
“Para penduduk gelisah dengan hal itu dan tak ada yang berani keluar pada malam hari. Mungkin karena kelaparan, mahluk ini mulai menghisap darah ternak warga. Beberapa penduduk memutuskan untuk memburu mahluk yang merugikan ini. Saat sedang berpatroli mencari mahluk ini, salah seorang warga melihat Sang Raja sedang berbicara dengan seseorang yang bercahaya di bawah sinar bulan. Karena penasaran mereka mencoba menguping pembicaraan Yang Mulia dengan orang asing itu. Mereka sangat terkejut mendengar isi pembicaraan mereka yang intinya adalah mahluk itu marah karena tak ada lagi manusia yang keluar malam untuk dihisap darahnya seperti perjanjian awal yaitu mahluk itu akan memberi harta yang berlimpah kepada kerajaan ini dengan imbalan mahluk itu bisa mendapatkan darah segar dari warganya.”
“Lalu salah seorang dari kelompok itu memerintahkan seorang warga untuk memanggil warga lainnya agar mereka bisa beramai-ramai menangkap mahluk itu dan juga Raja. Namun saat utusan warga itu masih dalam perjalanan memanggil penduduk lainnya, mahluk penghisap darah itu beradu argumen dengan Yang Mulia yang berakhir dengan pembantaian sang Raja oleh mahluk itu. Mahluk itu sangat marah dan mengoyak tubuh raja kami dengan ganas. Sementara warga yang masih sembunyi tak berani menampakkan diri. Setelah rombongan penduduk datang mereka bersama-sama menuju tempat mahluk itu dan mendapati tubuh sang raja sudah teroyak. Mereka segera mengeroyok mahluk itu. Namun, sekelompok warga bukanlah lawan yang sepadan bagi mahluk itu. Ia berhasil membunuh beberapa warga, sungguh itu adalah peristiwa yang sangat kelam.”
“Hingga Facto ayah Raja Ficta meminta mahluk itu untuk bekerja sama agar tidak ada pihak yang dirugikan. Mahluk itu tetap meminta tumbal manusia setiap bulan purnama untuk dihisap darahnya, atau mahluk ajaib yang datang bersamanya akan mengamuk dan memporak porandakan seluruh kerajaan. Raja Facto setuju, dengan syarat mahluk itu tak akan menghisap darah ternak ataupun manusia selain manusia yang dipersembahkan untuknya. Memang hal ini masih merugikan penduduk. Namun mereka menyetujui hal ini.”
“Akhirnya ayah Raja Ficta dipilih menjadi raja berikutnya selanjutnya jabatan ini diwariskan kepada Raja Ficta. Hingga saat ini, peraturan ini masih berlaku. Setiap bulan mati para petinggi kerajaan selalu mengadakan rapat untuk menentukan tumbal yang akan dipersembahkan saat bulan purnama.” Bibi Hilni berhenti sejenak kemudian melanjutkan lagi.
“Kini tumbalnya adalah para pelanggar paraturan kerajaan, maka dari itu bibi sarankan kalian untuk patuh pada peraturan desa ini ya.” Kata bibi Hilni sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan kertas berlipat-lipat yang berjudul 'Peraturan Kerajaan Phantasia’.
“Ha ha ha bibi tau, kalian pasti kaget dengan peraturan yang panjang ini. Namun tidak semua pelanggar peraturan langsung dijadikan persembahan mahluk itu. Lihatlah di sana ada beberapa peraturan yang digaris bawahi. Itu merupakan peraturan mutlak yang tak boleh dilanggar, jika kau kau melanggar salah satu peraturan yangg digaris bawahi itu, maka hanya tinggal menunggu waktu saja kau akan menjadi persembahan untuk mahluk itu.”
“Namun kalian menganggap remeh pelanggaran ringan, setiap pelanggaran ringan akan diakumulasikan. Jika sudah berjumlah 50 hukumannya disamakan dengan pelanggaran berat. Kalian akan dijebloskan ke dalam penjara dan menunggu antrean untuk dijadikan persembahan selanjutnya. Pada awalnya peraturan ini tak sepanjang sekarang, setiap tahun peraturan diperbaharui dan ditambah dengan beberapa peraturan tambahan.” Jelas bibi Hilni pada mereka. Tetap saja itu bukan hal yang melegakan bagi mereka.
“Bi, kenapa penduduk di kerajaan ini tidak mencoba meninggalkan wilayah kerajaan saja? Bukankah jika tetap tinggal di sini mereka akan tetap dibayangi oleh perasaan takut. Dan apa yang terjadi jika tak ada satupun orang yang melanggar peraturan ini?” Freya berkata sambil menatap wajah bibi Hilni.
“Beberapa penduduk kerajaan sudah pernah berusaha meninggalkan kerajaan ini, namun lihatlah peraturan kerajaan ini dengan baik, disana tertulis bahwa meninggalkan kerajaan adalah sebuah pelanggaran kelas berat dan bagi pelanggarnya akan langsung dijadikan santapan Nightwalker. Mudah saja bagi siapapun untuk masuk ke dalam wilayah kerajaan, namun tak seorangpun diperbolehkan keluar dari wilayah kerajaan ini.” Kata Bibi Hilni sambil menunduk dengan wajah sedih.
“Putra bibi, pernah berencana meninggalkan kerajaan secara diam-diam, namun begitu melangkah keluar dari jembatan yang menghubungkan wilayah kerajaan ini dengan dunia luar, mahluk terkutuk itu langsung mengampirinya kemudian . . .” sambil menahan tangis bibi melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
“Bibi dan beberapa penduduk ada di sana menyaksikan semua itu, namun kami tak bisa berbuat apapun, aku membiarkan anakku mati didepanku.” Freya segera memeluk bibi Hilni yang kini sedang menangis mengenang kejadian menyakitkan beberapa tahun silam. Mereka semua terdiam dengan pikiran mereka masing- masing.
“Bi, aku masih bingung, bagaimana cara mereka memutuskan siapa yang akan ditumbalkan?” Tanya Dogma pada bibi Hilni.
“Di dalam penjara kerajaan terdapat para pelanggar peraturan, salah satu diantara mereka akan dipilih dalam rapat siapa yang akan dipersembahkan kepada mahluk itu.” Jawab Bibi Hilni.
“Nah anak-anak, Bibi harap kalian tidak melakukan hal bodoh yang dapat membahayakan diri kalian. Mulai sekarang hiduplah dengan damai di rumah ini dan saling menyayangi satu sama lain, bibi akan segera pulang karena hari sudah menjelang senja. Dan jangan sekali-sekali kalian keluar di malam hari. Jika kalian membutuhkan sesuatu kalian tahu kemana harus mencari bibi. Makanan di keranjang cukup untuk makan malam kalian dan sarapan esok hari. Besok pagi datanglah kerumah bibi, bibi akan memberi tahu bagaimana kalian bisa mendapatkan makanan untuk selanjutanya.” Sebelum melangkah keluar pintu, sekali lagi bibi Hilni mengingatkan pada mereka untuk mengunci semua pintu.
Sepulang bibi Hilni, mereka segera membersihkan salah satu kamar untuk mereka tiduri malam ini. Setelah satu kamar siap, mereka segera membongkar keranjang makanan yang dibawa bibi Hilni. Mereka menyantap makan malam tanpa berbincang. Setelah memberesakan makanan, mereka berempat segera menuju kamar yang tadi telah mereka siapkan. Dengan lampu kecil seadanya mereka mereka duduk berdekatan. Mereka menghabiskan sebagian malam dengan membaca peraturan kerajaan Phantasia yang sangat panjang. Tepat tengah malam sayup-sayup mereka mendengar suara nyanyian yang merdu.
“Bagimu pemuja ingatan,
surga yang kau rindukan,
cinta yang kau nantikan,
menunggu di batas angan.
Oh dewa agung yang terusir,
__ADS_1
kau sungguh bermain dengan takdir,
tidakkah kau terfikir,
kemana langkahmu berakhir.
Sungguh pilu kisahmu,
turun membawa rindu,
berjalan mengenang sembilu,
kami mengenangmu dalam lagu.”
Syair lagu itu terus diulang-ulang. Mereka berempat, saling menatap.
“Siapa yang bernyanyi di malam hari?” Pati berkata sambil terbang mendekati jendela, Freya pun segera turun dari ranjang dan hendak membuka jendela.
“Jangan dibuka!” Teriak Dogma pada Freya dan Pati.
__ADS_1
“Mungkin itu adalah Nightwalker yang dikatakan oleh bibi Hilni. Mungkin Ia berusaha menarik perhatian dengan lagu. Kita masih baru di sini dan kita belum begitu paham situasi desa ini, sebaiknya kita tidak melakukan tindakan yang tidak perlu.” Jelas Dogma pada Freya dan Pati, Pita mengangguk menyetujui pendapat Dogma.
“Sebaiknya kita segera tidur, besok pagi kita bisa menanyakan hal ini kepada bibi Hilni.”