
Purnama telah tiba. Dracias, Dogma, Pati, Pita dan Siry berkumpul di bawah pohon Miraculos. Harusnya dewa penjemput Dogma datang malam ini, dan benar saja tepat tengah malam, cahaya keemasan turun dari langit diiringi nada indah harpa. Sosok bercahaya itu kian lama kian tampak jelas dengan sepasang sayap indah di punggungnya. Dewa Fantasos muncul bersama Dewi Morai.
“Telah beribu tahun berlalu Dogma, Yang Satu mengutus kami menjemputmu pulang.”
Suara Dewi Morai sungguh lembut, merdu dan memepesona mahluk bumi yang mendengarnya. Mereka berbincang sejenak, kemudian Dogma segera menyampaikan maksudnya untuk meminta darah salah satu dari mereka untuk Dracias. Sungguh Dewa Fantasos merasa bernostalgia saat memberikan darahnya pada Dracias.
Malam ini Dracias melepaskan statusnya sebagai vampir. Ia telah sepenuhnya menyerahkan kelanjutan kisah vampir yang agung pada penduduk Vlaris. Rasa cintanya pada putri Kyra melebihi kebanggaan yang telah Ia pegang teguh ribuan tahun lamanya sebagai vampir dari Vlaris.
Setelah memberi darahnya pada Dracias, Dewa Fantasos dan Dewi Morai segera kembali terbang dan menghilang ke angkasa.
“Dogma, bukankah mereka datang untuk menjemputmu?” Tanya Dracias tak mengerti.
“Sesaat setelah kau meneguk darah Dewa Fantasos, aku menerima perasaanku, aku mengakuinya dengan sepenuh hatiku.” Kata Dogma tersenyum.
“Apa maksudmu?” Bukan hanya Dracias, semua yang hadir di sana bertanya- tanya.”
Dogma menjelasan dengan singkat bahwa kini Ia manusia. Sejak malam Ia datang menemui Dracias dan mendengar kisah yang terjadi di Vlaris, Dogma bersikeras membelenggu perasannya untuk Freya, Ia selalu menolak hatinya untuk mengakui bahwa Ia jatuh cinta pada gadis bumi itu. Jika sekali saja Ia mengakui perasaan cintanya, Ia akan menjadi manusia. Bahkan setelah Freya memeluknya setelah berpisah delapan tahun dan saat Freya menyataka cintanya. Dengan susah payah Ia menolak perasaannya.
Dracias lunglai dan berlutut. Semua ini yang dilakukan Dewa yang terbuang ini semata- mata demi bangsa vampir Vlaris dan dirinya yang egois.
“Mungkin saja Ia sudah berniat menjadi manusia saat pertama kembali ke Phantasia, namun karena aku mengutarakan keinginan bodohku, Ia harus menunggu satu purnama lagi. Ia menahan perasannnya hinga datangnya hari ini.”
Rasa bersalah memenuhi kepala Dracias, namun Ia juga sangat berterima kasih pada Dogma. Seandainya saja Dogma tak menahan perasannya hingga hari penjemputannya datang, tentulah para dewa tak akan datang untuk menjemput Dogma. Tentu saja Dracias tak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dan meminta darah dewa yang membuatnya menjadi manusia.
“Maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Dracias.
__ADS_1
“Bangunlah, itu bukan salahmu. Aku yang memilih jalanku” Kata Dogma sambil tersenyum.
Pagi harinya sebelum Dogma menjadi manusia Ia berbincang dengan Freya.
“Freya, nanti malam aku harus kembali ke Taman Surga. Sungguh kita adalah mahluk yang berbeda, kumohon mengertilah. Saat aku kembali, mantraku padamu akan menghilang juga. Apa kau tak merindukan orang tuamu?” Kata Dogma lembut sambil menatap Freya.
Meski berat, Freya menyetujui saran Dogma. Ia tak ingin menahan langkah Dogma untuk kembali ke Taman Surga. Ia pun memiliki kehidupan yang harus Ia jalani, ada ayah dan ibunya yang menanti di rumah. Saat hendak melangkah masuk ke dalam pintu yang menghubungkan dunianya dan Phantasia di atas pohon Miracolos, sekali lagi Freya memeluk Dogma dengan erat.
“Dogma bagaimana jika aku merindukanmu? Bagaimana jika kita tak pernah bertemu lagi”
Freya berbisik dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Hei, tak ada jarak yang akan menjauhkan kita, tak ada dunia yang akan memisahkan kita. Bayangkan aku, maka aku akan hadir dalam imajinasimu. Ingat aku, maka aku akan hadir dalam kenanganmu.” Kata Dogma berbisisk di telinga Freya.
Ketika Freya hendak melangkah ke pintu tersebut dogma, berbisik kembali,
Rahasia yang hanya diketahui oleh Dogma yaitu pada saat pertama kali Ia menepuk pundah Freya adalah saat pertama kalinya Ia berbisik‘Prohibere tempus’. Ia menghentikan waktu di dunia Freya agar bisa memonopoli Freya lebih lama di Corazone bahkan saat Freya belum menyadarinya. Ia melupakan niat yang yang Ia pegang teguh untuk tak malakukan dosa yang sama.
Minggu tahun 2004 pukul 06:47:11
Freya tiba dengan selamat di bawah pohon akasia di hutan dekat rumahnya. Ia merasa agak pusing.
“Sepertinya aku ketiduran di sini dan bermimpi aneh. Oh ya aku harus segera kembali atau ibu akan memarahiku.”
Gadis kecil berusia dua belas tahun itu bangkit dan mencari mangkuk yang seharusnya ada di sana.
__ADS_1
“Ayolah, dimana mangkukku? Ibu akan marah kalau aku menghilangkan mangkuknya. Semua peralatan dapur lebih berharga daripada aku dimata ibu.”
Meski telah mencari kesana kemari, Ia tak juga menemukan mangkuknya. Akhirnya dengan pasrah ia pulang ke rumahnya sambil berharap ibunya tak menyadari mangkuknya berkurang satu biji.
“Bu, lihat anakmu kembali lebih cepat dari biasanya, mungkin Ia lapar lebih cepat kali ini.” canda ayah Freya.
Waktu berlalu dengan cepat, Freya tumbuh menjadi gadis normal yang berparas cantik. Kini Ia telah berusia dua puluh tujuh tahun. Usia yang cukup matang untuk menikah, namun selalu menolak secara halus setiap pria yang mendekatinya.
“Freya apak kau akan meninggal sebagai perawan tua? Lihatlah kita semua sudah menikah dan punya anak.” Rara adalah sahabat Freya sejak SD.
“Aku sudah jatuh cinta pada seorang pria, Ia tampan dan dewasa. Tapi aku lupa bertemu dengannya dimana. Tapi aku pasti akan bertemu dengannya lagi, atau paling tidak pria yang mirim dengannya.” Kata Freya yakin.
“Realistislah Freya, kau tak hidup dalam mimpi, bagaimana bisa kau jatuh cinta pada seseorang yang hanya ada dalam ingatanmu yang kau sendiri tak yakin itu mimpi atau nyata.”
Freya hanya tersenyum mendengar celoteh sahabatnya yang tak bosan- bosan menasihatinya soal menikah.
Malam ini purnama, ada perasaan tenang saat memandang bulan. Freya yang pulang kerja larut memutuskan untuk tak segera pulang, Ia mampir ke sebuah taman kota dimana Ia bisa dengan leluasa menatap indahnya sinar bulan. Setelah di sana beberapa saat Ia segera beranjak. Sebenarnya Ia masih ingin menatap bulan yang indah ini, namun jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul sembilan malam. Ia segera bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju tempat mobilnya diparkir sambil sesekali mendongak ke langit.
Tanpa sengaja Ia menabrak seorang pria, dan entah mengapa Freya kehilangan keseimbangan seperti adegan di film Holywood yang sering ditontonya, dan adegan selanjutnya tentu saja sama persis. Pria berjas itu menangkapnya sebelum terjatuh. Jantung Freya berdegup kencang ketika memandang wajah pria dihadapannya tersebut. Tanpa berfikir panjang Freya segera memeluk pria tadi dan menangis bahagia. Pria itu membalas pelukan Freya dengan erat.
“Lama tak jumpa Freya. Kali ini aku tak akan membuatmu menunggu lagi.” Bisik Pria itu dengan lembut.
Setelah Dogma menjadi manusia, Ia menuju dunia dimana Freya berada, Ia tak ingin menyesal lagi. Ia tak Ingin kehilangan lagi. Namun Ia terbawa ke pulau yang berbeda dengan Freya. Perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan dunia ini. Beruntung Ia ditolong oleh seorang pria tua yang kaya yang baru saja ditinggal mati oleh istri dan anaknya dalam kecelakaan mobil.
Dogma belajar dengan cepat, lima belas tahun kemudian Ia dipercayai memimpin salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia. Ini adalah perjalanan bisnisnya ke pulau Bali. Tak disangka rasa rindunya akan cahaya purnama mempertemukannya dengan kekasihnya. Sungguh rahasia takdir tak ada yang bisa memprediksinya.
__ADS_1
...FIN...