
Setelah pertemuan akbar itu dibubarkan, semua warga kembali kerumah masing-masing. Dracias mengajak Dogma mampir ke suatu tempat.
“Ini adalah danau dimana aku sering menghabiskan waktu bersama kawan-kawanku. Aku berkawan dengan vampir dan manusia, bagi kami itu adalah hal yang wajar. Kami hidup bahagia berdampingan. Namun, tanpa kami ketahui ternyata di luar Vlaris dan desa manusia tetangga kami ada manusia yang tamak akan kekuasaan. Mereka menghabisi bangsa mereka sendiri. Mereka bertarung sesama manusia. Dan membuat bangsa kami mengalami penderitaan panjang hingga terpaksa menjadi manusia yang memiliki umur pendek.” Dracias bercerita sambil memantulkan batu kecil ke dalam air.
“Apa maksud perkataanmu?” Dogma tak mengerti arah pembicaraan mereka.
“Katakan padaku wahai Dewa yang agung. Pernahkah dalam sejarah yang tercatat di dalam di Taman Surga bangsa kami vampir dari Vlaris menyakiti manusia atau mahluk lain sedemikian rupa. Sebelum aku tentunya.” Dracias cepat mengoreksi kata- katanya sebelum di protes oleh Dogma.
“Tentu saja tidak, bukankah sudah kukatakan padamu, bangsa Vlaris memengang teguh kebenaran dan bermartabat setinggi dewa di Taman Surga, Yang Satu memberi kalian kehormatan itu.” Jawab Dogma dengan mantap.
“Setelah menjadi manusia, apakah keturunan bangsa vampir dari Vlaris masih menjaga kehormatan sebagaimana leluhurnya? Bukankah hati manusia mudah ternoda? Sedangkan aku yang vampirpun juga bisa ternoda.” Dogma mulai mengerti kekhawatiran dalam benak Dracias.
“Kau sebagai generasi leluhur merekalah yang harus memastikan mereka tak balas dendam dengan manusia atau berbuat hal buruk lainnya. Tanamkan sifat luhur sebagaimana bangsa kalian melakukannya ribuan tahun silam. Kita punya delapan tahun sebelum mereka semua menjadi vampir kembali, selama itu kau bisa memberi mereka pengertian.” Jawab Dogma sambil menepuk bahu Dracias.
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa waktu sambil menikmati cahaya rembulan di pantulan air danau sesaat sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah kepala desa.
“Paman, terima kasih. Aku merasa tubuhku lebih kuat, aku bisa berlari pulang dari tempat pertemuan tadi tanpa merasa lelah.” Kata Veny menyambut kedatangan Dogma dan Dracias.
“Sebenarnya tubuh Veny sangat lemah sejak lahir, Ia mudah sakit dan mudah lelah saat melakukan aktifitas apapun.” Terang wanita yang muncul di balik pintu itu.
Dracias tersenyum melihat mendengar hal itu, Ini pertama kalinya Dogma melihat Dracias itu tersenyum.
__ADS_1
“Ha ha ha rupanya Ia vampir yang memiliki perasaan.” Dogma membatin sambil tersenyum melirik Dracias.
Dracias yang sadar bahwa Dogma melihatnya tersenyum langsung masuk ke dalam kamar tanpa kata.
“Apa paman Dracias marah karena aku meminum darahnya?” Tanya Veny polos, Ibunya hanya tersenyum mengaggapi kelakuakn putrinya.
“Tidak sayang, paman itu hanya belum terbiasa menerima pujian.” Jawab Dogma sambil tertawa kecil.
Purnama ini Dracias sudah tak memerlukan darah manusia lagi, tadi merea berada di tepi danau Dracias meminta darah Dogma. Kini Ia telah menjadi vampire generasi baru. Perpurnama ini jumlah vampir generasi baru adalah dua orang, Veny yang menjadi percobaan dan Dracias leluhur dari vampir Vlaris.
Dracias dan Dogma mempersiapkan diri untuk memberi darah mereka di purnama yang akan datang. Oleh kepala desa mereka dijamu berbagai makanan berkualitas tinggi. Diperlakukan baik merupakan hal yang baru bagi Dracias sejak Ia mengembara keluar dari Vlaris. Memang Vlaris akan selalu menjadi rumahnya untuk pulang.
Pada suatu pagi yang cerah, Dogma berencana keliling Vlaris kembali. Masih banyak tempat yang belum Ia datangi. Ia mendengar bahwa Vlaris memiliki perpustakaan yang menyimpan banyak sejarah peradaban bangsa vampir dari masa ke masa.
“Apa ini rumah Dryad? Mungkin perpustakaannya ada di dalam rumah Dryad ini.” Pikir Dogma sambil memperhatikan pohon raksasa itu dengan seksama.
“Wahai Dryad penghuni pohon yang indah, ijinkan aku masuk ke dalam rumahmu.”
Dogma berteriak di depan pohon tersebut dan tentu saja hal ini mengundang perhatian warga yang sedang berlalu lalang di sana namun Dogma tak menyadarinya. Sekali berteriak tak mendapat jawaban Ia mengulanginya lagi dan lagi. Setelah tiga kali mengulangi, ada salah satu warga yang kasihan melihatnya dan mendekati Dogma.
“Maaf Tuan, di pohon sejarah ini tak ada Dryad yang menempatinya. Pohon ini telah kami jadikan perpustakaan sejak leluhur kami.” Jelas pria separuh baya itu, dan di kejauhan tampak beberapa gadis sedang menertawainy. Dogma tersipu malu menyadari kebodohannya.
__ADS_1
Pria separuh baya tadi mengantarkan Dogma ke sisi lain pohon raksasa tersebut dan mengetuk pintu sebanyak tiga kali lalu pintu tersebut terbuka. Pintu itu berwarna senada dengan kulit pohon raksasa tersebut, yang menjadi tanda adanya pintu tersebut hanyalah adanya gagang pintu berwarna merah yang menggantung di sana.
“Tuan, pintunya sudah terbuka. Silahkan Anda pergi ke meja yang berada di tengah ruangan untuk menanyakan buku yang Anda cari di barisan yang mana agar mudah mencarinya.” Setelah memberi penjelasan singkat dan Dogma berterima kasih, pria itu segera pergi.
“Wah, tak kusangka begitu luas bagian dalam pohon ini. Perpustakaan ini adalah perpustakaan terbesar yang pernah aku lihat di bumi.”
Ia segera mengikuti saran pria paruh baya tadi dan mendatangi meja bulat ditengah ruangan. Disana terdapat seorang nenek tua sedang duduk sambil sesekali kepalanya terjatuh karena mengantuk. Meski Dogma tampak sedikit ragu, Ia tetap mendatangi nenek tersebut.
“Permisi nek,” nenek itu baru terjaga dari kantuknya setelah Dogma memanggil beberapa kali.
“Ya ada yang bisa aku bantu?” nenek itu bertanya pada Dogma dengan nada kesal.
“Maaf menggangumu nek, aku ingin menari buku tentang sejarah Vlaris.” Kata Dogma dengan sopan.
“Di baris ketiga dari utara sab nomor sembilan. Jika tak ada lagi segeralah pergi. Kau mengganggu.” Kata nenek itu dengan ketus,
Dogma hanya tersenyum masam mendengar perkataan nenek berjubah warna coklat muda tersebut.
Meski di dalam ruangan, perpustakaan ini tidaklah panas ataupun lembab, karena di ujung pohon terdapat beberapa lubang ventilasi udara. Dogma tak mau membuat masalah, Ia segera pergi dari hadapan nenek tersebut menuju arah utara. Di barisan dan sab yang nenek tersebut tunjukan banyak buku sejarah tentang Vlaris.
“Aku mulai dari mana dari puluhan atau mungkin ratusan buku yang ada di rak ini?” Kata Dogma sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Diambilnya buku yang paling tampak tua dan lusuh. Buku yg menarik perhatian Dogma itu berjudul Vlaris Menangis. Dogma membawa buku itu ke meja yang berada di pinggir ruangan. Ia membuka lembar demi lembar dengan hati-hati.