
Suasana istana Khudan sangat kacau setelah mendengar kabar bahwa putri Veagirs di culik. Raja Yarlek memerintahkan para pasukan elitnya untuk segera mencari putrinya itu.
Di istana sendiri para jendral-jendral telah berkumpul dan mengenakan baju zirah mereka. Selama 2 jam tidak ada perintah dari raja Yarlek kepada para jendral, bahkan raja Yarlek hanya terdiam dan merenung sembari menunggu hasil dari pasukan elitnya yang sedang mencari putri.
" Yang mulia perintah anda!? " jendral Kevin berlutut di depan raja Yarlek karena sudah tak tahan jika terus menunggu tanpa kepastian.
" Kita tunggu sampai pasukan pencari melapor! " raja Yarlek beranjak dari singgasananya.
" Tetapi yang mulia jarak pasukan pencari dan tragedi penculikan tuan putri lumayan jauh! Saya takut mereka kehilangan jejak para penculik..! Bukankah lebih baik yang mulia memerintahkan kami untuk mencari ke penjuru kekuasaan Veagirs..? " jendral Kevin mendesak raja Yarlek untuk segera membuat keputusan.
" Yang kuinginkan juga begitu tapi ... " Belum selesai raja Yarlek berbicara, tiba-tiba seorang prajurit berlari kearah raja.
" Mohon maaf menggangu yang mulia..! Kami ada berita buruk yang harus disampaikan sekarang..! " prajurit itu berlutut di hadapan raja.
" Katakan..!! " raja Yarlek kembali duduk di singgasananya dan matanya tertuju pada prajurit di hadapanya.
" Pa... Pasukan kekaisaran Arcadia telah memasukin perbatasan bagian barat dan menghancurkan desa Andalas yang berada di perbatasan..! "
Mendengar perkataan itu, raja Yarlek dan para jendral terkejut karena rak terbesit dalam pikiran mereka bahwa kerajaan Arcadia telah memasuki wilayah Veagirs.
" Apa..! Lalu kemana mereka akan menyerang..!? " tanya raja.
" Menurut informasi yang kami dapat, pasukan Arcadia menuju ke kota Khudan yang mulia..!! " jawab prajurit tadi dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
" Lalu berapa jumlah mereka..? " Jendral Arnold berjalan mendekati prajurit itu.
" Tu.. Tujuh ratus ribu tuanku..! "
Sekali lagi seisi istana terkejut karena jumlah pasukan Arcadia yang sedang menuju Khudan berjumlah 700.000 sedangkan di Khudan pasukan yang tersisa hanya 38.000 dan pasukan Veagirs yang lain sedang bertugas di daerah-daerah perbatasan untuk menghentikan pemberontakan.
" Ba.. Bagaimana kita akan melawanya..? Apakah kita harus menyerah yang mulia..? "sahut penasehat kerajaan sambil mengelus dadanya.
" Tidak..!! Aku tak akan menyerah kepada orang licik seperti Artuk..! " tegas raja Yarlek.
" Lalu bagaimana cara kita melawan pasukan sebanyak itu yang mulia..? " sahut jendral Kevin.
" Tidak ada jalan lain..! Kita terpaksa meminta bantuan kerajaan Calradia..! Mereka pasti mau membantu kita..! " raja kembali berdiri dan membelakangi para jendral.
" Jumlah mereka bukan 700.000 pasukan tapi lebih banyak lagi...!! " Teriak seseorang dari balik pintu istana.
Seisi istana terkejut dengan teriakan itu dan mata mereka tertuju pada pintu istana. Saat pintu di buka, ternyata Airel dengan luka di lengannya sambil menggendong tuan putri sedang berdiri sambil menatap tajam kearah raja.
" Airel...? Sylvia..? " Kejut raja Yarlek.
" Jumlah mereka antara 900 ribu sampai 1 juta orang yang mulia..! " Airel yang masih menggendong Sylvia berjalan perlahan mendekati raja.
" Kenapa kau bisa tau..? " tanya penasehat.
" Pasukan yang dibawa Artuk adalah pasukan bekas peperangan di lembah Aslan..! Dan sudah pasti dia membawa pasukan yang saya perkirakan, selain itu tujuan utama Artuk bukan kerajaan ini tetapi Calradia..! Karena itu dia pasti membawa jumlah pasukan yang sangat besar..! Kerajaan ini hanya untuk batu loncatannya saja untuk menaklukan Calradia baru..! Selain itu dia juga menculik putri anda sebagai sumber kekuatanya untuk menaklukan Calradia. " tegas Airel.
" Yang Airel katakan benar ayah..! " sahut Sylvia yang turun dari gendongan Airel.
" Putriku..? Syukurlah kau tidak apa-apa..! " raja Yarlek berlari dan langsung memeluk putrinya.
" Lalu jika kerajaan ini hanya batu loncatanya, mengapa dia sampai menculik putriku..!? " sambung raja.
__ADS_1
" Karena putri anda adalah kunci orion..! " Airel dengan cepat menjawab pertanyaan raja.
" Apa..! Bagaimana kau tau soal itu..! Sudah kubilang jangan ikut campur..!! " raja Yarlek terkejut karena Airel tau tentang kunci orion.
" Saya tak mencari tau yang mulia..! Saya tau sendiri..! Saat saya menyelamatkan Sylvia, saya di serang oleh suatu kekuatan yang luar biasa..! Dan saat saya mencoba melihatnya ternyata kekuatan itu berasal dari pedang milik Artuk..! "
" Pedang apa maksutmu..? " sahut jendral Arnold.
" Pedang orion..! Pedang itu sudah berada di tangan Artuk..! " Airel menengok kearah jendral Arnold.
" Apa...!!! " raja terkejut dan syok saat mendengar pedang orion telah di dapatkan.
" Jalan satu-satunya untuk menghadapi pedang itu adalah menyegel pedang itu dengan pedang Artemis dan kunci orion..! " Airel menyentuh pundah Sylvia.
" Sialan..! Apa boleh buat...! Segera kirimkan surat permintaan bantuan kepada Calradia dan segera umumkan siaga perang ke seluruh penjuru kota...!! Dan segera kirim surat kepada para lord dan duke untuk segera ke Khudan bersama pasukan mereka..! " perintah raja Yarlek kepada penasehat dan para jendralnya.
Dengan segera, penasehat dan para pembantunya langsung menuju ruangan kerja untuk menulis surat yang di perintahkan. Sedangkan para jendral langsung menuju post mereka untuk menyiapkan pasukan dan memberi peringatan siaga perang.
Di istana tinggal tersisa raja Yarlek, Sylvia, dan Airel serta para prajurit penjaga.
" Airel aku memberimu tugas penuh untuk menjaga putriku..! Aku ingin kau berada diistana mulai sekarang..! " ujar raja.
" Maaf yang mulia..! Saya mencurigai diistana ada mata-mata dari Arcadia...! Jika saya menjaga Sylvia diistana, saya tidak bisa menjaganya dengan penuh..! Jika yang mulia izinkan biarkan saya membawa Sylvia ke rumah saya..! Disana banyak prajurit-prajurit khusus yang saya latih sendiri dan saya bisa melindungi Sylvia dengan sangat ketat..! " Airel berlutut.
" Baiklah..! Sepertinya kau benar..! Kalau begitu segeralah bawa putriku ke rumahmu..! Untuk perlengkapan putriku, nanti akan dibawakan oleh prajuritku..! "
" Baik yang mulia..! "
Airel langsung membawa Sylvia menuju rumahnya. Sesampainya di depan rumah, seluruh penghuni runah terkejut karena kedatangan tuan putri dan Airel yang terluka di lenganya.
" Anda tidak apa-apa tuanku..!? Segera panggil tuan Jeremus...!! " teriak pengawal itu kepada rekanya.
Dan tak selang begitu lama, Jeremus bersama Ymira ksluar dari rumah dan menghampiri Airel.
" Anda tak apa-apa tuanku..!? Saya sangat khawatir karena malam-malam begini anda belum tuan..! Mari tuan masuk..! Saya akan onati luka tuan..! Dan Ymira tolong ajak tuan putri masuk..! "
Airel berjalan masuk kerumah dan tak bisa berkata lagi karena menahan rasa panas luar biasa dari bekas lukanya. Sesampainya di dalam rumah, Jeremus langsung membaringkan Airel di kursi tamu dan langsung mengobati lukanya.
" Apa yang terjadi tuanku..? " tanya Jeremus sambil membersihkan luka di lengan Airel.
" Argh..! Aku tak sengaja melihat Sylvia dan aku langsung menyelamatkanya..! Tetapi di perbatasan aku bertemu dengan Artuk dan mendapatkan luka ini..! " Airel menahan rasa sakit.
" Apa maksut anda tuanku..? Luka ini bukan seperti luka bakar biasa..! Memangnya kekuatan apa yang bisa membuat luka seperti ini..? " tanya Jeremus kembali.
" Pedang orion..! " sahut Sylvia yang berjalan menghampiri Airel.
" Apa...! Apa yang dikatakan tuan putri itu benar tuanku..? "
" Ya..! Artuk telah mendapatkan pedang orion..! Kekuatan pedang itu benar-benar mengerikan..! Kekuatan kegelapanku bahkan tak bisa menyembuhkan lenganku yang terkena kekuatan pedang itu..! Dan sekarang Artuk bersama pasukanya segera datang kesini untuk menghancurkan kota ini..! "
" Sepertinya semakin sulit saja..! " Jeremus tersenyum kecut.
" Hmmh..! Tak apa..! Aku yakin bisa mewujudkanya..! Pedang orion bukanlah senjata yang bisa membunuh tujuanku..! " Airel membalas senyuman Jeremus.
Sylvia yang hanya diam memperhatikan Airel yang sedang diobati kebingungan dengan apa yang diobrolkan oleh Airel dan Jeremus.
__ADS_1
" Oh ya Jeremus, bisa kau tinggalkan aku dan Sylvia disini..? "
" Tapi tuanku luka anda belum sepenuhnya saya bersihkan..! "
" Tak apa..! Biar Sylvia saja yang membersihkanya. "
" Baiklah kalau begitu saya kebelakang dulu..! " Jeremus berjalan menuju belakang.
" Dimana Elina dan Erina..? " tanya Airel.
" Mereka sudah tidur tuanku..! " sahut Jeremus dari kejauhan.
Sylvia langsung duduk dan memangku kepala Airel di pahanya.
" Kamu tak apa-apa..? " tanya Airel.
" Seharusnya aku yang tanya..! " Sylvia mengelus rambut Airel.
" Hmh... Apa yang kamu khawatirkan...? " tanya Airel karena melihat raut wajah Sylvia yang khawatir terhadap suatu hal.
" Eh...? Tidak..! Bukan apa-apa..! "
" Tenang saja..! Aku akan melindungimu apapun yang terjadi..! " Airel mengelus pipi Sylvia.
" Aku hanya khawatir terhadap penduduk kota ini... Jika kerajaan Calradia baru menolak membantu kita, aku tak tau lagi apa yang akan terjadi kepada penduduk di kota ini. "
" Calradia pasti membantu...! Tak ada yang perlu kamu risaukan dan khawatirkan..! " jawab Airel.
" Kenapa kamu seyakin itu..? "
" Hmh... Belum saatnya aku memberitahumu Sylvia..! Aku akan memberitahumu jika sudah saatnya nanti..! " Airel tersenyum sambil memejamkan matanya.
" Kapan itu terjadi..? "
" Jika tujuanku sudah tercapai..! Aku pasti akan memberitahumu semuanya..! "
" Tujuan..?? Aku masih bingung dan tak mengerti apa sebenarnya tujuanmu..? Apa hubunganya dengan pedang orion dan Artuk..? "
" Artuk adalah tembok yang membatasi antara aku dan tujuanku dan sekarang tembok dilapisi baja yang bernama pedang orion. "
" Apa yang akan kamu lakukan untuk menerobos tembok itu..? "
" Bukan menerobosnya Sylvia, tetapi aku akan menghancurkan tembok itu...! Dengan kata lain, aku harus membunuh Artuk..! Dengan membunuhnya aku bisa meraih tujuanku dan benua ini akan kembali damai serta tak ada peperangan lagi didalamnya...! "
" Aku tak mengerti apa tujuanmu tetapi mendengar kata-katamu yang mengatakan tak ada peperangan lagi, itu membuatku senang dan menunggu kamu mewujudkanya..! " Sylvia tersenyum manis.
" Aku pasti mewujudkanya..! " Airel membalas senyuman Sylvia itu.
" Sylvia dimana cincin yang kuberikan..? Seharusnya kamu dilindungi kekuatan batu di cincin itu..? "
" Saat aku tidur, aku selalu melepaskan cincin itu. Dan saat penculik itu datang, aku tak sempat memakainya dan salah satu penculik itu mengambil dan membuang cincin yang kamu berikan di sungai...! Maafkan aku Airel..! Aku tak bisa menjaga hadiahmu...! " Sylvia memegangi tanganya dan merasa salah karena tak menjaga dengan baik benda pemberian kekasihnya.
" Tak apa..! Yang lebih penting kamu selamat..! Dan sekarang aku sendiri yang akan melindungimu bukan cincin itu lagi..! Maaf sepertinya aku terlalu lama meninggalkanmu..! " Airel menyentuh tangan Sylvia.
" Setidaknya kamu juga sudah berada di sampingku sekarang..! " Sylvia melepaskan genggamanya dan langsung mengelus pipi Airel sambil tersenyum manis.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...