
Istana kerajaan Phantasia terletak di bagian barat wilayah kerajaaan. Kastilnya Terbangun dengan megah, semua bangunan berwarna kelabu perak dan berkilauan diterpa cahaya matahari dengan gerbang berwarna hitam legam menegaskan kekuatan. Di gerbang istana terdapat dua orang penjaga dan dua mahluk ajaib yang menjaganya. Mahluk ini berbadan kuda dan berkepala manusia dengan membawa tombak di tangan kanannya dan perisai di tangan kirinya, di samping mereka tampak prajurit manusia yang mendampingi. Sebelum masuk istana semua diperiksa oleh penjaga pintu gerbang, untuk memastikan bahwa mereka tak membawa benda yang bisa membahayakan kastil maupun keluarga kerajaan.
Sesampainya di halaman istana, mereka melihat banyak penduduk yang telah berkumpul. Di anjungan berdirilah Raja Ficta, dengan pakaian kebesarnnya.
“Wahai penduduk Phantasia, terima kasih telah datang. Meski berat, telah tiba saatnya aku mengumumkan siapa penjahat yang akan dijadikan persembahan bagi Nightwalker. Kami memutuskan ini dengan menimbang berat kejahatan yang telah Ia perbuat yaitu membunuh kekasihnya tanpa belas kasihan. Maka pada saat purnama yang akan tiba dua malam lagi, Juda akan dipersembahkan. Bagi keluarga atau kerabat yang ingin mengucapkan kata perpisahan dipersilahkan untuk datang ke dalam penjara dengan mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku. Demikianlah aku umumkan berita menyedihkan ini.” Raja Ficta menutup pengumuman dengan lambaian tangan yang kemudian menghilang di balik tirai.
Beberapa penduduk tampak berbisik dan berjalan menuju istana , ada pula yang langsung pergi meninggalkan halaman istana.
“Sebaiknya kita mengikuti mereka yang menuju istana, mungkin mereka ingin mengucapkan kata perpisahan pada pria bernama Juda tersebut. Jika kita bisa membaur diantara mereka dan masuk dalam penjara istana mungkin kita akan mendapat informasi berapa banyak penjahat yang tersisa.” Saran Dogma segera disetujui oleh mereka bertiga.
Setelah mereka diperiksa dan dinyatakan lolos untuk untuk memasuki lorong di samping kastil, mereka diantar oleh seorang penjaga. Lorong ini cukup besar namun tak terjamah cahaya matahari. Di sisi lorong terdapat obor penerang jalan menuju penjara bawah tanah, meski gelap dan tak terlihat jelas namun terasa lantainya sangat lembab.
Ada empat orang yang menjenguk pria yang akan menjadi persembahan tersebut, mereka adalah ayah, ibu dan kedua adiknya. Dogma dan Freya mengaku sebagai teman dari pria itu. Sejak memasuki lorong mereka hanya diam mengikuti penjaga hingga salah satu adik Juda yang masih berumur lima tahun bertanya pada ibunya.
“Ibu, apa kak Juda akan segera mati? Apa kak Juda tidak akan bermain denganku lagi?”
Sang Ibu berhenti sejenak memeluk anak tersebut, kemudian melanjutkan perjalanan sambil menggandeng tangan adik Juda tanpa berkata sepatah katapun. Penjara bawah tanah istana terletak lumayan jauh ke dalam, untuk mencapainya mereka perlu berjalan sekitar lima belas menit.
Sesampainya di pintu penjara, mereka melihat satu sel yang dihuni oleh sekitar sembilan orang wanita.
“Paman, mengapa mereka beramai-ramai di dalam satu sel?” Tanya Freya pada seseorang yang mengantarkan mereka.
__ADS_1
“Itu adalah penjara khusus wanita, untuk penjahat yang melakukan kejahatan ringan mereka diletakan di satu sel yang sama. Jika penjahat kelas berat baru diletakan di ruangan terpisah.” Jelas pengantar mereka saat melihat bingung di wajah Freya.
“Kalian silahkan berjalan lurus, penjara Juda ada di paling ujung sebelah kanan. Aku akan berjaga di sini.” Kata petugas yang memakai seragam berwarna hitam itu.
Sepanjang jalan mereka hanya menemui sel yang sudah kosong. Sesampainya di sel Juda, mereka melihat sesosok pria yang sangat kurus sedang tertidur. Begitu menyadari ada kunjungan untuknya, pria itu langsung bangkit dan mendekati jeruji besi.
“Ibu! Ibu percayalah, bukan aku yang membunuh Lili. Aku tak akan melakukan hal yang buruk padanya.” Kata pria itu sambil memegang tangan ibunya.
“Ibu, Kak Juda tidak jahat, bahkan Ia tak pernah memukulku dan adik.” Adik Juda yang berumur sepuluh tahun turut menyakinkan ibunya.
“Ibu percaya padamu, ayah percaya padamu, Jeni dan Juni juga percaya padamu.” Kata wanita itu sambil terus memegang tangan anaknya.
Setelah perbincangan yang menyedihkan itu selesai dan Juda menyadari bahwa ada sosok yang tak dikenal, Ia segera memalingkan padangan pada Dogma dan Freya.
“Siapa kalian? Mengapa kalian menjengukku? Apa kalian mata-mata dari raja sialan itu?!” Juda yang tadi bersuara dengan lirih kini suaranya dipenuhi oleh amarah.
“Kami bukan mata-mata kerajaan dan maaf mungkin kami salah mengira kau adalah teman kami.” Dogma berkata dengan sopan.
“Kau bukan temanku, sekarang pergi dari sini.” Juda berkata dengan enggan.
“Kami akan segera pergi, tapi apa yang terjadi dengan tahanan yang pernah ada di kosong ini?” Dogma bertanya sambil menunjuk kearah sel tanpa penghuni itu.
__ADS_1
“Mereka semua sudah dijadikan makanan mahluk peliharaan raja. Setelah aku seharusnya para tahanan wanita di ujung sana. Mereka sebenarnya hanya melanggar peraturan ringan, misalnya membuang sampah di sungai dan hal kecil lainnya. Meski aku akan mati besok, sungguh aku bersimpati pada mereka, diantaranya ada anak- anak.” Juda berkata sambil menatap nanar.
“Lalu apa yang terjadi padamu hingga berada di tempat ini?” Dogma memberanikan diri bertanya hal yang pribadi pada Juda.
“Saat aku menjenguk kawanku yang ditahan dan akan dijadikan makanan Nightwalker purnama yang lalu, aku melihat mahluk itu keluar dari istana raja berjalan berdampingan dengan sang putri. Setelah itu hari berikutnya ketika aku pergi dengan kekasihku, lalu ada segerombolan orang yang menyerang kekasihku dan membunuhnya, aku berusaha melawan dengan merebut senjata mereka, namun tentara kerajaan yang sedang patroli melihatku membawa senjata dan di dekatku ada kekasihku yang sudah berlumuran darah. Penjahat itu mengatakan bahwa aku yang membunuhnya dan tentara kerajaan percaya hal itu. Aku langsung dimasukan ke sel ini.” Cerita Juda dengan wajah sedih dan marah.
“Setelah aku masuk dalam sel, aku baru mengetahui bahwa penjahat yang membunuh kekasihku adalah salah satu prajurit kerajaan. Aku dijebak! Awalnya aku tak mengetahui sebabnya, namun aku ingat-ingat lagi rupanya melihat mahluk itu keluar dari istana kerajaan adalah penyebabnya. Mungkin raja menyembunyikan sesuatu.” Kata Juda lirih namun dengan mata yang
menyiratkan kebencian.
“Waktu berkunjung habis!” Prajurit yang tadi mengantar mereka berteriak sambil masuk mendekati sel.
Keluarga Juda mengucapka kata perpisahan untuk Juda yang terakhir kalinya, sebelum mengikuti prajurit keluar dari penjara bawah tanah tersebut.
Sepanjang jalan keluar penjara mereka habiskan dalam diam, tak seorangpun yang mau repot- repot untuk memecah suasana, pikiran mereka sudah terpecah.
Kematian sanak mereka sudah terbayang, Dogma dan Freya mencoba mencerna kata-kata Juda, Pati dan Pita sama sekali tak bersuara sejak masuk ke lorong gelap penjara bawah tanah, tak seorangpun dari mereka yang tahu bahwa sepasang burung merpati ini dapat berbicara. Setelah keluar dari istana, sebelum berpisah mereka berbincang sebentar.
“Paman, bagaimana biasanya tumbal dipersembahakan ke mahluk itu?” Tanya Dogma.
“Biasanya mereka akan di taruh di perahu kecil dengan tangan dan kaki terikat di dekat air terjun, konon katanya mahluk itu tinggal di gua di balik air terjun dan mengambil persembahan tepat pukul dua 12 malam. Keesokan harinya jasadnya akan ditemukan di bawah pohon besar yang berada dekat air terjun.” Jawab ayah Juda sambil menunduk sedih membayangkan anak tercintanya akan diperlakukan demikian.
__ADS_1