The Last Path

The Last Path
Vampir Dari Vlaris


__ADS_3

Kerjasama antara penduduk desa dan vampi terjadi sudah terjadi turun temurun, hingga suatu hari terjadi perang besar di dekat wilayah desa tersebut yang menghancurkan desa. Banyak penduduk yang meninggal, yang hidup akan dipaksa menjadi prajurit. Tak pandang tua muda pria wanita bahkan anak-anak juga, yang menolak akan dibunuh di tempat. Melihat keadaan ini para vampir tak tinggal diam, mereka membantu para penduduk untuk melawan. Perang antara prajurit dari salah satu kerajaan yang merusak desa dan para vampir terjadi selama dua hari.


Melawan tentara kerajaan yang berjumlah ribuan bukanlah hal yang sulit bagi bangsa vampir. Jumlah mereka hanya seratus, namun berkat kepemimpinan Dracias putra pemimpin desa para vampir mengimbanginya.


Di malam kedua adalah bulan purnama, Dracias memerintahkan kawannya untuk mencari penduduk desa untuk meminta sedikit darah mereka, namun mereka tak menemukan penduduk desa yang masih hidup. Mereka semua telah dibantai oleh pasukan kerajaan.


Dracias sangat murka dibuatnya, Ia segera menyerang pasukan kerajaan tersebut membabi buta dan meminum darah langsung dari tubuh manusia mereka. Biasanya vampir meminum darah manusia yang telah dituangkan ke dalam gelas atau tempat lainnya. Hal ini diikuti oleh pasukan vampir lainnya yang juga mulai kehilangan kesadaran. Begitu mereka mendapatkan darah, kesadaran mereka mulai kembali. Namun Dracias dan kawan-kawannya terlanjur murka karena kematian penduduk desa yang mereka kenal.


Mereka meneruskan peperangan, bukan ini bukan lagi peperangan seperti tadi. Yang terjadi selanjutnya adalah pembantaian. Meski tentara kerajaan memutuskan untuk mundur, namun Dracias dan kawan-kawannya tetap mengejar dan membantai mereka, hanya satu orang yang berhasil kabur dari kejaran bangsa vampir yang sedang murka itu dan mengisahkan yang telah terjadi.


Dracias memerintahkan kawannya untuk mengambil darah dari beberapa mayat untuk penduduk Vlaris. Pada purnama ini kebutuhan darah manusia bagi penduduk Vlaras terperhuni dengan baik.Kabar tentang penyerangan bangsa vampir terhadap tentara kerajaan tersebar hingga ke desa-desa lainnya. Desa yang menjadi medan perang dibiarkan kosong, tak ada manusia yang berani mendekatinya.


Ayah Dracias mulai berfikir tentang keperluan darah untuk bulan purnama selanjutnya. Ia memerintahkan Dracias dan beberapa pemuda vampir untuk berdiplomasi dengan desa terdekat yang letaknya bermill-mill dari wilayah Vlaris. Namun desa yang mereka datangi tak ada yang mau berurusan dengan bangsa vampir, mereka takut akan kekejaman pada bangsa vampir seperti berita yang telah beredar luas.


Dracias dan kawannya pulang dengan tangan kosong.

__ADS_1


Dracias kembali mencoba pergi ke desa lainnya, namun kali ini Ia pergi sendirian. Ia bertekat untuk tak akan kembali hingga membawa darah manusia untuk penduduk Vlaris. Dari satu wilayah menuju wilayah berikutnya tak satupun manusia yang bersedia membantu, kenyataan ini begitu menyedihkan. Dracias barulah menyadari sungguh berhati mulia manusia di desa yang telah hancur beberapa saat yang lalu.


Malam purnama akan datang esok hari, sementara


Dracias belum juga mendapatkan darah manusia. Bagi bangsa vampir yang terhormat membunuh manusia demi mendapatkan darahnya bukanlah cara yang berkelas, kecuali pada saat perang. Mereka diajarkan turun temurun untuk bersikap baik terhadap manusia.


Dalam pengembaraannya, Dracias bertemu dengan beberapa mahluk yang menjadi temannya. Tepat saat purnama, Ia melihat seorang berparas cantik yang sepertinya tersesat di hutan. Dracias segera mendekati gadis itu dan berniat meminta darahnya. Awalnya gadis itu takut, namun gadis itu langsung merasa iba pada Dracias ketika Ia mengatakan bahwa Ia perlu darah agar bisa terus hidup. Gadis baik hati itu tanpa rasa takut mengulurkan tangannya.


“Aku pernah terluka di tangan dan keluar darah, mungkin Tuan bisa mengambil darah dari tanganku. Tapi tolong jangan terlalu sakit ya.” Kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.


Dracias terkejut dan bahagia bersamaan. Ia segera mengambil kesempatan itu sebelum kesadarannya menghilang.Setelah mengambil darah gadis itu sedikit, Ia mengantarkan gadis itu pulang dan meminta diantarkan ke pemimpin desa tempat gadis itu tingggal. Dracias meminta bantuan agar bisa mendapatkan darah untuk penduduk Vlaris.


Sepanjang jalan Dracias membayangkan penduduk Vlaris sedang lepas kendali karena keterlambatan darah, namun sesampainya di Vlaris Ia mendapati penduduknya menjalani hidupnya dengan wajar. Dracias bertanya pada ayahnya mengenai hal itu.


Ayah Dracias segera bercerita saat purnama mereka kehilangan kendali dan memangsa sesama vampir.

__ADS_1


Hanya ayah Dracias yang masih sadar, Ia segera keluar desa berniat mencari pertolongan. Ayah Dracias bertemu dengan seorang dewa yang sedang berada di desa tempat terjadi perang pada purnama yang lalu. Dewa tersebut menawarkan darahnya untuk diminum agar penduduk Vlaris menjadi tenang dan tak butuh darah lagi selamanya namun sebagai dampaknya mereka yang meminum darah dewa akan menjadi manusia. Karena tak memiliki pilihan lain, maka ayah


Dracias setuju akan hal itu.


Kini wilayah Vlaris yang sejak dahulu rumah bangsa vampir selama ribuan tahun telah tiada, bangsa vampir Vlaris telah menjadi manusia. Vampir dari Vlaris yg tersisa hanyalah Dracias seorang.


“Dracias pergi dan tinggalah dengan manusia agar kau bisa mendapatkan darahnya. Dewa yang agung mengatakan bahwa kami bisa menjadi vampir kembali setelah meminum darahmu.” Ayah Dracias berkata dengan wajah sedih.


“Saat kau pergi dari Vlaris, kau juga harus menunggu adanya Dewa yang terusir, darah dewa yang tinggal di bumi bisa membuat bangsa vampir hidup tanpa perlu darah manusia lagi. Begitulah kata Dewa yg memberi kami darah. Mungkin dewa itu akan muncul esok atau ribuan tahun kemudian. Jika kau bertemu dewa tersebut saat kami telah tiada, kau bisa memberikan keturunan kami darahmu agar bisa menjadi vampir kembali dan berikan darah dewa yang diusir tersebut saat bulan purnama." Jelas ayah Dracias panjang lebar.


Dracias sedih mendengar berita dari ayahnya.


“Ayah, seandainya saja aku membawa pulang darah manusia lebih cepat,” katanya dengan lirih.


“Ini bukan salahmu Dracias, semua yang telah terjadi mungkin sudah kehendak Yang Satu. Pergilah, kumohon kau harus bertahan hidup untuk mengembalikan kami menjadi vampir suatu hari nanti setelah menemukan dewa yang terusir. Bangsa vampir tak boleh musnah dari bumi.”

__ADS_1


Dracias menuruti perkataan ayahnya, setelah berpamitan dengan warga Vlaris, Ia segera memulai pencarian dewa yang dimaksud ayahnya. Meski berat Ia mulai melangkah keluar dari wilayah Vlaris.


Pagi ini ditemani suara bising kicauan burung, Dracias menyusuri jalan setapak yang biasa dilaluinya bersama teman-teman vampirnya. Biasanya Ia melalui jalan setapak ini dengan kecepatan tinggi, namun kali ini Ia ingin berjalan dengan kecepatan yang lebih pelan. Ia merasa bahwa Ia akan meninggalkan hutan ini dalam waktu yang lama.


__ADS_2