
Malam ini begitu spesial bagi penduduk Vlaris. Dengan sepuluh orang terakhir yang akan diubah menjadi vampir generasi baru, malam ini akan menjadi malam sempurna bagi kebangkitan bangsa vampir Vlaris. Bagi Dracias begitu terasa delapan tahun berjalan dengan menahan segala kerinduan pada kekasihnya, Kyra. Dengan berakhirnya malam ini, berakhir pula tugas yang dipikulnya selama ribuan tahun lamanya. Tugas terakhir yang diberikan ayahnya pada Dracias, sang vampir terakhir dari Vlaris. Malam ini penduduk Vlaris habiskan dengan berpesta, pesta yang lebih besar dari purnama pertama kedatangan mereka dahulu.
“Tuan Dracias, kami mengerti ada yang harus anda lakukan jauh di utara. Namun, ini adalah rumah Anda. Tolong sering-seringlah mampir.” Kata kepala desa sambil mengantar Dracias dan Dogma pergi di pinggiran desa Vlaris satu minggu setelah purnama. Setelah berpamitan Dracias dan Dogma segera menghilang dibalik rimbun pepohonan berukuran raksasa.
“Hei, mengapa kau berkata bahwa kau tak akan kembali lagi ke Vlaris?” Bukankah kau bisa mengajak putri kerajaan Phantsia tinggal di sini? Aku rasa penduduk Vlaris tak akan keberatan.” Dogma begitu penasaran dengan keputusan Dracias. Awalnya Ia malah mengira Ia akan kembali ke kerajaan Phantasia seorang diri.
“Dogma, berikan aku darah temanmu!”
“Apa? Kau tidak perlu darah manusia lagi untuk hidup, kau harus melawanku terlebih dahulu sebelu menyentuh darah Freya!” Tanpa sadar, Dogma begitu emosi.
“Darah teman dewamu. Kau punya teman yang sorang dewa kan?” Dracias menjawab dengan sedikit kesal.
Dogma begitu terkejut, rupanya Dracias ingin menjadi manusia demi rasa cintanya pada putri Kyra.
“Aku sudah lama sekali tak bertemu dengan mereka. Namun jangan khawatir nanti di akhir hukumanku, setelah aku berada di bumi selama 1.999 tahun, salah satu dari temanku datang menjemputku, saat itu tiba, aku kan meminta darahnya untukmu.”
“Hah, aku harus menunggu lagi rupanya.” Jawab Dracias sedih.
“Masa hukumanku habis empat purnama lagi, kau bisa menunggu selama itu kan?”
Perjalanan pulang mereka kali ini lebih cepat satu pekan dari perjalanan awal mereka. Di pintu masuk wilayah kerajaan kini dibangun gerbang megah dengan papan nama kerajaan Phantasia yang baru. Begitu memasuki wilayah kerajaan Phantasia, mereka melangkah dengan kecepatan angin seolah tak mau menunda setiap detik yang begitu berharga untuk berjumpa dengan sesorang. Dogma segera menuju pohon Miraculos, namun tak mendapatinya di tempatnya. Dogma terlihat patah semangat.
“Bodohnya diriku, delapan tahun adalah waktu yang lama bagi manusia, Freya pasti sudah kembali ke dunianya.
Dogma melampar batu kecil kesungai melampiaskan kekesalannya.
“Hei, hati- hati! Berani sekali ada manusia yang melempar batu padaku!”
Airy muncul dari air. Ia terkaget melihat Dogma berdisi di pinggir sungai.
“Airy! Maafkan aku.” Dogma senang betemu dengan seeorang yang dikenalnya.
“Hei apa yang kau lakukan di sini?” Apa Tuan Dracias bersamamu?”
__ADS_1
“Dia pergi ke istana untuk bertemu putri Kyra.” Jawab Dogma.
“Dogma, banyak yang terjadi selama kalian pergi, yang pasti sang putri sudah tak tinggal di istana, aku dengar hari ini mereka sedang berkumpul di rumah nenek Hilni merayakan ulang tahun cucunya yang kedelapan. Seandainya aku bisa kesana juga. Oh ya Freya juga ada di sana, Siry juga.”
“Terima kasih.”
Setelah mengucapkan terima kasih Ia segera melesat menuju rumah bibi Hilni, Dogma tak tahu panggilan untuk bibi Hilni kini berubah menjadi nenek Hilni karena kehadiran putra dari putri Kyra.
Sementara di Istana, Dracias tak bisa menemukan sang putri. Ia lalu bertanya pada bibi yang dahulu mengurus sang putri dan memberi tahu dimana sang putri kini tinggal. Dracias segera menuju rumah di pinggiran wilayah kerajaan. Namun sesampainya di sana. Ia tak dapat menemui kekasihnya.
“Tuan, jika yang anda cari adalah putri Kyra, Ia sedang di rumah nenek Hilni untuk merayakan ulang tahun putranya yang ke delapan.”
Kata tetangga putri Kyra yang terganggu oleh gedoran pintu Dracias yang kedengaran hingga kerumahnya.
“Putra? Dengan siapa Ia menikah?”
“Wah Anda rupanya baru di desa ini ya? Sang putri yang malang itu tak menikah dengan siapapun. Ada desas desus bahwa yang menghamili putri Kyra adalah monster yang pergi delapan tahun yang lalu.” Kata pria tua bermantel merah itu.
Dracias segera menuju alamat yang disebutkan pria tua tadi. Beribu pikiran berkecambuk dalam benaknya.
Begitu sampai di depan rumah nenek Hilni, tanpa basa- basi Dogma membuka pintu pintu. Sontak aja semua yang berada di dalam ruangan terkejut dan menoleh ke arah pintu. Di dalam ruangan Dogma mengenali nenek Hilni yang semakin menua, Pati, Pita putri Kyra, seorang bocah berusia delapan tahun, dan seorang gadis muda berusia dua puluh satu tahun. Khusus kali ini Pita dan Pati tak ikut pohon Miraculos mengembara karena ingin merayakan ulang tahun Dyra. Gadis muda itu langsung berlari ke arah Dogma dan memeluknya dengan erat.
“Dogma kau lama sekali, aku sungguh lelah menunggumu.”
“Ah, gadis cantik ini pasti Freya.” Pikir Dogma.
“Maaf sudah membuatmu menunggu, kau tumbuh menjadi gadis yang sungguh cantik Freya.” Bisik Dogma di telinga Freya.
Freya segera melepaskan pelukannya, debaran di dadanya sungguh menderu tak karuan. Ada perasaan yang lebih indah dari perasan suka. Pati dan Pita segera terbang mendekati Dogma.
“Kyra! Kyra!”
Sesorang di belakang Dogma memanggil sambil terengah-engah kelelahan setelah berlari kesana-kemari, karena panik Dracias hanya mengingat bahwa rumah nenek Hilni di tepi lembah, Ia menggedor setiap rumah di tepi lembah yang Ia datangi. Kini giliran sang putri Kyra berlari ke arah pintu untuk memeluk pria yang selama ini dinantikannya. Putri Kyra memeluk Dracias cukup lama, sambil berurai air mata.
__ADS_1
“Mama, siapa dia?” Seorang anak kecil menarik baju putri Kyra.
“Sayang, ini papa.” Dracias tampak bingung dengan semuanya.
“Baiklah, pertemuan yang mengharukan ini kita lanjutkan di sini saja.” Nenek Hilni sudah menambah dua gelas untuk Dracias dan Dogma.
Putri Kyra dan Freya bergantian menceritakan apa yang telah terjadi selama delapan tahun.
“Bibi, aku minta maaf atas yang terjadi pada putramu. Dan terima kasih telah merawat Kyra dan Dyra.” Dracias berkata sambil menunduk.
“Apa yang kau katakan, mereka adalah putri dan cucuku sekarang, dan kau tak boleh memisahkan kami.”
Perkataan nenek Hilni disambut gelak tawa oleh semuanya. Setelah menjelang malam mereka pulang ke rumah masing- masing.
“Freya, mengapa kau tak pulang ke duniamu?”
“Aku jatuh cinta padamu Dogma. Aku tahu ini bodoh, namun aku selalu ingin bersamamu.” Jawab Freya sambil menatap wajah Dogma. Dogma hanya menunduk.
“Maaf Freya, aku tak bisa membalas perasaanmu. Aku rasa ini sudah larut tidurlah.”
Freya tak membantah. Gadis itu segera masuk ke kamarnya, menarik selimut dan menangis di bawahnya. Ia tak pernah tahu, permintaan maaf bisa semenyakitkan ini. Kata maaf bisa melukai sedalam ini.
Dracias menangis berlutut di hadapan putri Kyra.
“Maaf telah membuatku mengalami penderitaan ini, seharusnya aku membawamu serta ke Vlaris. Maaf aku tak ada di saat kau berada di titik terendah dalam hidupmu.” Dracias tahu kata maaf tak akan dapat menghapus penderitaan wanita yang sangat dicintainya tersebut.
“Kau datang menepati janjimu itu sudah menghapus air mataku selama ini Dracias. Pandangan buruk orang tentangmu akan sulit untuk diubah, jika kau ingin pergi aku dan Dyra akan mengikutimu kemanapun.”
Sungguh putri Kyra masih memikirkan Dracias diatas segalanya.
“Kita akan tinggal di sini. Aku akan menjadi manusia sepertimu saat purnama yang akan datang nanti.”
Dracias menceritakan semua yang terjadi di Vlaris dan rencananya kedepan.
__ADS_1