
Sungai yang memiliki sumber air dari air terjun ini memiliki lebar sekitar lima puluh kaki. Bagian pinggir sungai sangat landai dan berbatu, banyak ikan berenang di sisi batu. Di bagian tengah sungai sangat dalam dan terdapat beberapa batu besar disana. Di atasnya terdapat jembatan dari bambu untuk menyeberangi sungai tersebut. Sungai ini berarus tenang jadi aman untuk berenang.
Nenek Hilni menjelaskan pada mereka untuk berhati jika ingin berenang ke tengah, karena ada pengikut Nightwalker yang tinggal di dalamnya meski mahluk itu tak berbahaya. Tanpa pikir panjang Dogma segera menceburkan diri ke dalam sungai untuk menangkap ikan. Namun tak semudah bayangan mereka, ikan di sungai ini bergerak sangat lincah.
“Ha ha ha kalian sangat lucu sekali ingin mengankap ikan di sungai ini dengan tangan kosong.” Suara seseorang di balik batu besar di tengah sungai, bukan ini bukan orang.
Sesuatu segera muncul menghampiri mereka. Sesuatu itu memiliki paras cantik dengan rambut berwarna ungu muda dan memiliki ekor berwarna senada dengan rambutnya dan berenang dengan anggun mendekati Dogma yang sedang di dalam sungai. Spontan Dogma segera berusaha menjauh menuju daratan, namun terlambat. Ketika kaki kanannya sudah menyentuh bibir sungai, sepasang tangan memegangi kaki kirinya. Freya, Pati dan Pita juga panik melihat hal ini. Freya melihat sekitar untuk mencari kayu atau apapun untuk memukul wanita setengah ikan itu, sementara itu Dogma meronta-ronta karena kini tubuhnya berhasil diseret ke dalam air oleh mahluk setengah ikan ini.
“Bercandamu tidak lucu Airy, lepaskan mereka. Lihatlah mereka sangat ketakutan.” Seorang wanita setengah burung menghampiri mereka dan hinggap di salah satu batu besar di tengah sungai. Wanita setengah ikan itu segera melepaskan Dogma, dan Dogma dengan segera naik ke daratan.
“Ayolah Siry, bukankah ini menyenangkan. Lihatlah wajah ketakutan mereka, ini sungguh lucu.” Kata wanita setengah ikan itu sambil tertawa, wanita setengah burung itu menatapnya dengan tatapan tajam.
“Sungguh kau tidak bisa bercanda ya, Siry,” kata wanita setengah ikan itu sambil mengangkat bahu.
“Baiklah aku minta maaf. Ayolah, aku hanya bercanda,” kata wanita itu sambil memandang Dogma sambil tersenyum.
“Wow turunkan kayu itu, kau akan menggunkan kayu itu untuk memuluku kan? Ha ha ha.” Kata Wanita setengah ikan itu sambil memandang Freya yang sudah menemukan sebatang kayu dan bersiap memukul wanita setengah ikan ini, sayangnya wanita setengah burung itu keburu datang.
“Maafkan temanku, Ia adalah mermaid manusia setengah ikan, Ia datang dari laut selatan yang sangat luas. Karena kini Ia harus tinggal di sebuah sungai sempit ini kadang membuatnya kesepian jadi Ia sering bercanda seperti itu, namun percayalah Ia tak punya niat buruk. Ah ya, aku adalah seekor harpy manusia setengah burung namaku Siry.” Ujar wanita setengah burung itu dengan sopan.
__ADS_1
Karena dirasa bahaya sudah berlalu, Freya perlahan menurunkan kayunya.
“Baiklah aku minta maaf lagi pada kalian. Sebagai permintaan maafkau aku akan mengajari kalian cara menagkap ikan, bagaimana wahai Tuan tampan.” Tawar Airy sambil mengerlingkan mata pada Dogma yang masih terlihat kesal. Mendengar hal itu Dogma segera menyetujuinya, namun mereka tetap waspada.
“Di sini taka da orang yang berani menangkap ikan karena ulah Airy.” Kata Siry sambil menghela nafas.
“Hei, itu bukan salahku, mereka saja yang tak mau bersahabat denganku.” Kata Airy kesal.
“Halo sahabatku, kenapa kalian diam saja? Bukankah kalian bisa bicara bahasa manusia?” Sapa Siry pada Pati dan Pita.
“Ha halo..” Jawab Pati dan Pita terbata, mereka masih syok atas kejadian yang baru saja terjadi. Namun itu tak berlangsung lama, sementara Dogma dan Freya memperhatikan cara menagkap ikan, Pati dan Pita terlihat akrab berbincang dengan Siry.
“Wah sungguh berguna trik darimu, kami mendapat ikan, padahal sejak tadi sangat sullit menagkapnya.” Seru Dogma dan Freya kegirangan, mereka segera melupakan yang baru saja terjadi.
“Terima kasih atas bantuannya hari ini Siry dan Airy!” Kata Dogma mewakili ketiga sahabatnya.
Karena tangkapan ikan mereka terlalu banyak untuk mereka makan, mereka memutuskan untuk menjual sebagaian dan uangnya mereka gunakan untuk membeli bahan makanan lainnya.
Masih di sungai yang sama, terlihat Airy dan Siry sedang berbincang.
__ADS_1
“Siry, kau tahu pria yang memiliki mata indah itu, namun tak ada cahaya yang terpancar darinya. Sungguh hatiku sedih menatapnya.”
“Kau benar Airy, aku bisa melihat kesepian yang luar biasa dari matanya. Ia berusaha mengusirnya dengan berbagai cara.” Jawab Siry menanggapi ucapan Airy.
“Airy, ingatkah kau dengan sajak yang sering aku nyanyikan di malam hari?”
“Iya tentu saja aku ingat, itu terdengar seperti kisah sedih.” Jawab Airy.
“Kau benar Airy, sajak itu tentang dia, pria yang baru saja kau kerjai. Itu lagu tentang Dogma.” Jawab Siry.
“Apa maksudmu Siry? Bukankah itu adalah lagu tentang seorang dewa yang diusir dari Taman Surga?” Jawab Airy dengan kaget.
“Tadi malam ketika mendengar suraku, Ia datang menemuiku.” Jawab Siry lirih.
“Awalnya aku juga terkejut dengan kehadirannya. Memang dryad di hutan selatan mengatakan setelah diusir dari Taman Surga Ia mengembara di bumi, namun setelahnya tak ada kabar darinya, tak ada manusia, dryad atau mahluk lain yang mengabarkan keadaannya. Kau tahu Airy, tadi malam ketika mengetahui bahwa lagu yang kunyanyikan adalah tentang dia, Ia memintaku untuk merahasiakan identitasnya dari kawan baru yang kini bersamanya. Ia tersenyum manis tadi malam, namun aku melihat kesedihan dibaliknya.” Kata Siry sambil menunduk sedih.
“Lalu tujuan apa ya kira-kira yang hilang darinya saat memasuki kerajaan ini?” Airy mencoba menebak.
“Bukan, Dogma tak terpengaruh dengan sihir kerajaan ini, yang kehilangan tujuan hanyalah gadis kecil itu dan kedua burung merpati itu. Dogma mengetahui hal itu, namun Ia memilih untuk tak memberitahu gadis itu dan sebaiknya kita tak mengacaukan rencana yang mungkin sudah dibuat oleh Dogma. Dan tolong rahasiakan ini dari siapapun.” Jawab Siry diikuti oleh anggukan persetujuan dari Airy.
__ADS_1
Sejak memasuki wilayah kerajaan, semua berjalan dengan lancar dan tak ada hambatan yang berarti bagi Freya dan kawan-kawnnya. Meski sejak tadi malam, Dogma menyadari bahwa pohon dimana Siry tinggal adalah pohon yang selama ini mereka cari agar Freya bisa pulang ke dunianya, namun Dogma memutuskan untuk tak memberitahukan ini pada Freya maupun pada Pita dan Pati.
“Bukankah seharusnya Pita dan Pati mengenali pohon itu.”Pikir Dogma. Jauh di dalam hati Dogma Ia masih ingin menghabiskan waktu dengan sahabat barunya. Sungguh hanya itu, sesimpel itu pemikiran Dogma pada awalnya.