
“Freya... Freya...Freya...”
Panggil seorang wanita paruh baya sembari membuka kamar putrinya yang sudah tertata rapi, tanda bahwa nama yang dipanggilnya sudah tak ada di tempat.
“Kemana dia sepagi ini?” Sungutnya setengah kesal. Saat hendak mencari keluar rumah, suaminya menghentikannya.
"Biarkan saja, nanti jam sarapan juga kembali". Mendengar teguran suaminya, sambil menghela nafas panjang Iapun melanjutkan aktifitas di dapur.
Ini hari Minggu yang cerah di tahun 2004 pukul 06:45:09. Semua terlihat sempurna pada tempatnya.
“Hmm hmm hmm la la la.”
Senandung gadis kecil sambil memunguti daun akasia yang berguguran. Gadis ini sangat menyukai daun akasia yang sudah tua dan gugur. Entah mengapa dimata gadis ini daun akasia yang tua berwarna kuning keemasan sangat indah. Freya mengumpulkan daun akasia dalam mangkok yang dibawanya dari rumah.
Setelah daun memenuhi mangkuk, gadis ini akan menghamburkannya ke atas dan Ia akan berputar kegirangan di bawah hamburannya seolah-oleh itu adalah hujan daun akasia.
Bagi gadis berumur 12 tahun bahagia sesederhana itu, sampai ketika putaran dan tawanya berhenti saat menyadari bahwa Ia tak lagi berada di hutan kecil di samping rumahnya. Semua pemandangan disekitarnya asing. Bukan, bukan pemandangan yang menakutkan, ini indah. Sepanjang Ia menatap sekitar semua pohon berdaun emas seindah daun akasia yang tua. Setelah tersadar dari terkejutnya, Iapun segera melangkahkan kaki diatas guguran daun berwarna keemasan itu.
Tak ada rasa takut di dalam benaknya, yang ada hanya penasaran. Ia berjalan semakin lama semakin ke arah pohon berdaun hijau. Di sekitar sana semua pohon berdaun emas, hanya ada satu pohon besar berwarna hijau dipenuhi dengan buah berwarna merah layaknya apel dan berbentuk seperti pisang. Pohon itu beranting rendah sehingga dapat dijangkau oleh gadis berumur 12 tahun.
Karena penasaran gadis itupun memetik buah tersebut. Di samping pohon ini terdapat sungai berair jernih yang mengalir dengan indah, sesekali ikan melompat ke udara menyapa angin yang berhembus manja.
“Aku tidak pernah memakan pisang berwarna merah, dan pohon pisang yang aku baca di buku tidak seperti ini bentuknya.” Gumam Freya sambil tangannya memetik buah itu.
Pohon ini berbentuk seperti pohon beringin berdaun lebat namun di sela sela rantingnya terdapat buah pisang berwarna merah.
__ADS_1
“Waaah... isinya seputih bengkuang.” Serunya terkaget kaget melihat keanehan buah tersebut, namun itu belum semuanya. Penasaran akan rasa dari buah aneh tersebutpun membuat Freya segera menggigit tanpa ragu.
“Anggur... ini rasa anggur merah yang kata Ibu harganya mahal itu!”. Dengan segera Freya melahap buah tersebut dan memetik lagi dan lagi.
Setelah puas dengan rasa buah tersebut, Freya baru tersadar bahwa banyak tumbuh bunga merah dengan inti berwarna putih berbentuk bunga matahari di sekitar tempat Ia berdiri. Ia tak menyadari bahwa kulit buah yang telah ia makanpun tak ada di sana, tapi Ia tak mau ambil pusing tentang hal itu, Iapun melanjutkan perjalanan dengan membawa beberapa buah di mangkuk yang Ia bawa dari rumah tadi pagi. Setengah jam berjalan, Freya sampai di sebuah desa kecil yang damai, semua warna pohon di sini normal seperti pohon di dunia yang Freya kenal, desa ini seperti desa di negeri dongeng tanpa tersentuh teknologi.
Freya bingung, Ia begitu ingin masuk ke desa itu, namun Ia juga merasa takut dan ingin pulang karena ingat ke dua orang tuanya yang pasti sedang menunggu dengan cemas di rumah.
Ia menoleh ke sebelah kanan dan melihat tanah kosong dengan beberapa nisan di atasnya. Ia segera bergidik ngeri dan berniat segera memasuki desa, namun matanya terhenti ketika melihat sesosok pria yang sedang duduk di depan salah satu nisan. Namun Ia ragu untuk bertanya kepada pria yang mungkin sedang berduka itu. Ia menengok kearah desa sebentar untuk mencari orang lain yang akan Ia tanyai, namun Ia tidak melihat seorangpun yang berlalu lalang di pinggir desa. Akhirnya Ia kembali menoleh kearah pria itu, namun pria tadi sudah menghilang.
“Halo gadis kecil, apa kau mencariku?” Sapa seorang pria sambil menghampiri Freya yang masih tercengang.
Freya terkejut sampai menjatuhkan mangkuknya karena pria itu muncul dari belakang seraya menepuk punggungnya.
“Ini di mana? Aku tidak tahu kalau di hutan samping rumahku ada tempat yang seperti ini.” tanya Freya penasaran.
“Mungkin kau hanya tidak pernah menjelajahi hutan itu lebih dalam lagi, semakin dalam kau menjelajah semakin banyak hal baru yang kau ketahui, itu kata kakek.” Jelas pria berbaju warna kelabu itu dengan yakin.
“Apa Paman penduduk desa itu?”
“Ayolah, apa aku terlihat setua itu? Panggil saja Dogma, namaku adalah Dogma.”
“Tapi,”
“tak ada tapi tapian. Aku akan marah jikau kau panggil aku dengan sebutan Paman.” Potong Dogma sebelum Freya protes lebih panjang lagi.
__ADS_1
“Sungguh aneh Paman ini, kalau di rumah aku akan dimarahi saat memanggil seseorang yang lebih tua dengan namanya. Tapi sepertinya paman ini tidak jahat, sebaiknya aku turuti saja dulu.” Pikir Freya dalam hati.
“Aku bisa mengantarmu jika kau ingin memasuki desa itu nona kecil.” Kata Dogma dengan sopan. “Aku ingin pulang, Ibu pasti cemas aku menghilang cukup lama.” Jawab Freya lesu yang tiba-tiba teringat dengan Ibunya.
“Baiklah, dari mana kau datang? Aku akan mengantarkanmu kesana.” Tawar Dogma pada Freya.
Freya ragu sejenak, Ia teringat pesan ibunya, “jangan mau diajak kemanapun oleh orang yang tak dikenal, kau pasti akan diculik.”
Seakan bisa mengerti perasaan Freya, Dogma segera berkata, “jangan takut nona kecil, aku bukan orang jahat.”
“Tapi Paman ini tidak tampak seperti orang jahat, mungkin aku bisa mempercayainya.” Pikir Freya dalam hati.
“Jangan panggil aku nona kecil, itu terdengar aneh! Panggil saja aku Freya.” Kata Freya pada Dogma.
Meski Dogma terlihat jauh lebih tua, namun pria itu memiliki paras tampan dan wajah yang tak menggambarkan orang jahat, gadis manapun akan langsung berprasangka baik padanya.
“Ceritakan padaku dari desa mana kau berasal, aku akan mengantarmu ke sana.” Kata Dogma sambil menatap wajah Freya. “Aku tinggal di jalan Mertasari No. 919 Desa Sidakarya.” Jawab Freya dengan mantap. Dogma menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Aku belum pernah mendengar nama desa seperti itu.” Jawab Dogma.
“Baiklah, apa kau tahu jalan menuju kesana? Tunjukan jalannya dan aku akan menemanimu.” Kata Dogma setelah melihat wajah sedih Freya saat Dogma mengatakan bahwa Ia tak mengenali nama desa yang Freya sebutkan.
“Seingatku tadi, aku sedang bermain di hutan kecil di dekat rumahku, dan tiba-tiba aku sampai di hutan yang ada pohon ajaib yang berbuah aneh, setelah itu aku mengikuti jalan setapak dan sampai di sini. Oh ya ini buahnya.” Kata Freya sambil menunjukan buah yang ada dimangkuknya. Dogma tak mengenali jenis buah itu, namun melihat dari pakaian dan cerita Freya Dogma menyadari bahwa Freya bukan berasal dari Corazone. Berkat pengetahuan selama Ia menjadi dewa, Ia mengetahui bahwa ada dunia lain selain Corazone.
“Baiklah, pertama kita cari pohon ajaib itu, lalu dari sana mungkin kau ingat sesuatu.” Ajak Dogma pada Freya. Akhirnya mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke hutan itu.
__ADS_1