
10 hari setelah kedatangan pasukan Calradia baru yang dipimpin oleh Liya menuju ke kota Khudan dan disusul oleh kedatangan pasukan utama Calradia yang dipimpin langsung oleh raja Namey, hari ini tepatnya 500meter didepan benteng Khudan sebanyak 1.020.000 pasukan Arcadia telah berbaris dan bersiap melakukan penyerangan ke Khudan.
Begitupun dengan pasukan Veagirs yang dibantu Calradia juga telah bersiap diatas benteng dan juga di luar benteng untuk menghadapi pasukan Arcadia. Pasukan Veagirs beserta Calradia dipimpin langsung oleh raja Namey sedangkan raja Yarlek di perintahkan untuk memimpin pasukan cadangan yang disisakan didalam benteng.
Dari jumlah pasukan memang tak berimbang, akan tetapi dari segi fisik dan kebugaran pasukan Veagirs dan Calradia sangat unggul sekali karena banyak pasukan Arcadia yang kelelahan dan bahkan ada yang pingsan sebelum perang.
Di barisan paling depan yang berada di luar benteng raja Namey di temani oleh 3 jendralnya beserta para jendral dari kerajaan Veagirs. Selain itu, pasukan ksatria wanita juga disiapkan di barisan belakang dipimpin oleh Ymira, di barisan ksatria wanita itu juga Elina dan Erina telah siap untuk berperang.
Sedangkan untuk Airel, tugasnya adalah melindungi Sylvia tetapi kali ini Airel ditemani oleh Liya dan mereka bertiga bersiap di menara paling tinggi yang ada di benteng Khudan.
" Kamu takut...? " Airel melirik kearah Sylvia yang gemetaran saat memegang pedangnya.
Sylvia hanya diam dan menganggukan kepala sebagai tanda bahwa dia benar-benar takut.
" Apa yang membuatmu takut..? " tanya Airel.
" Aku takut kita semua mati disini karena kita kalah jumlah..! " Dengan gugup Sylvia menjawab pertanyaan Airel dan terus menundukan kepalanya seakan-akan kepalanya tak dapat diangkat karena tak sanggup melihat pasukan musuh yang amat banyak.
Airel dengan cepat menyentuh tangan Sylvia dengan lembut.
" Kita ksatria...! Dan yang kita cari sebagai ksatria bukanlah ketakutan maupun gelar tetapi yang kita cari adalah kemenangan dan kematian..! Tak ada yang perlu kamu takutkan..! Kamu tak akan mati dan kita semua tak akan mati..! Kita kalah jumlah tetapi lihat pasukan mereka...! Mereka sangat kelelahan bahkan untuk mengangkat pedang saja mereka harus susah payah..! " Airel menunjuk kearah pasukan musuh.
" Tenang saja...! Kita sudah jelas bisa mengalahkan mereka...! " sambung Airel.
" Ta..tapi bagaimana dengan pedang orion..? " rasa takut Sylvia masih belum hilang karena walaupun pasukan musuh kelelahan tetapi pemimpin mereka yaitu Artuk memiliki pedang orion yang memiliki kekuatan dahsyat.
" Pedang itu belum sempurna karena sang kunci orion dan pedang artemis tak bersamanya..! Dan selagi sang kunci orion menolak keberadaan sang pemakai pedang orion maka pedang itu dapat di segel dengan jurus cahaya suci...! Mereka memang datang kesini membawa gertakan yang menakutkan tetapi mereka juga bodoh karena hanya mengandalkan kekuatan tanpa berfikir dulu...! Sekarang buang rasa takutmu..! Dan segel pedang itu...! Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi..! Aku berjanji akan melindungimu..! " Airel mengelus kepala Sylvia dan memberinya semangat.
Sedangkan Liya hanya terdiam mendengar percakapan Airel dan Sylva, selain itu pandangannya terus mengarah ke barisan pasukan musuh. Liya pura-pura tak mendengarkan dan pura-pura tak peduli dengan percakapan Airel dan Sylvia. Tetapi, di lubuk hatinya dia merasakan sakit dan ingin melampiaskanya dengsn menangis sekencang kencangnya.
Selain itu, dia juga sangat iri dan terus beandai-andai mengapa bukan dirinya yang di beri semangat oleh Airel dan mengapa bukan dirinya yang di elus-elus kepalanya karena bukan hanya Sylvia yang takut tapi dirinya juga takut.
Tetapi Liya tak bisa mengungkapkan rasa itu. Dia hanya bisa menahan dan mengubur sejenak rasa sakit itu.
***
Genderang perang dan terompet perang telah dibunyikan dari kubu Arcadia sebagai tanda dimulainya penyerangan. Pasukan barisan depan Arcadia langsung menyerang pasukan Veagirs dan Calradia yang berada di depan benteng.
Benturan tak dapat terhindarkan, raja Namey memerintahkan seluruh pasukan yang diluar benteng untuk langsung menyerang sekaligus. Satu-persatu prsjurit dari kubu musuh maupun kubu Veagirs dan Calradia mulai berguguran. Raja Namey dan para jendral dengan gagah berani menerjang maju dan dapat membantai banyak musuh, begitupun dengan ksatria wanita yang dipimpin Ymira. Mereka juga menyerang dengan berani bahkan pasukan ksatria wanita yang berjumlah 300 orang belum ada yang gugur sama sekali.
Sedangkan Elina dan Erina yang juga tergabung dengan pasukan ksatria wanita juga dengan mudah membunuh musuhnya, gerakan yang cepat dan keterampilan saat menggunakan pedang membuat gadis kembar itu sangat unggul di banding prajurit musuh dan Airel yang melihat aksi mereka berdua sangat bangga dan merasa bahwa sudah saatnya untuk mengajari gadis kembar itu tentang strategi perang dan ilmu kepemimpinan.
20 menit setelah peperangan pecah, Arcadia mulai melontarkan peluru-peluru catapultnya kearah benteng selain itu mereka juga mulai menghujani pasukan Veagirs dan Calradia dengan ribuan panah api hingga banyak dari pasukan yang berada di depan benteng terbunuh.
Tak lama kemudian, tiba-tiba dari barisan pasukan Arcadia yang di belakang muncul 2 lontaran cahaya merah menyala. Cahaya itu dengan cepat melesat kearah para pasukan yang sedang bertempur dan saat menyentuh tanah cahaya itu meledak dengan dahsyat.
Ledakan itu membuat prajurit dan raja Namey terkejut. Karena semasa hidupnya belum pernah melihat ledakan sehebat ini.
Setelah ledakan itu, dari barisan belakang pasukan Arcadia muncullah Artuk dengan memegang pedang orion yang diselimuti aura merah menyala dan di samping Artuk, dia juga di temanin penasehatnya yang memakai topeng anjing.
***
" Sylvia sudah waktunya...!! Segera rapal jurusmu..!! " Airel yang telah melihat Artuk keluar dari barisan dan memegang pedang orion langsung menyuruh Sylvia untuk merapalkan jurusnya.
" Ba..bai... " jawaban Sylvia terpotong seketika saat melihat Artuk tiba-tiba berada di depanya.
Airel dan Liya sangat terkejut karena tak merasakan keberadaan Artuk dan bertanya-tanya bagaimana bisa dengan jarak sejauh itu Artuk dapat berpindah tempat kesini hanya dengan satu kedipan mata.
__ADS_1
" Apa yang ingin kau lakukan putri pedang...? " Artuk menyodorkan pedangnya kearah leher Sylvia.
" Artuk...!! Bagaikana kau bisa sampai sini..! " Airel yang terkejut langsung mengacungkan pedangnya.
" Heh..! Turunkan pedangmu atau kubunuh dia...! Aku tidak peduli dengan kekuatan kunci orion! Asalkan aku membunuhnya, tak ada lagi yang bisa menghentikanku dan pedangku ini walaupun hanya setengah kekuatanya...! " Gertak Artuk membuat Airel takut dan langsung menurunkan pedangnya.
" Cih...!! Bagaimana bisa kau kesini...!! " bentak Airel.
" Kekuatan pedangku bisa membuatku berteleportasi dengan mudah dalam jarak 1km..! "
" Teleportasi itu tidak ada..!! " Liya langsung menyahut.
" Jika tak ada, lalu apa yang kau saksikan barusan..? " balas Artuk.
Baaaaak....!!
Kelengahan Artuk di manfaatkan oleh Sylvia, dan Sylvia langsung menendang Artuk dengan sekuat tenaga hingga Artuk terpental keluar benteng.
" Liya...! Tolong kamu lindungi Sylvia..! Dan Sylvia tolong segera rapal jurusmu..! Aku akan menahan Artuk semampuku..!! " Airel yang melihat Artuk terpental, dengan cepat langsung mengambil pedangnya dan bergerak cepat menuju Artuk.
Sedangkan Liya langsung waspada untuk melindungi Sylvia yang sedang berkosentrasi merapal jurusnya.
***
" Majulah Aireeell...! " Artuk melihat Airel sedang menuju kearahnya.
Triiiiiingggggg....!!!
Benturan pedang milik Airel dan Artuk mengeluarkan dengingan yang terdengar oleh seluruh orang yang ada disana.
" ENCHANT DARK SWORD...!! "
Tanpa fikir panjang dan tak menghiraukan reaksi pedang orion itu, Airel dengan cepat langsung menyerang Artuk.
Dan terjadi lagi, perang epic 2 ksatria yang sangat ahli memainkan pedang dan dengan pertarungan yang sangat cepat dan tak dapat dilihat oleh mata karena saking cepatnya.
Bagi raja Namey dan pasukanya mungkin sudah 2 kali mereka melihat ini tetapi bagi pasukan Veagirs, raja Yarlek, para jendralnya, dan Liya ini adalah kali pertama mereka melihat pertarungan seperti ini. Dan perang seketika berhenti saat melihat pertarungan ini.
Sudah 10 menit Airel dan Artuk beradu pedang hingga pada akhirnya mereka berhenti dan saling mengacungkan pedang.
" Tak kusangka kau bisa bertahan melawan pedangku..! " ujar Artuk dengan nafas terengah-engah.
" Jika aku tak bisa bertahan, maka aku tak akan bisa membunuhmu..! " balas Airel.
" Kalau begitu, bagaimana dengan ini.
! " Artuk tiba-tiba menghilang dari pandangan Airel.
Buaaaak..!! Braaaaaak..!!
Belum ada 1 detik Artuk sudah berada di belakang Airel dan langsung menendangnya dengan keras hingga terpental jauh dan membentur benteng Khudan.
" A..apa-apaan itu..! " celetuk Airel yang menahan sakit.
Saat Airel berkedip, tiba-tiba Artuk sudah berdiri di depanya dengan tersenyum sombong.
" Kau terkejut...? " tanya Artuk.
__ADS_1
" Ba..bagaimana kau bisa..!? " Airel memegangi bahu kananya.
" Sudah kubilangkankan ini adalah teleportasi...! Salah satu kekuatan pedangku ini..! Kalau begitu mungkin ini akan jadi akhir hidupmu...! Selamat tinggal Aire..." Artuk menebaskan pedangnya kearah kepala Airel tetapi Airel dengan cepat menghilamg dari hadapanya dan langsung mengacungkan pedangnya dari belakang.
" Kecepatanmu memang luar biasa tapi kau tak akan bisa menandingi teleportasiku..! " Artuk dengan cepat menghilang dan langsung menyerang Airel dengan jurus teleportasinya.
Airel yang mencoba mengimbangi kecepatan teleportasi Artuk, mengerahkan seluruh tenaganya dan mencoba menandingi dengan kecepatanya. Tetapi, usaha Airel percuma. Walaupun dia sangat cepat, Artuk tetap dapat menyerangnya dengan mudah karena Artuk bisa berpindah ruang dan waktu. Dan yang Airel bisa hanya bertahan dari serangan Artuk sambil menunggu Sylvia mengeluarkan kekuatanya.
***
Diatas menara, Sylvia memejamkan matanya dan terus berkosentrasi untuk bisa merapalkan mantranya. Sedangkan Liya yang menjaga Sylvia hamya terdiam dan menyaksikan Airel yang sedang bertahan melawan serangan cepat dari jurus teleportadi Artuk.
" Sylvia apa masih lama..!! Jika begini Airel akan mati..! " Liya mulai tak sanggup melihat Airel yang terus menahan serangan Artuk.
" Sedikit lagi..!! Aku mohon Airel bertahanlah...!! " Sylvia terus memejamkan matanya.
1 menit berlalu dan Liya mulai tak tahan melihat Airel yang terus bertahan dari serangan Artuk.
" Sylviaaa...! " Teriak Liya yang sudah tak tahan lagi.
" Baiklah....!!! " Sylvia membuka matanya dan langsung mengankat tangan kananya.
" WAHAI DEWI ALAM YANG SUCI...!! WAHAI CAHAYA PENERANG KEBENARAN...! WAHAI PEDANG SUCI PEMUSNAH KEJAHATAN...!! AKU SANG KUNCIMU MEMANGGILMU...!! DATANGLAH WAHAI PEDANG SUCI ARTEMIS...!! SEGELAH KEKUATAN PENGIKUTMU YANG TELAH DI SALAH GUNAKAN...!!! " Teriakan Sylvia terdengar di seluruh penjuru kota Khudan dan di medan pertempuran dan bahkan membuat Artuk menghentikan seranganya kepada Airel. Dan setelah rapalan kekuatanya itu, tiba-tiba dari langit munculah butiran-butiran cahaya yang sangat terang berkumpul di tangan Sylvia.
Butiran-butiran itu secara perlahan mulai membentuk sebuah pedang yang di genggam Sylvia.
" SEKARANG SEGELLAH KEKUATAN PENGIKUTMU YANG TELAH MELENCENG DARIMU...!! MEMBARALAH CAHAYA SUCI ARTEMIS...!! " Sylvia langsung menodongkan pedangnya kearah Artuk.
Cahaya putih berbentuk sayap besar keluar dari punggung Sylvia dan mata Sylvia berubah menjadi warna kuning berkilau.
" Kaisar Artuk...! Kau tak pantas memakai pedang itu dan dengan ini akan kusegel pedang itu...! " gertak Sylvia kepada Artuk.
Mendengar gertakan itu, Artuk langsung ketakutan tetapi dia tak tau harus berbuat apa lagi karena dia telah termakan jebakan Airel yang sengaja mengulur waktu.
" Sialan kau Aireeel...!!! " Artuk menodongkan pedangnya kearah Airel.
" Kau sudah kalah...! Pedangmu akan tersegel selamanya...! " Airel yang badanya penuh luka tersenyum kecut kearah Artuk.
" Hahahahaha...! Kali ini kau menang lagi kawan...!! Tapi aku pastikan hari selanjutnya kau akan hancur...!! " Artuk tertawa terbahak-bahak dan langsung menatap tajam kearah Airel.
" WAHAI RAJA VEAGIRS...!! KALI INI KAU SELAMAT...!! KALI INI KAU MENANG KARENA DI BANTU OLEH KERAJAAN BARU INI...!! KUPERINGATKAN KEPADAMU RAJA VEAGIRS...!! BAHWA RAJA CALRADIA SESUNGGUHNYA SEKARANG SUDAH DEWASA DAN CEPAT ATAU LAMBAT KERAJAANMU AKAN DIHANCURKAN OLEHNYA...!!! KERAJAAN CALRADIA BARU HANYALAH KERAJAAN PALSU YANG AKAN MENGHIANATIMU!! " teriak Artuk dengan kencang.
Airel dan raja Namey langsung terkejut mendengar teriakan Artuk itu.
" Kauu.....!!! Kenapa kau mengingkari janjimu...! " ujar Airel.
" Aku tak membuka kedokmu kawan..! Aku hanya memperingati mereka bahwa ada penghianat yang sedamg berusaha menggulingkan tahtanya..!! Kalau begitu sampai jumpa di pertempuran berikutnya dan akan kupastikan kau kalah...! " Artuk dengan cerdik langsung kabur dari peperangan menggunakan jurus teleportasinya.
" Sylvia hentikan jurusmu...!! Kita gagal...!! Artuk sudah melarikan diri..! " teriak Airel kepada Sylvia dan seketika Sylvia membatalkan jurusnya dan langsung jauh pingsan karena kehabisan tenaga.
Pasukan Arcadia sendiri langsung lari terbirit-birit meninggalkan kota Khudan dan perang kali ini dimenangkan oleh Veagirs dan Calradia baru.
Semua prajurit bersorak bahagia tetapi tidak bagi raja Yarlek. Mendengar perkataan Artuk tadi, membuat dia semakin bertanya-tanya dan semakin yakin bahwa masih ada orang yang memiliki keterkaitan dengan kerajaan Calradia dahulu diistananya dan merencanakan untuk memutuskan hubungan dengan kerajaan Calradia baru.
Perang sudah berakhir dan kota Khudan sudah kembali damai. Sorakan kebahgiaan terdengar dimana-mana. Sedangkan Sylvia masih pingsan dan berbading di pangkuan Liya sambil membawa sebuah pedang berbilah kaca yaitu pedang Artemis.
TO BE CONTINUE...
__ADS_1