipi Sylvia.


Dengan pasrah, Airelpun akhirnya memutuskan untuk menjawabnya karena Sylvia juga sudah mengetahui kain yang berada di sarung belati miliknya.


" Baiklah...! Sebenarnya aku juga ingin memberitahumu saat aku sudah  memiliki kekuatan yang cukup akan tetapi sepertinya Artuk telah memberitahumukah...!? Jika memang Artuk telah memberitahumu, seharusnya kamu sudah tau siapa aku. "


" Apa benar kamu keturunan terakhir dari raja Calradia yang kerajaanya dulu pernah berdiri...? "


" Ya...! Aku adalah pangeran Calradia dan merupakan penerus terakhir kerajaan Calradia yang sudah musnah, "


Hati Sylvia seketika hancur mendengar jawaban Airel dan rasa kecewa serta bencinya mulai tumbuh lebih besar lagi.


" Ternyata kamu...!! Kamu yang telah membunuh ayahku...!! "


" Apa maksutmu...!? Aku saat itu berada di rumah bersamamu, "


Sylvia langsung membuang sarung belati Airel dan mengambil belati di kantongnya yang sebelumnya menancap di jasad ayahnya.


" Lalu ini belati siapa...!! Belati inilah yang menancap di tubuh ayahku dan membuat ayahku tewas! " Sylvia menunjukan belati yang berukir lambang Calradia.


Airel tak bisa memejamkan matanya saat melihat belati yang di perlihatkan Sylvia ada ukiran lambang kerajaan Calradia.


" Belati itu memang berukir lambang kerajaanku tetapi aku tak pernah mempunyai belati seperti itu...!! "


" Jangan berbohong di hadapanku...!! Jika bukan kamu, lalu siapa lagi pelakunya dan siala lagi yang mempunyai belati seperti ini selain kamu...!! "


" Sylvia aku mohon percayalah padaku...! Aku tak pernah mempunyai belati seperti itu...! Itu pasti kerjaan Artuk...! "


" Tak usah menyalahkan sahabatmu...!!! Aku kecewa padamu Airel...! Jika memang kamu menginginkan tahta ayahku, kamu bisa menunggu sampai aku naik tahta tetapi kamu malah melakukan hal yang sangat kejam...!! Seharusnya aku tak mempercayaimu dari dulu...! Jika memang bisa memutar waktu, aku ingin kembali dimana saat kamu di serang oleh pasukan ayahku...! "


" Diserang?? Apa maksutmu...!? "


" Yang menyerangmu dan jendral Gabriel adalah pasukan Veagirs yang di perimtahkan ayahku untuk membunuh kalian...! Dan sekaran aku menyesal telah mencarimu dan mengajakmu kembali ke Khudan...!! "


Sebuah kebenaran yang tak terduga. Airel tak sanggup berkata apa-apa karena dia dituduh oleh Sylvia dan sekarang dia mengetahui bahwa pasukan yang telah membunuh prajuritnya serta jendral Gabriel adalah pasukan raja Yarlek yang dulu di beritakan kabur saat mengeoung Sargoth.


" Jika kamu ingin menjadi raja mengapa tak menunggu sampai aku naik tahta...!! Mengapa kamu melakukan ini semua...!! "


" Sylvia, aku berani bersumpah aku tak membunuh ayahmu...! "


" Sudah cukup Airel...! Sudah cukup...! Aku membencimu...! Aku bersumpah akan membunuh pelaku yang telah menewaskan ayahku tetapi saat mengetahui pelakunya adalah kamu, aku tak sanggup membunuhmu...! Aku tak sanggup membunuhmu dan rasa cintaku untukmu...! "


Tanpa berfikir panjang, Airel langsung memeluk Sylvia dan ikut meneteskan air mata di pelukanya.


" Walaupun tujuanku untuk membangkitkan kembali kerajaanku, tetapi aku tak berniat sedikitpun untuk berperang melawan kerajaan Veagirs apalagi membunuh ayahmu...! Karena aku yakin bisa menyatukan Veagirs kedalam kerajaanku tanpa harus menumpahkan darah...! Dan selain itu, aku ingin kamu menjadi ratuku setelah aku berhasil mengalahkan Artuk, "


" Kamu pembohong...!! Jika bukan kamu yang membunuh ayahku, lalu siapa orang yang memiliki belati dengan ukiran seperti itu...! " Sylvia memeluk Airel dengan sangat erat.


" Selama kerajaanku masih berdiri, aku tak pernah melihat belati yang berukirkan lambang kerajaanku...! Aku mohon percayalah padaku...! Aku pastik akan membantumu menemukan pelaku pembunuhan ayahmu...! Aku berjanji akan selalu ada di sampingmu...! Aku tak peduli lagi dengan berdirinya kerajaanku, asalkan aku bisa menjadi senjatamu untuk mengalahkan Artuk, itu sudah cukup bagiku. "


" Apa..., Apa aku bisa memegang perkataanmu itu...!? "


Kata-kata Airel sedikit membuat Sylvia luluh dan mulai bimbang apakah harus percaya kepada Artuk atau Airel. Saat terus memikirkanya, sepintas Sylvia mengingat kembali kata-kata Artuk dan mengingat bukti-bukti nyata bahwa Airel adalah pelaku pembunuh ayahnya.


" Apa aku pernah mengingkari perkataanku kepadamu...? " tanya Airel.


" Tidak. "


" Kalau begitu...! Percayalah padaku sekali lagi...! Kali ini akan kulakukan untukmu sebaik mungkin...! Karena itulah aku mohon percayalah padaku...! " Airel perlahan meyakinkan Sylvia.


Tetapi, Sylvia yang telah terpengaruh kata-kata Artuk tak dapat diyakinkan lagi. Sylviapun mendekatkan bibirnya ke telinga Airel.


" Maaf...! Rasa percayaku untukmu sudah hilang Airel...! Tetapi kali ini aku tetap tak sanggup membunuhmu...! Setidaknya setelah ini aku tak akan pernah bertemu denganmu lagi dan semoga cintaku untukmu akan hancur selamanya...!! "


Criiing... Jreeb....!!!


Sylvia mengeluarkan jarum yang telah diolesi obat tidur yang ia siapkan di kantongnya dan langsung ia tancapkan ke punggung Airel.


" Selamat tinggal Airel...! " Sylvia melepaskan pelukanya.


" Argh...!! Sy–lvia, a–pa yang kamu lakuka— " Airel seketika ambruk dan perlahan kesadaranya menghilang dan secara samar-samar ia melihat Sylvia bergi meninggalkanya.


***


Setelah membuat Airel terpengaruh obatnya, Sylvia yang masih menangis meninggalkan kekasihnya itu. Hatinya sudah hancur, rasa kecewa dan benci juga sudah memikat hatinya. Tetapi di dalam hatinya masih ada rasa cinta kepada Airel dan rasa itu kali ini membuatnya semakin sakit dan menderita.


Saat menuruni bukit, tak jauh di depanya Sylvia melihat seseorang yang berdiri seperti sedang menunggunya. Dan orang itu adalah Artuk.


Sylvia yang masih meneteskan air mata berjalan menghampiri Artuk.


" Sepertinya sangat menyakitkan karena mengetahui kekasihmu adalah pembunuh ayahmu ," Artuk menghapus air mata di pipi Sylvia.


Tanpa terduga, tiba-tiba Sylvia langsung memeluk Artuk dan menangis di pelukanya.


" Artuk...!! Aku mohon kepadamu ajaklah aku untuk menguasai benua ini bahkan dunia ini...! Aku sudah benci melihat kebaikan palsu yang menyebar di dunia ini...!! "


" Sesuai keinginanmu Sylvia...! Aku akan membangun kerajaan hebat untuk kita berdua dan kita pasti bisa menghapus kebaikan palsu di seluruh dunia ini...! Aku berjanji padamu...! "

__ADS_1


Sylvia menangis sekeras-kerasnya dalam pelukan Artuk untuk melepaskan rasa sakit hatinya karena Airel.


TO BE CONTINUE...


__ADS_2