The Last Path

The Last Path
Evenstar dan Danta


__ADS_3

Ingatan Evenstar kembali ke awal pertemuan Ia dan suaminya, Danta. Saat itu Evenstar sedang metik bunga Aurora di tepi hutan sendirian, tiba-tiba datang padanya kupu-kupu berwarna ungu.


“Betapa indah warna mahluk ini!” Seru Evenstar sambil berusaha meraih kupu- kupu tersebut tanpa sadar bahwa ada jurang di depannya. Jurang itu sedalam dua kali tinggi tubuh Evenstar, bukan hal yang mudah bagi Evenstar untuk kembali naik. Ia berusaha memanggil orang yang mungkin lewat tempat tersebut namun tak ada yang menjawab. Ia berusaha mengumpulkan ranting pohon untuk membuat tangga, namun tak berhasil. Hingga Ia kelalahan dan pingsan.


“Wah kita mendapat hewan buruan yang berlimpah, kita harus mengadakan pesta malam ini!” Ujar salah seorang pemburu yang ditimpali canda tawa dari temannya.


Mereka membawa sepasang anjing pemburu. Sampanya di tepi jurang tempat Evenstar terjatuh sang anjing menyalak dengan keras. Danta, salah satu pemburu ini segera turun dari kudanya dan melihat apakah yang mengganggu anjing kesayangannya ini.


Betapa kagetnya Ia ketika menengok ke jurang tergolek seorang wanita di sana. Ia segera memanggil kawannya untuk membantu menaikan wanita tersebut.


“Bukankah ini Evenstar?” Tanya salah satu pemuda itu.


“Betul, mari kita bawa pulang ke rumahnya.” Timpal yang lainnya.


Tak lama setelah sampai di rumah, Evenstar segera siuman dari pingsannya. Ia begitu kaget menyadari bahwa Ia sudah di rumah, karena seingatnya tadi Ia terjatuh di jurang. Tak lama kemudian terdengat pintu kamarnya berderit terbuka, munculah seorang pemuda berparas tampan.


“Apa yang kau lakukan di rumahku?” Tanya Evenstar kebingungan.


“Maaf telah lancang memasuki rumahmu, Ini sudah kubuatkan sup, makanlah selagi hangat.” Jawab Danta sambil menyodorkan sup hangat. Evenstar menerima sup tersebut dan mulai memakannya.


“Kami menemukanmu di jurang dan membawamu kembali.” Jelas Danta sambil tersenyum.


Evenstar tinggal seorang diri di rumah itu. Sejak kecil Ia dirawat oleh neneknya, namun neneknya meninggal tiga bulan yang lalu. Sejak kejadian hari itu saat itu Danta sering mengunjungi Evenstar dengan berbagai alasan. Mereka semakin dekat setiap harinya, hingga suatu hari Danta melamar Evenstar dan merekapun menikah. Hari demi hari mereka lalui dengan penuh cinta, tak pernah terbesit sedikitpun dalam benak Evenstar untuk menduakan cinta Danta.


“Setahun telah berlalu, tak ada yang yang cacat dari cinta suamiku, betapa lemah hatiku yang terganggu oleh mimpi semata.” Bisik Evenstar pada dirinya untuk meneguhkan hatinya.

__ADS_1


Evenstar segera menepis segala pikiran yang berkecambuk dalam dirinya dan berusaha menjalani kehidupannya bersama Danta seperti biasanya. Danta adalah pria yang sensitif, Ia segera menyadari perubahan kecil dalam tingkah laku Evenstar namun Ia memilih diam.


Manusia adalah mahluk yang mudah keliru mengartikan antara godaan dan petunjuk dalam hidup mereka. Ada petujuk yang mereka abaikan, ada godaan yang mereka anggap benar. Hati manusia mudah bimbang disetiap pilihan. Kita tak pernah tahu betul pada sisi mana hati kita perpihak.


Fantasos hanya bisa menggunakan kekutannya untuk mempengaruhi mereka berdua selama satu mingu, jika lebih dari Itu, Fantasos khawatir Dogma akan menyadarinya. Pada awalnya Dogma tak begitu memikirkan tentang mimpinya hingga suatu saat Ia bertugas di bumi dan singgah ke rumah sahabatnya dan bertemu gadis dalam mimpinya tersebut.


Hari itu Evenstar bertengkar dengan Danta, Ia berlari kehutan tak tentu arah. Dalam pelariannya Ia berharap bertemu dengan pria dalam mimpinya.


“Apa yang sudah kupikirkan, betapa rendahnya aku mengharapkan pria lain disaat seperti ini.” Kata Evenstar sambil terus berjalan ke dalam hutan.


Setelah lelah berjalan, Ia berniat kembali pulang namun sepertinya Ia tersesat. Dalam kebingungan Ia mendengar suara musik yang sangat indah, Ia segera teringat mimpinya dan mencari sumber suara tersebut.


“Nadanya berbeda, namun ini sama indahnya dengan yang ada dalam mimpiku,” guman Evenstar.


Menyadari akan kedatangan Evenstar, pria yang memainkan alat musik tersebut langsung berhenti dan menghilang ke dalam air. Evenstar dengan memberanikan diri menghampiri pria dan wanita yang ada di sana.


“Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu kalian, sungguh saya tak bermaksud demikian.” Kata Evnestar sambil membungkuk meminta maaf.


“Bangunlah wahai anak manusia, Nokken memang pemalu, sebentar lagi dia akan muncul kembali” Jawab wanita berambut hijau tersebut.


Benar saja, pria dalam air tersebut segera muncul kembali sambil menatap Evenstar malu-malu. Setelah melihat dari dekat, Evenstar mulai menyadari bahwa mereka bertiga berbeda dengannya.


“Siapakah gerangan nona dan apa yang membawa anak manusia memasuki hutan sedalam ini?” Tanya pria berambut hitam dengan ramah.


Evenstar tersentak memandang wajah di hapannya.

__ADS_1


“Bukankah Ia pria dalam mimpiku? Apakah Ia tak mengenaliku?” Evenstar bertanya-tanya dalam hati.


“Maaf sungguh tidak sopan saya terlambat memperkenalkan diri, saya Evenstar, saya tersesat dan tidak tahu jalan pulang.” Jawab Evenstar sambil menunduk sambil berharap mereka tak menyadarai kekagetan di raut wajahnya.


Melihat tingkah laku Evenstar pria berambut hitam segera tertawa, Iapun segera memperkenalkan dirinya.


“Saya Dogma, ini Acasha pemilik pohon akasia yang indah ini dan ini adalah Nokken yang tinggal di Danau ini, Ia sangat pandai bermain musik.” Jelas Dogma.


“Tinggal di pohon? Dan bagaimana manusia bisa tinggal di dalam air?” Rupanya penjelasan Dogma semakin membuat Evenstar bingung.


“Ha ha ha maaf jika hal ini telah membuatmu semakin bingung. Acasha adalah mahluk yang tinggal di Pohon Akasia, dan Nokken adalah mahluk yang tinggal di dalam Danau.” Sungguh Dogma tak pandai menjelaskan dan semakin membuat Evenstar bingung.


“Oh ya, jangan sampai kau merusak teratai kesayangannya atau kau akan dibunuh.” Bisik Dogma sambil bercanda.


Mendengar hal itu wajah Evenstar pucat sambil memandang mahluk air tersebut sibuk dengan alat musiknya dan Dogma tertawa.


“Nona, kami bukan manusia sepertimu, di bumi ada mahluk selain manusia, hewan dan tumbuhan. Kita mungkin jarang bertemu karena mahluk abadi seperti kami tinggal jauh di dalam hutan dan menjauh dari jangkauan manusia.” Jelas Acasha menjawab kebingungan Evenstar.


“Mungkin mereka hantu atau semacamnya.” Kata Evenstar dalam hati, hal ini lebih mudah untuk diterima akalnya.


“Hari ini tugasku sudah selesai, bagaimana jika aku mengantarmu keluar dari hutan?” Tawaran Dogma disambut dengan baik oleh Evenstar, karena sesungguhnya Evenstar ingin bertanya banyak hal pada Dogma.


Setelah berpamitan pada Acasha dan Nokken mereka segera berlalu.


“Nokken, bukankah hari ini Dogma tertawa lebih banyak dari biasanya? Atau hanya perasaanku saja?” Noken hanya menanggukan kepalanya sambil tangannya terus sibuk memetik lira.

__ADS_1


__ADS_2