The Last Path

The Last Path
Kisah Nenek Hito


__ADS_3

Esok paginya, saat Freya hendak ke kamar mandi, Ia melihat nenek Hito keluar rumah dengan keranjang di tangannya dan tongkat di tangan yang satunya. Karena penasaran akhirnya Freya mengikuti nenek Hito memasuki pekarangan kecil di belakang rumahnya. Di sana ada dua ekor sapi, dua ekor ayam dan dua ekor burung merpati. Nenek Hito memerah sapi untuk diambil susunya, kemudian ke kandang ayam mengambil telur ayam dan duduk di kursi yang berada di tengah pekarangan tersebut.


“Apakah kalian tahu, nenek sekarang punya dua orang cucu, mereka masih takut padaku, tapi mereka lucu. Aku yakin mereka anak-anak yang baik.” Nenek Hito mulai bercerita tentang Freya dan Dogma kepada hewan peliharannya yang kini duduk mengelilingi nenek Hito, lalu seekor merpati terbang ke bahu nenek Hito seakan membisikan sesuatu ke telinga nenek tersebut.


“Freya, keluarlah sayang. Nenek tahu kau ada di sana.” Freya terkejut mendengar hal itu, awalnya Ia berpikir akan melarikan diri, namun Ia memutuskan untuk mendekat ke arah nenek tersebut.


“Perkenalkan ini Pati dan Pita.” Kata nenek Hito sambil menunjuk ke dua burung merpati tersebut.


“Halo nona manis.” Burung merpati tersebut bisa berbicara. Sungguh Freya terkejut dibuatnya.


“Jangan takut, semuanya disini bisa berbicara, dan si Pati yang memberi tahu nenek nama kalian, Ia mendengarkan obrolan kalian sepanjang sungai.” Nenek Hito menerangkan pada Freya.


“Pantas saja nenek ini tahu nama kita, ternyata ini ulah si burung merpati.” Pikir Freya.


“Ini Ushi dan Usha” Kata nenek hito menunjuk dua ekor sapi.


“Dan ini adalah Chiki dan Chiko.” Kata nenek Hito menunjuk dua ekor ayam.


“Mereka semua adalah teman bercerita nenek kalau sedang kesepian.” Kata nenek Hito sambil mengusap rambut Freya.


Melihat keakraban nenek Hito dengan hewan peliharaannya membuat rasa takut Freya hilang dan hanya rasa hangat di dadanya yang tertinggal. Ia merasa menemukan kasih sayang yang tak pernah Ia dapatkan sebelumnya. Freya memang tak pernah memiliki seorang nenek ataupun kakek. Semua nenek dan kakeknya telah meninggal jauh sebelum Ia terlahir.

__ADS_1


Setelah mengambil susu dan telur, mereka mampir di sepetak kebun sayuran, mengambil beberapa sayuran lalu kebali ke rumah.


“Nek tunggu, biar aku yang membawa ini.” Kata Freya segera mengambil tas nenek Hito. Mereka segera akrab dalam waktu singkat terbawa suasana yang sama sekali asing bagi Freya.


Begitu terbangun, Dogma tak menemukan Freya ataupun nenek di rumah, Ia memutuskan untuk ke sungai di samping rumah. Ia tergoda untuk menangkap ikan yang asik berenang di sungai yang jernih itu.


Di belakang rumah nenek Hito terdapat pekarangan dan kandang untuk ternak sedangkan di samping kanannya terdapat sepetak kebun yang berisi berbagai jenis sayuran dan di samping kiri terdapat sungai dangkal berair jernih yang dihuni banyak ikan. Sebenarnya semuanya makanan lengkap di sekeliling rumah nenek Hito, namun karena umur nenek Hito, Ia sudah tak mampu menangkap ikan lagi.


Begitu melihat Freya dan nenek Hito kembali, Dogma segera naik dari sungai sambil membawa beberapa ekor ikan hasil tangkapannya.


“Wah, nenek sudah lama tidak makan ikan, mari kita masak yang enak hari ini.” Nenek Hito tampak gembira dengan ikan tangkapan Dogma.


Pagi hari di hari ke tujuh mereka tinggal bersama nenek Hito, Freya bangun lebih awal dari biasanya. Ia sangat menantikan hari dimana nenek Hito akan menunjukan arah pada mereka. Freya segera ke dapur untuk membantu nenek Hito seperti biasanya, namun Ia tak menemui nenek itu disana.


“Mungkin aku bangun kepagian dan nenek belum bangun.” Pikir Freya. Ia memutuskan ke kandang sapi untuk memerah susu, dan mengambil telur ayam seperti biasanya. Setelah itu memetik beberapa sayur untuk dimasak. Ia berniat untuk memberi kejutan untuk nenek Hito dan sebagai tanda terima kasih atas kebaikan nenek Hito selama enam hari ini.


Namun sampai Ia selesai menyiapkan sarapan, nenek Hito tak juga keluar dari kamarnya. Karena penasaran, Freya memutuskan untuk memanggil nenek Hito. Setelah di ketuk berkali-kali tak juga ada jawaban dari dalam kamar nenek Hito. Dogma yang terganggu tidurnya oleh suara Freya akhirnya terbangun dan menghampiri Freya.


“Apa yang kau lakukan di depan kamar nenek?” Katanya sedikit kesal.


“Nenek Hito tak juga keluar dari kamarnya, aku khawatir kalau terjadi sesuatu pada nenek.” Jawab Freya dengan cemas.

__ADS_1


Dogma membantu menggedor pintu dan memanggil-manggil nenek Hito, namun sama sekali tak ada respon. Akhirnya Dogma mengambil sebilah kapak dari dapur dan memukul ganggang pintu nenek Hito agar kunci terlepas. Setelah mereka berhasil membuka pintu, Freya berlari menuju ranjang tempat nenek Hito tertidur.


Betapa terkejut Freya, yang didapatinya di balik selimut bukanlah nenek Hito, melainkan sebuah tengkorak. Sontak saja Freya menjerit ketakutan. Dogma segera menghampiri Freya dan mendapati tengkorak terbaring di tempat tidur. Bersamaan dengan itu, terbanglah sepasang burung merpati milik nenek Hito dari jendela yang dibiarkan terbuka menuju kamar dan hinggap di atas tengkorak nenek Hito.


“Pati, Pita apa yang terjadi pada nenek Hito?” Tanya Freya pada sepasang burung merpati itu.


“Maaf telah membuat kalian takut, sebenarnya nenek Hito telah meninggal dua tahun yang lalu. Dan yang kalian temui enam hari yang lalu adalah sisa sihir yang diaktifkan di hari kematian nenek Hito dua tahun yang lalu. Semua di rumah ini adalah halusinasi kecuali ternak dan kami. Nenek Hito adalah seorang penyihir yang pandai dalam pengobatan dan meramalkan masa depan. Orang- orang di desa tempat tinggal nenek Hito dulu takut akan keahlian nenek Hito, meskipun tak dapat dipungkiri bahwa kemampuan pengobatan nenek Hito sangat membantu penduduk desa. Hingga pada suatu saat nenek Hito diusir dari desa kelahirannya dan menetap di rumah ini. Kami bertemu nenek Hito di hutan ini, Beliau mengajarkan banyak hal kepada kami, termasuk cara berbicara bahasa manusia. Suatu hari ketika nenek Hito sudah semakin menua dan sadar bahwa ajalnya kian dekat, Ia mengatakan pada kami pesan terakhirnya” Kata Pita panjang lebar.


“Pesan itu berbunyi ‘kelak akan ada seorang pria bersama gadis kecil yang datang ke rumah ini, saat itu sihir terakhirku akan aktif. Bimbinglah mereka ke rumah kalian. Dewa yang terusir harus memenuhi takdir terakhirnya’. Kami tak mengerti apa artinya, tapi kami akan menemani kalian menuju rumah kami” Tambah Pati


“Rumah kalian? Tapi kami ingin segera mencari pohon Miraculos, agar aku bisa segera pulang.” Freya juga tak mengerti dengan arti pesan terakhir nenek Hito.


“Kami lahir di atas pohon Miraculos, jadi kami tahu kearah mana kami harus pulang.” Jawab Pati.


“Oh, begitu rupanya. Tapi takdir apa yang menungguku?” Guman Dogma sangat pelan. Hanya Ia sendiri yang mendengar gumanannya.


Dogma segera berlari ke kebun, mencari alat yang bisa Ia gunakan untuk menggali tanah, yang Ia dapati hanya sekup kecil yang biasa digunakan oleh nenek Hito menggemburkan tanah tanaman kesayangannya. Ia menggali tanpa lelah hingga membentuk cekungan yang cukup dalam untuk mengubur tengkorak nenek Hito. Sementara itu Freya mengumpulkan tulang belulang nenek Hito ke dalam selimut agar mudah diangkat. Freya dan Dogma pelahan-lahan menurunkan tengkorak nenek Hito dalam lubang. Mereka menimbun dengan tanah secara perlahan. Chiki, Chiko, Usha, Ushi, Pati dan Pita membawa bunga di mulut mereka dan menaruhnya di atas makan nenek Hito sambil menangis. Ini tangis kedua para hewan peliharaan nenek Hito sejak kematiannya. Seperti ingat sesuatu,


Dogma segera berlari ke tepi sungai, Ia mencari batu tipis yang agak lebar dan meletakkan di atas bukuran itu sebagai batu nisan. Mereka membuat acara pemakaman untuk nenek Hito di kebun samping rumah.


Di nisan nenek Hito diukir tulisan 'di sini terbaring nenek kami, di hatinya kasih selalu bersemi'.

__ADS_1


__ADS_2