
Setelah berterima kasih, Dogma dan Freya segera memisahkan diri dari keluarga Juda. Hari masih siang, mereka tak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke lembah untuk menemui Siry. Sesampainya di sana, mereka tak melihat Siry di bawah pohon. Meski sudah memanggil nama Siry berkali kali kearah atas pohon, namun Siry tak jua muncul.
“Coba aku terbang ke atas pohon untuk mengecek.” Kata Pati.
“Jangan, di atas pohon banyak binatang yang tinggal, dan kita tak tahu mahluk apa saja yang ada di sana.” Kata Pita dengan khawatir.
“Tenanglah aku akan terbang dengan hati-hati.” Pati berusaha menenangkan Pita, sambil berkata demikian Ia segera terbang ke atas.
Sekitar lima menit mereka bertiga menunggu dengan cemas di bawah, akhirnya Pati muncul.
“Apa yang terjadi? Mengapa kau sungguh lama?” Pita yang baru muncul langsung diberondong pertanyaan oleh Pita.
“Di atas sana ada berbagai macam burung, ada burung merpati juga, ada harpy seperti Siry namun lebih kecil. Tapi Siry tampaknya tak ada di sana.” Jawab Pati.
“Mungkin Ia sedang pergi, mari kita pulang saja.” Ajak Freya.
Entah mengapa Freya tak begitu menyukai Siry yang tampak akrab dengan Dogma dan juga Airy yang selalu menggoda Dogma. Mereka memutuskan pulang melewati sungai dengan harapan bisa bertemu dangan Airy dan bertanya tentang keberadaan Siry, namun mereka tak menemukan siapapun di sungai.
__ADS_1
“Tadi saat kita kepasar juga tak menemukan kuda bertanduk satu dan burung besar yang memiliki kaki singa yang biasanya mondar-mandir di pasar. Sepertinya hari ini semua mahluk ajaib pergi ke suatu tempat.” Kata Dogma sambil memandang sekeliling.
“Tapi tadi harpy kecil ada di rumahnya.” Sela Pati.
“Benar, mungkin hanya beberapa mahluk saja.” Kata Freya.
Hari ke lima mereka mejadi penduduk kerajaan Phantasia dilalui seperti biasanya. Memetik buah dan sayuran, mengakap ikan, kepasar dan sebagainya. Yang membedakan hari ini dengan hari lainnya adalah malam ini purnama, seharusnya malam yang indah dengan hadirnya sang dewi malam namun hal ini tak berlaku di kerajaan Phantasia. Malam purnama selalu menakutkan yang tak pernah ditunggu kehadirannya. Kecuali oleh satu mahluk, Nightwalker. Mahluk ini harus bersabar selama kurang lebih dua puluh Sembilan hari dengan memakan ikan hingga makanan utamanya tiba saat bulan purnama. Sejak puluk lima sore penduduk sudah diperintahkan untuk tidak keluar rumah.
“Apa kita akan membiarkan Juda mati begitu saja? Apa tak ada yang kita bisa lakukan untuk menyelamatkannya?” Tanya Freya pada Dogma.
Dogma tak bisa menjawab pertanyaan Freya. Dogma paham betul Freya tahu bahwa pertanyaannya tak membutuhkan jawaban. Pati dan Pita menyibukan diri dengan bulu di sayapnya. Mereka makan malam dalam diam.
“Jika aku menangis, siapakah yang menenangkan Jeni dan Juni. Biarlah langit yang akan menggantikan tangisku, biarlah gemuruh yang menyuarakan marahku, biarlah cahaya dewi malam yang muram itu yang akan menyaksikan kepergian putra tercintaku, biarlah angin malam yang menusuk tulang ini yang mengantarkan jiwa Juda ke surga.” Begitu pikirnya berulang kali ketika air matanya hendak jatuh.
Tangis mana yang lebih sedih dari tangis dalam hati seorang ibu yang berusaha merelakan kematian putranya. Kisah mana yang lebih pilu dari kisah seorang ayah yang tak bisa berbuat apapun saat nyawa putranya diambang batas takdir. Ayah Juda bangkit dari duduknya menuju istrinya yang sedang memeluk erat kedua putrinya yang masih menangis. Pria empat puluh tahunan itu memeluk mereka bertiga, runtuh sudah pertahanan ibu Juda, mereka berempat menangis. Tak peduli siapa yang harus menghibur siapa, siapa yang harus menenangkan siapa, mereka hanya tau mereka akan kehilangan bagian dari hati mereka. Mereka hanya jujur mengakui perasaan mereka. Meski jika malam ini berlalu, mereka tahu bahwa hati mereka tak lagi utuh, bahagia mereka tak lagi sama seperti dahulu.
Hal ini berulang sejak purnama sembilan tahun yang lalu hingga purnama-purnama berikutnya. Ada ratusan ‘Juda’ yang telah dipersembahkan, ada ratusan tangis keluarga yang telah ditinggalkan dan mungkin ada ratusan kebohongan yang telah diucapkan.
__ADS_1
Keesokan paginya, Dogma segera menuju pohon besar di dekat air terjun. Terlihat banyak penduduk disana, termasuk keluarga Juda. Mereka datang untuk mengambil jasad Juda yang sudah tanpa darah untuk di lakukan pemakaman di dalam hutan cemara di pinggir wilayah kerajaan Phantasia. Kebanyakan penduduk datang hanya untuk melihat tanpa berniat untuk membantu dan menghadiri acara pemakaman ‘penjahat Juda’. Prajurit kerajaan membantu membawa jasad Juda menuju pemakaman. Dogma dan Freya memutuskan mengikuti acara pemakaman tersebut.
Tanpa sepengetahuan Freya, Pati dan Pita saat malam purnama tepat pukul satu malam, Dogma pergi menemui Nightwalker yang sedang menikmati persembahannya. Begitu Dogma memasuki daerah air terjun, Nightwalker langsung tahu ada yang sedang memasuki wilayahnya dan Ia segera merampungkan ‘hidangan istimewanya’ dan menyambut tamu yang datang.
Di sisi air terjun terdapat jalan setapak yang sangat licin untuk menuju ke dalam gua. Dogma melangkah dengan sangat hati-hati agar tak terjatuh. Saat mencapai mulut gua yang gelap, Ia melihat samar-samar cahaya yang sekain lama semakin mendekat. Dogma berdiri menunggu cahaya yang datang padanya itu semakin jelas. Tampaklah sosok pria berambut putih dengan pakaian warna kelabu, tubuhnya tampak bercahaya.
Baru sekilas Dogma melihat wajah pria itu dengan jelas, sosok itu dengan kecepatan yang tak disangka-sangka langsung menyerang Dogma. Karena kaget dengan serangan yang tiba-tiba ini, wajah Dogma tergorek oleh kuku yang tajam bagai pisau mahluk itu.
“Nyaris saja aku mati.” Pikir Dogma sambil terus menghindari serangan bertubi-tubi ini.
“Kau bukan makanan yang mudah ditangkap heh?” Mahluk Itu akhirnya menghentikan serangannya sejenak.
“Aku ingin berbicara.” Balas Dogma dengan tenang.
“Tak ada makanan yang berbicara dengan pemburu!”
Nightwalker kembali menyerang Dogma, kali ini Dogma bukan hanya menghindar namun juga melakukan serangan balik hingga Ia berhasil menjatuhkan Nighwalker. Mahluk itu segera bangkit dan berniat menyerang Dogma kembali, namun niatnya diurungkan karena melihat luka di pipi Dogma sudah sembuh dengan cepat seolah Dogma tak pernah terluka.
__ADS_1
“Kau bukan manusia! Apa maumu datang kesini?” Melihat Nightwalker mulai bisa diajak bicara, Dogma menurunkan pertahananya dan berjalan mendekati mahluk itu.