
Sepulang dari pasar, Dogma segera membuat kandang ayam dengan kayu yang baru saja mereka beli. Kini mereka memiliki peliharaan sepasang ayam, selanjutnya mereka berencana membeli dua pasang ayam lagi, jadi telurnya dapat dijual.
“Sungguh Dogma adalah pria dewasa yg bisa diandalkan.” Kata Freya dalam hati.
Tak terasa membuat tiga kadang ayam menghabiskan waktu hingga senja. Freya dibantu Pita sudah menyiapkan makan malam seadanya. Mereka makan malam dengan ceria. Malam ini mereka hanya membicarakan kandang baru, ternak yang mereka miliki dan rencana kedepan cara mendapatkan uang untuk hidup, tanpa menyinggung mahluk bernama Nightwalker.
Meski malam telah larut, Dogma masih juga terjaga. Ia teringat penuturan Acasha tentang Evenstar. Saat Dogma menghilang, rupanya Evenstar juga dijatuhi hukuman karena telah dianggap menggoda seorang Dewa yang agung dan menghianati suaminya.
Bukan, bukan hukuman dari Yang Satu ataupun dari dewa lainnya. Di dunia ini ada hukum lain yang tak mungkin dihindari oleh mahluk apapun, kapanpun dan dimana pun. Hukum alam yang paling mengerikan yaitu hukum karma. Tak ada mahluk yang bisa lolos dari karma, hukum timbal balik yang dibuat oleh Yang Satu dengan sempurna tanpa ada celah.
Ribuan tahun yang lalu, saat Dogma untuk pertama kalinya tak datang menepati janji pada Evenstar, setiap enam hari sekali Evenstar datang pada Acasha dan bertanya tentang Dogma. Hal ini berlangsung hingga sembilan pekan lamanya. Pekan berikutnya Evenstar tak datang menemui Acasha. Acasha menganggap Evenstar telah menyerah untuk menunggu Dogma. Namun, di hari berikutnya Evenstar datang dengan wajah sembab penuh air mata memohon pada Acasha untuk memperbolehkannya tinggal di rumah Acasha.
Karena merasa iba, Ia memperbolehkan Evenstar untuk memasuki rumahnya. Namun saat Evenstar hendak menaiki tangga pohon akasia rumah Acasha, tiba-tiba daun pohon ini menggugurkan daunnya. Mereka berdua kaget melihat hal itu dan Evenstar mengurungkan niatnya menaiki tangga pohon akasia tersebut.
"Bahkan sekarang pohon menolaku." Evenstar berkata sambil menutupi wajahnya menyembunyikan tangisnya. Acasha mengerti ada yang salah dengan anak manusia itu. Dengan sopan Acasha menjelaskan bahwa pohon yang ditinggali oleh dryad akan menjadi pohon suci yang tak akan menerima mahluk pendosa untuk tinggal di atasnya.
__ADS_1
“Ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu?” Tanya Acasha sambil memberi Evenstar minum, kini mereka duduk di bawah pohon akasia.
“Aku bersalah. Aku tak jujur pada Dogma, dan aku menghianati suamiku.”
"Suami?" Tanya Acasha tak mengeti.
“Aku sudah menikah dengan sesorang, Danta namanya. Dia sangat mencintaiku, tak ada yang salah dengannya, akulah yang penuh dosa. Akulah yang hina.” Sambil berkata demikian Evenstar menyeka air matanya.
“Sungguh hati manusia mudah ternoda.” Pikir Acasha dalam hati, namun disaaat yang sama Ia merasa simpati pada Evenstar.
Acasha hanya bisa memeluk Evenstar untuk menenangkan hati manusia egois itu. Setelah tenang, Evenstar bercerita bahwa ternyata Danta mengetahui perilaku buruknya selama ini.
Danta tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jika Ia menegur Evenstar Ia harus sudah siap dengan perpisahan mereka, namun Ia tak bisa bersikap seolah-olah tak tahu apa yang sudah terjadi selamanya. Setelah berhari-hari pikiran dalam kepalanya kian berkecambuk, Ia memutuskan untuk mengatakan kebenaran yang Ia ketahui. Danta tak bertanya alasan Evenstar menghianatinya, Ia tak tahu dan sungguh tak ingin tahu.
Disuatu pagi, sudah beberapa hari ini Danta yang tak pulang akhirnya menampakkan dirinya. Evenstar sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
__ADS_1
“Sayang, Kau tahu?” Danta memandang Evenstar sejenak lalu melanjutkan.
“Saat pertama kita bertengkar dan Kau berlari ke hutan, aku mengikutimu. Saat kita tak bertengkar dan kau pergi ke hutan di hari-hari berikutnya akupun mengikutimu. Aku tahu apa yang kau lakukan di sana entah dengan siapa.” Danta berhenti sejenak untuk menarik nafas sambil melihat reakasi Evenstar yang terlihat memucat ketakutan.
“Hatiku hancur melihatnya. Namun aku tak bisa melakukan apapun. Bukan, bukannya aku tak bisa melakukan apapun, aku hanya tak mau melakukan apapun. Sayang, aku sudah memikirkan ini sejak beberapa hari yang lalu. Aku akan pergi. Aku tak akan menyalahkanmu atau melakukan hal buruk padamu. Bukankah kita hidup dalam lingkaran karma? Aku akan pergi, jika hatiku tak lagi di sini. Terima kasih dan selamat tinggal.” Tanpa menunggu respon Evenstar, Dan mengambil tas yang sudah disiapkannya lalu melangkah pergi entah kemana.
Evenstar masih tertegun mengetahui bahwa selama ini Danta tahu dosa apa yang telah Ia lakukan di belakang suaminya itu. Saat Ia telah mampu menguasai dirinya kembali, Danta sudah tak ada di hadapanya. Evenstar berusaha mengejar Danta secepat yang Ia bisa, namun bayang Danta tak lagi tampak di sana. Ia mulai menangis menyadari kebodohannya, keegoisannya yang menginginkan Danta dan Dogma bersamaan. Tak ada lagi keinginan untuk tinggal di rumah ini. Evenstar berkemas membawa barang yang mudah dibawa, kemudian Ia pergi meninggalkan rumah dan memutuskan untuk ke pohon Acasha menemui Dogma.
Mendengar kisah Evenstar, Ia menawarkan manusia itu untuk tinggal di bawah pohon akasia miliknya. Mereka membangun gubug sederhana dengan bantuan kekuatan Acasha untuk melindungi Evenstar dari hewan buas dan dinginnya malam hari. Evenstar tinggal di gubug itu menunggu Dogma yang tak pernah datang dengan rasa gelisah dan penyesalan hingga maut menjemputnya.
***
Ini hari ketiga mereka tinggal di wilayah kerajaan Phantasia. Pagi cerah seperti biasanya, mereka melalukan aktifitas memetik sayuran, menangkap ikan, berjualan di pasar seperti hari kemarin. Namun setelah makan siang mereka mendengar suara gong diabuh tiga kali. Karena tak tahu apa artinya, mereka keluar rumah dan melihat beberapa orang menuju suatu tempat.
“Paman, apa arti suara gong ini?” Tanya Dogma pada seseorang yang lewat di depan rumah mereka. “Oh ini adalah tanda bahwa kerajaan mengeluarkan pengumuman. Biasanya pengumuman nama orang yang akan dijadikan persembahan untuk Nightwalker pada purnama ini.” Jawab paman tetangga mereka.
__ADS_1
Ada lima belas rumah yang berada di tepi lembah, seperti rumah yang mereka tempati dan juga rumah yang bibi Hini tempati.
“Dogma, mari kita juga melihat, ini pertama kali bagi kita. Mungkin kita bisa menemukan beberapa petunjuk tentang mahluk itu.” Usul Freya. Dogma setuju dengan usul Freya, Pati dan Pita juga ikut pergi bersama mereka menuju sumber suara.