
Mereka berjalan hingga hampir senja, namun pohon berbuah aneh tersebut tak juga mereka temukan.
“Rasanya tadi kita sudah berjalan jauh, tetapi kenapa kita belum sampai juga ya." Freya mulai mengeluh.
“Pasti Ibu mencemaskan aku.” Freya berkata dengan wajah menunduk, hampir saja Ia menangis jika Ia tak malu pada pria tampan di sampingnya.
“Tenanglah, aku punya rahasia kecil, kemari mendekatlah.” Freya pun mendekatkan diri pada Dogma.
“Orang tuamu, bahkan semua orang tak akan ada yang sadar kalau kau menghilang, aku jamin itu, karena aku punya mantra ajaib untuk itu.” Bisik Dogma di telinga Freya percaya diri.
“Benarkah? ucapkan matranya padaku!” Seru Freya kegirangan.
“Peganglah bunga ini.” Kata Dogma sambil memberikan satu tangkai bunga dandelion yang Ia petik di dekat mereka berdiri. Freya menerima bunga itu dengan wajah penasaran, namun Dogma mengabaikannya.
“Prohibere tempus!” Bersamaan dengan keluarnya kata-kata itu dari mulut Dogma, bunga dandelion di tangan Freya mulai beterbangan ke arah matahari terbit.
“Sekarang mereka tidak akan khawatir lagi, mari kita cari jalan pulang ke rumahmu.” Kata Dogma sambil menggandeng tangan Freya yang masih agak bingung.
“Dua puluh tujuh hari di sini hanya akan terasa satu detik di duniamu.” Terang Dogma, tentu saja Freya tak begitu paham namun Ia tak mau ambil pusing soal itu. Bagi Freya yang penting orang tuanya tak akan kebingungan saat Ia menghilang.
“Ini sudah menjelang malam, di hutan ini banyak binatang buas, bahaya jika kita berjalan lebih lama lagi kita harus istirahat dulu di atas pohon” Kata Dogma sambil melihat lihat pohon yang cukup kokoh untuk mereka tinggali malam ini.
“Apa? Kita harus tinggal di atas pohon? Memangnya kita monyet?” Tanya Freya dengan kesal.
“Dengar, kalau kita tidak naik ke atas pohon di malam hari, maka kita hanya akan menjadi santapan binatang buas. Lihatlah benda putih di bawah daun kering itu, itu adalah sisa tulang manusia yang dimakan hewan buas di malam hari.” Jawab Dogma sambil menunjuk sesuatu yang tersembunyi di balik dedaunan yang gugur.
Benar saja, setelah Freya menyibak daun kering itu, tampak potongan tulang manusia. Freya langsung bergidik dan mendekatkan diri pada Dogma.
__ADS_1
“Ah, lihat pohon ini. Malam ini kita akan tidur di atas pohon kokoh ini.” Seru Dogma kegirangan.
“Tunggulah di bawah, akan aku siapkan tempat tidur untuk kita.” Kata Dogma sambil membawa beberapa akar pohon beringin. Iapun segera mengatur beberapa ranting yang kokoh dan mengikat dengan tali akar pohon beringin tersebut hingga membentuk jaring yang bisa digunakan untuk tempat tidur mereka malam ini, tak lupa Ia membuat tangga agar Freya dapat dengan mudah menaiki pohon yang lumayan tinggi tersebut.
“Naiklah!” Seru Dogma dari atas pohon.
Sebenarnya Freya tak ingin tidur di atas pohon, namun Ia tak ingin menjadi santapan binatang buas di bawah sana. Setelah Freya sampai di atas, Ia takjub dengan jaring yang dibuat oleh Dogma tampak sangat nyaman. Entah siapa yang memulai, kini mereka berbincang di atas pohon dengan suara berbisik, seolah takut sang malam akan mendengar obrolan mereka.
“Dogma, sejak sampai di pohon ini aku penasaran, wangi ini berasal dari pohon ini ya?” Bisik Freya. “Benar ini adalah pohon gaharu, pohon ini mengeluarkan wangi yang tak disukai oleh binatang-binatang buas, kita akan aman bermalam di atas pohon ini, tapi kita harus tetap waspada.” Terang Dogma.
Lambat-laun rasa kantuk dan lelah mulai mengalahkan kewaspadaan mereka dan merekapun segera terlelap.
“Freya, Freya, ayo cepat bangun.” Kata Dogma sambil mengguncang tubuh mungil Freya. Freya segera menggeliat bangun.
“Di mana ini?”
“Rumahnya? Bukankah kita sedang di tengah hutan?” Freya tak mengerti.
“Agar adalah dryad yang menghuni pohon gaharu ini, dryad adalah mahluk sejenis peri tumbuhan. Dan kita ada di dalam pohon gaharu yang tadi malam kita naiki.
Memang pohon yang kita naiki tak seluas ruangan ini, namun begitu kita melangkah ke dalam pintu rumah para dryad, kita akan mengecil sehingga ruang di dalam pohon ini akan terlihat lebih luas.” Jelas Dogma panjang lebar.
Freya tampak tak mengerti dengan penjelasan panjang Dogma, “oh ya aku lupa mengatakan ini padamu, dunia ini di panggil Corazone yang berarti zona Cora. Banyak hal misterius yang biasa terjadi di sini, jadi cepatlah beradaptasi.” Sambung Dogma yang mulai tidak sabar dengan kebingungan Freya. Agar hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
“Kalau diingat-ingat sejak bertemu pohon berbuah aneh tadi pagi itupun bukan hal yang normal,” pikir Freya mencoba mengingatkan dirinya sendiri. Freya mencoba untuk segera memahami situasi.
“Baiklah.” Jawab Freya dengan mantap, namun Dogma ragu bahwa Freya akan segera mengerti. Setelah memakan sarapan yang disiapkan oleh Agar dan berterima kasih, mereka segera berpamitan.
__ADS_1
“Perhatikan baik-baik saat kau mulai melangkahkan kakimu keluar dari pintu ini.” Freya mengikuti instruksi Dogma, dengan sangat berhati-hati Ia mulai mengeluarkan sebelah kakinya.
“Waow, kakiku yang sudah melewati garis pintu tampak sangat besar.” Kata Freya kegirangan, Ia segera mondar-mandir keluar masuk pintu dan tak henti-hentinya berdecak kagum dengan fenomena yang Ia alami.
“Ayolah, hari sudah semakin siang.” Kata Dogma sambil menarik lengan Freya yang hendak kembali masuk pintu tersebut. Setelah berpamitan, merekapun menuruni pohon gaharu tersebut dan melanjutkan perjalanan.
“Tapi kita akan berjalan kearah mana? Kita bahkan tidak tahu dimana pohon ajaib itu berada?” Tanya Freya dengan khawatir.
“Oh ya saat kau tertidur tadi, Agar memberi tahu tentang pohon yang berbuah aneh itu. Nama pohon itu adalah Miraculos, dan pohon ini adalah pohon Yggdrasil versi yang lebih kecil, jika pohon Yggdrasil adalah pohon pusat dunia, maka Miraculos adalah pohon yang bisa menghubungkan berbagai dunia. Intinya pohon Miraculos adalah pohon penghubung antar dunia. Mungkin kau tidak sengaja terbawa ke dunia kami saat berada di hutan belakang rumahmu.” Kata Dogma sambil tangannya sibuk mengepang kain panjang pemberian Agar.
“Nah ini sempurna!” Seru Dogma kegirangan melihat kepangan kainnya sudah jadi, lalu Ia segera mengikatkan kain tersebut di kepalanya.
“Dari sini, kita akan mulai petualangan mencari pohon Miraculos, dengan memakai ikat kepala seperti ini maka jiwa petualangmu akan segera bangkit. Pakailah aku membuat dua.” Kata Dogma sambil menyerahkan kepangan kain kepada Freya.
“Aku tak perlu hal bodoh seperti ini di kepalaku, aku akan memakainya sebagai gelang saja.”
“Paman ini lebih kekanakan dari pada aku.” Pikir Freya melihat tingkah Dogma.”
“Wah ini tidak buruk!” Seru Freya setelah Dogma mengikat kain yang telah dikepang tersebut di tangan Freya.
“Oh ya aku lupa memberitahumu, bahwa pohon Miraculos ini akan berpindah-pindah tempat setiap jam sembilan pagi setiap beberapa hari sekali, jadi bukan hal yang aneh kalau kemarin kita tidak menemukannya. Mungkin saat kita kembali ke tempat pohon itu, adalah saat baginya untuk berpindah tempat.”
Freya hanya memandang Dogma dengan lesu mendengar penjelasan tersebut sambil berkata.
“Ini akan sangat merepotkan, tapi mohon bantuannya ya Dogma, aku tidak mengenal siapapun di Corazone ini”.
“Hei tentu saja, lagi pula aku tidak sedang harus melakukan hal yang penting dalam hidupku, jadi aku akan menemanimu selama apapun sampai kita menemukan pohon Miraculos.” Kata Dogma sambil mengusap kepala Freya.
__ADS_1
Mendengar hal itu, mata Freya menjadi berbinar, seolah mendapatkan sinarnya kembali.