The Last Path

The Last Path
Perjalanan dimulai


__ADS_3

“Oh ya, maaf baru bertanya sekarang, tapi apa keluargamu tidak akan khawatir kalau kau lama tidak pulang, atau waktu di tempat keluargamu juga berhenti sama seperti waktu di tempat keluargaku?” Freya mulai penasaran dengan Dogma.


“Tentu saja tidak, aku tidak punya siapapun yang menghawatirkan jika aku pergi kemanapun di bumi.” Kata Dogma sambil sibuk memperbaiki ikatan di kapalanya yang agak longgar.


“Apa kau yatim-piatu?”


“Ehm… Bisa dikatakan seperti itu, sejak awal aku diciptakan aku tidak memiliki orang tua sepertimu, namun di rumahku dulu aku punya banyak sahabat yang menyayangiku.” Dogma menjawab dengan ekspresi yang tak Freya kenal. Itu raut wajah senang dan sedih disaat yang bersamaan.


“Maaf telah bertanya hal itu.” Freya mulai menyesali pertanyaannya yang mungkin saja telah membuka luka lama teman barunya itu.


Meski masih terhitung kecil, Freya cukup peka dengan perasaan orang di sekitarnya.


“Kau tidak melakukan hal yang salah, kenapa harus minta maaf?” Kata Dogma sambil tersenyum.


Mereka berjalan tanpa arah dan hanya mengandalkan insting. Tepat tengah hari, mereka memutuskan untuk mencari pohon buah untuk mereka makan. Mereka menemukan pohon buah apel dengan buah yang lebat. Mereka memutuskan untuk beristirahat di bawahnya. Dogma juga memetik beberapa buah untuk bekal mereka di perjalanan berikutnya.


“Freya, tangkap!” Seru Dogma dari atas pohon apel sambil melempar buah apel pada Freya.


Freya yang terkejut menangkap buah apel tersebut dengan refleks.


“Hei yang kau lakukan itu bahaya tahu? Kalau aku tak menangkap dan kena kepalaku bisa benjol.” Sungut Freya kepada Dogma.


“Hei, pernahkah kau mendengar tentang mitologi yang menyebutkan bahwa melempar apel kepada seseorang merupakan pernyataan cinta?” Tanya Dogma dengan antusias.


“Memangnya ada mitologi tentang hal itu? Aku sama sekali tak tahu tuh.” Jawab Freya sambil memakan apel yang dilempar oleh Dogma.


“Tentu saja ada dan di mitologi yang lain disebutkan bahwa ada seorang dewi yang mempunyai apel yang dapat membuat hidup abadi dan awet muda lho.” Dogma begitu antusias menceritakan tentang mitologi buah apel, Freya mendengarkan kisah Dogma sambil asik mengunyah apel.

__ADS_1


“Apa di pohon apel ini ada juga dryad seperti Agar?” Freya tiba-tiba teringat Agar.


“Tentu saja ada, tapi jika mereka tak ingin memperlihatkan diri mereka pada kita, kita tak akan bisa melihatnya. Itu adalah hak istimewa para dryad.” Jawab Dogma. Freya hanya mengangguk-angguk mendengar hal itu.


“Kita sudah mendapatkan beberapa apel untuk bekal, tapi kita kehabisan air. Mungkin dekat sini kita bisa mendapatkan air, mari kita lanjutkan perjalanan.” Ajak Freya pada Dogma.


“Tunggu, kau dengar suara itu?” Tanya Dogma. Freya diam sesaat sebelum menjawab.


“Aku tak mendengar apapun, apa ada sesuatu?” Tanya Freya.


“Dengar Freya, kau harus segera melatih telingamu agar peka dengan suasana hutan. Barusan samar-samar samar aku mendengar suara gemericik air dari arah sana.” Kata Dogma sambil menunjuk ke sebuah arah.


Merekapun segera berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Dogma, setelah sekitar setengah jam berjalan Freya juga mulai mendengar suara gemericik air tersebut.


"Wah tajam juga ya pendengaranmu, aku baru mendengarnya sekarang." Puji Freya.


“Dogma, lihatlah, ada jalan setapak di sepanjang sungai ini, bagaimana kalau kita ikuti saja jalan ini? Mungkin kita akan bertemu dengan seseorang yang bisa kita tanyai.”


Dogma setuju dengan usul Freya. Mereka segera menapaki jalan di pinggir sungai, sungguh suasana yang sangat menyenangkan berjalan di sepanjang sungai berair jernih dengan ikan-ikan yang seolah-olah olah berkejaran dengan mereka.


Di ujung jalan setapak, tampaklah sebuah rumah tua yang masih terawat. Mereka mengetuk pintu rumah tersebut degan sopan, lalu munculah nenek dengan tongkat di tangannya membuka pintu. Begitu melihat sang tamu yang mengetuk pintu, nenek itu langsung memeluk mereka berdua.


“Lama sekali kalian tidak mengunjungi nenek, nenek sangat merindukan kalian, mari masuk dan duduklah di meja makan, nenek akan mengambilkan makanan untuk kalian.” Sambil berkata demikian, nenek itu menghilang di balik ruang tamu sebelum sempat Dogma dan Freya menguasai keadaan.


Freya dan Dogma menuruti kata nenek tersebut. Mereka berdua duduk di meja makan dengan kebingungan di kepala masing-masing.


“Minumlah, nenek bawakan manisan dan teh hangat untuk kalian.” Tiba-tiba nenek tersebut muncul dari balik pintu.

__ADS_1


“Nek, terima kasih atas kebaikanmu, tapi saya rasa nenek salah mengenali kami. Kami bukanlah cucu nenek.” Freya mencoba memberanikan diri berbicara.


“Apa yang sedang kau bicarakan Freya? Kau dan Dogma adalah cucu kesayangan nenek. Apapun yang terjadi tolong jangan lupakan itu.” Kata nenek tersebut sambil mengusap kepala Freya dan merangkul Dogma.


Ada kengerian yang tiba-tiba menjalar merasuki pikiran


Dogma dan Freya. Mereka segera menepis tangan nenek itu dari atas tubuh mereka dan segera bangkit dari kursi untuk menjaga jarak dengan nenek tersebut.


“Jangan takut, nenek tidak akan berbuat jahat terhadap


berdua. Jadilah cucu nenek untuk tujuh hari dan nenek akan memberi tahu arah mana yang harus kalian tuju. Dan kalian bisa memanggilku dengan sebutan nenek Hito. Bukankah ini tawaran yang saling menguntungkan?” Tanya nenek Hito sambil menyodorkan tangan berharap mereka berdua membalas uluran tangannya.


“Tolong beri kami waktu untuk berdiskusi.” Dogma segera menarik tangan Freya dan membisikkan sesuatu.


“Kami setuju.” Dogma akhirnya membuka suara setelah diskusi singkatnya dengan Freya.


“Nenek akan memetik sayuran di kebun samping rumah untuk makan malam kita, kalian tunggulah di sini.”


Nenek Hito segera menjinjing tas dari anyaman bambu.


Freya dan Dogma menunggu nenek Hito di dalam rumah sambil memikirkan kemungkinan- kemungkinan yang akan nenek Hito lakukan kepada mereka. Setelah pergi selama kurang lebih satu jam, nenek Hito kembali dengan tas penuh dengan aneka sayur-mayur. Nenek Hito segera ke dapur untuk memasak sayuran tersebut. Freya dan Dogma masih saja duduk di ruang tamu dengan pikiran meraka masing-masing.


“Makanannya sudah siap, kemarilah, mari kita makan bersama.” Nenek Hito memanggil mereka berdua. Mereka tak jua memakan masakan yang dihidangkan oleh nenek Hito, melihat hal ini nenek Hito menegur mereka.


“Makanlah, sebelum makanannya jadi dingin, tenang saja nenek tak akan meracuni kalian.” Kata nenek Hito sambil menyendok makanan ke mulutnya yang sudah keriput.


Akhirnya mereka melahap makanan di piring mereka hingga habis. Setelah selesai makan, nenek Hito mengantarkan mereka ke ruangan di belakang ruang tamu untuk mereka tinggali. Di sana terdapat sebuah dipan dan kursi panjang, Freya tidur di dipan sementara Dogma tidur di kursi panjang di dalam kamar yang sama.

__ADS_1


__ADS_2