
Berabad-abad yang lalu di Taman Surga, ada cerita yang tak pernah dikisahkan. Saat para Dewa masih menjaga bumi beserta isinya atas perintah Yang Satu. Mereka diciptakan begitu sempurna, dengan kebijaksanaan dan semua keindahan permata di surga dengan perjanjian tak terbantah. Menjaga manusia agar tetap berjalan pada alurnya. Pantanglah bagi mereka untuk bersimpati, apalagi jatuh hati. Seorang penggembala diharuskan untuk menyayangi ternaknya, namun tabu bagi mereka untuk saling bercinta. Hati mereka terbelenggu oleh kepatuhan yang mutlak.
Semua menjalankan tugas sebagaimana perjanjian dibuat sejak mereka tercipta.
Taman Surga adalah kampung halaman bagi para dewa. Seperti namanya, Taman Surga bagaikan taman raksasa di atas langit. Di tengah Taman Surga terdapat Taman Abadi yaitu taman dengan seluruh bunga yang ada di dunia tumbuh di sana, apapun keadaannya bunga di taman tersebut selalu mekar. Di tengah taman bunga tersebut terdapat sebuah istana megah perpaduan warna putih dan emas dimana singgasana Yang Satu bertahta. Dipisahkan oleh Taman Abadi, di bagian luar Taman Abadi adalah rumah para dewa. Rumah para dewa berwarna putih dan memiliki bentuk serupa.
Di belakang rumah para dewa terdapat Taman Eden yang sangat luas dan di dalamnya hidup berbagai tumbuhan dan hewan. Di sinilah para dewa melakukan uji coba terhadap tumbuhan dan hewan sebelum benihnya diturunkan ke bumi. Selain untuk laboratorium raksasa, di dalam Taman Eden terdapat juga sebuah arena yang cukup luas untuk para dewa berlatih. Arena yang dinamakan Paramaya ini berfungsi sebagai tempat berlatih para dewa. Agar dewa tetap waspada menghadapi kekerasan yang mungkin terjadi akibat hewan buas yang gagal ataupun godaan yang ditimbulkan oleh para iblis atau yang biasa oleh para dewa dipanggil ‘para pembenci surga’.
Di ujung Taman Eden terdapat pepohonan Sherman raksasa yang memagari sekeliling Taman Surga. Jumlah pohon Sherman yang memagari seluruh Taman Surga sebanyak 9.999 pohon dan setiap pohon dihuni oleh satu dewa penjaga yang telah terlatih. Setelah pagar pohon Sherman, bagian terluar Taman surga dikelilingi oleh dinding berwarna kelabu seperti awan yang sangat tebal, dinding awan ini dinamakan Mugen yang berarti tanpa akhir. Konon di dalam dinding awan Mugen terdapat labirin tanpa batas dengan monster yang tak diketahui, jika ada yang masuk ke dalam dinding awan Mugen ini maka dipastikan bahwa Ia akan kelihangan arah dan tak akan pernah kembali. Tingi dinding ini tak terhingga, tak terjangkau oleh para mahluk bersayap. Tak ada yang tahu rahasia dibalik dinding awan Mugen ini kecuali Yang Satu yang maha tahu. Mustahil ada gangguan luar yang mampu menembus pertahanan keamanan Taman Surga yang sedemikian kuatnya.
__ADS_1
Hanya ada satu pintu keluar dan masuk Taman Surga. Para dewa yang keluar dan masuk melalui pintu ini selalu diperiksa oleh dewa penjaga, sehingga mustahil bagi mereka membawa benda atau mahluk yang dapat mengancam kedamaian Taman Surga. Taman Surga yang damai, selalu damai sejak pertama diciptakan. Mereka bahkan tak mengerti kenikmatan dari kedamaian yang mereka rasakan, selalu indah, selalu sempurna sejak pertama tercipta.
“Kau tak akan pernah merasakan kenikmatan dari kedamaian jika kau tak pernah merasakan kekacauan, kau tak mungkin tahu bahagia tanpa derita yang telah berlalu.” Sepintas ingatan salah satu manusia saat di medan perang terbesit dalam benak Dogma, dewa pengatur ingatan manusia. Dogma mengatur letak lapisan ingatan manusia sedemikian rupa, sehingga tak akan ada manusia yang melupakan hal yang penting, begitu seseorang ingin mengingat suatu hal, mereka akan segera menemukan ingatan tersebut. Jika seseorang ingin melupakan suatu hal atau kejadian maka Dogma akan meletakkan ingatan itu di ruang yang terisolasi yang perlahan akan tertutup namun tidak akan hilang sehingga tidak membebani ingatan yang lain. Otak manusia layaknya sebuah ruang tanpa batas dengan sekat-sekat yang mengelompokan ingatan.
Saat menjalankan tugas untuk mengatur ingatan manusia, terkadang tanpa sengaja beberapa ingatan manusia tertinggal di benak Dogma hingga Ia memikirkan arti ingatan tersebut.
Diantara semua dewa di Taman Surga, Dogmalah yang paling periang. Meski semua dewa diberkati oleh kebijaksanaan sama besarnya untuk menentukan kesahajaan sikap mereka, namun setelah menjalankan tugas mereka selama berabad abad lamanya beberapa dewa mulai mempelajari emosi yang terdapat pada manusia.
Di bumi terdapat beberapa jenis mahluk yang memiliki keabadian layaknya seorang dewa. Dogma bersahabat dengan beberapa mahluk tersebut. Suatu saat ketika Dogma sedang menjalankan tugasnya di Bumi, Ia singgah ke tempat sahabatnya, Acasha. Disana Ia bertemu dengan gadis bumi yang menarik perhatiannya. Sejak saat itu, Dogma dan Evenstar nama gadis itupun sering bertemu. Evenstar sangat mengagumi pohon akasia tempat tinggal Acasha.
__ADS_1
Berbekal pengetahuan tentang pohon akasia dari Acasha, Dogma berusaha menarik perhatian Evenstar. Acasha bukannya tak menentang hubungan yang terjalin antara Dogma dan Evenstar. Berulang kali Acasha memperingatkan Dogma agar meredam ketertarikannya pada mahluk yang tak abadi seperti manusia. Acasha tahu betul tentang larangan bagi mahluk sepertinya dan seperti sahabatnya Dogma untuk jatuh cinta pada manusia. Entah bisikan pembenci surga yang mana yang mampu mempengaruhi pikiran salah satu dewa yang suci ini.
Namun Acasha menyadari betapa menariknya Evenstar, jika ditakdirkan Ia terlahir sebagai mahluk berjenis kelamin laki-laki maka tentulah Ia akan terpikat oleh keindahan Evenstar.
Evenstar merupakan gadis bermata biru seteduh danau di Taman Surga dengan rambut hitam panjang bergelombang terurai, semua gerakannya seolah terpola dengan gemulai, senyumnya seakan membawa keceriaan di sekitarnya.
“Rupanya Yang Satu sedang berbahagia saat menciptakan manusia yang satu ini.” Gumam Acasha sambil memperhatikan Dogma dan Evenstar berbincang.
Sejak pertemuan pertama, Dogma semakin sering mengunjungi pohon di mana Acasha tingggal. Pohon akasia yang ditinggali oleh Acasha terletak di dalam hutan dekat dengan sebuah desa tempat tinggal Evenstar. Pertemuan yang tak sengaja ini bukanlah kebetulan semata. Hal ini telah diatur sedemikian rupa oleh dewa mimpi. Fantasos adalah dewa yang mengatur mimpi manusia atas perintah Yang Satu.
__ADS_1
Semua berawal sejak Fantasos mempelajari mimpi manusia dan mulai merasakan emosi yang dinamakan cinta. Iapun terpikat oleh kecantikan salah satu dewi di Taman Surga. Fantasos tahu perasaannya adalah suatu kesalahan sehingga Ia memutuskan untuk memendam perasaan ini sendirian. Sakit di dada diabaikannya, perasaan yang terluka dibiarkan menganga, hingga suatu malam tak ada batas yang dapat membendung rasa. Maka Fantasos berniat mengungkapkan perasaannya pada dewi tersebut. Iapun berkunjung ke dalam mimpi dewi Moirai. Dewi Moirai adalah dewi takdir, Ia juga memiliki kemampuan melihat masa depan beberapa saat sebelum kejadian berlangsung.