
4 hari setelah keberangkatan pasukan penyelamat, Airel terus di sibukan oleh pekerjaannya sebagai kepala pemerintahan. Kerjaan Airel bertambah banyak hingga menguras waktunya untuk istirahat. Biasanya Jeremus dan Liya yang membantu serta memberi saran kepada Airel, akan tetapi karena mereka ikut pergi terpaksa Airel mengurus sendiri.
Di tengah ia sedang menandatangani surat-surat dan berkas-berkas, tiba-tiba datang seorang prajurit penjaga pelabuhan dan ia langsung berlutut di hadapan Airel.
" Yang mulai, di pelabuhan ada 8 kapal pengangkut yang tiba-tiba berlabuh. Kami tidak tau mereka darimana, akan tetapi kapten salah satu kapal meminta kami untuk memanggil anda ke pelabuhan, " ucap prajurit.
" Pelabuhan? Jika mereka pendatang tolong periksa mereka satu persatu lalu izinkan mereka memasuki kota Candrakirana ini. Aku tak bisa menemui mereka karena sangat sibuk dengan surat-surat diplomasi dan perdagangan, " perintah Airel.
" Baik yang mulia, kami akan segera sampaikan. Kalau begitu saya izin menjalankan perintah. Mohon maaf menganggu kesibukan yang mulia, " prajurit itu langsung keluar istana dan berlari ke pelabuhan lagi.
Setelah satu jam prajurit itu pergi, tiba-tiba prajurit itu kembali ke istana dan kali ini ia bersama seorang laki-laki yang gagah di belakangnya.
" Yang mulia, mohon maaf mengganggu kembali. Para pendatang tetap menginginkan yang mulia untuk kesana, tetapi saat saya menjelaskan bahwa yang mulia sibuk. Tetapi pemimpin mereka memaksa saya untuk mengantarkan ke tempat yang mulia, " lapor prajurit itu sambil berlutut dan menundukan kepala.
Airel yang sibuk menulis surat langsung mengangkat kepalanya, dan ia terkejut bahwa laki-laki gagah yang di bawa prajuritnya adalah raja Namey.
" Paman? Apa yang paman lakukan disini?? " Airel terkejut dan langsung beranjak dari kursinya.
Raja Namey tersenyum dan membungkukkan badanya lalu berkata, " Mohon maaf menganggu kesibukan anda yang mulia. "
" Tidak paman, aku malah senang Paman datang kesini. Tetapi bagaimana dengan wilayah paman dan invasi paman ke wilayah Swadia? " tanya Airel.
" Aku sebenarnya sudah dari 3 Minggu lalu melakukan pelayaran menuju tempatmu, dan yang mengurus pemerintahan adalah penasehat ku dan untuk urusan perang, jendral-jendralku sudah bisa menanganinya dan aku hanya perlu memerhatikannya dari jauh, "
" Mari paman kita ke ruang tamu, aku yakin paman kelelahan, " Airel menghampiri raja Namey dan hendak mengajaknya ke ruang tamu.
" Tidak Airel, aku ingin kau menemui rombonganku di pelabuhan, "
" Memangnya berapa jumlah orang yang paman bawa? "
" Sekitar 800 orang dan selain itu masih ada 100 kapal dan 1000 pasukanku yang sedang menuju kesini, mungkin 17 hari lagi mereka sampai, "
" Baiklah sebenarnya aku kemarin menyuruh Liya mengirim surat agar paman mengirim 100 kapal kesini, "
" Ini hanya kebetulan saja, aku memang merencanakan mengirim 100 kapal kesini hahaha..., "
" Baiklah mari paman kita ke pelabuhan, "
Airel dan raja Namey langsung berangkat ke pelabuhan yang jaraknya 500 meter dari bukit atau sekarang kota kecil Candrakirana.
***
Sesampainya di pelabuhan, Airel terkejut bahwa yang raja Namey bawa adalah para penduduk Rivachage dan para prajurit-prajurit setia Airel yang ia tinggal di Rivachage.
Mereka semua melambai dari atas kapal kearah Airel dan terus berteriak memanggil nama Airel. Airel begitu bahagia melihat para penduduk tempat ia memimpin dulu tersenyum bahagia melihatnya.
" Kalian semua...!? Aku tak menyangka kalian semua datang kesini. Aku sangat bahagia kalian datang kesini, " Airel tersenyum dan balik melambai.
" Yang mulia apakah kita tetap harus memeriksa mereka satu persatu? " ujar salah satu prajurit.
__ADS_1
" Tak perlu,sebelum berangkat kesini aku telah memeriksa mereka semua jadi tenang saja, " sanggah raja Namey.
" Memangnya paman bertemu mereka dimana? " tanya Airel.
" Mereka datang ke kota Tihr dan kebetulan aku sedang ada disana untuk mempersiapkan kapal-kapal dan makanan, lalu mereka semua tiba-tiba memaksa masuk ke kota bahkan hampir terjadi perkelahian antara pasukanku dan mereka. Saat aku datang, aku tanyai salah satu dari mereka, dan ternyata mereka ingin pergi ke tempatmu dan saat ku tanyai darimana asal mereka, merekapun menjawab bahwa mereka penduduk Rivachage dan mantan prajurit Airel sang raja Calradia, "
" Aku benar-benar tak menyangka, " balas Airel.
" Sebelum mereka kuajak berangkat, aku memerintahkan prajuritku memeriksa mereka satu persatu, hasilnya sekitar 200 orang adalah merupakan tentara Arcadia yang menyamar. Kami langsung menangkap mereka dan memenjarakan mereka. Jadi kau tenang saja, yang datang kesini semuanya adalah para pengikutmu yang setia dari Rivachage, " lanjut raja Namey.
" Terimakasih paman, "
" Oh ya Airel, malam nanti ada yang ingin bicara denganmu. Kalau begitu aku pergi dulu, aku ingin melihat-lihat kota baru ini, " ujar raja Namey sambil menepuk pundak Airel.
" Siapa? "
" Aku tidak tau, akan tetapi orang itu mengatakan bahwa ia dari kota Shariz dan ingin mengatakan sesuatu padamu. Kau tenang saja dia bukan mata-mata karena aku sudah memeriksanya dengan ketat saat di Tihr, kalau begitu sampai jumpa nanti malam, " raja Namey berjalan menuju kota.
Setelah sedikit berbincang dengan raja Namey, Airel langsung mempersilahkan orang-orang yang di kapal untuk memasuki kota dan Airel juga memerintahkan ke seluruh prajurit yang ada di kota untuk membangun rumah agar bisa di tempati para pendatang.
***
Saat malam tiba, rumah-rumah para pendatang sudah ada yang mulai berdiri akan tetapi belum banyak, oleh karena itu Airel memerintahkan untuk membangun tenda-tenda darurat di bawah bukit untuk di jadikan tempat tinggal sementara.
Sementara, Airel sendiri sedang di halaman istana kecilnya di temani api unggun sambil memandangi langit yang bertaburan bintang. Saat sedang asik mengamati bintang, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya. Dan Airel langsung menengok kebelakang. Ternyata di belakangnya ada raja Namey dan orang lain yang tak aisng bagi Airel.
" Akhlam?? " Airel beranjak dari duduknya dan langsung mendekati orang di samping raja Namey.
Airel tersenyum sambil membalas jabat tangan Akhlam dan bertanya, " Bagaimana bisa kau ikut rombongan dari Tihr? Bukankah istri dan anakmu di Tulga? "
" Aku mencarimu, saat itu aku ke Khudan dan bertanya tentangmu. Akan tetapi penjaga gerbang Khudan mengatakan bahwa kau penghianat dan mereka menyuruhku pergi ke Sargoth. Di perjalanan, aku melihat ada beberapa orang yang keluar kota Khudan dan ku tanyai mereka tentang keberadaanmu. Mereka menjawab bahwa mereka juga ingin bertemu denganmu dan tujuan mereka adalah menuju Tihr untuk ikut berlayar menuju tempat ini, " jawab Akhlam.
" Lalu yang di maksud orang yang ingin bertemu denganku itu adalah kau Akhlam? Memangnya apa yang ingin kau sampaikan? Tidak mungkin jika kau jauh-jauh dari Shariz menuju kesini hanya ingin bertemu denganku, "
" Ya, aku ingin mengatakan sebenarnya invasi Arcadia menuju kerajaan Ryukyu hanya untuk memancingmu keluar Airel, " Akhlam melepaskan jabatan tanganya dan langsung menyentuh pundak Airel.
Airel kebingungan apa yang di maksud Akhlam. Lalu ia bertanya, " apa maksud dari memancingku keluar? Dan darimana kau tau informasi itu Akhlam? "
" Pemberangkatan pasukan Arcadia besar-besaran ke kerajaan Ryukyu setengah pasukan yang di berangkatkan bukanlah pasukan utama kerajaan, melainkan para penduduk lokal yang di bayar lebih jika mereka mau menjadi prajurit dadakan dan sebagian lagi adalah para bandit-bandit. Kaisar Artuk mengeluarkan nyaris setengah kekayaan kerajaan demi membiayai pasukan itu. Aku mendapatkan informasi ini saat 2 prajurit berbincang-bincang dan menjarah jualanku, " jawab Akhlam.
" Dengan sisa uang yang ku miliki, aku berencana pergi ke Tulga menemui istriku, akan tetapi aku teringat tentangmu dan aku berangkat menuju Khudan dengan harapan kau bisa menolong dan memberiku pekerjaan disana, dan saat aku ikut rombongan kecil menuju Tihr mereka mengatakan bahwa kau adalah sang raja Calradia. Oleh karena itu aku membulatkan tekadku untuk bertemu denganmu dan memberitahukan semua yang ku ketahui ini karena ku yakin kau butuh informasi ini, " lanjut Akhlam.
" Aku sangat terkejut dengan yang kau katakan, akan tetapi jika pasukan-pasukan Arcadia yang sebenarnya masih banyak di benua ini, seharusnya tak begitu muda– " Airel seketika terkejut seperti teringat sesuatu.
" Ada apa Airel? " tanya raja Namey.
" Paman segera kirim surat ke pasukanmu untuk mundur! Kita telah di jebak! Ini adalah strategi sangkar burung. Mereka akan membiarkan kita menguasai wilayah mereka sampai kita masuk kedalam, lalu mereka akan mengepung kita dari segala arah dengan kekuatan besar. Kita harus segera membatalkan invasi ini! " jawab Airel.
" Cih! Tetapi akan butuh waktu lama jika kita mengirim surat sekarang, "
__ADS_1
" Tak apa sebelum ini terlambat paman! " Airel sedikit panik.
" Airel berhati-hatilah, kaisar Artuk sekarang berada di kastil Tazel sejak 1 bulan lalu dan ia bersama puluhan ribu pasukan, " ujar Akhlam.
Airel seketika terkejut mendengar kata-kata Akhlam. Kastil Tazel berada tak jauh dari desa Albatif dan sekarang pasukan penyelamat sedang menuju desa Albatif.
" Tidak mungkin, bukankah Artuk ikut dalam invasi ke kerajaan Ryukyu? " tanya Airel.
" Sepertinya itu adalah jebakan Airel, " balas raja Namey.
" Cih!! Ini gawat! Bagaimana bisa aku tak mempertimbangkan resikonya!? " sesal Airel lirih.
" Kau baik-baik saja Airel? Lebih baik kau istirahat sekarang, kau tenang saja seluruh pasukanku akan ku tarik mundur dan aku juga akan mengirim surat kepada Sanjar, " ujar raja Namey.
" Bukan itu paman, 4 hari lalu aku mengirim pasukanku untuk menyelamatkan penduduk desa Albatif yang tertindas dan Liya bersama lainya ikut dengan misi itu. Paman aku harus segera ke perbatasan Karda di dekat Tulga, ku yakin sekarang masih sempat mencegah mereka. " Airel memegang pundak raja Namey.
" Tetapi Airel ini sudah malam lagi pula perjalanan menuju perbatasan Karda membutuhkan waktu satu minggu, " jawab raja Namey.
" Aku akan berangkat dengan pasukan kecil paman, aku tau jalan tercepat menuju perbatasan itu walaupun harus melewati beberapa markas bandit tetapi aku yakin bisa sampai sana sebelum mereka sampai sana, " balas Airel.
" Baiklah kalau begitu, aku akan menggantikan posisimu disini untuk sementara. Dan aku akan mengirim surat ke Sanjar untuk menarik pasukan dan mengirim lebih banyak pasukan ke perbatasan Karda, " ujar raja Namey.
" Mohon bantuannya paman! Aku akan segera siap-siap, " jawab Airel.
" Aku akan ikut denganmu Airel, " ujar Akhlam.
" Tetapi perjalanan ini sangat berbahaya Akhlam, apa kau yakin? " tanya Airel.
" Tenang saja. Walau aku pedagang, dulunya aku juga seorang prajurit kerajaan Sultanate jadi aku bisa ikut bertarung denganmu, " jawab Akhlam.
" Baiklah pergilah ke Barrack yang berada di bawah bukit, dan mintalah persenjataan serta baju zirah. Katakan pada mereka bahwa aku yang menyuruhmu, bawalah koin ini agar mereka percaya, " Airel memberikan koin emas berlambang kerajaan Calradia.
" Baiklah ku pinjam ini, kalau begitu aku pergi dulu, " Akhlam langsung bergegas ke barrack.
Airel sendiri langsung masuk ke istananya untuk memakai baju zirahnya. Setalah persiapan selesai, Airel langsung menuju barrack dan disana sudah ada 10 prajurit Cavalry bersama Akhlam. Selain itu, raja Namey juga ada disana.
" Kalian sudah siap? " tanya Airel kepada prajuritnya dan Akhlam.
Merekapun menganggukan kepalanya dan tersenyum kecil sebagai tanda mereka siap.
Sebelum berangkat, Airel menghampiri raja Namey dan menatap tajam mata pamanya.
" Paman ku serahkan kota ini padamu sampai aku kembali, " ujar Airel.
" Akan ku jaga dengan nyawaku Airel, " raja Namey menganggukan kepalanya.
" Kalau begitu kami berangkat dulu! " Airel menaiki kudanya.
" Berhati-hatilah di jalan! " balas raja Namey.
__ADS_1
Airelpun tersenyum dan menganggukan kepalanya, lalu ia bersama pasukan kecilnya berangkat menuju perbatasan Karda.
TO BE CONTINUE...