The Last King Of CALRADIA

The Last King Of CALRADIA
#33#RENCANA PEMBUNUHAN RAJA YARLEK


__ADS_3

Gagal, gagal, dan gagal. Itulah yang ada di pikiran Artuk setelah kegagalanya untuk menguasai Khudan dan menculik kunci orion.


4 hari setelah penyerangan itu, Artuk menetap sementara di kota Praven bersama pasukanya. Banyak dari pasukannya yang di hukum cambuk bahkan di hukum pancung karena kabur saat belum di perintahkan untuk mundur.


Sedangkan diistana Praven suasananya sangat hening sekali. Tak ada 1 orangpun diistana berani berkata-kata saat melihat kaisar mereka yaitu Artuk terdiam di singgasananya dengan raut wajah marah.


Praaang...!! Braaaak..!!


Artuk membanting buah-buahan dan minuman yang disediakan diatas meja dekat singgasananya.


" Haaaaah.....!!! Apa tidak ada cara untuk mengambil kunci orion itu..!! " teriak Artuk dengan emosi yang menggebu-gebu.


Tak ada satupun orang diistana yang berani menjawab perkataan Artuk. Mereka semua tau jika salah menjawab maka nyawa merekalah taruhanya. Mereka hanya menyaksikan Artuk yang sedang marah besar karena kegagalanya.


Tak lama berselang, Penasehat Artuk yang selalu memakai topeng anjing datang menghampirinya.


" Anda tak perlu semarah itu tuanku. Masih ada cara lain dan saya pastikan cara ini bisa membuat anda memiliki kunci orion dan sekaligus menghancurkan Airel...! " Penasehat berjalan mendekati Artuk.


" Beritahu aku...! "


" Cara ini sangat mudah tuanku, tetapi yang bisa melakukan hanya tuan sendiri...! "


" Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan? "


" Anda hanya perlu membunuh raja Veagirs. Dan menuduh Airel sebagai pelaku pembunuhanya dengan begitu putri Veagirs akan membenci Airel dan pasti akan berpihak kepada anda tuan. Putri Veagirs sangat patuh dan sayang kepada ayahnya, dan ku yakin dengan terbunuhnya ayahnya dia pasti sangat mudah untuk di pengaruhi, " penasehat menyentuh pundak Artuk sambil tersenyum jahat dibalik topengnya.


" A..apa...!? Bagaimana caraku membunuh raja tua bangka itu...! Walaupun pertahanan Khudan melemah tetapi raja tua bangka itu memiliki pengawal yang kuat dan jendral-jendralnya yang juga setara denganku kemampuanya, "


" Khukhukhu....! Anda tenang saja tuanku...! 2 dari 10 pengawal raja Veagirs adalah mata-mata kita, dan aku baru saja mengirim surat untuk mereka tentang rencana ini. Selain itu, anda bisa masuk ke istana dengan mudah karena anda memiliki pedang orion..! Anda bisa memanfaatkan kekuatan teleportasi pedang itu, "


" Sejak kapan kau mengirim mata-mata kesana? "


" Sudah 1 tahun yang lalu tuan...! Tetapi saat mendengar kabar bahwa mereka berdua ditunjuk menjadi pengawal pribadi raja, membuat kita sangat beruntung sekali, "


" Baiklah...! Aku akan gunakan caramu...! Tetapi mengapa kau tak memberitahuku dari dulu...! "


" Tuan terlalu tergesa-gesa untuk menguasai Khudan, jadi saya tak punya kesempatan untuk memberitahu rencana ini...! "


" Yasudahlah...! Aku akan berangkat malam ini...! " Artuk melepas jubah kaisarnya dan melepas baju zirah emasnya.


" Setelah membunuh raja Veagirs, anda hanya perlu membuat putri Veagirs yakin bahwa Airel adalah pelaku yang membunuh ayahnya...! "

__ADS_1


" Itu sangat mudah. Kalau begitu aku akan pergi sekarang...! "


Tanpa pikir panjang, Artuk pangsung mengambil perlengkapan yang ia butuhkan dan langsung berangkat menuju Khudan dengan kudanya. Dan perjalananya menuju Khudan membutuhkan waktu 2 hari.


***


Malam ini di Khudan sudah kembali normal, hanya ada beberapa prajurit dan para pekerja yang melembur untuk memperbaiki tembok benteng yang sedikit rusak karena hantaman peluru catapult oleh pasukan Arcadia beberapa hari yang lalu. Setelah kegagalan invasi Arcadia, raja Veagirs berterimakasih banyak kepada raja Calradia baru dan memgajaknya untuk berpesta untuk merayakan kemenangan ini. Tetapi, raja Calradia baru menolak dan memilih menarik kembali pasukanya kembali menuju Sargoth tetapi dia memerintahkan Liya untuk tetap tinggal bersama Airel.


Di rumah Airel sendiri, aktivitas juga sudah berjalan seperti biadanya. Airel dan yang lainya mulai bercanda-canda dan juga bersenang-senang seperti biasanya. Tetapi, jauh di dalam pikiran Airel dia memikirkan kata-kata Artuk sebelum ia kabur dari pertarungan.


Karena tak ingin terus memikirkanya, Airel berencana untuk mendiskusikan masalah yang ia pikirkan dengan Jeremus dan Liya.


" Airel? Apa yang sedang kamu pikirkan? " Sylvia menghampiri Airel yang tiba-tiba melamun sambil membawa secangkir teh hangat.


" Ah? Bukan apa-apa. " Airel terkejut dan menoleh kearah Sylvia.


" Tapi kenapa kamu melamun begitu...? Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. " Sylvia penasaran karena Airel seperti menyembunyikan sesuatu.


" Aku hanya kelelahan saja...! Kalau begitu aku tidur dulu ya...! " Airel beranjak dari tempat duduknya dan tersenyum.


" Baiklah kalau begitu...! Ini teh hangat bawa ke kamar kamu...! Malam ini cuaca Khudan samgat dingin jadi kamu pasti butuh minuman hangat..! Sylvia menyerahkan teh hangat kepada Airel.


Airel tersenyum kecil dan menerima pemberian Sylvia.


Airel langsung pergi menuju kekamarnya dan kebetulan sekali sebelum ia maduk ke kamar, dia bertemu dengan Jeremus yang baru saja selesai mengobati para prajurit yang terluka di rumah sakit diistana.


" Jeremus...! Nanti tengah malam segera ke ruang rapat dan ajak Liya...! " Airel menepuk pundak Jeremus.


" Baik tuanku...! "


Tanpa menengok kearah Airel, Jeremus langsung berjalan menuju kamarnya sedangkan Airel juga masuk kamar untuk istirahat.


Tepat di tengah malam dimana para penghuni rumah tertidur, Jeremus dan Liya terbamgun dan pergi ke ruang rapat. Di ruang rapat sendiri Airel sudah menunggu mereka berdua. Setelah Jeremus dan Liya samlai, Airel langsung mengatakan apa yang ada di pikiranya dan ingin meminta saran serta rencana selanjutnya untuk keberhasilan membangun kembali Calradia.


***


Sedangkan di kamar lain, Sylvia terbangun karena ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah selesai ke kamar mandi, Sylvia melihat pintu kamar Airel terbuka selain itu saat dia terbangun, Liya sudah tidak ada di tempat tidur juga.


Sylvia pun penasaran dan mulai berfikiran macam-macam bahkan berfikir Airel selingkuh dengan Liya. Dengan rasa penasaran itu, Sylvia mencoba mencari keberadaan Airel dan Liya hingga setelah beberapa menit mencari Sylvia mendengar suara Airel yang sedang berbicara tetapi suaranya samar-samar. Sylvia mencoba mendekat dan dia melihat sebuah ruangan dengan pintu besar yang tertutup rapat dan suara Airel terdengar jelas dari dalam ruangan itu.


" Airel...? Apa yang sedang dia lakukan di dalam...? " ujar Sylvia dalam hati.

__ADS_1


Saat mencoba untuk mengetuk pintu ruangan itu, Sylvia tak sengaja mendengar perkataan Airel yang sedang membahas tentang Artuk dan diapun akhirnya mendekatkan telinganya ke pintu untuk menguping pembicaraan Airel.


***


" Sepertinya jalan kita semakin sulit tuanku...! " Jeremus menggelengkan kepalanya.


" Hhhhh...! Aku juga berfikiran sama sepertimu Jeremus...! Andai saja kita menemukan pedang orion itu lebih dulu mungkin kejadiannya tidak akan begini...! " Airel menghela nafas panjang untuk sedikit menenangkan pikiranya.


" Tetapi bukankah masih ada kesempatan...? Pedang orion belum sempurna, dan jumlah pasukan kita di wilayah Calradia baru sebanyak 2 juta pasukan! Belum lagi dari wilayah Khanate berkumlah 1.3juta pasukan..! Jika memang harus berperang kita masih memiliki kesempatan untuk menang...! " Liya berdiri dari duduknya dan menyahut.


" Memang benar...! Tapi bagaimana dengan Veagirs...? Kerajaan ini walaupun sekarang sedang lemah, tetapi kerajaan ini menjadi kunci utama dari kegagalan atau keberhasilan kita...! " sahut Airel.


" Maksud tuan kunci orion...? "


" Ya Jeremus...! Aku takut Sylvia tahu siapa aku sebenarnya dan akhirnya dia malah memilih bergabung dengan Artuk...! "


" Selama tuan menjaga putri Veagirs, aku yakin Artuk tak akan berani mendekati tuan...! "


" Artuk bisa teleportas kemanapun sekarang...! Aku juga tak bisa terus di samping Sylvia karena aku punya tugas lain..! Selain itu, kata-kata Artuk saat peperangan itu aku yakinbukan hanya gertakan saja...! Dia orang yang ambisius terhadap mimpinya dan aku yakin dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang membuat situasi kita lebih memburuk...! "


" Lalu apa yang harus kita lakukan...? "


" Liya, aku ingin kamu terus mengawasi Sylvia dan menjaga dia semampumu...! "


" Baiklah...! Kalau itu kemauanmu akan kuturuti...! "


" Aku hanya tak ingin dia tau kalau aku adalah pangeran Calradia sebenarnya dan kerajaan milik ayahnya ini merupakan kerajaanku...! Belum saatnya dia mengetahui...! "


Braaak...!!


Dari luar ruangan tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dan orang berlari.


" Apa itu...! Kita akhiri saja diskusi kita malam ini...! Sepertinya ada mata-mata yang ingin menguping pembicaraan kita..! Liya segera kembali ke kamar dan Jeremus coba kau cek ruang tamu...! "


Airel dan yang lain terkejut mendengar suara benda jatuh yang ternyata sebuah vas bunga yang sebelumnya berada diatas meja yang dekat dengan pintu ruang rapat terjstuh dan pecah. Setelah memgecek seluruh area rumah Airel maupun Jeremus tak melihat adanya tanda-tanda seorang mata-mata selain itu Liya memberitahukan bahwa Sylvia juga masih berada dikamarnya dan sedang tertidur lelap.


***


Tak sengaja menguping hingga menjatuhkan vas bunga, Sylvia sebelumnya berlari ke kamarnya dan mencoba memejamkan matanya. Tetapi di lubuk hatinya dia benar-benar terkejut saat mendengar bahwa Airel adalah pangeran Calradia sebenarnya dan seorang ksatria yang berhak memiliki tanah Calradia. Selain itu ayahnya yaitu raja Yarlek juga sedang memburu pangeran Calradia beserta pengikutnya.


Walaupun dia mendengar dari perkataan Airel, tetapi Sylvia tetap memaksa hati dan pikiranya untuk tidak memercayainya dan menganggap yang ia dengar hanyalah khayalan belaka. Tetapi mau dipaksa beberapa kali, yang ia dengar memanglah nyata dan bukanlah khayalan. Dan yang harus Sylvia lakukan hanyalah memastikan sendiri kepada Airel.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...


__ADS_2