
“Dogma cepat katakan apa yang terjadi, kenapa kau berkemas-kemas? Kau akan pergi ke mana?” Tanya Freya sambil membungkus beberapa roti dan beberapa daun obat-obatan dalam tas.
“Aku akan ke Vlaris, ada penduduk yang harus kami selamatkan di sana, mereka sudah menunggu kami selama ribuan tahun.” Kata Dogma sambil menatap mata Freya dengan sendu.
Tok tok tok, suara pintu diketuk. Dogma segera membukakan pintu seseorang yang telah dinantinya.
“Tentu saja itu pilihan yang tepat. Baiklah tunggu aku di bawah pohon Miraculos.” Kata Dogma sambil menutup pintu.
“Siapa?” Tanya Freya
“Maaf Freya, Pati dan Pita aku tak mengatakan hal ini sebelumnya namun ikutlah denganku ke pohon di tepi air terjun. Aku kan mengatakan semuanya di sana.”
Sesampainya di depan pohon raksasa di dekat air terjun, Dogma menjelaskan semuanya dengan singkat.
“Awal perjalanan kita adalah mencari pohon Miraculos ini untuk membuatmu pulang ke duniamu, Pati dan Pita terlahir di pohon ini. Semenjak masuk ke wilayah Phantasia ini kalian bertiga kehilangan tujuan karena sihir Dracias,” Dogma berkata sambil menunjuk Pria yang memancarkan cahaya lembut dari tubuhnya.
“Namun tidak denganku karena aku adalah seorang dewa, lebih terpatnya dewa yang terusir. Aku akan pergi mengantar Dracias si Nightwalker ke kampung halamannya untuk mnegurus sesuatu. Kita aka berpisah di sini.” Dogma menghela nafas panjang sejenak.
“Maaf telah menunda kepulanganmu ke duniamu Freya, naiklah ke ranting itu Siry akan membantumu.” Siry siap memegang tangan Freya.
Namun Freya menolaknya dan berlari kearah Dogma. Memeluk Dogma dengan erat, seolah tak rela berpisah dengan dewa yang baru Ia ketahui identitasnya itu.
“Tidak Dogma! Jangan sekarang, atau penantian panjang penduduk Vlaris akan sia-sia.”
__ADS_1
Dogma meneguhnya hatinya dalam hati sementara Dracias menatap tajam kearah Dogma. Ia tak membalas pelukan Freya, Ia melepas pelukan gadis kecil itu dengan lembut.
“Pulanglah, bukankan orangtuamu menunggu?”
“Aku akan menunggu! Aku akan menunggumu di sini, sampai kau kembali. Kembalilah sebelum aku tua dan meninggal, kau tahu umur manusia sangat singkat kan?” Kata Freya sambil menatap Dogma.
Pria itu langsung mengalihkan perhatiannya pada pohon Miraculos.
“Bukankah pohon ini akan berpindah beberapa hari sekali?” Tanya Dogma pada Siry.
“Benar, Pohon ini akan berada di sini selama sembilan hari, lalu akan berada di luar wilayah kerajaan Phantasia selama tujuh hari dan kembali lagi kesini untuk Sembilan hari bergitu terus berulang.”
“Jika kau rasa aku terlalu lama, pulanglah ke duniamu, Aku akan sesekali menjengukmu di sana. Oh ya katakan pada bibi Hilni, aku pergi dan terima kasih atas semuanya” Kata Dogma sambil mengelus rambut Freya.
“Siry, aku titip mereka!”
Dogma melambaikan tangan kepada sahabatnya itu. Baru lima menit berjalan mereka berdua sudah menghilang dari pandangan.
“Katakan padaku, apa yang terjadi jika kau jatuh cinta pada seorang manusia?” Dogma perteranjat dengan pertanyaan Dracias yang tiba-tiba itu. “Kau tak perlu menjawabnya jika kau enggan. Aku akan mengganti pertanyaanku. Kau belum jatuh cinta dengan seseorang selama menjadi dewa yang terusir kan? Karena jika itu sudah terjadi perjalanan kita menuju Vlaris akan sia-sia.”
“Jika aku jatuh cinta dengan manusia, aku tak memiliki kesempatan untuk kembali ke Taman Surga dan menjadi dewa. Aku akan menjadi manusia biasa. Melihat kekuatanku yang sekarang kau tentu sudah menjawab semua pertanyaanmu kan?” Dracias hanya tersenyum lega mendengarnya.
“Bagaimana denganmu, kau seharusnya sudah berpamitan dengan putri kerajaan Phantasia bukan?” Goda Dogma pada Dracias. Tak disangka pertanyaan Dogma membuat Dracias tampak sedih. Dracias menambah kecepetannya diikuti oleh Dogma.
__ADS_1
“Jika kita mempertahankan kecepatan ini, kita akan sampai di Vlaris dalam waktu tiga purnama.” Kata Dracias kemudian.
“Baiklah, berarti kita perlu meminta darah manusia tiga kali. Apa kau harus menghabiskan darah mangsamu?” Tanya Dogma. “Tidak, aku hanya perlu satu gelas, tapi menghabiskannya adalah kepuasan tersendiri bagiku, aku menikmati kesakitan dan ketakutan manusia yang aku mangsa.” Kata Dracias sambil tersenyum sinis.
“Woa, tapi dalam perjalanan kau tak boleh membunuh siapapun tuan vampir dari Vlaris dan setelah kalian menjadi vampir yang tak memerlukan darah manusia kalian perlu memperbaiki citra buruk yang telah kau bangun selama ribuan tahun ini.” Kata Dogma dengan santai.
Sekilas Dracias terlihat kesal dengan panggilan yang diberikan Dogma padanya.
Mereka melalui hutan dan wilayah pemukiman manusia ataupun mahluk lainnya selama perjalanan. Selama tiga kali purnama Dogma menawarkan diri sebagai mediasi untuk meminta darah manusia karena khawatir Dracias belum bisa mengontrol nafsu membunuhnya.
Setelah tiga purnama mereka berjalan dengan kecepatan tinggi, akhirnya mereka tiba di sebuah hutan pinggiran wilayah Vlaris. Begitu memasuki wilayah Vlaris mereka disambut oleh hutan lebat dengan pohon-pohon besar, dapat diprediksi pepohonan ini sudah berusia ratusan bahkan ribuan tahun. Wilayah Vlaris terlihat terisolasi dari dunia luar, letak jalan setapak yang dahulu Dracias ingat kini sudah tertutup oleh berbagai tumbuhan seolah tak pernah ada jalan di sana sebelumnya. Dracias mulai ragu apakah masih ada penduduk Vlaris yang menunggunya datang, Ia memimpin jalan sambil mencoba mengingat-ingat letak desa Vlaris yang telah ditinggalkannya ribuan tahun yang lalu. Dogma memegang pundak Drcacias yang mulai tampak gugup.
“Mereka pasti baik-baik saja dan masih menunggumu di dalam hutan.” Dracias berusaha tersenyum membalas simpati yang Dogma berikan.
Semakin masuk ke dalam hutan, Dracias mulai mengenali pepohonan yang dulu sering Ia jadikan patokan saat berburu. Setengah jam mereka berjalan dalam diam sambil terus waspada akan hewan buas yang mungkin ada di sana, tiba-tiba langkah mereka dikejutkan oleh anak panah yang meluncur tepat mengarah ke mereka.
“Siapa di sana? Keluarlah!” Dracias berteriak sambil memandang sekeliling. Ia segera menyadari ada sekitar sepuluh orang mendekati mereka dengan jarak lebih dari lima puluh meter, seseorang yang tadi memanah mereka sudah berusaha melarikan diri saat tahu bidikannya tak mengenai sasaran.
Dracias segera mengejar orang yang melarikan diri tersebut, sementara sepuluh orang yang bersenjata pedang sudah mengepung mereka. Dracias berhasil menangkap seseorang yang berusaha memanah mereka, seseorang itu masih sangat muda, kira-kira berumur tujuh belas tahun. Pemuda itu terus berontak mengayunkan busurnya hingga mengenai tudung mantel yang Dracias gunakan. Begitu tersibak, terlihatlah cahaya yang samar dari tubuhnya. Seketika pemuda itu menjatuhkan busurnya, sepuluh orang yang mengepung mereka juga terlihat terkejut.
“T-Tuan, apakah Anda adalah Dracias yang agung?” Tanya seseorang memberanikan diri sambil menjatuhkan senjatanya.
“Aku adalah Dracias, tunjukan jalan ke Vlaris atau kubunuh anak ini!” Kata Dracias tak bersahabat.
__ADS_1
“Mohon maafkan kelancangan kami, kami adalah penduduk Vlaris. Kami telah menunggu kedatangan Anda sejak ribuan tahun yang lalu.” Kata seseorang sambil membungkuk tanda hormat lalu menunjukan jalan kepada mereka.