
Sudah tiga purnama sejak kepergian Dogma, Freya masih menunggu di kerajaan Phantasia.
“Dogma, sesungguhnya penduduk Phantasia berhutang padamu”
Freya berguman lirih sambil menatap langit malam ditemani oleh Pati dan Pita, gadis berusia belasan tahun itu sungguh lebih dewasa disbanding anak seusianya di dunianya.
Sejak Raja Ficta mengumumkan kepergian Nightwalker, penduduk Phantasia mulai keluar masuk kerajaan dengan bebas. Banyak penduduk yang baru teringat akan tujuan awal mereka yang sempat terlupakan. Tak ada ketakutan yang membayangi mereka saat malam purnama. Raja Ficta membuat daftar pelanggaran yang baru, tentu saja daftar yang dibuat adalah hal yang masuk akal dan tidak memberatkan aktifitas maupun kreatifitas penduduk Phantasia.
Freya diajarkan cara menangkap ikan oleh Dogma sebelum Ia pergi, namun sejak kepergian Dogma yang menagkap ikan untuknya adalah Airy. Ia jadi bersahabat dengan Airy dan Siry.
“Siry, kalau tidak salah menurut cerita bibi Hilni mahluk seperti kalian datang bersama dengan Nighwalker tetapi kenapa kalian tidak pergi bersamanya?” Tanya Freya pada Siry di suatu pagi saat menemani Airy menagkap ikan di sungai.
“Kami memang datang bersamanya ke kerajaan Phantasia. Selama ini Ia menawan kami agar tunduk di bawah perintahnya dengan mengancam akan menyakiti keluarga kami di kampung halaman. Namun dini hari sebelum keberangkatannya, Ia membebaskan kami.
Beberapa dari kami ada yang memilih untuk kembali pulang ke kampung halaman, ada yang memutuskan untuk tetap tinggal di sini selama raja mengijinkan. Bagi kami mahluk yang dapat hidup untuk ribuan tahun lamanya, untuk tinggal barang sepuluh atau dua puluh tahun lagi bukanlah waktu yang lama. Mungkin bagi kalian manusia itu adalah waktu untuk keluar bermain sebelum ibu kalian memanggil untuk pulang.” Kata Siry diikuti anggukan setuju Airy.
“Kalau aku boleh jujur, sebenarnya Ia tidaklah jahat, Ia memaksa kami di bawah perintahnya hanyalah karena Ia yang selalu sendirian selama ini merasa kesepian.” Timpal Airy.
“Siry, apa kau menyukainya?” Tanya Freya tanpa basa-basi, tentu saja hal ini membuat Siry salah tingkah.
__ADS_1
“A-apa maksudmu?” Siry berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.
“Ha ha ha kau gadis kecil yang peka ya.” Tawa Airy.
“Lalu apa kau menyukai pria tampan yang pergi tiga purnama yang lalu?” Kini gilaran Siry menggoda Freya setelah bisa mengatur debaran jantungnya.
“Tentu saja tidak!” Freya berkata setengah berteriak.
“Ha ha ha sikapmu mengatakan yang sebaliknya tuh.” ledek Airy. Mereka bertiga tertawa bersama, saling memberi semangat.
Pati dan Pita kini sering berpetualang bersama pohon Miraculos. Saat pohon Miraculos kembali ke Phantasia, mereka akan tinggal di rumah bersama Freya untuk menceritakan petualangan mereka pada Freya. Berbeda dengan Pita dan Pati, Siry lebih memilih tinggal di rumah Freya saat pohon Miraculos berpindah tempat.
Sang putri kerajaan rencananya akan dinikahkan dengan pangeran dari kerajaan tetangga, namun sang putri menolaknya. Karena sang raja sudah terlanjur berjanji maka Ia menggantinya denga putri keduanya. Penolakan sang putri bukan tanpa sebab, tanpa diketahui oleh siapapun saat Dracias bertolak dari kerajaan Phantaia ternyata sang putri sedang mengandung anak hasil hubungannya dengan Dracias.
Tanpa sepengetahuan raja, Dracias yang telah jatuh
cinta pada putri Kyra sering mengunjungi di malam hari.
Mengetahui kenyataan ini, sang raja murka dan mengusir sang putri karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarga kerajaan. Kini sang putri tinggal di pinggir wilayah kerajaan. Mengetahui hal ini Freya dan Siry sering mengunjunginya, meski Siry juga mencintai Dracias namun Ia tak membenci wanita tak berdaya yang tengah hamil ini.
__ADS_1
Di salah satu rumah kerajaan Phantasia, bibi Hilni merenung sambil memandang luasnya lembah dari teras rumahnya.
“Seandainya saja pria itu datang lebih cepat, atau putraku dan orang-orang desa yang dulu meninggalkan kerajaan mau sedikit bersabar menunggu datangnya hari seperti ini. Tentu saja mereka tak akan meninggal.” Gumam bibi Hilni sambil menghembuskan nafas panjang.
Tak ada kedatangan terlambat ataupun terlalu awal, semua telah ditetapkan untuk datang dalam waktu yang paling sempurna.
***
Purnama telah menampakan dirinya di langit Vlaris yang cerah. Penduduk berkumpul di tanah lapang di tengah desa untuk menyaksikan pembuktian kebenaran cerita yang telah diturunkan ribuan tahun yang lalu.
“Para penduduk Vlaris, terima kasi telah hadir. Malam ini kita semua akan mnjadi saksi kembalinya bangsa vampir yang agung dari Vlaris. Seperti yang kalian sudah dengar, cucuku Veny telah berubah menjadi vampir dan seharusnya di malam purnama Ia akan memerlukan darah manusia untuk mempertahankan kesadarannya sepertu pendahulu kita. Namun di sini hadir bersama kita, Dewa Agung yang terusir dari
Taman Surga. Darahnya akan menjadikan Veny vampir generasi baru. Para kaum vampir dan keturunannya tak akan memerlukan darah manusia lagi.” Kata-kata pembuka pertemuan akbar dari kepala desa itu disambut riuh gembira dari penduduk Vlaris. “Sekarang mari kita lihat bersama prosesnya.” Lanjutnya.
Seseorang naik ke atas panggung sambil membawa pisau dan gelas kemudian disodorkan kepada Dogma. Dogma segera mengiris salah satu nadi di tanganya dan menampung darahnya di gelas. Darah Dogma tampak bercahaya. Kemuadian Veny yang juga berada di atas panggung diperintahkan untuk meminum darah Dogma. Setelah meminum darah Dogma, tubuh Veny bergetar lebih hebat dari pada saat meminum darah Dracias. Para warga yang menyaksikan hal itu mulai riuh, namun hal itu tak berlangsung lama, kesadaran Veny segera kembali dan Ia segera berlari memeluk kakeknya.
“Kakek, aku tak tahu apa yang terjadi, namun tubuhku terasa lebuh ringan dari sebelumnya, dan aku merasa lebih baik.” Mendengar hal itu, semua yang hadir di sana terlihat lega.
“Para hadirin, kalian sudah melihatnya sendiri, namun hal ini kita perlu buktikan hingga purnama selanjutnya. Jika cucuku Veny bisa melewati purnama selanjutnya tanpa memerlukan darah manusia kita akan melakukannya. Mengembalikan kejayaan bangsa vampir dari Vlaris dan hidup dalam umur yang panjang sebagaimana vampir ditakdirkan.” Hal ini rupanya disambut dengan baik oleh semua penduduk Vlaris.
__ADS_1
Kisah yang diturunkan sejak ribuan tahun yang lalu tentang masa emas banga vampir dari Vlaris akan segera meraka rasakan sendiri. Selama ribuan tahun, mereka hidup dan mati sebagai manusia. Kini mereka akan menikmati kembali anugrah umur panjang sebagaimana nenek moyang meraka dahulu. Takdir yang dijanjikan kini ada di depan mata, semua penduduk Vlaris bahagia dengan cara mereka masing-masing. Bebarapa menangis haru, beberapa berpelukan dengan kawan di samping, beberapa masih tertegun dan beberapa masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.