
Setelah 6 hari perjalanan, 2000 pasukan yang di pimpin Liya dan Ymira telah sampai di kota Tulga untuk mengisi perbekalan. Dan hanya sehari saja mereka istirahat di kota itu dan setelahnya mereka menempuh perjalanan menuju perbatasan dan di kawal oleh 10.000 pasukan kerajaan Khanate.
Sedangkan invasi yang di lakukan kerajaan Khanate dan kerajaan Calradia baru telah di mulai sejak 5 hari lalu.
Dan sejak di mulainya invasi, sudah sekitar 7 wilayah di kuasai oleh kerajaan Khanate di wilayah Padang pasir dekat kota besar Durquba. Sedangkan, pasukan kerajaan Calradia baru telah berhasil mengambil kota besar Priven di wilayah Swadia.
***
Satu hari penuh Liya dan para pasukan melakukan perjalanan dan akhirnya mereka keluar dari wilayah Khanate dan tinggal menuju desa Albatif yang menghabiskan waktu 1 hari dari langkah mereka saat ini.
" Nona Liya, ini sudah terlalu larut malam jika kita melanjutkan perjalanan. Bukanya lebih baik kita istirahat malam ini disini? " ucap Jeremus yang menunggangi kuda di samping Liya.
" Iya, kau benar. SELURUH PASUKAN DIRIKAN TENDA DISINI! ISI TENAGA KALIAN! KITA AKAN MELANJUTKAN PERJALANAN LAGI BESOK PAGI! " teriak Liya kepada seluruh pasukannya.
Mendengar perintah pemimpinya, seluruh pasukan mulai beristirahat dan mendirikan tenda. Sebagian pasukan lagi menyiapkan dapur darurat untuk menyajikan makan malam.
Setelah tenda-tenda berdiri dan api-api unggun di nyalakan di setiap depan tenda, para prajurit yang ikut misi ini langsung beristirahat. Ada yang langsung tertidur di dalam tenda bahkan bersandar di pepohonan, ada yang masih sibuk memasak untuk makan para prajurit dan ada yang bersantai di depan api unggun sembari bercanda tawa.
Sedangkan Liya, Jeremus, dan Ymira sedang duduk santai di depan tenda utama. Elina dan Erina sendiri juga sedang asik membantu para prajurit memasak makanan.
" Nona Liya, " Jeremus membuka pembicaraan.
Liya menengok kearah Jeremus dan membalas sapaanyya, " Iya Jeremus? Ada apa? "
" Mohon maaf sebelumnya, aku dan Ymira tadi sudah bersepakat untuk menggantikan anda menjadi pemimpin pasukan di misi ini, "
Liya terkejut dan langsung beranjak dari duduknya dan berkata, " Apa maksudmu? Apa aku tak pantas menjadi pemimpin pasukan ini? "
Jeremus tersenyum kecil sambil mengedipkan mata lalu membalas, " Bukan begitu nona, saya sangat khawatir dengan tuan Airel oleh karena ini sebenarnya tadi saya ingin menyuruh Anda untuk pulang kembali ke Candrakirana membantu tuan Airel. "
" Hmmm..., Kenapa kau bisa berfikiran begitu? " tanya Liya.
" Kami khawatir tuan Airel tak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena saat sebelum ada nona Liya, saat tuan Airel ada masalah berat dan memikirkan sesuatu, dia selalu meminta pendapat putri Sylvia. Dan sekarang yang paling dekat dengan tuan Airel adalah nona Liya karena nona itu seperti kakak tuan Airel yang selalu memberi saran dan pendapat kepada tuan Airel, " jawab Ymira.
Liya hanya tersenyum manis dan kembali duduk.
" Kenapa nona hanya tersenyum? Bukankah nona sudah paham maksud kami? " tanya Jeremus yang keheranan dengan ekspresi Liya.
" Sebelum kalian berfikir begitu, sebenarnya aku juga sudah memikirkannya dari awal. Memang benar Airel butuh orang di sampingnya untuk menasehatinya karena dia tak bisa bertindak sendirian dalam memikirkan sesuatu, akan tetapi karena itulah aku ikut di misi ini agar ia bisa belajar lebih mandiri. Karena seorang raja tak selamanya harus bergantung kepada orang lain tapi juga harus bisa berdiri dan berjalan sendiri, "
Mendengar jawaban Liya, Jeremus dan Ymira langsung membatalkan keinginan mereka.
" Sepertinya nona Liya sangat kenal dekat dengan tuan Airel, " ujar Ymira.
" Dulu kami teman masa kecil dan setiap dia di marahi ayah maupun ibunya, dia langsung pergi ke rumahku dan bercerita tentang masalahnya kepadaku dan ibuku, "
" Kalau boleh tau karena apa tuan Airel menangis? " tanya Ymira lagi.
Liya tertawa manis, lalu menjawab, " Dia merobek surat perjanjian perdagangan antara kerajaan Calradia dan kerajaan Ryukyu. "
Ymira, Jeremus dan beberapa prajurit yang menjaga tenda tertawa mendengar perkataan Liya.
" Hahahaha..., Tuan Airel memang sangat polos sekali dulu dan juga nakal sekali, " ucap Jeremus yang tertawa.
" Ya kau benar, tetapi sekarang dia menjadi pemuda yang hebat dan kuat sama seperti ayahnya walaupun jalan yang ia lalui benar-benar sangat sulit, " balas Liya.
" Kakaaaak makananya sudah siap, mari makan! " Teriak Elina dari kejauhan sambil melambaikan tangan kearah Liya dan yang lain.
" Baiklah mari makan setelah itu istirahat, " Liya berdiri dan langsung berjalan menuju dapur darurat yang di sediakan.
***
Suara ayam mulai terdengar dari kejauhan, dan kicauan-kicauan burung di pepohonan mengusik telinga para prajurit hingga membuat mereka bangun.
Saat semua prajurit telah bangun, Liya langsung memerintahkan untuk segera mengemasi tenda-tenda yang semalam di dirikan.
Setelah tenda-tenda telah di kemasi, merekapun langsung melanjutkan perjalanan menuju desa Albatif.
Di perjalanan menuju desa, tak ada satupun kendala yang mereka hadapi. Padahal jalur yang mereka lewati saat ini adalah jalur lalu lalang para prajurit Arcadia dan juga jalur perdagangan.
Liya pun sedikit tenang karena prediksinya benar bahwa para pasukan Arcadia yang tersisa sudah terfokus pada invasi kerajaan Calradia baru di barat dan invasi kerajaan Khanate di bagian selatan wilayah Arcadia.
Selain itu, juga tidak di temukan satu pun penebang kayu maupun bandit yang juga biasanya berkeliaran di sekitar jalur.
***
Tak terasa mereka akhirnya sampai di dekat desa Albatif. Akan tetapi mereka sampai di desa itu saat matahari akan tenggelam.
" Apakah desa itu se sepi ini? " tanya Liya yang menunjuk kearah desa Albatif.
" Tidak nona, biasanya di saat matahari tenggelam begini desa itu selalu ramai, " jawab Jeremus.
" Baiklah. Ymira, Jeremus pimpin pasukan sebentar, aku akan memeriksanya dari atas pohon, " Liya turun dari kudanya sambil mengamati pepohonan diatasnya.
" Nona itu terlalu berbahaya! Biarkan beberapa prajurit yang memeriksanya, " cegah Jeremus dengan raut wajah cemas.
" Tenang saja, aku melihat-lihat dari atas pohon jadi kemungkinan di ketahui sangat kecil. Aku berangkat dulu, "
Liya langsung melompat keatas pohon dan berdiri dengan sempurna di ranting-ranting pohon. Hal ini wajar di karenakan ras elf memang memiliki kemampuan khusus untuk meringankan tubuhnya.
Liya dengan perlahan melompat dari pohon ke pohon hingga mendekat ke desa Albatif. Ketika ia sudah berada di sebuah pohon besar yang tepat berada di tengah perumahan di desa itu, Liya tak melihat satupun penduduk desa. Yang ia lihat hanyalah 200 prajurit Arcadia yang sedang mengobrak-abrik isi rumah penduduk dan sebagian lagi berjaga di depan-delan rumah.
Selain itu Liya juga melihat genangan darah di dekat salah satu prajurit yang sedang duduk di rumah besar yang merupakan balai desa.
Liya terus mengamati seluruh gerak gerik para prajurit sambil membuat strategi di dalam otaknya.
***
Setelah 30 menit mengamati, Liya langsung kembali menuju pasukanya.
" Bagaimana nona? Apakah penduduk disana selamat? " tanya Jeremus.
" Aku tidak melihat satupun penduduk di desa itu, yang ku lihat hanyalah 200 prajurit yang sedang menjarah, merusak, dan berjaga-jaga di desa itu. Selain itu juga ada genangan darah di balai kotanya yang sepertinya itu darah penduduk desa. Tetapi dilihat dari banyaknya genangan mungkin cuma 1 orang saja yang di eksekusi disana, " jawab Liya.
" Apa anda memiliki strategi untuk menghabisi para prajurit Arcadia disana nona? "
" Ya, aku sebuah strategi yang pasti berhasil, "
Liya pun langsung menjelaskan strateginya kepada Jeremus dan Ymira.
__ADS_1
Strategi Liya sendiri yaitu dengan cara memecah pasukan menjadi pasukan-pasukan kecil yang berjumlah 100 orang dan berpencar ke seluruh penjuru desa. Setelah itu para pasukan akan menyergap secara bersamaan.
Setelah memahami strategi Liya, para pasukanpun di bagi dan mulai menyebar. Jeremus, Ymira, Elina dan Erina juga ikut bergabung ke pasukan yang akan menyergap dari belakang.
Sedangkan Liya akan menyerang sendirian dari atas pepohonan dengan panahnya.
Saat semua pasukan sudah di posisinya, Liya langsung menembakan 3 anak panah yang tepat menancap ke 3 orang prajurit Arcadia yang sedang membawa barang-barang dari dalam salah satu rumah penduduk. Tembakan Liya tadi juga sebagai isyarat di mulainya penyergapan.
Seluruh pasukan dari segala penjuru langsung menyerang prajurit-prajurit Arcadia tanpa ampun. Walaupun terjadi peperangan kecil, tak ada satupun pasukan di misi ini yang terbunuh dan seluruh prajurit Arcadia di desa Albatif terbunuh semua dan hanya menyisakan 1 orang untuk di introgasi.
Prajurit Arcadia itu di telanjangi dan di seret menuju ke hadapan Liya uang sedang berdiri di depan balai desa.
" Dimana para penduduk desa? " tanya Liya dengan sorotan mata dingin.
" Sa-saya tidak tau, sejak kami tiba disini para penduduk sudah tidak ada, " jawab prajurit itu dengan raut wajah ketakutan.
Liya langsung berjalan menuju genangan darah yang ia lihat tadi dan menancapkan pedang genangan itu. Lalu bertanya, " Ini genangan darah siapa? Jawab jujur! Sekali saja kau berbohong, akan ku cabik-cabik badanmu dengan pedang ini! "
" I-itu darah salah satu penduduk disini. Sa-saat kami tiba disini, hanya dia saja yang berada di desa. Dia bilang bahwa dia baru saja pulang dari kota Ahmared. Te-tetapi karena parasnya cantik, pemimpin kami dan beberapa prajurit memperkosanya hingga tak berdaya lalu mereka memenggal kepalanya, " mata prajurit itu mulai berkaca-kaca dan keringatnya membasahi tubuhnya.
Liya geram dengan jawaban prajurit Arcadia itu, iya memegang gagang pedangnya dengan erat.
" Apa tujuan kalian ke desa ini? " tanya Liya lagi.
" Ka-kami di tugaskan memberi pelajaran kepada penduduk desa ini karena pajak yang mereka bayarkan kurang dan bahkan mereka sudah 3 bulan tak membayar pajak kepada kerajaan. Ta-tapi kami hanyalah pasukan pengintai disini da-dan pasukan utama sedang dalam perjalanan menuju desa ini, " jawab prajurit itu.
Sriiing...,
Liya mencabut pedangnya dari genangan itu dan langsung menodongkan ke leher prajurit Arcadia di depannya.
" Baiklah satu pertanyaan lagi, apakah kau ikut memperkosa gadis tadi? "
" Ti-tida– "
Craaaaak...!!!
Tanpa pikir panjang, Liya langsung menebas lehernya dan berkata, " Kau pembohong! Jika kau jujur menjawabnya, pasti kau tak akan segelisah itu. "
Setelah selesai berurusan dengan prajurit itu, Liya langsung memerintahkan seluruh pasukan untuk mencari keberadaan penduduk di karenakan Liya takut jika perkataan prajurit tadi tentang pasukan utama Arcadia yang akan datang benar-benar terjadi.
***
Hampir 1 jam seluruh pasukan mencari tetapi tak satupun penduduk di temukan. Liya yang tak ingin mengecewakan Airel karena gagal membawa para penduduk memutuskan pergi sejenak untuk menenangkan diri. Saat di tengah jalanya, Liya mendengar suara orang berbicara.
Liya langsung menyuruh seluruh pasukan diam. Dan benar saja suara itu bukan dari para prajurit. Liya terus mencari sumber suara itu dan suara itu makin terdengar saat ia berjalan keluar beberapa meter. Liya menempelkan telinganya di tanah dan terdengar jelas suara-suara orang yang ketakutan dan gelisah.
Liya pun langsung memerintahkan seluruh prajurit mencari pintu bawah tanah di desa Albatif. Dan akhirnya di temukan. Pintu itu berada di samping pohon yang berada 50 meter di luar desa. Pintu itu di tutupi oleh semak-semak jadi tak ada satupun yang tau.
Saat pintu itu di buka, benar saja sebanyak 120 orang penduduk Albatif bersembunyi disana. Liya langsung mengatakan bahwa ia datang untuk membawa para penduduk ke tempat Airel. Para penduduk pun akhirnya keluar dan tanpa adanya tegur sapa maupun cerita, Liya langsung mengajak seluruh penduduk kelur desa demi keselamatan.
Sebelum meninggalkan desa, seorang prajurit Liya menemukan sebuah kelakuan biadab para pasukan Arcadia. Prajurit itu menemukan sebuah gentong besi besar yang didalamnya terdapat potongan tubuh manusia. Dan Liya langsung menyimpulkan bahwa tubuh itu adalah milik gadis yang di perkosa dan terkuak fakta bahwa para prajurit juga memakan tubuh gadis itu.
Keluarga gadis itupun hanya bisa menangis dan akhirnya mengubur potongan tubuh itu di dekat desa. Setelah itu mereka pergi meninggalkan desa.
***
Di perjalanan para penduduk dan prajurit saling bertukar cerita, tak terkecuali Jeremus yang bertemu pamanya.
" Apa nona pasangannya tuan Airel? " Artimener yang merupakan kepala desa datang mendekati Liya yang berjalan sambil menuntun kudanya.
Liya uang terkejut langsung menengok dan menjawab, " Bu-bukan kakek, aku bukanlah pasangannya. "
Artimener tersenyum lalu membalas, " Nona memang tidak berubah dari dulu ternyata. "
" Eh? Apa kakek mengenalku, ? Liya terkejut.
" Ya, tentu saja aku mengenalmu. Gadis kecil yang selalu mengajari tuan Airel dan mengajaknya bermain, " jawab Artimener.
" Bagaimana kakek tau? "
" Aku dulu adalah pengawal raja Calradia, jadi aku tau. Kupikir nona sekarang sudah menikah dengan tuan Airel, karena kudengar tuan Airel di fitnah hingga membuat hubunganya dengan nona Sylvia berakhir, " ucap Artimener.
Liya menundukan wajahnya dan raut wajahnya menjadi sedih. Ia berkata, " A-aku memang menyukainya tetapi di hatinya dan pikirannya masih di miliki orang lain. "
" Jangan putus asa nona, nona hanya perlu menunjukan cinta nona kepada tuan Airel, " Artimener tersenyum.
***
Saat asik saling bertukar cerita antara Liya dan Artimener, tiba-tiba sebuah tombak terlempar dari arah depan mereka dan menancap ke tanah tepat di depan Liya berdiri.
Seketika suasana menjadi hening, dan Liya langsung memerintahkan seluruh pasukan membuat formasi melingkar untuk melindungi penduduk.
" Kakek pergilah ke belakangku dan bergabunglah dengan penduduk yang lain, " ujar Liya sambil menodongkan pedang kedepan.
" Tidak! Walaupun aku sudah tua begini, aku adalah mantan prajurit Calradia. Aku akan membantu kalian, " Artimener mengeluarkan pedang kecil yang ia bawa di pinggangnya.
Plok... Plok... Plok...
Dari balik kegelapan dan kesunyian hutan terdengar suara tepuk tangan dan suara tertawa kecil.
" Siapa kau!!! Jika kau ksatria cepat keluarlah! " Teriak Liya.
" Benar kata penasehat, sepertinya dengan mengobrak abrik desa itu membuat Airel keluar dari sarangnya, " suara yang tak asing terdengar jelas di telinga seluruh pasukan Liya.
Seluruh pasukan Liya gemetar, bahkan sampai ada yang menjatuhkan pedangnya saking takut dengan suara orang itu. Ya, suara itu adalah suara Artuk yang berjalan perlahan mendekati mereka.
" Hmmm sepertinya Airel tak ada disini ya? " Artuk akhirnya menampakan dirinya dan seketika semangat bertarung seluruh pasukan Liya turun.
Liya sendiri terkejut dan tanganya gemetar.
" Ba-bagaimana mungkin kau bisa tiba disini. Bukankah kau seharusnya di Azteroth, " ucap Liya yang matanya terus menyoroti Artuk.
" Hahahaha..., Aku tak pernah pergi kesana, yang mata-mata kalian lihat hanyalah salah satu prajurit yang menyerupaiku dan tujuanya untuk mengelabuhi kalian semua. Dari awal aku sudah memprediksi bahwa dengan berkurangnya pasukanku pasti membuat kalian semua berani menginjak wilayahku. Dan sekarang kalian masuk perangkap ku, " balas Artuk.
" Jika kau ingin bertarung, biarkan para penduduk ini pergi karena mereka tidak membawa senjata, " Liya mengarahkan pedangnya kearah Artuk.
Artuk melirik Artimener yang menodongkan pedang kecilnya lalu tersenyum kecil dan berkata, " Jika tak bersenjata lalu kepala desa ini membawa apa? "
" Tetapi penduduk yang lain tidak membawa senjata! Jadi biarkan mereka pergi! " bentak Liya.
__ADS_1
" Kepala desa mewakili penduduknya, jadi jika kepala desa yang mengangkat senjata berarti bisa di anggap seluruh penduduknya membawa senjata, " Artuk mengangkat tanganya, dan terlihat perlahan demi perlahan pasukan Arcadia dengan jumlah banyak mengepung Liya dan pasukanya dari segala penjuru.
" Dasar licik! " ucap Liya.
" Strategi itu licik, siapa yang licik maka dialah pemenangnya. Lagi pula strategi yang ku pakai adalah strategi sama yang kau pakai untuk membunuh pasukanku di desa itu. Jadi anggap saja ini karma untukmu " Artuk langsung menurunkan tanganya sebagai isyarat mulai menyerang.
Seluruh pasukan Arcadia langsung maju menyerang Liya dan pasukanya.
" Seluruh pasukanku! Jangan gentar dan majulah sebagai ksatria! Lindungi para penduduk yang tak berdosa dan tak bersenjata di belakang kita! Seraaang! " teriakan Liya sedikit menaikan semangat para pasukanya.
Liya dan pasukanya pun langsung menyerang pasukan Arcadia yang jumlahnya 3 kali lipat dari pasukanya.
Liya dan pasukanya harus menyerang sambil bertahan agar penduduk desa Albatif tak ada yang terluka.
Awal pertarungan, tak ada satupun pasukan Liya yang gugur bahkan mereka berhasil membunuh banyak pasukan Arcadia. Akan tetapi pasukan Arcadia terus berdatangan seolah-olah tak ada habisnya hingga membuat satu persatu pasukan Liya mulai kualahan melawan karena stamina yang mulai habis.
Di sisi lain, Artuk sedikit kesal melihat Liya dan pasukanya sangat tangguh dan berhasil membuat pasukan Artuk banyak yang tumbang.
Booom...!
Artuk menyerang menggunakan pedang Orion hingga membuat puluhan pasukan Liya langsung terbunuh dan membuat formasi pasukan mulai tak beraturan.
Liya yang melihat Artuk melakukan kelicikan, langsung berlari menuju arah Artuk. Dengan raut wajah cantiknya yang penuh amarah karena pasukanya banyak yang gugur, ia berlari dengan cepat sembari membunuh pasukan musuh yang menghadangnya.
Triiing...!
Tebasan Liya bisa dengan mudah di tahan oleh Artuk. Dan Liya langsung melompat menjauh dan bersiap untuk serangan berikutnya.
Artuk memperhatikan Liya sambil tersenyum kearahnya, " Aku baru menyadari bahwa kau ternyata dari ras elf. Kupikir ras elf sudah punah, ternyata masih ada. Dan rumor yang beredar benar, wanita-wanita elf sangat cantik. "
" Cih tutup mulut kotormu! Dark breaker!! " teriak Liya yang seketika aura berwarna hijau transparan seperti menyelubungi tubuhnya.
Artuk terkejut melihatnya karena dia pikir hanya Airel yang bisa mengeluarkan jurus seperti itu.
Tanpa pikir panjang Artuk langsung memasang kuda-kuda bertarung dan berkata, " Jurus merepotkan itu lagi, baiklah majulah! Aku tak akan tumbang dengan jurus semacam itu lagi! "
Pedang Artuk seketika mengeluarkan aura merah menyala bagaikan bara api dan pupil mata Artuk berubah berwarna merah menyala.
Liya dengan cepat maju dan langsung menyerang Artuk. Untuk pertama kalinya Liya bertarung seserius ini.
Serangan yang Liya lancarkan tak sama seperti Airel hingga membuat Artuk kualahan. Jika Airel menyerang dengan membabi buta menggunakan keahlian berpedangnya, berbeda dengan Liya yang bertarung dengan cara pintar. Dia menyerang silih berganti dari segala arah dengan memanfaatkan kecepatannya selain itu sesekali dia juga tiba-tiba melemparkan pisau-pisau kecil dengan cepat dari atas.
Artuk begitu kualahan hingga membuat tubuhnya beberapa kali terkena sayatan.
" Cih! Kau lebih pintar dalam bertarung ternyata! LINGKAR API IBLIS!! " Artuk memutar tubuhnya dan langsung keluar api besar berbentuk lingkaran yang berhembus ke segala arah hingga membuat Liya menghindar dan tak melanjutkan seranganya.
" Hahahaha..., Walaupun kau bisa melukaiku, kau tak akan bisa membunuhku semudah it– " belum habis Artuk menyombongkan diri, Liya tiba-tiba berdiri di depannya dan hendak menebaskan pedangnya ke leher Artuk.
Whuung..., Baaaak...! Braak!
Tanpa di sadari Liya, Artuk menggunakan kekuatan teleportasi pedang Orion hingga dengan cepat bisa berpindah tempat tepat di belakang Liya dan langsung menendang Liya hingga Liya terpental jauh dan membentur pohon.
" Aaaaargh!! " rintih Liya yang mencoba bangkit sambil menyentuh perutnya.
" Kau benar-benar merepotkan, " Artuk menodongkan pedangnya kearah Liya dan siap-siap menyerang.
Saat hendak menyerang Liya, tiba-tiba seluruh badan Artuk lemas dan ambruk begitu saja tetapi ia berhasil bangkit.
" Cih! Aku tak bisa lama-lama lagi disini! Prajurit serang dan habisi mereka semua!! " Teriak Artuk dan ia langsung pergi dari Medan peperangan dengan jalan yang tertatih-tatih.
" Jangan pergi uhuk..., " Saat hendak mengejar Artuk, Liya tertahan karena tiba-tiba ia merasakan tubuhnya sakit semua dan saat batuk keluar darah dari mulutnya.
Liya mulai merasakan efek jurus yang ia gunakan karena sebenarnya jurus itu membutuhkan stamina dan aura yang besar dan jika stamina tak cukup dan auranya kecil bisa menyebabkan kematian bagi penggunanya.
Kesadaran Liya perlahan menghilang akan tetapi dia melihat para pasukanya gugur satu per satu dan melihat tangisan anak-anak kecil penduduk Albatif yang di lindungi pasukanya, selain itu ia juga melihat Elina, Erina, Jeremus, Ymira, dan Artimener yang terus bertarung walaupun tenaga mereka tersisa sedikit.
Liya dengan tekad yang kuat, kembali berdiri dan kembali menyerang pasukan Arcadia.
***
40 menit berjalan di gelapnya malam dan berhacayakan obor-obor dari pasukan musuh terlihat mayat-mayat pasukan Arcadia, pasukan Liya dan para penduduk yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Liya gagal melindungi para penduduk hingga membuat seluruh penduduk tewas tak terkecuali Artimener yang tewas mengenaskan dengan 5 tusukan pedang di dadanya karena musuh berhasil menghancurkan formasinya hingga membuat seluruh pasukan Liya yang tersisa terpisah dan berpencar kemana-mana.
Dengan nafas yang mulai terengah-engah Liya dan pasukanya bertarung mati-matian melawan pasukan Arcadia yang masih banyak.
Liya, Jeremus, Ymira, Elina dan Erina yang terpencar terus berjuang. Satu persatu musuh mereka tumbangkan.
" Elinaaaaaaa...! " Suara teriakan Erina membuat Liya terkejut dan ia langsung berlari mencari Erina sambil mengibaskan pedangnya ke musuh-musuh.
" Erinaaaaa...! Elinaaaaa...! " teriak Liya yang terus mencari keberadaan mereka berdua.
Dan akhirnya Liya berhasil menemukan mereka dan melihat Elina yang terkapar karena di bahunya tertancap panah.
Liya yang melihat itu seakan putus asa, dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri jika adik angkat Airel yang sangat di sayangi harus terbunuh di medan perang ini. Liya menengok ke kanan dan ke kiri, lalu ia melihat seekor kuda yang panik berlari kearahnya.
" PUSARAN ANGIN ALAM!! " teriak Liya sambil memutar pedangnya hingga membuat musuh yang di dekatnya terhempas semua.
Setalah mengeluarkan jurusnya, Liya langsung menarik tali kuda itu yang hendak menabraknya. Lalu Liya menaikan Elina yang tak sadarkan diri ke atas kuda.
" Erina naiklah cepat! Pergilah ke perbatasan dan beritahukan semua ini! " ujar Liya.
" Lalu bagaimana dengan kalian semua!? Aku tak ingin kalian mati disini! " teriak Erina yang masih ingin membantu melawan.
" Nona Erinaaa! Pergilah!! Jika kau mati disini, anakku pasti akan menangis karena dia sangat mengidolakan mu! Begitupula anak-anak seluruh penduduk pasti akan menangis! " teriak salah satu prajurit Liya yang tersenyum kearah Erina.
" Tapi bagaimana dengan kalian!! " bentak Liya.
" Kematian adalah sahabat sejati para ksatria Erina, kami siap mati disini! Akan tetapi kau dan Elina belum waktunya dan tidak di takdirkan berakhir disini. Jika kau dan Elina berakhir disini, pasti tuan Airel akan menangis. Sekarang pergilah! " teriak Ymira sambil terus menghunuskan pedangnya ke pada musuh musuhnya.
Erina meneteskan air mata dan mau tak mau langsung naik kuda sambil menahan tubuh Elina agar tak jatuh.
" Sekarang pergilah!! " teriak Liya.
Erina langsung memacu kudanya dengan kencang melewati rombongan musuh.
" AKU BERJANJI AKAN MEMBAWA BALA BANTUAN DAN MEMBAWA KAK AIREL UNTUK MEMBANTU KALIAN! JADI BERTAHANLAH! " Teriak Erina di balik tetesan air matanya.
TO BE CONTINUE...
__ADS_1