
Pertama-tama Dracias ingin menunjungi desa yang telah membuat perjanjian dengannya dan berniat tinggal di desa tersebut sementara waktu sambil menunggu datangnya dewa yang terusir turun ke bumi. Namun desa tersebut telah diserang oleh sekawanan bandit yang kuat, banyak penduduk yang meninggal dan desa mereka porak-poranda. Seakan melihat adegan yang sama, manusia yang saling menyakiti sesamanya.
Dracias mulai membenci bangsa manusia. Ia meneruskan pengembaraan tanpa tujuan itu hinga ribuan tahun lamanya. Kini untuk bertahan hidup, setiap bulan purnama Dracias tak lagi meminta darah pada manusia, tapi Ia memangsa manusia bagaikan memburu hewan buruan.
Di perjalanan Ia bertemu dengan manusia tua permal yang akan Ia mangsa. Sebagai imbalan atas pengampunan nyawanya, manusia itu memberi Dracias satu ramalan.
“Utara yang harus kau tuju, hutan cemara yang yang teduh, disana semua jawaban berlabuh. Di balik gua yang basah dia datang bersama cahaya purnama. Dia dewa namun bukan dewa. Yang kau cari harus kau temukan sebelum Ia jatuh cinta, atau semua akan sia-sia.”
Dracias tak mengerti maksud ramalan itu, namun Ia tetap berjalan ke arah utara. Pengembaraan Dracias berakhir di sebuah wilayah kerajaan Phantasia.
Dewa yang membuat kesalahan adalah hal langka yang belum tentu terjadi ribuan tahun lamanya. Untuk mengenali dewa yang terusir sangatlah sulit jika dewa tersebut berbaur dengan manusia, maka mustahil untuk menemukannya karena Ia tak memiliki sayap. Saat seorang dewa turun ke bumi untuk bertugas semua mahluk bisa melihat sayapnya kecuali manusia.
Dogma mengetahiu kenyataan bahwa darah dari dewa yang terusir dapat membuat vampir hidup tanpa darah manusia dan tidak kehilangan kesadarannya. Karena khawatir menjadi buruan bangsa vampir, Ia memutuskan untuk hidup berbaur dengan manusia.
Membayangkan dirinya akan menjadi buruan para bangsa vampir membuatnya bergidik.
Sementara itu di Taman Surga yang damai terlihat Fantasos merenung,
“apa yang kau pikirkan wahai kawanku?” Sapa Dewi Morai disuatu ketika.
“Tidak, aku hanya memikirkan mimpi-mimpi manusia akhir-akhir ini.”
“Kumohon jangan bohong padaku wahai dewa mimpi, sesungguhnya aku memperhatikanmu sejak dewa Dogma di turunkan ke bumi, kau sering melamun. Kami semua tahu bahwa kau dan dewa Dogma sangat dekat. Aku turut berduka atas kejadian itu.” Kata Dewi Morai dengan lembut.
__ADS_1
Dewa Fantasos sering merenung semenjak dewa Dogma diusir dari Taman surga. Meski awalnya Ia menyakini perbuatanya yang mengakibatnkan Dogma diusir adalah benar, namun jauh di lubuk hatinya Ia sungguh menyayangi Dogma.
“Dibandingkan dengan kehancuran Taman Surga, sungguh pengorbanan Dogma bukanlah hal yang besar.” Katanya dalam hati untuk menyakinkan dirinya bahwa yang Ia lakukan adalah benar.
Hal ini terus dilakukannya agar Ia tak menyesal membuat Dogma menjalani semua Ini. Di sisi lain Ia percaya bahwa Dogma bisa menjalani hukumannya dengan baik dan bisa kembali lagi ke Taman Surga.
“Semoga penduduk Vlaris bisa bertahan hingga bertemu Dogma, tak seharusnya ada mahluk ciptaan Yang Satu yang musnah begitu saja.” Kata Fantasios sambil menghela nafas panjang mengingat penduduk yang berubah menjadi hewan buas ribuan tahun yang lalu di hutan bagian selatan.
Satu pekan berlalu sejak Dogma datang menemui Dracias. Dracias masih juga bimbang memutuskan untuk mengejar cintanya dan menyerah menjadi vampir atau bertahan demi martabat bangsanya hingga bertemu dengan dewa yang terusir.
“Menurut bunyi ramalan, seharusnya ini adalah wilayah yang benar, wilayah yang di kelilingi hutan cemara, akupun tinggal di gua untuk menunggu kedatangannya. Harusnya Ia datang saat purnama.” Dracias mencoba membaca ramalan yang dicatatnya dengan rapi di kulit domba.
“Benar Ia datang menemuiku saat bulan purnama, melihat regenerasinya yang luar biasa cepat bisa kupastikan Ia bukan manusia. Tapi apakah Ia dewa? Seorang dewa harusnya bersayap.”
“Aku harus memastikan bahwa darah yang Ia berikah bukanlah darah seorang dewa 'biasa'. Bangsa vampir akan berakhir jika aku juga menjadi seorang manusia. Itu tak boleh terjadi!”
“Apakah gerangan yang tak boleh terjadi?” Dracias kaget karena Dogma tiba-tiba berada di dalam gua miliknya, Dogma sengaja menyembunyikan aura keberadaannya sehingga Dracias tak menyadari keberadaan Dogma.
“Kau! Siapa kau sebenarnya? Apa kau dewa?” “Bagaimana kau bisa masuk tanpa kuketahui?” Dracias menyambut kedatangan Dogma dengan berondongan pertanyaan.
“Woa tuan vampir, bertanyalah satu-satu.” Kata Dogma dengan santai.
“Aku satu-satunya vampir dari Vlaris yang tersisa, Dracias. Aku berada di sini untuk mengembalikan kejayaan bangsaku, di hutan Vlaris. Sejak ribuan tahun yang lalu mereka mempercayakan pencarian ini padaku. Jika aku mengabaikan mereka dan menjadi manusia demi cintaku pada seorang manusia, aku tak akan punya wajah untuk menghadap seluruh penduduk Vlaris bahkan di kehidupan setelah kematianku nanti. Aku sudah berjanji dan seorang ksatria Vlaris menghormati janjinya. Aku menolak menjadi seorang manusia!” Kata Dracias dengan tegas.
__ADS_1
“Kau satu-satunya vampire yang tersisa? Apa yang terjadi dengan vampire lainnya?” Dogma baru mengetahui tentang hal ini, Ia mengira Vlaris masihlah rumah bagi ratusan bangsa vampir yang siap memburunya kapan saja untuk mendapatkan darahnya.
“Mereka menjadi manusia, semuanya. Hanya aku yang tertinggal.” Dracias kemudian menceritakan kisah yang terjadi ribuan tahun yang lalu.
“Aku pernah mendengar kisah bangsa vampir yang tinggal jauh di hutan selatan di daerah Vlaris memiliki martabat yang sama tingginya dengan para dewa. Sekali mereka berjanji maka tak ada badai gurun atau samudra yang bisa menggoyahkannya. Awalnya aku mengira itu hanya legenda, namun ketika aku melihat tekadmu aku mengerti itu bukan cerita belaka.” Dogma menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, “maaf karena tak memperkenalkan diriku dengan benar dipertemuan sebelumnya. Aku Dogma, aku adalah dewa yang terusir. Di perpustakaan di Taman Surga aku menemukan bahwa darahku berguna bagi bangsa vampir. Aku fikir begitu aku sampai di bumi aku akan menjadi buruan bagi kalian. Ha ha ha” entah kenapa Dogma tertawa lega, namun Dracias menatap Dogma dengan gusar.
“Maaf aku tak bermaskud menertawakan keadaan bangsamu, aku hanya senang bangsa vampir tak semengerikan yang aku duga. Jika itu permasalahannya, aku akan memberikan darahku padamu dengan syarat kau harus berhenti meminta persembahan dari warga desa.” Dracias terlihat berfikir sejenak,
“apa jaminannya bahwa kau adalah dewa yang terusir, dan aku tak akan menjadi manusia setelah meminum darahmu?” Dogma menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ah, Siry, dia temanku sejak aku masih menjadi soerang dewa.” Kata Dogma dengan yakin.
“Aku tak bisa percaya hanya dengan pengakuan seseorang.”
Dogma menghela nafas panjang, sungguh sulit mengatakan kebenaran kepada seseorang yang tak mudah percaya dengan siapapun.
“Jika kau tak percaya padaku, bawa aku ke Vlaris, disana kau bisa memberikan darahmu kepada salah satu penduduk, kemudian setelah Ia menjadi vampir, berikan darahku padanya. Kita lihat apa yang terjadi.” Tawar Dogma, Dracias tak menjawab.
“Apa kau perlu waktu satu pekan lagi untuk berfikir?”
“Tidak, beri aku waktu hingga besok, besok tepat tengah hari aku akan menemuimu di rumahmu.” Kata Dracias dengan mantap.
“Waow, kau bahkan tahu dimana aku tinggal, baiklah tuan vampir aku tunggu kehadiranmu.” Dogma segera meninggalkan gua yang lembab itu.
__ADS_1