The Last Path

The Last Path
Dosa Pertama Dogma


__ADS_3

“Saya menyukai pohon akasia.” Kata Evenstar riang mencoba memecah kesunyian, Dogma hanya tersenyum menanggagapi hal itu. Di mata gadis itu, pohon akasia adalah pohon terindah di Bumi. Banyak pohon akasia yang ditemui oleh Evenstar memiliki parasit bersamanya, namun pohon itu berjuang tanpa patah semangat hingga tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan indah sementara beberapa jenis pohon menyerah dengan adanya parasit.


“Bunga dari pohon akasia berwarna kuning membawa suasana ceria laksana fajar di ufuk timur. Warna daun tuanya selembut lembayung senja di tepian hari.” Celoteh Evenstar yang hanya ditanggapi dengan anggukan dan senyuman oleh Dogma.


“Bukankah ini manis, sebatang pohon yang mewakili keindahan awal dan akhir dari sebuah hari?” ucap Evenstar lirih sambil menatap wajah Dogma.


Dewa itu tak mampu berkata, Ia tak tahu apa yang harus dilakukan dalam suasana itu. Ada perasaan bahagia dan bingung membuncah dalam dadanya.


Setelah itu, untuk beberapa saat Dogma dan Evenstar kembali berjalan dalam diam, mereka bergulat dengan pikiran masing-masing.


“Em,” “Anu,” Evenstar memberanikan diri membuka suara dan ternyata Dogma juga melakukan hal sama.


“Maaf, silahkan Tuan berbicara terlebih dahulu” Evenstar buru-buru menambahkan.


“Tidak tidak seharusnya wanita terlebih dahulu.” Dogma segera menimpali.


“Maaf jika saya lancang bertanya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Entah mengapa wajah Tuan tak asing lagi bagi saya?” Tanya Evenstar berhati-hati.


“Saya bermimpi beberapa hari yang lalu bertemu dengan Nona, mungkin kita bertemu dalam mimpi ha ha ha.” Jawab Dogma setengah bercanda.

__ADS_1


Dogma mengingat wajah wanita ini adalah wajah yang Ia ingin temui seusai bangun dari mimpi tersebut, namun Ia ragu wanita dalam mimpinya tak lebih hanya bunga tidur semata. Bisa saja itu adalah sebuah kebetulan.


“Wah…jadi benar kita bertemu dalam mimpi, apakah kita bermimpi hal yang sama? Apakah ini benar-benar bisa terjadi?” Tanya Evenstar dengan semangat, matanya berbinar-binar menatap wajah pria di hadapannya.


Dogma terkejut dengan perubahan sikat Evenstar yang tiba-tiba, wanita yang tadinya takut-takut dan canggung kini sedang menatapnya dengan wajah penuh harap.


“Wow… ini berarti kita sungguh bertemu dalam mimpi.” Dogma tak tahu harus berkomentar apa.


Akhirnya mereka saling bercerita tentang mimpi mereka masing-masing dan ya mimpi mereka sama persis. Namun sangat disayangkan obrolan menarik mereka harus segera berakhir karena mereka akhirnya tiba di pinggiran desa dan harus segera berpisah.


“Aku akan datang ke pohon itu dua hari kemudian, jika kau ingin bertemu.” Kata Dogma sebelum berpisah. Evenstar hanya mengangguk sambil tersenyum.


“Dengar, Danta aku minta maaf karena kabur saat kita bertengkar, namun bukalah hal yang benar kau tidak pulang hingga pagi.” kata Evenstar sambil murung.


“Kau lari ke hutan untuk mencari ketenangan saat di rumah tak ada kedamaian bukan? Akupun perlu ketenangan saat kita bertengkar dengan berburu.” Jawab Danta dingin. Ini pertama kalinya Danta bersikap sedingin ini.


Sebelumnya jika mereka bertengkar, Evenstar selalu kabur ke bawah pohon aksia di tepi hutan. Pohon itu adalah tempat kesayangannya sejak Ia kecil. Ia kerap kali kabur ke sini jika dimarahi oleh neneknya, sayangnya beberapa hari yang lalu pohon akasia yang sudah tua itu tumbang. Biasanya setelah Evenstar pulang ke rumah Danta akan menyambut dengan hangat. Evenstar yang mematung mendengar jawaban dingin Danta segera berfikir, “adakah sikapku kali ini keterlauan baginya”.


Dua hari berlalu, mereka hanya berbicara basa- basi dan seperlunya saja. Evenstar tak tahan dengan hal ini, Ia berniat untuk menemui dan berbicara pada Danta agar semuanya segera terselesaikan, namun Ia tak mendapati Danta di rumah.

__ADS_1


"Mungkin Ia pergi berburu lagi." Pikir Evenstar.


"Jika kau ingin menemuiku di hutan, bawalah satu kelopak bunga Aurora agar kau tak tersesat, ujung bunga aurora akan selau mengarah ke inti hutan. Pohon akasia yang kau kunjungi kemarin ada di jalur menuju inti hutan dari arah desamu". Tiba- tiba Ia teringat pesan Dogma


Ia perlu pelarian yang membuatnya lupa akan masalah yang dihadapinya, maka Ia memutuskan untuk pergi ke hutan untuk bertemu Dogma. Jauh di lubuk hati Evenstar, Ia mulai mendambakan Dogma dan tanpa sadar mulai menepiskan Danta dari hatinya. Meski menyadari akan hal itu, Evenstar selalu menampiknya.


"Aku hanya perlu mengalihkan perhatian sejenak, aku akan kembali pada Danta setelahnya".


Setelah pertemuan ke dua, mereka terus berlanjut dengan janji pertemuan ke tiga dan seterusnya. Mereka mulai tak memperdulikan sekat diantara mereka. Dogma melupakan larangannya sebagai Dewa dan Evenstar mulai membenarkan perasaannya terhadap Dogma meski Ia telah menikah dengan Danta. Selain perasaan, mereka tak saling jujur dalam hal lain.


Dogma tak pernah memberi tahu bahwa Ia adalah seorang Dewa, dan Evenstar tak pernah mengatakan bahwa Ia telah menikah.


Mereka menjalani hubungan yang aneh, mereka hanya saling mengungkapkan perasaan tanpa mempertanyakan keadaan. Mereka menjalin hubungan atas dasar keegoisan rasa yang kian meluap-luap dari keduanya. Mereka bertemu di pagi hari dan di sore harinya mereka berpisah dengan janji bertemu di kesempatan berikutnya. Sungguh mereka bercinta tanpa rasa bersalah di dada.


***


Hari ini adalah hari evaluasi bagi para dewa yang dilaksanakan setiap satu windu. Para dewa mengumpulkan buku catatan mereka kepada dewa pengetahuan. Oleh para dewa pengetahuan, informasi dari buku catatan tersebut disaring dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat akan dikumpulkan dalam sebuah buku yang nantinya di letakan di perpustakaan dewa. Dengan adanya hal ini, para dewa dapat berbagi dan mempelajari ilmu pengetahuan baru di setiap windu.


Meski Dogma memiliki hasrat cinta yang lebih dari pada para dewa umumnya, namun Ia tak memiliki keinginan untuk berbohong atau menyembunyikan sesuatu. Ia memang menyembunyikan buku catatannya dari teman dewanya, namun Ia tak pernah menyembunyikan catatannya terhadap dewa pengetahuan. Ia kerap kali berdiskusi dengan dewa pengetahuan tentang keakrabannya dengan mahluk bumi dan dewa pengetahuan tak pernah mempermasalahkannya. Bagi dewa pengetahuan, hal ini masihlah perbuatan dalam batas wajar berdasarkan atas nama keingintahuan.

__ADS_1


Hari ini adalah hari yang sibuk bagi dewa pengetahuan Merpia karena Ia harus memeriksa catatan rekan dewanya. Ia memilah pengetahuan berdasarkan jenis kegunaannya yang kemudian disatukan dalam sebuah buku. Tangan ringkihnya mulai bergetar saat ia membaca buku catatan milik Dogma. Apa yang tertulis di sana sungguh diluar akal dewa. Dogma menuliskan semua kegiatannya dengan mahluk bumi termasuk dengan keakrabannya dengan manusia yang bernama Evenstar.


__ADS_2